Bisnis Manga yang Menggiurkan

Ketika Ozamu Tezuka menciptakan Diary of Ma Chan, pada tahun 1946, tentu beliau tidak akan menyangka gaya manga ciptaannya akan menjadi ngetop seperti sekarang ini di seluruh dunia. Dr. Ozamu Tezuka, boleh dibilang merupakan godfather of Japanese Manga. Seorang dokter medis yang akhirnya memutuskan untuk menjadi mangaka (komikus). Karyanya yang paling terkenal adalah Astro Boy.

Ozamu Tezuka, mengaku bahwa gaya gambarnya sangat terinspirasi dari Mickey Mouse dan Betty Boop, tapi siapa sangka bahwa belakangan malah Disney, yang mengambil ide film The Lion King, dari film Kimba, the White Lion, milik sang maestro. Walau pihak Disney membantah hal ini, tapi para penggemar dan penonton kedua film ini pasti bisa menilai sendiri, terlalu banyak kemiripan dalam kedua film animasi.

Manga, secara harafiah berarti komik, mau komik bergaya gambar apapun, di Jepang disebutnya manga. Berhubung Manga Jepang, memiliki ciri yang sangat khas, yaitu mata lebar, rambut karakternya berwarna-warni, akhirnya mendapat kategori sendiri dalam istilah komik dunia.

Manga berbeda dengan Anime, manga adalah komik, sedang anime adalah film animasi. Di Indonesia kedua istilah ini masih sering salah kaprah.

 

Industri Manga di Jepang

Industri manga di Jepang memang sungguh luar biasa, selain pemasukan dari segi penjualan manga, para kreator dan penerbit juga masih mendapat royalti dari pembuatan anime, merchandise, lisensi karakter dan penjualan hak terbit dari penerbit internasional.

Tercatat industri manga ini memberikan kontribusi sebesar 3 trilyun yen setiap tahunnya! Rata-rata jumlah cetakan perdana untuk judul yang belum terkenal adalah 10.000 eksemplar, sedang untuk komik yang sudah masuk jajaran top 10 best sellers umumnya 1 juta eksemplar tiap judulnya. Rekor jumlah cetakan untuk Manga satuan adalah 3 juta eksemplar pada tahun 2015 lalu, rekor ini dipegang oleh One Piece vol.78, karya Eiichiro Oda.

Angka fantastis tersebut tentu saja membuat penerbit manapun akan iri. Namun harus disadari juga, di Jepang ada ribuan penerbit komik, namun hanya ada 4 yang tergolong penguasa pasarnya, Shueisha, Kodansha, Kadogawa dan Shogakukan. Keempat manga publisher ini juga masuk dalam daftar 10 penerbit terbesar di Jepang.

Memang mengamati pasar manga di Jepang, akan membuat siapapun iri, mulai dari distribusi manga yang sangat menyebar dan mudah diperoleh di mana-mana, hingga penggunaan lisensi karakter yang mendunia. Manga dapat diperoleh di semua jaringan mini market, di stasiun kereta api, dan tentu saja di toko buku.

Penggunaan lisensi karakter pun beragam, mulai dari produsen mainan, makanan dan minuman (sampai produk sekaliber Fanta memakai karakter One Piece, di kemasan botolnya), tempat hiburan pachinko, bahkan hingga menjadi ikon cinderamata di tempat wisata. Sangat menarik melihat Doraemon menjadi duta wisata di wilayah Takayama, di mana Doraemon mengenakan kostum Sarubobo, boneka monyet merah tanpa wajah yang menjadi maskot kota Takayama. Lalu ketika di Nara, Doraemon tampil memakai kostum rusa, yang menjadi maskot wilayah ini. Dan demikian pula di Kyoto, dan tempat wisata lainnya.

Beberapa produk yang sudah sangat terkenal bahkan, memiliki museum sendiri, seperti museum Fujiko F. Fujio, pencipta Doraemon, lalu museum Ghibli, dan bahkan ada tempat bermain bertema One Piece, di Tokyo Tower.

Bisa dibayangkan betapa besar bonus yang diterima dari penerbit dan kreator manga dari bisnis ini, bisnis manga tidak hanya berhenti di penerbitan dan penjualan saja, namun sudah merambah hingga ke segala bidang. Tidak heran apabila manga menjadi salah satu penopang perekonomian di Jepang saat ini.

Saat mengunjungi International Manga Museum di Kyoto, dijelaskan pula, seberapa besar pemasukan yang diterima dari seorang mangaka. Jika hanya mengandalkan dari segi pemasukan dari penjualan, sang mangaka hanya akan memperoleh setetes dari segentong anggur yang diperoleh dari total penjualan manga. Namun setelah karakternya terkenal dan diadaptasi menjadi anime, atau film animasi, lalu berkembang menjadi merchandise dan penjualan lisensi, barulah sang mangaka bisa memperoleh gentong-gentong anggur lainnya.

 

Mengunjungi Kantor Penerbit Shonen Gahosha

Sudah sampai Jepang, rasanya kurang lengkap kalau belum mengunjungi kantor salah satu penerbit manga di negeri ini. Walau bukan merupakan the big four, Shonen Gahosha tergolong penerbit manga skala menengah.

Manga terbitan mereka yang sudah beredar di Indonesia, diantaranya adalah Trigun, Kome si belang, dan Aoba Bicyle Shop, yang komikusnya, Gaku Miyao sensei pernah datang ke Indonesia dalam acara ComicFest id.

Berkat Tatsuki Hirayanagi san, saya berkesempatan bertemu dengan salah satu editor Shonen Gahosha, yaitu Masahiro Ohno. Ohno san mengajak saya berkeliling di kantornya. Ketika saya masuk ke sebuah gedung, saya pikir hanya satu lantai saja yang dipakai untuk kantornya, ternyata satu gedung penuh dari lantai 1 hingga lantai 7 dipakai untuk kantor mereka!

Tiap lantai dipergunakan untuk divisi yang berbeda-beda, seperti di lantai 1 untuk administrasi, dan editorial untuk majalah komik, lalu di lantai berikutnya untuk komik tentang masakan, lalu komik dewasa memiliki lantai sendiri, dan seterusnya.

 

Bertemu Komunitas Penggemar Komik Asing di Jepang

Pengalaman paling unik saya selama sebulan di Jepang, adalah ketika bertemu dengan komunitas penggemar komik berbahasa asing di Tokyo! Sebulan sekali anggota komunitas ini bertemu secara rutin, memamerkan komik berbahasa asing yang mereka miliki.

Satu per satu dari mereka akan maju untuk presentasi koleksi mereka, membahas apa saja, mulai dari gambarnya yang sangat berbeda dengan komik Jepang, dan kalau ada ide yang bagus akan diberi tepuk tangan meriah, dan kalau ada yang hancur dan parah komiknya, menjadi bahan tertawaan dari para anggota.

Saya mendapat kehormatan dari Masato Hara, ketua komunitas ini untuk memberikan sedikit perkenalan mengenai kondisi dan industri komik di Indonesia. Untunglah, presentasi saya mengenai komik Indonesia mendapat sambutan meriah dan mereka juga sangat tertarik dengan komik Indonesia, walaupun tidak mengerti bahasanya.

Ketika saya tanyakan kepada Masato Hara, apa yang membuat anggota komunitas ini tertarik pada komik berbahasa asing, yang tidak mereka pahami bahasa dan ceritanya, Hara san menjawab. Dari komik berbahasa asing ini mereka dapat belajar, tentunya belajar dari komik yang baik, dan belajar untuk tidak melakukannya dari komik yang buruk.

 

Tokyo Comic Con

Di minggu terakhir program residensi saya di Jepang, Tatsuki san, mengajak saya untuk mengunjungi acara Tokyo Comic Con, ini merupakan acara komik ala Amerika yang pertama kali diadakan di Jepang.

Penyelenggara acara tidak main-main mendatangkan bintang tamunya, Stan Lee, kreator Spiderman, X-Men, dan lainnya. Serta Jeremy Renner, aktor Hollywood pemeran karakter Hawkeye, dalam the Avengers. Sayang untuk bisa berfoto bersama ataupun meminta tanda tangan mereka, pengunjung diharuskan membayar ekstra lagi 15.000 yen sekali foto dan tambahan 14.000 yen jika ingin mendapat tanda tangan.

Berbagai memorabilia dari film-film terkenal, seperti kostum asli film the Dark Knight, mobil dari film Knight Rider dan Back to the Future, motor dari film Resident Evil, sampai dengan props film the Terminator, juga menjadi daya tarik pengunjung acara ini.

Menurut saya, acara ini cukup ramai dan menarik. Tapi rupanya Tatsuki san punya pandangan yang berbeda. Kata Tatsuki san, kalau dilihat dari segi pengunjung, acara ini boleh dibilang masih kurang berhasil jika dibandingkan dengan acara Comiket, yang biasanya diadakan setahun dua kali, yaitu setiap bulan Agustus dan akhir Desember. Padahal acara Comiket, tidak perlu mendatangkan artis sekaliber Stan Lee, bahkan Comiket juga kebanyakan merupakan pasar manga doujinshi (manga jiplakan karya komikus amatir). Tapi jumlah pengunjungnya membludak luar biasa. Sayang saya tidak berkesempatan menyaksikan fenomena ini.

Jadi penerbit manga di Jepang boleh cukup lega, karena komik impor dari Amerika pun, tidak sanggup menggeser tahta pasar manga mereka.

 

Doujinshi dan Manga

Saat berada di Tokyo, saya juga sempat mengunjungi acara pasar Doujinshi di Ikebukuro, Doujinshi adalah komik karya amatir, yaitu komik imajinasi para penggemar terhadap komik terkenal. Sebenarnya ini merupakan sebuah bentuk pelanggaran karya cipta. Karena sanga pembuat komik ini tidak membagi sepeserpun hasil penjualan dari karya mereka terhadap si empunya karya.

Umumnya karya doujinshi ini diperuntukkan untuk pembaca dewasa, jadi bisa disimpulkan bahwa 90 persen karya doujinshi biasanya berisi gambar-gambar dan adegan vulgar, yang bisa membuat pemilik karakternya marah, tersipu atau bahkan malu. Biasanya pada waktu penyelenggaraannya dibedakan tempat berjualan antara doujinshi untuk konsumsi para pria, dan untuk konsumsi para wanita.

Anehnya, kegiatan doujinshi ini oleh penerbit manga, dianggap sebagai ‘grey area’, yang menurut Profesor Yoshimura Kazuma, pengajar di Kyoto Seika University jurusan Manga, penerbit manga di Jepang tidak melarang, namun juga tidak mengijinkan karakter-karakter dalam manga mereka diadaptasi secara liar dan tidak senonoh seperti itu. Umumnya yang merasa keberatan adalah mangakanya. Namun, memang tidak ada hukum di Jepang, yang mengatur masalah ini.

Menurut Profesor Kazuma, kegiatan doujinshi ini, masih banyak manfaat dan sisi positifnya dibanding dengan sisi negatifnya. Jumlah uang yang dihasilkan dari doujinshi market ini, tidak seberapa dengan popularitas yang dihasilkan dari karya adaptasi penggemar yang sering kontroversial ini. Kontroversi akan menjadi tenar dan terkenal.

Selain itu, para pembuat doujinshi juga akan bisa berlatih membuat manga, dan tak jarang dari artis komik amatir yang bermula mebuat doujinshi ini, akan berlanjut menjadi mangaka profesional dengan ribuan fans yang sudah dimiliki saat awal berkarya membuat doujinshi.

Melalui kegiatan doujinshi ini, regenerasi mangaka dapat terus dilanjutkan, dan boleh dibilang sebenarnya merupakan win-win solution bagi kedua belah pihak. Pihak pemilik karya cipta mendapat promosi gratis, dan pihak pembuat doujinshi mendapat pemasukan dari penjualan karya mereka.

Satu hal yang menjadi pelajaran menarik bagi saya adalah, jangan terlalu anti ‘menjiplak’ sebuah gaya gambar dalam komik. Industri manga Jepang bisa menjadi sebesar ini juga awalnya karena Ozamu Tezuka terinspirasi dari gaya penggambaran karakter Mickey Mouse dan Betty Boop. Siapa tahu industri komik Indonesia juga akan berkembang sebesar ini suatu hari nanti. Semoga.

- Andik Prayogo