Dari Sepeda, Sampah, hingga Surga Pengetahuan

Dari Sepeda, Sampah, hingga Surga Pengetahuan

Fadly Rahman

Jumat, 10 November, pukul 07.30 pagi, saya dan kawan Faisal Oddang mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam. Lantas, kami berpisah karena saya dijemput oleh seorang kawan baik dari Utrecht, Koo Siu Ling. Suasana dingin menyergap ketika saya ke luar bandara. Dengan mengendarai sebuah mobil sport merah, perempuan energik berusia 76 tahun ini mengajak saya melihat-lihat suasana Amsterdam. Lantas, ia mengantarkan ke tempat residensi saya di Boerhaavelaan, Leiden.

Selama sebulan, saya akan tinggal berteduh di flat Taufiq Hanafi. Ia adalah kawan baik saya, dosen Sastra Inggris Universitas Padjadjaran yang tengah menempuh studi doktoralnya di Universiteit Leiden. Bersama istrinya, Ratna, dan putranya, Kala, mereka tinggal di kawasan Boerhaavelaan yang terbilang lumayan agak jauh dari keriuhan jalan raya. Ketika menjejakkan kaki untuk pertama kali, saya langsung disergap suasana sepi dan tenang yang menyenangkan hati dan pikiran.  

Perbincangan hangat saya dan Taufiq bersama Siu Ling, membuka lembaran hari pertama residensi saya di Belanda. Ditemani suguhan teh hangat, kupat tahu dan bala-bala buatan Ratna, Siu Ling mengisahkan perjalanan hidupnya bermukim di Belanda sejak dekade 1950-an. Jamuan dan perbincangan dengan ahli aerodynamic yang di usia senjanya kini mulai menekuni diri sebagai gastronom ini, membawa kami ke historical milieu politik Indonesia masa konstelasi Perang Dingin pada 1950-an – 1960-an. Perbincangan bernuansa historis selama 30 menit yang sungguh menarik. Dan akhirnya sang kala juga yang memisahkan kami dan Siu Ling. Sebelum berpisah, ia mengundang kami nanti untuk rendezvous dan makan bersama di kediamannya di Driebergen, Utrecht.  

Di mana-mana sepeda

Setelah istirahat beberapa jam, dengan jet lag yang masih terasa, saya memutuskan ke luar rumah untuk melihat suasana sekitar. Pemandangan yang menarik perhatian saya adalah para pesepeda yang lalu-lalang di sekitar Boerhaavelaan. Mengayuh sepeda memang telah membudaya dalam hidup keseharian orang-orang Belanda, mulai dari anak-anak hingga tua. Ternyata, setelah saya sigi sejarahnya, tradisi ini baru mengemuka pada masa 1970-an ketika banyak warga Belanda melakukan protes terhadap pemerintah kota (gemeente) dengan melakukan aksi berbaring di jalan raya sebagai sikap simpati mereka atas tewasnya sekitar 500 anak dalam setahun akibat kecelakaan mobil.

Gerakan protes yang diberi nama “Stop de Kindermood” (hentikan pembunuhan anak) ini sukses mendorong pemerintah menerbitkan kebijakan mengatur secara tegas kendaraan bermotor di seluruh kota di Belanda. Sepeda dijadikan pilihan wujud transportasi yang aman. Dan pemerintah pun menyediakan infatruktur bersepeda di mana-mana. Jangan heran jika kita dapat menemukan lajur khusus sepeda, persimpangan khusus untuk pesepeda, hingga parkir sepeda yang tersebar di manapun. Ah, andai infrastruktur dan budaya bersepeda seperti di Belanda ada juga di Indonesia.

Mental dan adab di jalan

Keseriusan pemerintah mengatur kebijakan transportasi yang “manusiawi” tampak sekali memengaruhi mental dan adab orang Belanda di jalanan. Hari kedua di Belanda saya mulai mencoba mengayuh sepeda pinjaman dari Taufiq di jalanan Leiden untuk menuju pasar sabtu di Breestraat di belakang gedung gemeente. Mengingat setir kendaraan bermobil terletak di sebelah bahu kiri (berbeda atau kebalikan dengan di Indonesia), maka pejalan kaki dan pesepeda mesti berjalan di bahu kanan jalan. Karena kebiasaan di Indonesia menggunakan bahu kiri jalan untuk berjalan dan bersepeda, ketika meliuk di tikungan tajam di dekat Molen Museum de Valk, saya menabrak seorang bocah yang tengah mengayuh sepeda. Saya jelas bersalah dan meminta maaf. Tapi si bocah dengan santunnya mengucapkan “vergeten, vergeten” (lupakan, lupakan) seraya menyorongkan kedua telapak tangannya. Sungguh bocah yang beradab santun. (Bayangkan jika saya menabrak sesama pesepeda di Indonesia, mungkin saya sudah dicaci-maki atau diberi bogem mentah, hahaha).

Begitu juga ketika saya berjalan kaki dan hendak menyeberang jalan. Setiap kali menyeberang jalan di zebra cross yang tak ada lampu rambu lalu lintasnya dan tak ada tombol untuk pejalan kaki, para pengendara mobil akan berhenti untuk mempersilakan pejalan kaki melintas terlebih dahulu. Betapa adab yang patut ditiru oleh para pengendara kendaraan bermotor di Indonesia.

Tap kartumu, lalu buang sampahmu

Satu hal lagi yang menarik perhatian adalah sistem pengelolaan sampah di Belanda yang dinilai sebagai salah satu terbaik di Eropa. Tepat di seberang flat di mana saya tinggal, setiap pagi saya melihat warga membuang sampah ke tempat sampah unik. Para pembuang sampah tampak menempelkan sesuatu di atas tempat sampah.

Taufiq memberi saya informasi bahwa sistem tap kartu ini berfungsi sebagai pemindai bagi gemeente untuk mengetahui ada berapa banyak kantong sampah dibuang oleh si pemegang kartu. Jika pemilik kartu misalnya biasa membuang sampah rata-rata dua kantong ukuran sedang dalam sepekan, lantas tiba-tiba menjadi lima kantong dalam sepekan, pihak gemeente dapat mengendus ketidak-beresan: mengapa sampah di rumah si pemegang kartu bertambah banyak? Dengan sistem kartu ini, warga dapat mengontrol sampah rumah tangga yang dibuang setiap harinya.   

Penasaran dengan proses canggih pembuangan sampah ini, saya diajak Kala, anak Taufiq, untuk membuang sampah ke tempat sampah yang bertuliskan “Restafval” (artinya limbah sisa). Ternyata di bawah Restafval ada lubang penampung besar untuk menampung sampah-sampah yang dibuang warga dan diangkut setiap pekan oleh dinas kebersihan gemeente. Sungguh sistem yang canggih. (Dapatkah Indonesia meniru sistem pengelolaan sampah seperti ini? Bolehlah kita bermimpi asal dengan syarat: budayakan terlebih dahulu untuk membuang sampah pada tempatnya).   

Berbetah di Bibliotheek Universiteit Leiden

Bukan hanya aplaus untuk sistem transportasi dan pembuangan sampah di Belanda yang patut jadi pembelajaran bagi Indonesia. Leiden adalah tujuan paling utama bagi siapapun yang tengah melakukan riset atau studi, lebih-lebih sejarawan seperti saya. Dan pada senin, di hari keempat, saya mendaftar menjadi anggota Bibliotheek Universiteit Leiden. Dengan biaya keanggotaan sebesar 30 Euro, saya menjadi guest member perpustakaan ini selama satu tahun.

Perpustakaan ini didirikan pada 1575 dan dianggap sebagai lokus penting bagi perkembangan kebudayaan Eropa masa Abad Pencerahan (Enlightenment). Dengan koleksi yang hampir mencapai 5.200.000 buku, 60.000 naskah kuno dari Timur dan Barat, serta sejumlah besar berbagai jenis koleksi lainnya, Perpustakaan Leiden mendapuk predikat UNESCO Memory of the World Register. Perpustakaan yang juga banyak menyimpan koleksi sumber-sumber Indonesia ini (mengingat Belanda sudah menancapkan pengaruhnya di Indonesia sejak masa abad ke-16), merupakan surga pengetahuan bagi para peneliti Indonesia.

Hal yang memikat dari perpustakaan ini adalah sistem katalog online yang terintegrasi rapi dan canggih karena terhubung dengan beberapa perpustakaan. Dengan peminjaman maksimal hingga 50 buku, peneliti leluasa untuk mengakses sumber-sumber yang dibutuhkan. Meski akses buku bersifat tertutup (closed access), tapi pelayanan terkait pemesanan buku dilakukan secara cepat, canggih dan unik. Dibilang canggih dan unik, karena setiap buku yang dipesan dan tersedia akan disimpan dalam loker-loker “Pick Up Books” yang berjumlah banyak. Saya tinggal memindai kartu anggota; dan jika buku yang dicari tersedia, maka kunci loker akan berbunyi “klik”. Itu tanda buku siap diambil.

Perpustakaan Leiden menjadi pintu gerbang dalam meneliti riset sejarah saya terkait aktivitas penyelidikan alam pada masa abad ke-18 hingga paruh pertama abad ke-20 yang merupakan bagian dari Program Residensi Penulis 2016. Dan pada laporan kedua pekan depan, saya akan laporkan hubungan sejarah Boerhaavelaan, kawasan di mana saya tinggal selama residensi, dengan riset saya. Apa hubungannya? Nantikan pekan depan. Tabik. (*)