Diskusi di INALCO

Setelah menerima kepastian berangkat ke Paris, saya segera menghubungi Prof. Etienne NAVEAU, pengajar Jurusan Bahasa Indonesia di Universitas INALCO Paris. Prof. Etienne juga dikenal sebagai penerjemah sejumlah karya sastra Indonesia. Terakhir ia menerjemaahkan “Lelaki Harimau” Eka Kurniawan, tentu saja ke dalam bahasa Prancis. Dan kini ia sedang menerjemaahkan novel Eka Kurniawan yang lain “Cantik Itu Luka”.  

Meski Prof. Etenne terbilang kerap ke Indonesia, namun kami baru bertemu sekali saja di Jakarta dalam acara Peringatan Hari Puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM), tahun 2015. Kami bertemu dalam perbincangan yang sekadarnya ketika bertemu sarapan pagi di hotel.  Berbeda dengan teman-teman yang di mata saya berkesan selalu antusias berkenalan, menjalin komunikasi, bahkan menempel kritikus atau penerjemah asing; saya cenderung selalu ingin menjaga jarak. Entah mengapa, mungkin ini sifat jelek saya.         

Pertemuan kedua dengan Prof. Etienne terjadi di kampus INALCO , musim panas, Juli 2016. Ketika itu saya berada di Paris selama tiga pekan untuk melakukan riset novel. Pertemuan kami bukan suatu kesengajaan, sebab saya sedang menghadiri sidang master seorang teman, yang secara kebetulan penyair Soni Farid Maulana juga saat itu sedang berada di kampus INALCO bersama Prof. Etienne. Meski dalam pertemuan kedua itu kami ada berbincang serius menyoal pernerjemaahan puisi, tapi itupun hanya sebentar saja. 

Kali itu saya merasa perlu menghubungi Prof Etienne dengan harapan kami bisa membuat agenda bersama selama saya berada di Paris. Sebagaimana juga yang disarankan oleh Mbak Novi dari Komite Buku Nasional (KBN), agar saya bisa merancang agenda lain selama residensi, selain menulis. Sebagai peserta residensi yang baik tentu saja hal itu sudah saya rencanakan, dengan ingatan pada Prof. Etienne. 

Beberapa hari menjelang keberangkatan ke Paris, Prof. Etienne membalas surel saya. Ia menyatakan kesediaannya untuk menerima saya di kelas berdiskusi bersama para mahasiswa. Ia mengagendakan diskusi menyoal proses kreatif saya dalam penulisan novel yang sedang saya kerjakan. Oleh karena itu ia meminta saya mengirimkan karya yang bisa menjadi pemancing diskusi. Ia menjadwalkan kami bertemu tanggal 8 November. Hanya saja, lanjut Prof. Etienne,  ia tak bisa menyediakan honorarium. Satu hal yang tidak saya persoalkan. Setelah sampai di Paris, saya membalas surel Prof. Etienne dan mengirimkan bagian pembukaan novel saya.    

Seperti diagendakan tanggal 8 November itu saya sudah berada di kampus INALCO. Sebelum masuk kelas saya dan Prof. Etienne berdiskusi tentang proyek penerjemaahan yang sedang dilakukannya; kumpulan puisi Soni Farid Maulana dan Acep Zamzam Noor. Juga tentunya penerjemaahan novel Eka Kurniawan “Cantik Itu Luka”, setelah ia menerjemahkan “Lelaki Harimau”. Berbeda dengan ekplorasi bahasa Eka Kurniawan dalam “Lelaki Harimau”, Prof. Etienne mengeluhkan kesulitannya menerjemaahkan diksi-diksi  “Cantik Itu Luka”, terutama mencari padanan dan rasa bahasa-nya dalam Prancis. 

Terhadap bagian pertama novel saya yang pernah saya kirimkan, Prof. Etienne mengatakan ketertarikannya untuk menerjemaahkannya ke dalam bahasa Prancis. Setidaknya ketertarikan disebutnya muncul dari segi eksplorasi bahasa.  Ia pun menjelaskan prosedur penerbitan di Paris, yang harus diterjamaahkan lebih dahulu ke dalam bahasa Inggris untuk diajukan ke penerbit, sebagaimana prosedur dalam penerjemahaan novel-novel Eka Kurniawan. Tentu saja saya tak ingin cepat senang, baik lebih menganggapnya sebagai suatu kemungkinan saja, apalagi Prof. Etienne belum membaca naskah itu sebagai manuskrip yang utuh—yang untuk itu saya berjanji kelak mengirimkannya. 

Dalam ruang kelas hari itu ada tujuh mahasiswa yang mengikuti kelas diskusi. Mereka sudah menguasai bahasa Indonesia, setidaknya tingkat dasar. Beberapa mahasiswa bahkan mempunyai keterikatan dengan Indonesia. Seorang mahasiswa berayah-ibu orang Indonesia tapi sejak kecil telah menetap bahkan warga negara Prancis. Ada juga yang pernah tinggal di Yogjakarta selama setahun, atau seorang mahasiswi yang menyebut bapaknya orang Indonesia. 

Setelah saya menjelaskan apa yang sedang saya kerjakan selama residensi, diskusi banyak menyoal proses penulisan novel sebagai fiksi dan biografi sebagai fakta. Termasuk juga beberapa pertanyaan tentang narasi dan para tokohnya. Diskusi yang semula akan berlangsung selama satu jam berakhir setelah dua jam lebih. 

Di akhir diskusi saya mengajukan pertanyaan dengan hadiah buku kumpulan puisi saya. Saya mengajukan pertanyaan mirip pelajaran sastra di sekolah,meminta para mahasiswa itu menyebutkan nama seorang sastrawan Indonesia dan karyanya. Cukup lama saya menunggu jawaban, sebelum akhirnya seorang mahasiswa menyebut Pramoedya Ananta Toer dan “Gadis Pantai”.      

Menjelang kami sama-sama meninggalkan kampus INALCO, Prof. Etienne mengingatkan saya lagi untuk mengirim bagian seterusnya dari naskah novel saya. Dan saya menjawab  tentu naskah itu akan saya kirim setelah benar-benar rampung. Hari sudah sore ketika saya berjalan pulang menuju Stasiun Metro, sambil manyun karena kehabisan rokok** (Ahda Imran)