Antara Tokyo dan Kyoto

Setelah puas melakukan pengamatan tentang kebiasaan warga Jepang di Tokyo, saya melanjutkan perjalanan residensi saya ke kota Kyoto, yang terletak 458 km dari kota Tokyo. Jarak ini ditempuh hanya dalam waktu 120 menit dengan menggunakan kereta cepat Shinkansen Hikari. Ah, andai saja Indonesia juga memiliki fasilitas kereta cepat seperti ini.

Sejarah dan Budaya

Kota Kyoto didirikan pada tahun 794 Masehi. Awalnya kota ini diberi nama Miyako, kemudian, sejak abad ke 11 namanya berubah menjadi Kyoto. Kyoto dulunya merupakan ibukota Jepang, hingga tahun 1868, pada masa Meiji, ibukota ini dipindahkan ke Tokyo. Tokyo sendiri secara harafiah berarti ibu kota timur. Tokyo berpenduduk 13.62 juta jiwa (2016), dengan luas area 2.188 km2. Sedangkan Kyoto berpenduduk 1.475 juta jiwa, dengan luas area 823 km2.

Saat tiba di kota Kyoto, yang paling terlihat mencolok perbedaannya dengan kota Tokyo, adalah struktur bangunannya. Bangunan di kota ini, umumnya tidak terlalu tinggi seperti di Tokyo, struktur bangunan tertinggi di kota ini adalah Kyoto Tower, gedung 9 lantai, dengan menara di atasnya, yang memiliki ketinggian total mencapai  131 meter. Sedangkan di kota Tokyo, terdapat banyak sekali gedung pencakar langit yang ketinggiannya lebih dari 185 meter. Bahkan Tokyo Skytree, struktur bangunan tertinggi di kota ini, yang tingginya mencapai 634 meter.

Sekilas, suasana kota Kyoto lebih terasa tradisional dibandingkan dengan kota Tokyo, di sini masih banyak toko-toko kecil, dengan tatanan sederhana dibandingkan toko-toko mewah di kota Tokyo. Pusat perbelanjaan moderennya pun hanya terdapat di beberapa wilayah, seperti di Shijo, Kawaramachi dan Karasuma. Ini jauh lebih kecil skalanya, jika dibandingkan dengan pusat perbelanjaan Shinjuku, Shibuya dan Harajuku di Tokyo.

Selain itu, di jalanan kota Kyoto, masih banyak dijumpai warga Jepang, yang mengenakan pakaian tradisional mereka, Yukata (pakaian tradisional saat musim panas) dan Kimono (pakaian tradisional saat musim dingin), saat menuju ke kuil untuk beribadah. Namun, ternyata yang berpakaian tradisional seperti ini, bukan hanya warga Jepang saja, namun juga para wisatawan asing. Mereka dapat menyewa Yukata atau Kimono, dengan harga sekitar 4.500 yen untuk dua jam. Umumnya mereka menyewa pakaian tradisional ini hanya untuk berfoto di kuil yang merupakan obyek wisata unggulan di wilayah ini.

Karena terletak di wilayah lembah Yamashiro, yang diapit tiga pegunungan, yaitu Higashiyama, Kitayama dan Nishiyama, kota ini suhunya menjadi lebih dingin ketika musim gugur dan musim dingin. Serta lebih panas ketika musim panas, dibandingkan dengan Tokyo. Saat ini suhu udara bervariasi antara 6 derajat hingga 14 derajat celcius.

Kyoto, merupakan kota wisata budaya, jutaan wisatawan asing memadati stasiun Kyoto dan tempat wisata lainnya di kota ini. Mayoritas wisatawan asing berasal dari Tiongkok dan Korea Selatan. Beberapa kali saya juga mendengar teriakan wisatawan asal Indonesia yang berbicara dalam bahasa Jawa Tengah yang kental. Saat mengejar kereta.

Karena pada musim gugur ini, pemandangan di wilayah ini sangat cantik, pohon-pohon dengan dedaunan aneka warna, menghiasi taman-taman kota dan pusat wisata. Ya, inilah sebabnya musim gugur merupakan puncak musim wisatawan asing membanjiri Jepang, di samping musim bunga Sakura ada bulan Maret.

Bertemu Komikus Indonesia di Kyoto

Tujuan saya ke kota Kyoto ini adalah untuk menemui Matto Haq, komikus Indonesia asal kota Jogjakarta, yang sedang menetap di kota ini. Rencananya Selasa besok, kami berdua akan menemui salah satu profesor, dosen di Universitas Kyoto. Untuk mendukung riset saya mengenai cosplay dan pop culture di Jepang.

Matto Haq, dikenal di Indonesia dengan komik 1SR6, Onthelku, Emperor Crown, dan 5 menit sebelum tayang, karyanya bersama Ockto Baringbing, mereka adalah komikus Indonesia pertama, yang pernah memenangkan penghargaan silver award dalam International Manga Award ke 6.

Pengalaman Matto Haq saat tinggal di Kyoto, sangat menarik bagi saya, dan memberi banyak masukan untuk naskah komik yang akan saya buat untuk program residensi penulis ini.

Beda Tokyo dan Kyoto

Mungkin karena banyaknya wisatawan asing yang hadir di kota ini, membuat Kyoto menjadi sedikit lebih jorok jika dibandingkan dengan Tokyo. Toilet umum yang terdapat di berbagai fasilitas umum maupun tempat wisata, tidak sebersih dan semodern di Tokyo. Jika di Tokyo, toiletnya memiliki berbagai tombol otomatis, termasuk dilengkapi dengan penghangat dudukan toilet. Lain halnya, di Kyoto. Toilet umum di kota ini masih terkesan kuno, seperti halnya toilet umum yang sering kita jumpai di Jakarta. Bahkan boleh dibilang, beberapa toilet di tempat wisata sangat bau dan penuh dengan sampah yang ditinggalkan para wisatawan, yang mungkin kesulitan menemukan tempat sampah.

Lalu, di station keretanya, jika di Tokyo dipenuhi para pekerja yang selalu berjalan terburu-buru, di Kyoto terlihat dipenuhi para wisatawan asing yang sibuk menarik kopor-kopor besar mereka, dan sepertinya tidak peduli dengan waktu dan kedisiplinan. Antrean pun kadang kacau karena orang-orang membuat antrian sendiri.

Sepertinya pemerintah kota ini memang sengaja mempertahankan warisan peninggalan budaya ini, sehingga jalur transportasi pun, lebih banyak mengandalkan bus kota daripada kereta bawah tanah, seperti di Tokyo. Tentunya jarak tempuhnya menjadi lebih lambat. Namun, rupanya ini bukan masalah, mengingat warga Kyoto sepertinya tidak begitu peduli dengan waktu. Stasiun kereta bawah tanah hanya melintasi beberapa wilayah di kota ini. Umumya lebih untuk perjalanan kereta antar kota. Stasiun keretanya lebih simpel jika dibandingkan dengan stasiun Tokyo yang sampai memiliki 7 lantai di bawah tanah.

Kyoto memiliki banyak museum seni. Bahkan, di stasiun Kyoto pun, saat saya datang, terlihat pameran seni lukis tradisional Jepang di lorong stasiunnya. Sesuatu yang jarang saya lihat saat mengunjungi stasiun di kota Tokyo. Di sepanjang deretan toko yang terdapat di sisi sungai Kamogawa, banyak toko-toko kecil yang menjual barang kerajinan seni keramik. Kyoto benar-benar kota yang mengapresiasi seni dan budaya. Sedang Tokyo, lebih menonjolkan surga bagi penggemar pop culture dan teknologi.

Mengamati Tokyo dan Kyoto, saya jadi teringat akan Jakarta dan Jogjakarta, kedua kota yang memiliki kesamaan nama dan kesamaan sejarah. Tokyo adalah Jakarta dan Kyoto adalah Jogjakarta. Kyoto dan Jogjakarta pernah menjadi ibukota negara. Tokyo adalah kota metropolis, pusat bisnis yang serba sibuk, dan Kyoto adalah kota budaya yang adem ayem seperti Jogjakarta.