Amsterdam, Minggu, 6 November 2016

Hari ini hari keenam saya “bertapa” di Open Bare Bibliotheek Amsterdam (OBA) untuk menyelesaikan buku yang menjadi obsesi saya: tentang kehidupan eksil Indonesia di Eropa. Perpustakaan ini buka setiap hari, termasuk Minggu seperti hari ini. Mulai pukul 10 pagi sampai 10 malam. Jadi, dia menjadi sarang yang nyaman. Saya bisa memilih di lantai mana saya akan nongkrong. Menghadap ke tengah perpustakaan, atau di sisi jendela kaca seraya menikmati kapal-kapal yang hilir-mudik di kanal yang menghampar di bawah, dari mana dulu, kata orang, kapal-kapal VOC bertolak.

Di antara sekian banyak pengunjung, yang juga satu selera dengan saya, maka saya harus turun-naik eskalator untuk menemukan kursi kosong menghadap jendela. Hari ini saya di lantai 2. Di luar, suhu 10 derajat Celcius. Di tengah jalan tadi, saya sempat diguyur gerimis. Menjelang ferry penyebarangan Buiksloterweg yang menghubungkan Amsterdam Noord dengan Amsterdam Centraal, mendadak matahari mendentang terangnya, sementara di kaki langit awan hitam bergulung-gulung mengancam.

Dari rumah penyair dan eksil Chalik Hamid, 78 tahun, asal Medan, di mana saya menumpang, saya naik sepeda yang dipinjamkannya. Jarak dari rumahnya di Koekoeksstraat ke OBA, yang terletak sepelemparan batu dari Amsterdam Centraal, sekitar tiga kilo. Buat pejalan kaki dan pengendara sepeda, kota ini seperti surga di bumi. Saya tak khawatir disenggol motor, mobil, terutama bus kota. Yang harus saya waspadai bukan bus atau trem, tetapi sesama pengendara sepeda. Lelaki, perempuan, tua, muda, berkulit putih atau campuran, mereka melaju dengan tenaga melebihi kaki saya yang sudah tua. Saya hanya bisa mengekor. Pokoknya sampai di tujuan.

Dari bangku di bendul jendela kaca OBA di lantai 2 ini sebentar-sebentar, sambil mencarri “ilham” saya menoleh ke bawah. Memastikan sepeda pinjaman yang membuatku bisa menghemat 2x2,9 Euro setiap hari, aman tertambat. Amsterdam ini juga sarang pencuri, rupanya. Selain dikunci, sepeda itu harus saya sandarkan ke tiang besi dan dililit dengan rantai sebesar belali gajah. Naik bus dari Koekoeksstraat ke Centraal 2,9 Euro, dan dari sini ke OBA masih harus berjalan kaki lagi sekitar setengah kilo.

Cuaca dingin acapkali membujuk tubuh saya untuk sering mampir ke toilet. Hari pertama, sepanjang hari, tiga kali saya ke situ, dan sekali singgah 20 sen Euro. Nasib baik, hari kedua saya sudah menemukan toilet gratis di gedung Conservatorium van Amsterdam, di sebelah. Makan siang, saya turun, menikmati santapan sambil berdiri di tubir kanal, membiarkan burung merpati menyambar-nyambar mengharapkan remah.

Sebelum menulis profil seorang eksil Indonesia, saya harus lebih dulu mentranskrip rekaman hasil wawancara saya dengan mereka. Kemudian saya cetak untuk kemudin ditulis kembali. Hanya dengan begini akurasi tulian bisa saya capai. Konvensional, memang, tapi itulah caraku. Masalahnya, ketika hasil transkrip sebuah profil sudah selesai, di mana tulisan itu akan dicetak. Tiga hari saya mencari-cari. Akhirnya OBA inilah juga solusinya. Tarifnya 10 sen perhalaman, sementara di tempat lain paling tidak 15 sen. Hambatannya, saya tak punya kartu kredit untuk membeli  voucher. Kemarin, saya naik ke lanttai 6, tempat printer. Saya meminta tolong kepada petugas di situ menggunakan kartu kreditnya untuk membelikan voucher. Dia terkekeh seraya bertanya, berapa halaman yang akan dicetak.

“Sepuluh,” jawab saya.

“Kalau begitu, ikuti aku ke mesin cetak, akan saya berikan sebagai komplemen saja.”

Dia menyerahkan tulisan yang dia cetak dari USB yang saya pinjamkan. Saya genggamkan satu Euro ke tangannya. “Jangan… Di sini uang tidak beredar,” katanya tersenyum. Ketulusannya itu hanya bisa saya balas dengan ucapan terima kasih.         

Pagi tadi, saya temui lagi petugas di counter penerima pengunjung di lantai dasar. Tak ada jalan lain untuk menctak, harus membeli voucher. Seorang pemuda, yang baru saja menjauh dari ATM, saya dekati dan meminta jasanya untuk membelikan voucher senilai 5 Euro. Rupanya, dia juga pendatang. Entah tak bisa mengendalikan ATM yang hanya berbahasa Belanda atau apa, saya tak tahu. Dia memegangi bahuku, dan bilang: “Ayolah ke atas, pakai kartuku ini untuk mencetak.”

Aiiih… baik sekali anak muda ini. Tapi, dengan menyentuh lengannya saya katakan, tak usahlah. “Saya tak ingin merepotkanmu. Terima kasih.”

Begitu banyak orang yang berbaik hati di sini. Dan saya yakin, entah bagaimana, esok atau lusa, tentu ada jalan untuk mencetak. ***