Cosplay di Jepang Tak Seindah di Indonesia

Cosplay, atau costume play, merupakan sebuah hobby untuk berdandan dengan mengenakan kostum dan riasan mengikuti karakter komik, film, animasi, game, maupun tokoh terkenal.

Hobby cosplay ini telah merambah ke seluruh dunia, bahkan sampai ke pameran buku terbesar dan tertua di dunia, Frankfurt Book Fair, juga mengadakan lomba cosplay Deutsche Cosplay Meisterschaft, yang diselenggarakan pada hari terakhir pameran. Namun peserta cosplaynya, biasanya sudah berkeliaran di lorong-lorong pameran sejak hari Sabtu, ketika pameran ini dibuka untuk umum.

Awal mula hobby cosplay ini mungkin berawal dari Amerika, yang memang suka berdandan dan berkostum saat Halloween. Lalu menjadi semakin berkembang ketika ada pengunjung pameran pekan fiksi ilmiah, yang berdandan seperti karakter komik. Hal ini menjadi viral, dan banyak yang melakukannya di acara-acara sejenis berikutnya. Kemudian para penggemar komik dan animasi Jepang juga tidak mau kalah, mereka pun menciptakan istilah cosplay, yang pertama kali ditampilkan pada awal tahun 80 an.

Selanjutnya, hobby ini menjadi semakin populer, dengan makin berkembangnya industri komik dan animasi di Jepang, dan akhirnya menjadi mendunia seperti sekarang ini.

 

Cosplay di Indonesia

Di Indonesia, demam cosplay ini juga sudah mulai mewabah, mulai dari cosplayer pemula hingga cosplayer profesional selalu tampil dalam berbagai acara komik dan Jejepangan yang diselenggarakan di beberapa kota besar di Indonesia.

Para cosplayer yang datang ke acara komik, biasanya mendapat berbagai kemudahan, seperti tiket masuk gratis, ketika hadir dalam dandanan cosplay. Berbagai lomba berhadiah puluhan juta rupiah pun, bisa mereka menangkan apabila mereka tampil secara sempurna, baik dalam segi kostum, maupun penampilan.

Umumnya cosplayer di Indonesia membuat kostum mereka melalui jasa para pembuat kostum cosplay, walau ada juga yang membuat sendiri kostum mereka, seperti yang dilakukan oleh Pinky Lu Xun dan Naru, mereka adalah cosplayer senior Indonesia.  Naru bahkan juga menerima pesanan untuk membuat kostum bagi para cosplayer pemula.

Bahkan di Indonesia, hobby ini juga dapat menjadi profesi dan sarana untuk mendapatkan pemasukan, yang nilainya cukup menggiurkan. Penerbit komik dan perusahaan game di Indonesia, tidak segan-segan untuk membayar para cosplayer profesional, untuk menjadi duta merek mereka. Seperti re:ON Comics, yang memiliki 4 orang cosplayer resmi untuk mewakili maskot dari produk mereka, yaitu, Franzeska Edelyn, Clarissa Punipun, Matcha Mei, dan Jeanice Ang.

Popularitas para cosplayer ini dapat dilihat dari jumlah fans yang mengikuti akun sosial media mereka. Maka tak jarang, para cosplayer yang populer, akan mendapat banyak tawaran dari perusahaan yang tertarik untuk menyewa mereka, baik sebagai duta merek ataupun sekedar memberikan endorsement.

Lalu ada lagi pemasukan dari undangan para event organizer, yang mengundang para cosplayer ini untuk meramaikan acara mereka, biasanya para event organizer ini akan mematok harga meet and greet, dari para pengunjung untuk bisa berfoto bersama cosplayer ini, serta mendapatkan tanda tangan sang cosplayer di merchandise yang dijual di acara tersebut. Tentunya, para cosplayer ini juga mendapatkan pemasukan lagi melalui penjualan merchandise mereka, biasanya berupa poster, postcard, ataupun photobook.

Singkat kata, saat ini para cosplayer populer Indonesia, sudah menjadi semacam idol. Popularitas mereka tidak kalah dari selebriti Nasional. Bahkan saat saya mengunjungi sebuah acara di Jogjakarta, yang diselenggarakan oleh salah satu bank swasta terbesar di Indonesia, saya melihat sambutan pengunjung atas para cosplayer ini mengalahkan sambutan atas penyanyi pop ibu kota, yang hadir di acara yang sama.

 

Cosplay di Jepang

Lain Indonesia, lain pula di Jepang, negara asal muasal hobby ini. Jika di Indonesia para cosplayer mendapat begitu banyak kemudahan dan keuntungan dalam menjalani hobby ini, di Jepang, menjadi cosplayer tidak seindah menjadi cosplayer di Indonesia.

Para cosplayer di Jepang, malah dibatasi ruang aktifitasnya ketika mengikuti sebuah acara komik, mereka harus menyewa ruang ganti seharga kurang lebih 500 yen, membeli tiket masuk, yang bervariasi dari 800 yen hingga 2500 yen. Dan mereka dilarang berkeliaran di lorong-lorong pameran!

Para cosplayer boleh, berada di lokasi pameran untuk membantu penyewa booth menjual barang dagangan mereka, tapi tidak boleh mondar-mandir, karena dikhawatirkan kostum mereka akan menghalangi jalan dan mengganggu pengunjung.

Cosplayer di Jepang, juga dilarang jalan-jalan dan berkeliaran di tempat umum, seperti di mall dan transportasi umum. Jadi mereka harus berdandan dan berganti kostum di ruang ganti yang harus mereka sewa. Dan setelah selesai, berganti kostum lagi, baru boleh pulang.

Ruang gerak mereka pun biasanya hanya diberikan di sebuah tempat sudut taman, di mana mereka akan mengambil foto bersama, dan para penggemar boleh memotret mereka, tentunya setelah meminta ijin terlebih dahulu kepada yang bersangkutan. Dan jangan pernah sekali-kali memotret para cosplayer ini setelah mereka tidak lagi berdandan sebagai cosplayer.

Setelah saya tanyakan alasannya kenapa, ternyata semua ini berhubungan dengan privasi mereka. Di Jepang, hobby cosplay ini masih dianggap sebagai sesuatu yang aneh. Bahkan beberapa perusahaan di Jepang, merasa keberatan apabila tahu karyawan mereka melakukan hobby ini. Resikonya apabila ketahuan, bisa dipecat! Inilah sebabnya para cosplayer Jepang sangat sensitif apabila difoto tanpa dandanan cosplay mereka.

Umumnya cosplayer di Jepang ini datang bersama komunitas mereka, mereka datang sendiri-sendiri, lalu mengadakan foto bersama komunitas mereka. Lucunya, mereka hanya bergaul dengan rekan satu komunitasnya saja. Jika di Indonesia, cosplayer bisa menjadi semacam idol, di Jepang kebanyakan benar-benar murni hobby.

Jika di Indonesia, para cosplayer harus memesan dulu kostumnya kepada para costume maker. Di Jepang, menjadi cosplayer itu sangat mudah, karena semua sudah tersedia di toko! Mulai dari wig, senjata, kostum dan ornamen lainnya bisa dibeli langsung. Kualitasnya pun lumayan, bahkan yang bermodal pas-pasan, bisa membeli kostum dan perlengkapan cosplay bekas, yang harganya jauh di bawah harga baru.

Cosplayer profesional di Jepang, umumnya mereka mendapat tawaran untuk tampil dalam berbagai acara di luar negeri, seperti di Asia Tenggara, Eropa dan Amerika. Namun, tidak ada satupun penerbit komik di Jepang, yang mau membayar mereka untuk menjadi duta produk mereka

Penerbit komik sih senang-senang saja, kalau ada cosplayer yang mengcosplaykan karakter dari komik mereka, tapi di Jepang, memang tidak ada budaya untuk membayar seorang cosplayer untuk memeragakan karakter suatu merek.

Saat di Tokyo, saya beruntung dapat bertemu dengan Leona, warga Indonesia yang sudah menetap di Tokyo, dan mengaku hobby bercosplay. Leona menemani saya, sekaligus menjadi penerjemah ketika saya sedang melakukan riset tentang cosplay ini di acara Sunshine Creation, Ikebukuro, untuk materi penulisan komik dalam program residensi penulis ini.

Dari cerita Leona, saya dapat menyimpulkan bahwa cosplayer di Indonesia, nasibnya jauh lebih beruntung daripada cosplayer di Jepang. Karena mereka lebih banyak mendapat kemudahan dalam menjalani hobby mereka, dibanding para cosplayer di Jepang, yang harus merogoh kocek lebih dalam untuk menjalani hobby mereka.

Menurut cerita Leona, di Jepang, mau mencari lokasi untuk melakukan photo shoot pun, susah sekali dan harus membayar ekstra untuk photo shoot coordinatornya. Karena beberapa tempat, keberatan digunakan sebagai lokasi pemotretan para cosplayer. Mereka hanya mau lewat sang koordinator. Dan jangan sekali-kali nekat, melakukan pemotretan di taman umum, kalau ada yang lapor bisa berurusan dengan pihak berwajib, karena dianggap melanggar peraturan kota. Inilah sebabnya ketika ada acara cosplay, mereka sekaligus memanfaatkannya untuk melakukan photo shoot sekalian.

 

Semua Demi Ketertiban Umum

Menurut Profesor Mitsuru Sugaya, salah seorang pengajar di Kyoto Seika University, yang sempat saya temui. Cosplayer memang tidak diijinkan untuk berkeliaran di fasilitas umum ataupun transportasi umum. Aturan ini terdapat di tiap kota di Jepang. Alasannya karena tidak semua kostum cosplayer ini aman untuk dinikmati semua usia.

Masih menurut Profesor Sugaya, sebenarnya masyarakat Jepang cukup menghargai cosplayer yang tampil secara kawaii (imut) dan sopan. Dan tentunya mereka risih juga melihat cosplayer yang berdandan secara seronok dan mengumbar keseksian tubuhnya. Inilah alasan kenapa di setiap acara cosplay, dibuat daftar aturan yang sangat panjang, apa saja yang boleh dan apa saja yang tidak. Seakan memang aturan ini sangat merugikan peserta cosplay. Namun semua ini dilakukan demi kepentingan umum.

Ada juga beberapa cosplayer, yang bekerja fulltime menjadi maid di anime cafe, mereka berdandan lengkap ala maid di komik-komik, atau menemani pelanggan yang datang ke bar. Pekerjaan inilah yang membuat profesi cosplayer, menjadi kurang dihargai oleh sebagian masyarakat Jepang.

Jadi sebenarnya, lebih enak menjadi coslayer di Indonesia, atau di Jepang? Di Indonesia tidak banyak peraturan yang membatasi ruang gerak cosplayer, namun susah untuk memiliki kostum dan perlengkapan lainnya, sedang di Jepang, mudah mencari kostum, namun banyak aturan yang diterapkan untuk menjaga ketertiban umum.

- Andik Prayogo