Amsterdam: La Minoria Es Hermosa

Apa saya bilang? Ketika menyangkut soal radikalisme, rasisme, dan fasisme, saya berharap hanya ada tepukan sebelah tangan. Di Amsterdam, lewat sebuah peristiwa kecil pada satu sore, apa yang saya harapkan itu menjadi kenyataan.

“Minoritas itu indah,” kata Elena. Ia menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris kalimat bahasa Spanyol yang tertera di kaos yang saya kenakan, sepotong kaos murahan yang saya beli sekitar dua tahun lalu di sebuah factory outlet di Jakarta. Elena pandai berbahasa Spanyol karena ia berasal dari Puerto Rico

“Aku sudah memakai kaos ini sejak berewokku masih hitam, dan baru sekarang aku tahu artinya,” kata saya.

“Tak masalah, setidaknya sejak saat ini kau mengerti artinya,”

Perempuan bermata coklat muda itu tersenyum melihat janggut saya yang memutih. Saya diam saja. Pikiran saya sedang blusukan ke mana-mana, ke makna kalimat itu, ke nasib yang menggariskan seseorang menjadi bagian mayoritas dari sebuah masyarakat sementara seorang lainnya “menanggung” derita sebagai minoritas, ke garis yang membatasi identitas seseorang dengan sangat terang sementara seseorang lainnya terlampau remang, ke permainan dadu takdir yang di lemparkan sambil lalu dari langit dan jatuh di atas meja kehidupan dan bergulir ke mana-mana tak tentu arah, ke soal hakikat etnis, ras, negara, agama, dan berbagai “satuan relativisme” lainnya, dan ke kejadian pada satu malam di sebuah bar kecil di Leiden.

Saya sedang menikmati minuman saya ketika seorang lelaki menghampiri saya, mengangguk, dan bertanya dalam bahasa Arab, bahasa yang tak saya kuasai. Lalu ia bertanya dalam bahasa Inggris tentang asal saya setelah saya mengatakan kepadanya bahwa saya tak paham bahasa yang ia gunakan.

“Saya dari Indonesia,” jawab saya.

“Kau bohong! Kau bukan orang Indonesia, aku tahu kau orang Maroko.”

“Bukan. Saya orang Indonesia.”

Lalu ia berbicara keras dalam bahasa Arab. Lelaki itu, kecuali tubuhnya yang kecil dan rambutnya yang keriting, sungguh mirip pemain sepak bola Zidane. Ia menyingkir sambil terus berbicara, dengan tangan yang satu menggenggam botol minuman, dan tangan yang lainnya menuding-nuding wajah saya. Hanya “Wallah” yang bisa saya tangkap dari sekian banyak kata yang keluar dari mulutnya.

Tak lama berselang, seorang lelaki kulit putih, saya yakin ia kawan miumnya karena mereka duduk berdekatan dan sebelumnya saya lihat mereka berbincang, menghampiri saya. Kali ini ia langsung berbicara dalam bahasa Inggris.

“Kau bukan dari Indonesia.”

Saya diam saja. Kami bersitatap. Ia terlihat masih muda. Dan juga tampak mabuk. Saya tahu ia berharap saya akan meneruskan pembicaraan. Setidaknya akan keluar pertanyaan  “Kenapa tidak?” dari mulut saya. Lalu ia akan menjawab: “Sebab kau tidak terlihat seperti orang Indonesia”, dan saya akan menjelaskan bahwa saya orang Indonesia dari etnis keturunan ini dan itu. Tapi mungkin saya tidak akan menjelaskan apa pun juga. Apa perlunya bertanya jawab dengan seseorang yang sedang mabuk dan bersikap urakan? Lebih-lebih lagi, ia merupakan teman minum dari seorang pemabuk juga, yang sikapnya tak kurang ugal-ugalannya: menuduh seseorang sebagai pembohong pada kalimat kedua dalam sebuah dialog perkenalan. Saya pikir, apa pun jawaban saya, tak akan meredakan kadar mabuk dan sikap begajulnya. Lagipula, pemabuk yang pertama, duduk di tempatnya memerhatikan kami. 

Jadi, segera saya habiskan minuman saya dan pergi ke meja kasir. Saya meninggalkan bar itu dengan perasaan gundah, seperti ada rasa getir bir murahan melekat kuat di ujung lidah.

“Orang-orang keturunan Maroko di sini mengidap inferior kompleks. Mereka tertinggal dalam bidang pendidikan dan ekonomi. Sangat susah bagi anak-anak Maroko untuk bisa bekerja di perusahaan Belanda. Reputasi mereka buruk. Berbeda misalnya dengan keturunan imigran Vietnam. Sejarah kedatangan dan latar belakang mereka juga berbeda. Sebagian besar orang Maroko dulu yang didatangkan ke sini adalah orang-orang pedalaman yang tak berpendididkan ,” jelas Marije Plomp dari Perpustakaan Asia Universitas Leiden dalam perbincangan kami pada suatu siang, saat saya ceritakan kepadanya peristiwa di bar itu.

“Nah, orang itu menyangka Anda keturunan Maroko, dan ia geram karena menganggap Anda sebagai orang yang malu atau tak mau mengakui asal-usulnya,” imbuh Marije, perempuan Belanda yang lancar berbahasa Indonesia itu.

“Ya, saya mengerti. Itu sudah menjadi nasib saya, dengan tampang seperti ini, saya memang mudah disalahpahami di mana-mana, di negeri sendiri maupun di negeri orang, ” timpal saya.

Kami tertawa. Lalu kami sama-sama terdiam.

“Kegeraman seperti yang dialamai oleh orang itu hanya bisa muncul dari perasaan masyarakat yang benar-benar mengidap minoritas inferior kompleks,” kata saya beberapa saat kemudian.

“Ya, betul. Betapa sulitnya menjadi minoritas dan tertinggal dalam banyak bidang.”

Saya menganggguk. Lalu kepada Marije saya ceritakan perkenalan saya dengan Elena. Saya sedang kebingungan di stasiun Amsterdam Centraal mencari-cari bordes kereta jurusan Leiden ketika perempuan muda itu mengatakan bahwa saya telah menunggu di tempat yang benar dan bahwa kereta jurusan Leiden akan datang 10 menit setelah kereta yang ia nanti tiba. Jadinya kami saling bertanya dari negara mana kami berasal. Lalu ia membaca kalimat dalam bahasa Spanyol yang terpampang di kaos saya dan ia menerjemahkannya untuk saya.

“Ah, betapa bagus arti kalimat itu, dan sangat pas dengan apa yang sedang Anda risaukan, bukan?” kata Marije.

“Ya, tapi saya belum paham maksudnya, dalam konteks dan relevansi apa?Dan yang jauh lebih penting, saya belum mengeceknya di Google Translate apakah perempuan itu menerjemahkan secara benar atau ngawur saja,” jawab saya (saat itu saya teringat pada beberapa keturunan Maroko yang bersikap sangat sopan dan bersahabat yang saya temui baik di Amsterdam maupun di Leiden).

Kami tertawa lagi. Ya, saya pikir saya harus mengecek arti kalimat dalam Spanyol itu sekarang. Pertemuan saya dengan Elena berlangsung sangat singkat. Jangankan menanyakan apa kira-kira makna filososfisnya, menanyakan apakah itu terjemahan yang benar atau asal-asalan saja, saya tak sempat. Kereta yang ia tunggu datang kelewat cepat. Dan gerak lidah saya kalah gesit dibanding langkahnya. Dari pintu kereta ia mengucapkan selamat tinggal dan melambaikan tangan.

“Semoga harimu menyenangkan!” teriaknya sebelum menghilang ke dalam gerbong.

“Ya, terima kasih, semoga begitu juga dengan harimu. Menyenangkan untuk minoritas?” saya balas berteriak.

Elena tak mendengar. Tapi tak menjadi soal, setidaknya harapan saya di Amsterdam sudah menjadi kenyataan: ketika menyangkut radikalisme, rasisme, fasisme, saya hanya ingin ada tepukan sebelah tangan. Dan bagaimanapun juga, sepasang berandal di bar yang tadi saya ceritakan itu, dalam ukuran tertentu, sudah menepuk tangan saya. Tapi kemudian Elena mencegah saya membalas tepukan mereka.[]

 

Ben Sohib