Condet – Amsterdam via Istanbul

Selasa, 8 Agustus 2017, Boeing 777-300 milik Turkish Air rute Jakarta – Istanbul - Amsterdam lepas landas dari bandara Soekarno – Hatta pada pukul 20.45 sesuai jadwal, mengangkut ratusan penumpang tujuan Istanbul atau Amsterdam. Saya, warga Condet, termasuk di antara mereka.

Ini bukan penerbangan pertama saya ke Istanbul dan Amsterdam. Saya pernah menjalaninya hampir dua dekade yang lalu, saat menara WTC belum ditubruk pesawat dari neraka, Aleppo dan Palmyra di Suriah belum menjadi medan tempur para “jihadis’ global, Mosul di Irak belum disembelihISIS, Paris dan Brussel belum dilanda bom dan serangan bersenjata, pejalan kaki lima di Lyon belum diseruduk truk maut simpatisan ISIS, Eropa belum dibanjiri pengungsi Suriah, Dresden di Jerman belum dihiasi bendera kelompok fasis ultra kanan Pegida, Stockholm di Swedia belum dicemari serangan brutal gerombolan bertopeng terhadap para imigran,Amerika Serikat belum jatuh ke tangan Trump, Indonesia belum dijangkiti virus politik identitas dan radikalisme agama.

Aih, begitu banyak “belum”  yang saya sebutkan. Memang, betapa berbeda suasana sekarang. Saya duduk tercenung di dalam pesawat berbadan lebar itu, mencoba mencerna berbagai lintasan pikiran dan perasaan yang mengambang di benak, silih berganti muncul dari mana saja. Dari wajah penumpang di sebelah kiri dan kanan, dari layar monitor di depan kursi, dari wajah pramugari dan pramugara, dari bir dan wine yang mereka tawarkan. Saya berpikir sekarang ini kita hidup di salah satu era paling jahanam dalam lintasan sejarah manusia.

Persolan identitas; agama dan ras, dan kesalahpahaman yang senantiasa setia mendampingi kedua hal ini, berada pada titik kulminasi. Pernahkah kita berpikir, misalnya, bagaimana Turki yang secara ras adalah Eropa (tak beda dengan Yunani) itu, menjadi bukan Eropa lantaran beragama Islam? Betapa hebatnya cara kerja benak kita; sanggup memutasikan satu ras menjadi ras yang berbeda hanya karena faktor agama.

Bagaimana jika seandainya Turki beragama Kristen dan sebaliknya Yunani adalah penganut Islam? Saya kira dengan sangat cepat mesin prasangka dalam benak kita akan menukar ras keduanya: Turki adalah Eropa dan Yunani bukan.

“Turki, Albania, Bosnia, dan Chechnya, bukan Eropa. Mereka Muslim,” kata Andre, penumpang asal Slovakia yang duduk di sebelah saya. Ia mengatakan itu dalam obrolan kami selama penerbangan Jakarat - Istanbul.

Lihatlah bagaimana rupa bangsa-bangsa yang ia sebut itu. Mereka bermata biru dan berambut pirang, dan mereka bukan bagian dari Eropa! Begitulah, yang Eropa harus Kristen, sebagaimana kita selama ini dengan perasaan tanpa dosa juga mamaksakan yang Arab musti Islam. Tak terbersit di benak sebagian besar kita untukmempertanyakan bagaimana agama bisa “mengubah” ras dan bagaimana ras bisa “menghadirkan” agama. Kita terbiasa menerima paradigma dan sudut pandang yang dikonstruksi secara gegabah sebagai sesuatu yang alamiah sekaligus renyah.

Transit di bandara Attaturk, di kota yang dulu merupakan pusat dunia Kristen, saya kian banyak mengamati beraneka ragam wajah manusia; ras dan agama. Bermacam lintasan pikiran dan perasaan kembali mengambang. Saya melihat wajah-wajah Eropa Islam, Arab Kristen, dan lain-lain, wajah-wajah yang selama ini selalu luput dari amatan, lantaran tertutupi lumut stereotyping yang dingin dan tebal.

Lalu saya teringat Condet, kampung saya (dan dunia di luarnya), di mana persoalan identitas disederhanakan sedemikian rupa. Seluruh ruang dan waktu yang membingkai drama kehidupan umat manusia dinarasikan dalam bentuknya yang paling hitam putih.

Yang berada di dalam wilayah Condet memandang semua yang di luar sebagai pengidap sepilis (sekuler, pluralis, liberal, komunis), sementara yang di luar menganggap seluruh yang di dalam tak lebih dari para bigot dan fundamentalis. Setali tiga uang, dua kubu ekstremis berbagi ruang.

Ketahuilah, dengan menyebut wilayah Condet dan dunia di luarnya, sesungguhnya saya sedang mencoba membangun metafora, demi memudahkan penulisan dan pemahaman belaka. Sebuah upaya mempertajam unsur dramatik dalam mengisahkan dua kubu yang sedang berkonflik. Tapi saya rasa itu bukan sebuah metafora yang buruk juga. Sebab, Condet pada dasarnya merupakan contoh sempurna bagaimana pesta stereotyping dirayakan bersama-sama oleh orang yang berbeda satu dengan lainnya.

Masih ada waktu satu jam sebelum boarding untuk melanjutkan perjalanan ke Amsterdam. Saya beranjak ke ruang merokok yang disediakan, sebuah teras besar berlantai kayu di lantai tiga yang menghadap ke apron dini hari. Saya berbagi kepulan asap, anggukan, dan senyuman dengan berbagai orang, lelaki dan perempuan, para calon penumpang dari dunia-dunia “liyan’, para pelayan toko dan kafe yang sedang beristirahat sejenak, dan saya teringat bir dan wine yang ditawarkan selama penerbangan.

Mungkin negara ini sedang mengalami pergulatan yang kurang lebih sama dengan yang tengah dialami Indonesia. Islam politik telah mengantarkan Erdogan ke tampuk kekuasaan, memerintah sebuah negara sekuler di mana bir dan wine disuguhkan baik di udara maupun di darat, di mana gadis-gadis memperlihatkan betis dan separuh paha mereka. Lalu,  perlahan, dengan dukungan massa jalanan dan parlemen, pemerintahan Erdogan akan menerbitkan peraturan di mana aliran minuman alkohol harus disumbat, betis dan paha para gadis musti ditutup rapat.

Tentu persoalannya tidak sekadar menyangkut ke(tidak)bebasan meminum alkohol dan memamerkan betis atau paha. Banyak aspek lain yang lebih kompleks dan fundamental yang akan ikut terseret. Ini persoalan bagaimana seseorang akan memandang dan melakoni kehidupannya, sebuah persoalan eksistensial bagi manusia, baik secara personal maupun komunal. Maka, pertengkaran antara pihak yang satu dengan yang lainnya bisa dipastikan akan berlangsung sangat sengit. Sesama anak bangsa akan saling mencakar dan menggigit.

Mencakar dan menggigit merupakan diksi yang berkonotasi purba bagi penggambaran perkelahian antar manusia. Tapi saya kira keduanya masih jauh lebih baik ketimbang saling menikam dan membedil. Dan itu yang saya khawatirkan kelak akan terjadi, entah di Istanbul atau di Jakarta. Mungkin juga di banyak tempat lain di seluruh dunia. Sebab, di dunia yang kian kecil dan ganjil ini, apa pun yang meluap di Condet, sesungguhnya efek dari kepak kupu-kupu pikiran di Istanbul. Apa pun yang meruap di Dresden, merupakan akibat dari kepak kupu-kupu perasaan di sepanjang jalan antara masjid Istiqlal dan silang Monas.

Radikalisme, rasisme, dan fasisme, selalu bertepuk dua belah tangan; menjalar dan melebar dari satu tempat ke tempat lainnya, berkelindan, menjadi tepukan massal yang bergemuruh dan mengerikan.

Boleh jadi saya terlampau was-was. Mungkin itu sekadar pengaruh dari situasi friksional akibat menguatnya politik identitas dan radikalisme yang tengah terjadi di dalam negeri, dan juga perkataan Andre yang rasis-rasis tak sedap itu.

Saya melakukan boarding, memasuki pesawat yang akan menerbangkan saya ke Amsterdam. Saya tak tahu, apa yang akan saya temukan di sana. Tapi, ketika menyangkut soal radikalisme, rasisme, dan fasisme, saya berharap akan mendapati tepukan sebelah tangan saja.[]

 

Ben Sohib