DARI KEHARUAN OTENTIK KE HARUM RUM

DARI KEHARUAN OTENTIK KE HARUM RUM

Saya tiba di Praha, Republik Ceko, Sabtu sore (2/9), ketika musim panas hendak memasuki hari-hari terakhirnya. Langit Praha seperti disobek dari warna dominan etsa-etsa karya Jaromír Stretti-Zamponi. Suhu udara pada siang hari berkisar 15° C-17° C—pada pagi dan malam bisa anjlok beberapa garis lagi. Ketika keluar dari bandara internasional Václav Havel, yang tampak adalah bentang ladang hijau yang luas dan rumah-rumah yang berjauhan satu sama lain. Hanya satu-dua mobil melintas. Selebihnya adalah jejalan lengang yang dirundung kemalasan akhir pekan.

Saya merasa sangat terhormat sekaligus berterima kasih saat tiba di Praha karena sejak antre mengambil bagasi saya disambut oleh Pak Dwi Wisnu Budi Prabowo, Sekretaris Ketiga KBRI Praha, dan stafnya, Pak Arifin. Ya, sejak sebelum berangkat saya sudah berkomunikasi dengan Pak Wisnu melalui pos-el, sehingga begitu pertama kali bertemu muka sudah terasa keakraban di antara kami. Dengan Citroen Jumpy hitam milik KBRI, mereka mengantar saya ke sebuah rumah di Ruzyne, Praha 6.

Rumah itu milik pasangan Renata Langrova-Peter. Renata adalah seorang guru bahasa Inggris dan mantan aktivis Revolusi Beludru 1989. Ketika saya tiba dia menyambut saya dengan hangat dan segera memberikan sejumlah penjelasan terkait kamar yang akan saya tempati dan apa-apa yang perlu saya lakukan selama saya indekos di rumahnya. Segera saya jatuh hati pada cara induk semang saya itu merawat rumah. Segalanya tampak resik-bersih, termasuk kamar mandi dan dapur. Ia juga gemar berkebun, memelihara kucing dan membuat kue.

Sementara Peter, suaminya, adalah seorang pendiam yang kerap bekerja berjam-jam di depan komputer meja di ruang sebelah kamar saya. Namun, dialah yang mengajari saya bagaimana cara menggunakan mesin cuci dan bagaimana menjemur pakaian di bawah langit Praha yang abu-abu melulu. “Agar tidak miring ke kiri atau ke kanan, kaki jemuran ini mesti ditimbun batu,” ia berkata sambil mengambil sebongkah bata roster.

Saya kemudian tersadar bahwa kalimat Peter ini sebenarnya berkerabat dekat dengan kalimat-kalimat dalam puisi maupun prosa Afrizal Malna. Penyair garda depan Indonesia ini kerap bermain teknik “sinestesia”, yakni piranti sastra yang mencampuradukan dua pengindaraan berbeda sehingga menimbulkan sensasi baru. Tengoklah judul kumpulan cerpennya yang terbaru, Pagi yang Miring ke Kanan. Di sini bahkan ia meleburkan gatra waktu dan gatra ruang sekaligus. Untungnya saya tidak segera menimpalinya dengan ungkapan, “Biarkan baju-baju itu jatuh ke Rabu pagi, Peter.”

Ruzyne adalah kawasan agak berbukit-bukit di sebelah barat Praha. Rumah yang saya tempati terletak di tebing yang di sekelilingnya ditumbuhi semak dan pepohonan. Jika saya memandang dari balik jendela di depan kamar saya, yang tampak adalah tebing yang ditumbuhi pepohon yang lebih besar lagi, beberapa rumah dan jalan bercabang dua: Yang besar berbelok ke kanan dan akan mengantarkan saya ke stasiun trem dan bus Bílá Hora (Gunung Putih), yang kecil menikung ke kiri dan mengantarkan saya ke dalam taman hutan Obora Hvězda.

Saya penasaran akan taman hutan ini karena dipromosikan oleh Renata saat saya mencari rumahnya lewat aplikasi Airbnb. Dahulunya hutan ini adalah tempat berburu kaum bangsawan setempat. Kini sepenuhnya taman hutan yang didalamnya atau di sekelilingnya warga bisa berolah raga dan menikmati kerindangan pepohoan dan kesejukan udaranya. Menjelang musim gugur seperti sekarang ini suasana taman hutan itu akan lebih nyaman lagi. Dan yang tak kurang penting, taman hutan ini sangat aman dan ramah anak.

Di sebelah barat hutan ini berdiri sebuah kastil/istana musim panas yang dibangun pada pertengahan abad ke-16, namanya Kastil Bintang (Letohrádek Hvězda)—ia dinamakan seperti itu karena berbentuk bintang segi enam. Kastil ini dibangun oleh Pangeran Ferdinad Tyrolský untuk istrinya Filipina Welser. Di dalam kastil pengunjung juga bisa menikmati pameran terkait “Pertempuran Gunung Putih” (Bitva na Bílé hoře), pertempuran 30 tahun di abad ke-17 yang menyebabkan penganut Protestan di kawasan ini terusir akibat invasi pasukan Katolik.

Saya lantas terkenang akan kota kelahiran saya.

Sebagai kota pantai, Jakarta sebenarnya juga mengenal konsep hutan. Jika kita buka-buka kembali arsip sejarah Jakarta, kawasan selatan Batavia dulu sesungguhnya hutan belaka. Orang-orang Cina Peranakanlah yang kemudian membuka hutan itu untuk perkebunan tebu, yang menghasilkan gula dan arak. Bahkan toponimi tempat-tempat di Jakarta cukup membuktikan bagaimana hutan dan kebun di masa lalu menjadi bagian dari kehidupan kota: Kembangan, Kebon Jeruk, Rawa Kopi, Kebon Pala, Utan Panjang, Utan Kayu dan seterusnya.

Menurut catatan Tio Tek Hong dalam bukunya Keadaan Jakarta Tempo Doeloe: Sebuah Kenangan 1882-1959 (Masup Jakarta, 2006) hingga beberapa dasawarsa pertama abad ke-20 di kawasan Pasar Baru dan Kemayoran masih terdapat hutan tempat berburu. Berkongsi dengan seorang Belanda, Tio mendirikan perkumpulan berburu (Jagersgenootschap). Malah ia menerbitkan buku panduan berburu berjudul Penoentoen, Pengetahoean dan Nasehat Fatsal Memboeroe Binatang dan Boeroeng. Dalam buku itu diatur, misalnya, kapan waktu yang tepat untuk berburu dan larangan menembak hewan, misalnya ketika sedang bertelur atau bunting.

Namun, seiring pembangunan kota, hutan-hutan itu habis untuk permukiman penduduk, industri dan lain keperluan. Itu juga karena pengelola kota ini di masa silam menganggap hutan bukanlah bagian penting dari keberadaan kota. Kini hutan alami yang tersisa di Jakarta adalah Taman Hutan Mangrove Angke—setelah nyaris habis oleh megaproyek Pantai Indah Kapuk dan jalan tol Sedyatmo.

Selebihnya adalah “hutan” yang dibangkitkan dari lahan kosong atau tempat pembuangan sampah. Misalnya, Hutan Kemayoran, Hutan Kota Serengseng, Hutan Kota Tebet (Hutan Tebet Honda). Dalam “hutan bikinan” seperti ini unsur penataan pohon menjadi penting. Pohon-pohon apa saja yang akan ditanam bisa dipastikan sejak semula, termasuk juga jarak antar-pohon, pengelompokkan berdasarkan jenis dan perlu-tidaknya dibangun danau di dalamnya.

Jika kita memasuki hutan-hutan di Jakarta yang masih segelintir itu, sebenarnya kita masih bisa berharap Jakarta akan tumbuh jauh lebih hijau dan lebih sejuk dari sekarang ini. Target 30% ruang terbuka hijau dari 650 km2 luas Jakarta bisa diwujudkan jika masing-masing kita menganggap penting pepohonan dan ekosistem di dalamnya sebagai paru-paru kota.

“Kalau kita punya ruang terbuka hijau 30 persen, kita bisa hidup sehat,” ujar Yayat Supriatna, pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, sebagaimana pernah dikutip Kompas. Di kota yang kelewat panas semacam Jakarta sekarang ini, lanjut Yayat, warga akan mudah kena gangguan jiwa.

Saya tentu saja tidak ingin jadi gila karena kepanasan—kecuali gila yang karenanya daya cipta bisa dirayakan. Karena itu di tengah taman hutan macam Obora Hvězda saya merasa waras-yang-nyaris-gila karena keindahan dan kenyamanan suasananya. Namun, hidup waras dan nyaman adalah situasi yang mesti selalu dicurigai. Kaum seniman, para penyair tak terkecuali, tidak suka kehidupan yang adem-ayem-tentrem seperti itu. Ia ingin kehidupan yang bergolak. “Berilah aku kota,” kata Subagio Sastrowardoyo dalam puisi dengan judul yang sama. Saya kutipkan larik-larik yang relevan:

Aku ingin lari dan berteriak: “Berilah

aku kota dengan bising dan kotornya.

Kembalikan aku ke medan pergulatan mencari

nafkah dengan keringat bersimbah di tubuh.

Aku hanya bisa hidup di tengah masalah!”

Karena itu, jika sudah berjam-jam di depan laptop dan hanya beroleh satu-dua baris saja, saya pergi memandangi kerimbunan pohon di sekeliling tempat indekos saya. Sepanjang perjalanan itu saya mengagumi rumah-rumah yang hampir selalu terdapat rumpun bunga di depan jendela dan tamannya. Mawar terutama. Juga pepohon apel dengan bebuah yang ranum di halaman rumah—seperti di Batu, Jawa Timur.

Saya juga kagum pada warga kota ini yang masih memuliakan genting dari tanah. Dengan teknologi pembuatan genting yang jauh lebih baik cetakan genting yang mereka gunakan tampak sangat rapi dengan presisi yang sangat terjamin. Jika dilihat dari udara tampak atap rumah mereka yang menjulang dan berwarna cokelat terang. Sementara warga Jakarta kini mulai lebih senang menggunakan genting artifisial terbuat dari seng karena lebih ringan, murah dan dan gampang dipasang.

Saya senang naik trem ke Kota Tua Praha—moda transportasi yang dihapus di Jakarta pada 1960-an karena dianggap tidak cocok lagi. Kawasan Kota Tua Praha adalah kota wisata. Di mana pun kita berjalan akan kita temui wisatawan dari berbagi belahan dunia. Namun, yang cukup mencolok adalah wisatawan yang tampaknya berasal dari Korea Selatan dan (mungkin) RRC dan Taiwan. Tapi cukup banyak juga orang Vietnam dan India. Selebihnya adalah “bule”, sebuah nama-pukul-rata untuk warga negara-negara Eropa dan Amerika kulit putih.

Beberapa kali saya mencoba mencari toko buku di kawasan Kota Tua Praha dan cukup banyak, baik yang menjual buku baru maupun buku bekas dan barang antik. “Knihy” adalah sebutan untuk toko buku dalam bahasa Ceko. Khusus toko yang memajang buku-buku bekas selalu diberi tambahan label “Antikvariat”. Namun, sebagian besar mereka memajang buku-buku dalam bahasa setempat, hanya sedikit buku-buku berbahasa Inggris.

Yang paling menarik tentu saja Knihkupectví Shakespeare a synové atau Shakespeare and Sons di kawasan Mala Strana—namanya mirip dengan toko buku Shakespeare and Company di Paris. Toko buku ini menjual banyak sekali buku-buku sastra berbahasa Inggris, termasuk karya-karya penulis Ceko. Menempati ruko tua yang agak sempit pintu masuknya, toko buku itu terdiri atas dua lantai dan di dalamnya kita bisa duduk nyaman untuk sekadar membaca atau memilih buku-buku yang hendak kita beli.

Secara umum, harga buku tidaklah murah di Praha. Edisi klasik terbitan Penguin atau Vintage maupun penerbit besar dunia lainnya dibanderol antara 200-300 Ck (setara dengan Rp120.000-185.000). Sementara buku-buku bekas di bawah Rp100.000, tergantung tebal-tipisnya. Buku-buku bekas, dalam bahasa Ceko dan Rusia terutama, juga dijual di sebuah pasar loak di U Elektry, Praha 9, sebuah lokasi pasar loak terbesar di Praha.   

Saya sebenarnya tidak terlalu menyukai kawasan Kota Tua Praha—bukan karena harga buku yang “kurang-peka-kantong-kami”, tapi karena terlalu banyak manusia. Jejalannya seperti labirin, kerap menyesatkan. Jika tersesat kita sebenarnya akan berputar-putar di situ-situ saja. Sementara bangunan-bangunan tua yang menjulang dan megah selalu membuat saya tersiksa. Apalagi jika saya membandingkannya dengan kawasan Kota Tua di kota kelahiran saya.

Namun, saya patut gembira. Kawasan Kota Tua Jakarta sekarang sedang direvitalisasi. Program ini sebenarnya sudah dimulai sejak zaman Gubernur Ali Sadikin dan Surjadi Sudirdja, namun sejak masa Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama program ini menunjukkan hasil yang kian nyata. Beberapa gedung tua sudah selesai sehingga tampak baru dan membanggakan.

Sore itu, setelah hampir empat jam keluyuran di Kota Tua Praha, saya pulang naik trem dan mampir di Kaufland, sebuah supermarket semacam Carrefour atau Lottemart, untuk membeli buah dan susu. Saya selalu gembira melintasi rak-rak yang memajang aneka jenis wine dan minuman keras lainnya—pemandangan yang tidak mudah saya temukan di Jakarta. Juga sayur-mayur besar-segar dengan warna-warni seperti terbikin dari cat minyak yang belum lagi kering.

Ingin sekali saya membeli cemilan untuk teman menulis malam nanti dan ketemulah sejenis kudapan kedelai-padat yang dalam bahasa Ceko bernama “Sójová: Řezy Tyčinka”. Iseng-iseng saya makan sebatang. Pada gigitan pertama saya merasakan manis tipis dan harum rum. (Maaf, jika pada akhir kalimat ini saya bermain rima sebagaimana lazim dalam puisi liris Indonesia mutakhir.) Sensasi rasa yang cukup menggembirakan di tengah suhu udara yang terus-terusan membuat ingus bening meleleh dari lubang hidung saya.

Saya kembali melintasi jalur sepeda/jalan kali di tepi taman hutan Obora Hvězda. Beberapa penduduk setempat melintas dengan kereta bayi dan anjing mereka. Satu-dua orang berlari dan bersepeda. Bau tahi kuda. Pagar besi yang terjungkal di tebing. Lapangan sepak bola yang tengah dibersihkan. Sepasang remaja melaju dengan papan luncur. Percakapan yang tersusun dari remasan plastik dan desis kereta api. Matahari akan tak ada lagi.

Tiba-tiba saya kangen kepada saya punya kota kelahiran. Sebuah kota yang hendak diterungku oleh kopiah dan sorban.

 

(Zen Hae)