Dari Sepak Bola hingga “Aeneis”

“Saya senang dengan permainan Biglia, si orang Argentina. Sayangnya dia sudah pindah,” kata Alex seorang Laziale sekaligus supir taksi yang membawa saya dari bandara ke tempat penginapan di antara sejumlah percakapan kami. Yang dimaksudkan Alex adalah Lucas Biglia, mantan pemain klub sepakbola Lazio yang tahun ini pindah memperkuat AC Milan. “Kamu menonton Serie A?” tanyanya.

“Ya, saya menyukai Internazionale sejak sekitar dua puluh tahun yang lalu. Dan Zanetti tentu saja. Dia kapten yang hebat, seperti Totti untuk Roma,” jawab saya. Perkenalan pertama saya dengan Italia tentu saja melalui sepak bolanya, yang saya pikir menerpa nyaris sebagian besar generasi 90-an pada era kejayaan televisi. Ketika SD, saya ingat, teman-teman sebaya yang dipercaya menjadi penyerang selalu senang ketika mencetak gol dengan cara Ronaldo: mengelabui semua pemain belakang termasuk kiper sebelum memasukkan bola ke gawang yang lengang. Saya bahkan pernah yakin bahwa teman-teman saya di seminari menengah yang menyukai klub sepak bola selain klub-klub Italia adalah orang-orang yang mengenal sepak bola jauh lebih terlambat dari mayoritas teman-teman sebaya.

“Sekarang presiden Inter orang Indonesia, bukan?” tanya Alex.

“Ya, tapi Inter sekarang hanya menjadi ladang bisnis yang tidak lagi punya prestasi.”

“Itu menyedihkan. Setidaknya kita sama-sama menyukai orang Argentina di klub. Saya juga mencintai Veron. Ia adalah pemain yang spesial di hati saya,” kata Alex sebelum ia menerima telepon dari temannya. Terbalik dari sejumlah cerita yang beredar di internet tentang kasarnya supir taksi di Roma, Alex adalah orang yang menyenangkan, seperti juga orang-orang Roma yang kelak saya temui. Mereka senantiasa sigap memberikan jawaban atas informasi yang kita butuhkan selama pertanyaan tersebut mampu mereka jawab.

Percakapan dengan Alex adalah percakapan yang menyenangkan setelah beberapa pengalaman tidak menyenangkan: menunda jadwal keberangkatan dari tanggal 1 Juli ke tanggal 5 Juli karena tanggal pengambilan paspor di tempat pengurusan visa yang diundur akibat libur Lebaran; mengalihkan kota residensi dari Firenze ke Roma karena kurs Rupiah atas Euro melemah dan pilihan harga-harga penginapan yang saya peroleh di Firenze dari sebuah aplikasi daring tidak memungkinkan saya bertahan selama dua bulan dengan mengandalkan biaya yang ada; tidak tidur selama 18 jam penerbangan dari Jakarta ke Roma karena mendapat tempat duduk dekat keluarga yang membawa tiga anak kecil; dan tidak dapat menarik uang tunai dari ATM di bandara Fiumicino karena kartu debit dari salah satu bank di Indonesia tidak dapat dipakai di sini.

Kira-kira sepuluh menit setelah percakapan soal sepak bola berakhir, kami menemukan alamat penginapan yang saya cari. Alex menghentikan mobilnya sekitar 50 langkah dari penginapan karena tidak dapat memutar balik ke Via della Madonna del Riposo. Setelah membayar sesuai tarif yang tertera di layar pengumuman bandara dan bagian luar pintu depan mobilnya, dan mengucapkan terima kasih, saya menyeret koper saya ke dalam penginapan yang dikelola oleh suster-suster Fransiskan di kawasan Aurelio.

Keesokan harinya, bersama Sr. Getrudis, Sr. Gabriela dan Sr. Janice, dari salah satu kongregasi Fransiskan yang mengelola penginapan tempat saya menginap, kami pergi ke Centro Studi Dante Alighieri untuk mencari tahu kemungkinan apakah saya bisa memperoleh semacam kelas singkat mengenai Dante dan karya-karyanya, yang menjadi alasan saya mengirim aplikasi untuk residensi ini. Direktur Centro Studi mengatakan tidak mungkin saya mengambil kursus singkat di situ dengan tujuan terkait sebab mereka lebih menyasar siswa-siswi yang mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi. Dengan waktu yang relatif singkat, beliau menyarankan mencari teman diskusi atau pergi ke Perpustakaan Pusat Nasional Roma tempat terdapat banyak karya-karya Dante dan mencari sendiri di sana.

Pilihan terakhir terdengar lebih menyenangkan bagi seseorang yang mempelajari bahasa Italia sebagaimana ia mempelajari bahasa Latin secara pasif seperti saya. Selain itu, dengan mengambil pilihan tersebut saya pun dapat sekaligus mencari karya-karya dan terutama catatan-catatan atas karya-karya Vergilius, penyair terbesar bangsa Romawi dari masa pemerintahan Agustus yang saya kenal melalui pelajaran bahasa Latin selama empat tahun di Seminari Menengah St. Rafael Oepoi, yang sosoknya dalam Divina Commedia menuntun Dante si Pengembara selama di fase Inferno dan Purgatorio.

Bersama Sr. Gabriela dan Sr. Janice, berangkatlah saya ke Perpustakaan Pusat Nasional Roma keesokan paginya. Menumpang metro lini A dari stasiun Baldo degli Ubaldi, kami turun di stasiun Termini untuk mengganti metro lini B yang akan membawa kami ke stasiun Casto Pretorio, yang salah satu pintu keluarnya berada tepat di depan pagar kompleks perpustakaan. Dengan menggunakan nomor identitas paspor, pengurusan kartu anggota perpustakaan terbilang cepat, butuh waktu sekitar 5 menit sejak data-data dimasukkan hingga kartunya dicetak. Setelah memperoleh kartu anggota, kami masuk ke bagian Sastra dan Linguistik. Ini bagian yang membuat saya takjub karena di rak Sastra yang memanjang tepat dari depan pintu masuk ruangan bagian Sastra dan Linguistik hingga tembok bagian belakang terdapat karya-karya sastra penting berbahasa Italia maupun Latin dari berbagai macam periode, klasik hingga abad keduapuluh satu, dengan berbagai macam kanon dan tafsirnya. Di bagian Linguistik, berjejer kamus dan tata bahasa dari berbagai bahasa di seluruh dunia, termasuk bahasa Kambera, bahasa yang nyaris tidak terlalu dikenal selain oleh masyarakat Sumba Timur dan sekitarnya. Kami putuskan untuk menyisir secara cepat bagian Sastra dan Linguistik karena hari terus beranjak dan kami mesti kembali ke penginapan untuk makan siang. Setidaknya, saya sudah tahu di mana tempat terbaik saya akan menghabiskan sisa hari-hari selama dua bulan di Roma.

Dari dalam metro menuju Battistini, ketika melintas dari stasiun Flaminio ke stasiun Lepanto, dari celah-celah bening grafiti di kaca yang membatasi jembatan dan jalur kereta, samar-samar kami lihat sungai Tevere mengalir membelah Roma, sungai yang beberapa kali disebut Vergilius dalam Aeneis.

 

Mario F. Lawi