Agatha Christie dan Nenek Saya

Belum dua minggu otot lengan kanan saya sudah kekar dan sterek. Bukan karena saya di sini jadi rajin olahraga, tapi tiap beberapa hari saya mendorong koper biru semata wayang saya naik turun tangga dan keluar masuk kereta bawah tanah yang di sini disebut dengan tube. Dua puluh satu KG berat koper saya, isinya semua tetek bengek yang tidak penting (saya bahkan bawa boneka buat teman tidur). Dengan jaket, sepatu boots dan jas yang beberapa hari lalu saya beli di toko barang bekas di sekitar sini, saya cuek saja ngeloyor ke sana kemari seolah saya ini turis yang keren banget.

Edgware Road, Hammersmith, Elephant and Park, Earl’s Court dan akhirnya Torquay yang jaraknya enam jam naik bus dari pusat kota London. Torquay Backpackers adalah hostel ke lima yang saya tinggali di Inggris, padahal saya baru 13 hari berada di negara ini. Saya senang meloncat dari satu tempat ke tempat lainnya

Saya pikir, dengan berpindah-pindah saya akan memiliki lebih banyak koleksi memori. Merasakan lingkungan, atmosfir, juga mengobrol dengan orang-orang yang pada mereka tersimpan sejuta cerita. Dan sebagai bonus, tinggal di hostel adalah pilihan termurah di London, atau jangan-jangan itu misi saya sebenarnya?

Saya ingin menceritakan bagaimana menariknya kereta bawah tanah London, tapi mungkin lain kali saja. Saya keburu menyebutkan Torquay, kota pesisir pantai nan tenang dan super sejuk yang digandrungi para lansia.

Ngomong-ngomong kemarin saya sempat GR ketika petugas konter tiket bus senyum-senyum pada saya. “Saya mau ke Torquay…” kata saya. Mengucapkannya: “Tor-Kway” seperti “Kway tiaw”.  

“Satu tiket ke Torqi?” tanya dia balik, membenarkan pelafalan saya dengan kasual sambil menyembunyikan garis senyumnya.

Yes, please,” jawab saya sambil mengedipkan sebelah mata. Salah sih, tadi, tapi saya tidak malu. Buat apa? Saya kan turis. Mereka juga belum tentu bisa menyebutkan “Cileungsi”.

Torquay tanah kelahiran Agatha Christie, ibunda novel misteri pembunuhan. Berlangsung lima hari dimulai dari tanggal 13 September, di Torquay diadakan acara dua tahunan International Agatha Christie Festival. Menarik sekali, pikir saya. Saya membaca beberapa novelnya dan Death on the Nile adalah yang paling saya sukai. Mengetahui akan ada acara tersebut, lewat jejaring yang saya dapatkan, saya memutuskan untuk menghubungi direktur festivalnya. Saya bilang padanya saya dari Indonesia dan saya sedang jadi turis dengan pakaian second hand yang keren, sedang keliaran di London (sambil diam-diam juga menyebutkan saya dibiayai pemerintah Indonesia untuk program residensi penulis tahun 2017). Tanpa saya pinta, akhirnya saya diberikan pass untuk mengikuti seluruh rangkaian event tersebut, gratis. James, sang direktur juga meminta saya untuk membacakan karya saya di salah satu eventnya. Saya kira, hmm, saya belum pernah melakukan hal itu sebelumnya. Grogi, namun akhirnya saya setuju.

Jadi, di Torquay Backpackers Hostel lah saya menginap. Tempat penginapan yang termurah yang tersedia di sekitar sini. Jaraknya hanya 15 menit berjalan kaki “up-up the hill” (baca: menanjak) menuju Torre Abbey, sebuah rumah tua megah yang sekarang jadi museum, tempat dimana festival itu diadakan.

Saya tidak bisa menjabarkan rentetan acara yang terjadi selama lima hari tersebut, karena mungkin akan membosankan ketika diceritakan (namun berlaku sebaliknya ketika dijalani). Saya datang setiap hari rajin sekali seperti murid teladan yang cari perhatian. Tapi bukan itu, acara memang kadang dimulai sangat pagi, seperti menapaki jejak-jejak Agatha Christie ketika matahari terbit, tempat-tempat yang sering dia datangi ketika kecil, dimana dia biasanya berselancar (kemudian kami disuruh berenang) dan banyak lainnya. Yang paling menarik mungkin pembacaan salah satu karyanya yang berjudul Endless Night. Novel itu dibacakan secara bergantian oleh beberapa orang dari pukul 7 malam, hingga 2.30 pagi. Saya duduk di ruangan itu mendengarkan, merasakan sensasi baru dibacakan novel sampai pantat saya panas.

Torre Abbey  rumah yang sangat luas dengan ruangan-ruangan yang diisi dengan benda-benda bersejarah. Di tiap ruangan berlangsung acara berbeda. Dan meski itu adalah acara yang didedikasikan untuk sang novelis, acara juga merayakan dan mengapresiasi karya dari negeri-negeri di luar Inggris. Saya sempet menggigit bibir, kesal sendiri karena melewatkan kehadiran Nawal El Saadawi, padahal saya sangat menyukai bukunya yang berjudul Perempuan di Titik Nol (soalnya waktu itu saya masih di bus).

Hari Jum’at sore pukul enam, di chapel, saya diberikan waktu sekitar setengah jam yang menegangkan untuk membacakan buku saya yang baru saja diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, Not A Virgin. Dan untuk menambahkan suasana tanah air, saya membacakan versi bahasa Indonesianya juga, Bukan Perjaka. Meski tidak banyak yang duduk dan menyaksikan. Tapi akhirnya saya berteman baik dengan dengan seorang kurator seni dari Iran, dan kami mengobrolkan banyak hal yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Pertunjukkan teater satu orang yang dibawakan oleh Chanje Kunda, seorang seniman internasional yang sudah beraksi di beberapa negara lah yang membuat saya terkesima. Dengan gaya yang poetik dia menceritakan petualangannya di Amsterdam dan bagaimana bodohnya dia.

Tak lama, kami mendapatkan sesi berbagi pengalaman yang intim. Saya berdebar-debar karena berhadapan dengan orang yang profesional. Tapi dia orang yang ramah, dengan selera humor di level yang sama dengan saya.

I am not an object of desire,” kata dia. “I AM desire.

Saya mengangguk-angguk.

Kemudian dia menceritakan tentang bagaimana tumbuh besar di Manchester yang penuh dengan rinai hujan dan bagaimana akhirnya dia bisa menjadi seorang artist. Dia mengunjungi neneknya di Zambia dan bagaimana itu menginspirasinya. Dengan gaya puitis dia membacakan pada saya.

“Nenek saya makan okra, kemudian bercinta.

Nenek saya menghabiskan hidupnya memandang ke bulan, kemudian bercinta.

Suaminya adalah seorang nelayan, kemudian bercinta.”

Dia mengkahiri setiap deskripsi mengenai neneknya dengan kata “kemudian bercinta”. Dia bilang di Zambia tidak ada listrik. Kalau tidak ada listrik, berarti tidak ada TV, tidak ada TV tidak ada hiburan. Bercinta adalah satu-satunya hiburan.

Saya terkekeh-kekeh.

Dia meminta saya menceritakan tentang nenek saya.

Saya langsung merenung. Kemudian cerita itu keluar dari mulut saya begitu saja.

“Nenek saya orang kampung. Dia menghabiskan hidupnya memandangi bentangan sawah. Bukan sawahnya. Dia hanya bekerja di sana. Ladang sawah sangat luas berpetak-petak. Kalau padinya sudah berwarna kuning mereka merunduk. Di musim panen semua turun ke sawah. Mengarit padi dan memanggulnya. Memisahkan padi dari batang dengan memukul-mukulkannya ke kayu-kayu yang dibuat seperti papan gilasan ompong. Bau sawah anyir, asin, berbau besi. Kami turun ke sawah dan digigit lintah. Menangkap ikan betik, belut dan keong tutut. Nenek saya makan dengan tangannya. Dia makan nasi putih hangat dengan rebon, itu adalah udang kecil yang rasanya asin. Dicocol sambal dia makan dengan lalap daun mede muda yang rada kesat. Dia meminum teh tubruk dengan dauh teh lebar-lebar. Nenek saya selalu mengunyah sesuatu di mulutnya, daunan, buah pinang, dengan kapur. Lama-lama ludahnya menjadi warna merah, dia bilang itu agar giginya kuat, padahal ompong. Nenek saya rambutnya panjang dan beruban, dia melahirkan 10 anak dan habis usianya ketika saya jauh-jauh hari belum masuk SMA.”

Kemudian saya terdiam, saya tidak memandang ke mana-mana. Tapi memandang melewati Chanje yang di hadapan. Saya sudah melupakan nenek saya sejak lama. Saya sudah tidak lagi berdoa untuknya. Dia sudah tidak pernah lagi muncul di mimpi saya.

Sambil tersenyum Chanje mengatakan pada saya, dia belum pernah mendengarkan yang seperti itu sebelumnya. Menurut dia itu sangat indah.

“Jadi, apa yang nenek kamu kagumi?” tanyanya lagi.

Saya tergagu.

“Waktu sekolah dasar saya sudah bisa membaca Al Qur’an. Pada malam hari biasanya saya membacanya keras-keras, mengaji namanya… Saya mengaji setelah solat Magrib sampai Isya. Saya tidak tahu nenek saya duduk di luar rumah, dia kemudian pulang begitu saja. Ibu saya hanya melihatnya berjalan menjauh. Keesokan harinya nenek saya bilang dia tidak ingin mengganggu saya mengaji. Dia sudah senang dengan bisa mendengarkannya saja.”

Setelah menambahkan cerita itu, di situ, di salah satu ruangan Torre Abbey berwarna biru muda, dengan lukisan-lukisan mahal bergantung di dindingnya, cepat-cepat saya menyapu kedua mata saya.

Nenek saya tidak pernah pergi ke mana-mana, tapi hari itu saya membawanya ke Inggris untuk pertama kalinya.

Nuril Basri