Amsterdam, Jumat, 11 November 2016

Tiga hari belakangan ini suhu udara di Amsterdam pada siang hari berkisar antara 5 dan 6 derajat Celcius. Terkadang diiringi gerimis dan tiupan angin dari Laut Utara. Kalau ingin menulis seharian di Open Bare Bibliotheek (OBA), di Oosterkade, Amsterdam, dan bebas dari sengatan suhu dingin, tak ada jalan lain kecuali dengan naik taksi, yang tentu saja mahal. Kalau naik bus atau Metro, yang berhenti di stasiun Amsterdam Centraal sebagai tujuan akhir, masih harus berjalan kaki sekitar setengah kilo. Saya sendiri menggenjot sepeda dari rumah tempat menumpang di Koekoeksstraat, sekitar tiga kilo dari perpustakaan tersebut.

Hari ini, sebagaimana hari-hari sebelumnya, dengan meluncur di eskalator, saya memilih kursi di lantai 3, menghadap ke kanal di bawah. Menyenangkan. Kalau otak mampet dan kalimat tak jalan, saya mencari-cari “penunjuk jalan” dengan memandangi kapal barang dan kapal-kapal pesiar yang meluncur di bawah. Atau pusat kota yang membentang menutup kaki langit musim gugur yang lebih sering muram.

Suasana di dalam perpustakaan boleh dikatakan sama dengan keadaan di Indonesia. Banyak yang dengan tertib menghadapi komputer, membaca, atau menulis tanpa sedikit pun mengeluarkan suara. Namun, ada juga yang bercakap-cakap seenaknya tanpa mempedulikan pengunjung yang lain, walau di pintu masuk tiap lantai ada peringatan “Spreek Je Uit in de Bieb!” atau jangan berbicara di dalam perpustakaan! Yang diam-diam minum dan mengunyah makanan juga ada. Termasuk pacaran… Sungguh mencederai fasilitas yang paripurna di situ.

Hari ini, untuk pertama kali saya memanfaatkan fasilitas printing yang terletak di lantai 6. Untuk mencetak harus memiliki kartu kredit. Saya tak punya kartu kredit, tapi kekurangan ini bisa saya atasi dengan meminta bantuan pada seorang pemuda yang baik hati, yang kebetulan baru saja meninggalkan mesin ATM di lantai dasar. Kepadanya saya mohon bantuan untuk membelikan semacam voucher senilai 5 Euro, menggunakan kartu kreditnya sendiri. Dan dia melakukannya dengan senang hati setelah menerima uang kertas 5 Euro dari saya.

Voucher itu sangat sederhana, serupa sobekan kertas tanda terima sebagaimana yang biasa kita terima dari kasir di super market.

Di lantai 6 itu berjejer komputer yang bisa diaktifkan tanpa harus antre. Selipkan USB, dan klik perintah dalam bahasa Belanda yang terlebih dulu tentu harus dihafal. Kemudian saya bergerak ke ruangan di mana terletak printer. Pada voucher tadi tertulis kode nomor, dan nomor itu saya paparkan pada sinar ultra yang dipancarkan printer. Saya memerintahkan untuk mencetak 10 halaman. Tarifnya 10 sen perlembar. Artinya nomor voucher saya itu akan berkurang nilainya sebesar satu Euro. Kalau mencetak di luar OBA perhalaman paling murah 15 sen perlembar.

Selain meja-kursi, komputer, printer, laboratorium bahasa, OBA juga menyediakan semacam tempat duduk selebar tempat tidur yang empuk, di mana pengunjung bisa melenturkan punggung yang kaku dengan tiduran leyeh-leyeh di situ. Bertambah asyik kalau ada pengunjung yang memainkan piano di lantai dasar. Biasanya lagu-lagu klasik. Sayup-sayup, bisa menidurkan …hahaha. ***