Eat, Drink and Music: Cafe Wha? dan Legenda Bob Dylan

How many roads must a man walk down
Before you call him a man?
How many seas must a white dove sail,
Before she sleeps in the sand?
Yes how many times must the cannon balls fly
Before they’re forever banned?
The answer my friend,
Is blowing in the wind,
The answer is blowing in the wind…

​(Blowing in the Wind, Bob Dylan)

             Angin malam Manhattan mengantarkan saya sampai di Greenwich Village. Daerah yang menjadi bagian  West Village ini punya banyak kisah dan tempat menarik. Salah satunya adalah Cafe Wha?. Terletak di antara Jalan MacDougal dan Minetta Lane, Cafe Wha? menjadi salah satu tempat legendaris di Amerika Serikat. Di sinilah, antara lain, Bob Dylan dan Jimmy Hendrix memulai karir profesionalnya. Selain mereka, pemusik kondang seperti Bruce Springsteen, Paul & Mary, Kool and the Gang, serta komedian seperti Woody Allen, Bill Cosby, dan Lenny Bruce,  dulu juga sering tampil di sini.

           Nama-nama besar di dunia musik dan komedi itu membuat saya penasaran untuk mengunjunginya, meskipun lokasinya cukup jauh dari tempat tinggal saya di Upper Manhattan. Kafe ini didirikan oleh Manny Roth, seorang pencinta musik dan pengusaha pada 1959, dan segera menjadi spot paling menarik bagi penggemar seni, khususnya musik. Pada 1968, tempat ini dijual oleh Manny Roth (meninggal pada 2014) kepada Menachem Dworman, yang kemudian menjadikannya kedai bernama Cafe Feenjon, yang menghidangkan musik-musik dari Israel dan Timur Tengah. Pada 1987, anaknya, Noam Dworman, seorang gitaris, mengembalikan tempat itu sebagai ajang musik rock. Dworman muda juga mengembalikan namanya menjadi Cafe Wha? sesuai yang dia ingat pada masa kecilnya. Popularitas kafe ini kembali menjadi tempat idaman anak muda New York untuk menikmati “The Best Band in New York”, dan menjadi tuan rumah banyak pesohor tamu hingga saat ini. Entah kenapa, keluarga Dworman menjual tempat ini pada awal 2000-an, yang konon dibeli kembali oleh anak-anak dan kerabat Manny Roth lagi.

         Cerita standar yang selalu dikaitkan dengan kafe ini adalah kejadian pada suatu malam yang dingin di bulan Januari 1961. Seorang anak muda kurus berusia 19 tahun datang ke Cafe Wha? dan menemui Manny Roth. “Saya baru saja sampai di sini dari Barat," kata anak muda itu. “Nama saya Bob Dillon. Saya ingin menyanyikan beberapa lagu di sini, bisakah?”

         Manny Roth mengatakan, pada malam “hootenanny”, begitu dia menyebutnya, semua orang boleh menyanyi satu atau dua lagu. Bob Dillon tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Pada malam yang ditentukan, dia mengambil gitarnya dan menyanyikan beberapa lagu Woody Guthrie Para pengunjung membalikkan badan, melihat siapa anak muda yang sedang menyanyi itu. Mereka tampak senang dengan suara khas Bob Dylan. Selanjutnya Bob Dylan mengatakan bahwa dia tidak punya tempat untuk tidur. Manny kemudian berteriak kepada penonton, "Apakah ada yang punya sofa yang bisa dipakainya?” Ternyata ada salah seorang penonton yang bersedia memberikannya. Sejak itu Bob Dylan tinggal di ruang bawah tanah yang besar di MacDougal Street, dan selalu menyanyi di Cafe Wha?.

            Nama asli Bob Dylan adalah Robert Allen Zimmerman. Ia lahir pada 24 Mei 1941 di Duluth, Minnesota. Sejak SMA dia gemar bermain musik. Ia membentuk group band sendiri dan sangat dipengaruhi oleh bintang rock seperti Elvis Presley, Jerry Lee Lewis dan Little Richard. Sejak menjadi mahasiswa University of Minnesota di Minneapolis, dia mulai menampilkan lagu-lagu rakyat. Ia juga bermain di kafe-kafe lokal dengan nama "Bob Dillon". Pada 1960, Bob keluar dari perguruan tinggi dan pindah ke New York, di mana idolanya, penyanyi rakyat legendaris, Woody Guthrie, dirawat di rumah sakit karena penyakit herediter langka yang menyerang sistem saraf. Dia mengunjungi Guthrie secara teratur. Ia kemudian datang ke Cafe Wha? yang ada di Greenwich Village.

             Di sinilah dia bertemu dengan sejumlah musisi lain. Penampilannya mendapat sambutan hangat dari The New York Times. Lalu tawaran kontrak rekaman datang dari Columbia Records, dan mulai saat itu dia mengubah namanya menjadi Bob Dylan. Album itu dirilis pada 1962.  Bob Dylan dengan suaranya yang khas dan lagu-lagu yang enak didengar itu segera menjadi terkenal. Bahkan popularitasnya mengalir sampai ke Indonesia. Anak-anak muda di tanah air, khususnya generasi 1970 hingga 1980-an, dapat dipastikan pernah mendengar “lagu-lagu rakyat” Bob Dylan seperti Blowing in the Wind atau Mr. Tambourine Man. Namun saya tidak berani memastikan, apakah Bob Dylon juga yang menjadi inspirasi munculnya penyanyi-penyanyi balada di Indonesia.

           Sampai sekarang, meski bukan lagi satu-satunya, Cafe Wha? menjadi tempat pemberhentian di mana Anda benar-benar merasakan pernah mengunjungi New York. Saya sengaja memilih tempat duduk di pojok agar bisa melihat seluruh atmosfir ruangan ini. Sejak pintu masuk, kita sudah disuguhi poster-poster pemusik kondang, tak terkecuali Jimmy Hendrix dan Bob Dylan. Di dalam ruang ada beberapa layar televisi yang memutar lagu-lagu lama. Lalu di tengah ada panggung tempat para pemusik mendemostrasikan kemampuannya. Malam itu, Cafe Wha? House Band yang mengisi acara.

           “Kasih saya kopi, black coffee,” jawab saya kepada pramusaji cantik dan ramah di samping saya.

            Mungkin karena dia anak baru, dan baru juga mendengar ada orang pesan kopi, dia terlihat bingung. “Sebentar, saya tanya dulu, apa ada kopi di sini,” katanya. Di daftar menu memang tidak ada kopi. Tak lama kemudian dia kembali ke meja saya dan berkata: “Kami nggak menyediakan kopi,” katanya.

            “Ya, sudah, kalau begitu bir dan french fries saja,” kata saya lagi. Cepat sekali bir itu datang dan tak lama kemudian kentang goreng.

             Persis pukul 21.00, para pemain naik ke atas panggung. Setelah mengucapkan selamat datang dan ucapak-ucapan khas anak muda, mereka mulai memainkan beberapa lagu. Ada lagu Is This Love dari Bob Marley; Killing Me Softly dari The Fugess, dan beberapa lagu lainnya, yang dimainkan dengan cara mereka sendiri. Mereka selalu mengajak para pengunjung untuk ikut menyanyi bersama. Apalagi malam itu ada pengunjung yang berulang tahun, maka semakin meriahlah ruangan itu.               

             Malam bertambah malam. Pengunjung semakin ramai. Saya tinggalkan kafe itu dengan kepala sedikit pening. Angin mulai terasa dingin. Orang-orang berjalan dalam diam. Sambil berjalan di trotoar saya senandungkan dalam hati lagu Bob Dylan yang lain:

             Hey, Mister Tambourine Man, play a song for me,

             I’m not sleepy, and there is no place I’m going to.

             Hey, Mister Tambourine Man, play a song for me

             In the Jingle jangle morning I’ll come following you….

              Entah, ke mana lagi kaki ini akan melangkah, di malam yang dingin ini…. New York! New York!

(Kemala Atmojo)

***