Buku Untuk Universiteitsbibliotheek Leiden

Hal yang menyenangkan bagi seorang penulis adalah, pertama, saat mendapatkan inspirasi dan bahan tulisan. Kedua, ketika gagasan itu menjadi sebuah karya dan diterbitkan (bisa melalui media massa atau terhimpun dalam buku). Ketiga, tentu saja, ketika dibaca banyak orang—saat itulah pesan yang ingin kita sampaikan diterima, dengan gembira atau duka. Keempat, bila muatan tulisan kita, baik itu fiksi maupun nonfiksi, bermanfaat dan syukur menjadi bagian dari pencerahan.

Karya yang kita tulis bisa saja hilang bagai ditiup angin. Hancur bersama kertas yang menampungnya. Terkena virus dalam komputer atau telepon pintar yang menyimpannya. Untuk itulah—dengan pengalaman pernah kehilangan laptop dan external hard disc—aku ingin mengamankannya begitu selesai ditulis. Bisa dengan mengirimkan melalui email kepada kawan, mengumumkan di halaman media sosial, atau menawarkan kepada media massa (yang kini mulai terbatas) dengan asumsi siapa tahu patut dimuat. Dengan demikian, mungkin karya itu tak semata berada di tangan sendiri.

Tulisan-tulisanku yang terbit dalam bentuk buku, baik itu puisi, cerita pendek, novel, esai, ataupun memoar; tak ingin hanya menjadi milik pribadi atau kawan-kawan yang membelinya. Aku harus meluaskan “pergaulannya” dengan berbagai cara. Salah satunya, dan yang membuat kesenangan kelima, adalah yang kulakukan pada tanggal 4 Juli 2017, di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Dalam rangka mengikuti program residensi penulis yang diselenggarkan Kemendikbud RI bersama Komite Buku Nasional, tahun 2017, kupilih negeri Belanda sebagai tempat riset dan menulis novel tentang Raden Saleh. Ada jejak Raden Saleh di Belanda (juga Jerman, Paris, dan Belgia) yang perlu kutelusuri. Universitaetsbibliotheek Leiden tampaknya menjadi pusat pencarian itu karena sekarang buku-buku di KITLV juga secara bertahap berpindah ke kampus ini.

Atas kebaikan hubungan dan koordinasi antara John McGlynn (KBN dan Yayasan Lontar) dan Kasper van Ommen sebagai External Relations Officer di Perpustakaan Universitas Leiden, urusanku dimudahkan. Pada tanggal 3 Juli kuterima e-mail dari Marije Plomp, PhD yang membawahi Librarian South & Southeast Asian Studies di Perpustakaan Universitas Leiden, bahwa pihak perpustakaan akan memberikan akses dengan membuatkan kartu anggota serta menyediakan ruang untuk bekerja dari Senin sampai Jumat sepanjang jam operasi (sejak pukul 8.30 hingga 12 malam). Tentu surat elektronik itu ditujukan pula kepada Koko Hendri Lubis dan Ben Sohib yang hendak bermukim residensi di Belanda.

Pagi tanggal 4 Juli, dengan kegembiraan, aku bersepeda menuju Perpustakaan Universitas Leiden (yang dikenal dengan nama UB –Universiteitsbibliotheek). Ada kesulitan teknis saat kusampaikan surel Marije kepada resepsionis karena sistem komputer sedang error. Sambil menunggu, aku berkenalan dan ditemani Sherly, wanita Indonesia yang bekerja sebagai pendata buku baru untuk perpustakaan. Kami mengobrol ringan sampai sistem komputer kembali beroperasi. Aku dibantu Sherly hingga mendapatkan kartu anggota dan masuk ke Asian Library di lantai 3. Kepadaku ditunjukkan ruangan Marije (dibaca Maraya), tetapi tampaknya si Nona sedang tidak di tempat.

Aku duduk di ruang baca sambil observasi situasi sekitar. Meskipun banyak pengunjung, tetapi suasananya sungguh sunyi, tak ada ucapan terdengar. Rupanya itulah aturan main di perpustakaan (yang sering dilanggar di negeri kita), bahwa tak ada percakapan. Sebab, saat Sherly menyampaikan sesuatu hanya tampak bibirnya yang bergerak karena suaranya lebih pelan ketimbang bisikan.

Seraya menunggu, aku pun asyik sendiri menyiapkan kegembiraan ke-5 tadi. Yakni: menandatangani 9 bukuku yang hendak kuserahkan kepada UB. Jadi… sebelum aku mengubek-ubek mencari bahan di perpustakaan ini, lebih dulu ingin menyumbangkan karyaku agar suatu saat pengunjung perpustakaan mengenalku. Bukankah di Leiden banyak pelajar/mahasiswa Indonesia dan para Belanda Indonesianis?

Sejam kemudian aku berkeliling di antara rak buku—sebagian masih kosong, karena ini wahana baru yang akan menerima buku-buku dari KITLV. Pas melewati ruangan yang tadi ditunjuk Sherly, kuintip tampak ada 4 orang sesuai jumlah nama yang tertera di sisi pintu. Ada nama Marije Plomp di sana. Dan kuduga, dialah yang paling cantik. Maka aku pun mengetuk pintu berkaca itu.

Saat dipersilakan masuk, aku memperkenalkan diri dan menyebut nama Marije. Nah, benar kan, si pirang tinggi semampai itu bangkit dari duduk dan menyalamiku. Kami keluar ruangan karena pasti akan mengobrol panjang. Marije mengambil kunci dan mengajakku ke taman (karena di ruang perpustakaan tak boleh bicara). Aku mengangkut 9 buku dan sebuah kamera… tentu tahu dong tujuan “culas” itu?

Setiba di taman kami mengobrol dengan pembukaan bahwa aku bersuka cita menerima e-mail dari dia yang membuat pekerjaan risetku bakal mudah. Marije bukan penulis literasi tetapi pernah mengaji sastra Melayu klasik. Sementara, saat aku ingin mengetahui lebih jauh mengenai bagaimana mencari bahan tentang Raden Saleh, diajarinya aku membuka akses situs UB dengan akunku sendiri! Jadi, aku punya user-name dan password di UB. Mantap kan?

Saat kusampaikan bahwa aku bermaksud menambah koleksi buku Asia dengan karya-karyaku, tampak matanya berbinar-binar. Tulus atau drama, pokoknya aku senang sekali dan menginginkan ada dokumentasi untuk penyerahan sederhana di taman itu. Dengan ringan langkah Marije memanggil kawannya dan kami dijepret beberapa kali (sengaja memberikan bukunya tidak sekaligus).

Apakah ini sebuah tradisi yang baik? Aku tak tahu persis. Namun, menurutku, memperluas “pergaulan” karya kita kepada khalayak pembaca di luar sana, tentu akan memberikan peluang lebih banyak untuk memperoleh “takdir” baru. Seperti kata Triyanto Triwikromo dalam obrolan santai, bahwa setiap buku kita memiliki takdirnya sendiri.

Sebelum kami berpisah, kepadaku ditunjukkan ruangan bekerja yang akan menjadi tempat aku mendekam tanpa diganggu siapa pun. Asalkan: ambil kunci di resepsionis dan dikembalikan pada hari yang sama saat pulang. Melihat ruangan itu, ada tiga meja yang memungkinkan (pada satu masa overlapping) aku bekerja bersama dengan dua “jahanamer” lain: Koko Hendri Lubis dan Ben Sohib.

Mengenai sebutan “jahanamer”, mari kujelaskan singkat. Awalnya, dalam perbincangan canda antar-peserta residensi di WAG, Ben Sohib menyebut obat kuat lelaki berbahasa Arab “Hajar Jahanam”. Tentu semua anggota tahu untuk apa obat itu, namun kemudian dikembangkan dengan pertanyaan-pertanyaan plesetan dan kian terkenal ramuan itu. Tersebab kami bertiga masuk tim Belanda (Ben Sohib, Koko Hendri Lubis, dan aku), maka teman-teman kemudian menyebut kami sebagai “jahanamers”. Tentu dengan perasaan penuh kasih dan sayang.

 

 (Kurnia Effendi)