Diaspora Jawa Suriname Menyoal Makna Menjadi Jawa

“Apakah yang menjadikan Anda orang Jawa?” Pertanyaan itu diajukan pembawa acara kepada Johan Reksowidjojo, pemimpin Forum Javanen in Diaspora Nederland (JID-NL), atau Forum Orang Jawa dalam Diaspora di Belanda.

Lelaki paruh baya itu terhenyak. Rupanya dia tidak menduga akan ditembak pertanyaan yang menohok itu, tepat setelah dia selesai membacakan sambutan pembukaan pada acara diskusi Identitas Orang Jawa (Suriname): Antara Pelestarian dan Pembaharuan. Merenung sejenak, sambil tertawa terkekeh Johan akhirnya menjawab, dia menjadi Jawa karena orangtuanya adalah orang Jawa, dia makan makanan Jawa, dan dia hidup secara orang Jawa.

Tetapi, cukupkah itu untuk membuat seseorang menjadi Jawa?

Acara diskusi ini digelar di Museum Volkenkunde, Leiden, dihadiri lima puluhan warga keturunan Jawa Suriname, di samping beberapa orang Belanda berkulit putih. Secara fisik, orang Jawa Suriname sangat mirip dengan orang-orang Jawa di Indonesia. Mereka berkulit cokelat terang hingga cokelat gelap, berpostur relatif pendek, beberapa memakai kopiah atau kebaya. Tetapi bahasa yang digunakan sepanjang acara hampir seluruhnya bahasa Belanda, sesekali diselingi kalimat-kalimat bahasa Jawa.

Mereka ada karena migrasi. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai mengirimkan orang-orang Jawa ke Suriname untuk menjadi pekerja di perkebunan. Kebanyakan mereka, laki-laki maupun perempuan, sama sekali tidak tahu akan dibawa ke mana mereka. Mereka ditipu, bahwa mereka akan dibawa ke ‘tanah seberang’ di mana ada uang berlimpah. Berbulan-bulan mereka habiskan di atas kapal, hingga akhirnya mereka tiba di ‘tanah seberang’, di benua yang sama sekali asing. Sesampainya di Suriname, mereka harus banting tulang kerja di kebun, dengan bayaran yang sangat minim. Mereka pun harus mengalami penghinaan dan diskriminasi oleh para kuli yang datang sebelum mereka: orang-orang Afrika dan India. Pada tahun 1975 Suriname merdeka dari Belanda. Tetapi kekacauan langsung melanda negeri muda itu dengan adanya kudeta dan perang saudara. Banyak orang Suriname, termasuk warga keturunan Jawa, mengungsi ke Belanda. Kini, 40 tahun sudah orang Jawa Suriname tinggal di Belanda, dan mereka pun mulai bertanya: Siapakah saya?

Seorang pemuda tampil ke panggung, dengan lantang mengungkapkan kisah hidupnya pada semua hadirin. “Opa dan oma saya lahir di Indonesia, orangtua saya lahir di Suriname, sedangkan saya lahir di Belanda,” kata pemuda berpostur tinggi berparas Jawa, mengenakan jas dengan dasi berpola batik Jawa di atas kemeja putihnya. “Lalu, siapakah saya?”

Akhmed Mardjuki yang lahir pada tahun 1992 di Belanda itu adalah generasi ke-3 Jawa Suriname. Jawa baginya bukan lagi Jawa dari orangtuanya, dan terlebih lagi bukan Jawa dari kakek-neneknya. Akhmed tidak bisa bahasa Jawa, tidak mengerti makna slametan atau jaran kepang. Dia dibesarkan dengan pendidikan Belanda, bicara bahasa Belanda, merasa diri sebagai orang Belanda. Tetapi kenyataannya, dia tidak sepenuhnya diperlakukan sebagai orang Belanda. Nilainya di sekolah menurun, gurunya bilang dia kena krisis identitas. Gurunya itu berkata: Kalau kau tidak bisa membuat pilihan, bagaimana mungkin kau bisa berdamai dan berbahagia dengan dirimu sendiri?

Sepanjang empat jam acara (yang tidak seratus persen saya mengerti karena faktor bahasa), saya mendengar nama ‘Jawa’ disebut dengan frekuensi sangat tinggi, disusul ‘Belanda’ dan ‘Suriname’. Nama Indonesia justru sangat jarang disebut. Seorang hadirin justru mengeluhkan kenapa orang-orang Jawa Suriname tidak diundang oleh Kedutaan Indonesia dalam pertemuan diaspora Indonesia, padahal orang Jawa Suriname pada tahun 2006 telah membuat aksi Mbangun Jogja untuk membantu pembangunan sosial di Yogyakarta.

Akhmed ingat, ketika dia pergi ke Indonesia, dia sama sekali tidak merasa terkoneksi dengan orang-orang di sana. Saat berjalan-jalan di Jalan Malioboro, Yogyakarta dengan bergandeng tangan bersama istrinya yang juga orang Jawa Suriname, dia merasakan pandangan orang-orang terhadap dirinya sangatlah aneh, seolah mereka berdua memang makhluk aneh. Secara fisik dia Jawa, tetapi cara jalan, bicara, dan perilakunya sama sekali bukan Jawa. Dia tahu, Indonesia bukanlah tempat baginya. Sebaliknya, Akhmed merasa lebih ‘at home’ di Suriname daripada di Indonesia. Dan di atas itu, identitas Jawa dan Belanda tentu lebih dominan baginya daripada Suriname. Tetapi ketika harus memilih antara Jawa atau Belanda, Akhmed bingung.

 “Memilih identitas itu sulit, saya lebih senang bebas tanpa harus memilih. Identitas itu bukan pakai kata ‘atau’, tetapi ‘dan’. Saya adalah Jawa dan Belanda dan Suriname,” katanya mantap, disambut tepuk tangan hadirin.

Memang sepertinya solusi dari kebingungan identitas yang dialami Akhmed adalah merangkul semua identitas itu sebagai bagian dari dirinya. Tetapi itu juga mengandung risiko. Dia menjadi semua, dan dia akan kehilangan semua—menjadi bukan siapa-siapa.

Tepat itulah kekhawatiran yang diungkapkan oleh Hariette Mingoen, seorang perempuan paruh baya yang menjadi pemuka masyarakat Jawa Suriname di Belanda. “Orang Jawa itu mudah melebur dan menyerap identitas lain, menyesuaikan diri dengan identitas lain. Ini sifat orang Jawa yang lentur, mudah dibentuk. Di satu sisi, ini menimbulkan harmoni. Tetapi di sisi lain, kita bisa hilang jati diri.”

Masalah kehilangan jati diri ini semakin serius di kalangan generasi muda. Mereka tidak lagi berbahasa Jawa, tidak lagi mengadopsi budaya Jawa. Buku-buku tentang Jawa (Suriname) sangat terbatas, apalagi anak muda sekarang jarang membaca. Ketika Hariette tidak henti-hentinya menyebut gotong-royong sebagai inti identitas Jawa, Rick Moestari sebagai wakil generasi muda mengaku tidak mengerti arti kata itu.

Pada usianya yang 42 tahun, Rick masih tergolong ‘generasi muda’. Lelaki dengan T-shirt ketat merah menyala dan anting di telinga kirinya itu dengan lantang berbicara di podium, “Lihatlah yang hadir di sini, mana anak mudanya?” Para hadirin berpandang-pandangan. Mayoritas yang hadir memang orang-orang Jawa yang sudah sepuh, dan anak mudanya bisa dihitung dengan jari. “Apakah mereka tidak kalian undang, atau mereka tidak tertarik lagi dengan ke-Jawa-an? Saya telah kehilangan banyak dari ke-Jawa-an saya, karena saya tidak mengerti apa-apa. Kalau saya kehilangan identitas, maka generasi setelah saya sudah pasti juga akan kehilangan sama sekali.”

Bagi orang Jawa yang tinggal di Jawa, masalah jati diri mungkin tidak pernah tebersit di benak. Mereka sudah Jawa dari sananya. Mereka sudah tidak bertanya lagi apa makna menjadi Jawa dan bagaimana untuk menjadi Jawa. Tetapi bagi kaum diaspora, makna identitas itu begitu penting, karena itu menjadi benteng terakhir keberadaan mereka sebagai minoritas.

Di negeri asing ini, seberapa pun mereka berusaha meleburkan diri, mereka tetaplah pendatang, tetaplah imigran. Sebagaimana Vivian Resowidjojo, seorang diaspora Jawa Suriname Belanda, mengatakan: “Selama kau [minoritas] melakukan pekerjaanmu dengan baik, tidak ada masalah. Mereka [orang Belanda] akan menyebutmu bagian dari mereka. Tetapi kalau kau melakukan kesalahan, mereka akan mengatakan, ‘Ah, lagi-lagi imigran.’”

Diskusi ini melibatkan pertentangan antara generasi muda dan generasi tua tentang mendefinisikan apa Jawa itu. Bagi generasi tua, Jawa tentang memori, sebagaimana yang diwariskan generasi orangtua mereka seabad silam saat meninggalkan Jawa dan berangkat ke Suriname. Sedangkan bagi generasi muda, Jawa adalah tentang pembaharuan dan penyesuaian dengan nilai-nilai yang berlaku di Belanda. Bukankah tidak mungkin lagi mengajari anak Jawa-Suriname-Belanda untuk nek dipendeliki kudu meneng (kalau dipelototi harus diam), atau meneruskan tradisi pemain jaran kepang harus makan ayam hidup sambil kesurupan? Masalahnya sekarang, yang mana sebenarnya bisa disebut sebagai Jawa itu?

Salah satu topik diskusi hari ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat menggelitik: Apakah kau harus jadi orang Jawa untuk bisa merangkul identitas dan budaya Jawa, juga untuk menyebarkan budaya Jawa? Seorang perempuan Belanda totok berdiri dari barisan bangku hadirin. Dia sangat tidak setuju dengan pertanyaan itu. Dia sudah puluhan tahun belajar bermain gamelan, dan walaupun dirinya berkulit putih, dia merasa telah menyerap budaya Jawa, dan merasa berhak untuk melestarikan serta menyebarkan budaya Jawa. Pendapatnya itu ditentang salah satu panelis, seorang antropolog berdarah Jawa. Dia bilang, budaya Jawa itu bukan cuma gamelan, tetapi juga filosofi, cara hidup, hingga bahasa tubuh, yang semuanya harus mengandung nilai-nilai ke-Jawa-an, dan karena itu, hanya bisa dipraktikkan oleh orang yang benar-benar Jawa.

Ini kemudian menjadi perdebatan sengit. Perdebatan ini sesungguhnya adalah diskusi tentang cultural appropriation, yaitu kepantasan ketika sebuah budaya diadopsi oleh orang-orang dari latar belakang budaya lain. Bagi saya, kedua pendapat itu ada benarnya, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Pada artikel sebelumnya, saya memang telah menulis bagaimana orang-orang Eropa yang sudah puluhan tahun bermain gamelan, namun tidak juga berhasil menyerap nilai filosofi Jawa yang terkandung seutuhnya di dalam gamelan. Tetapi itu tidak berarti saya berhak melarang orang-orang kulit putih untuk menyebut diri mereka sendiri telah menjadi Jawa.

Sebagai seorang diaspora China yang dibesarkan di Jawa, saya memiliki resonansi yang sangat kuat dengan topik perbincangan orang-orang Jawa Suriname Belanda ini. Saya pernah mengalami krisis identitas itu, pernah mengalami pemaksaan dan penolakan identitas, serta sempat kebingungan ketika harus memilih identitas untuk menjawab pertanyaan: Siapa saya? Saya telah melewatkan puluhan tahun hidup saya hanya untuk bergelut dengan pertanyaan ini. Dan itu sangat menyiksa.

Pada akhirnya, saya percaya, identitas adalah sesuatu yang kau rasa di dalam hatimu. Hanya kau sendiri yang bisa menjawab apa identitasmu. Bukan orang lain yang menentukan, “Kau orang Jawa, maka kau harus begini-begini.” Kalau kau merasa Jawa, maka kau adalah Jawa. Bagaimana kau mendefinisikan ke-Jawa-an, itu terserah kamu, tergantung pada rasa dan kesadaranmu. Identitas adalah sesuatu yang sangat personal, terus berganti dan bergeser. Dan ingatlah, kau punya bukan cuma satu identitas, melainkan banyak identitas yang berlapis-lapis.

Setiap orang perlu menyadari makna identitas yang dinamis ini. Karena para penguasa tahu betul bagaimana cara memainkan identitas sebagai senjata. Mereka mengotak-ngotakkan orang berdasar identitas, dengan definisi kaku yang mereka tentukan, untuk kepentingan mereka. Para korbannya tentu adalah orang-orang yang tidak tahu identitas sendiri, sehingga mudah dipermainkan sebagai bidak catur dalam berbagai konflik atas nama identitas. Tengoklah di sekelilingmu: perang antar negara, perang agama, perkelahian antara pendukung tim sepakbola, hingga kemarahan membabi-buta karena mengira sebuah simbol identitas telah ‘dinistakan’. Bukankah ini semua adalah permainan identitas?

Berkumpul dengan para diaspora Jawa Suriname ini membangkitkan nostalgia saya tentang tanah Jawa. Mereka membagikan berbagai jajanan pasar, yang sempat menemani masa kecil saya di Jawa tetapi kini semakin jarang ditemui: jenang lot, cenil, apem, jenang sumsum, lontong serundeng. Acara diskusi hari ini ditutup dengan lagu nostalgia dari Jawa Timur: Tul Jaenak. Orang-orang Jawa Suriname ini, lelaki dan perempuan, tua dan muda, naik ke panggung dan berjingkrak-jingkrak mengiringi musik yang rancak.

Keriangan itu, kepolosan itu, kegairahan itu, kelenturan itu, keramahan itu, kenangan itu. Mereka telah membangunkan sebuah Jawa yang ada di dalam diri saya.