Hamilton Grange: Bapak Bangsa dan Duel yang Membawa Maut

Rumah kayu berwarna krem dengan aksen putih itu selalu terlihat sepi dari luar. Seperti tak ada kehidupan di dalamnya. Sesekali hanya ada mobil minibus yang parkir di halaman depan. Selebihnya kesunyian di hamparan tanah yang amat luas. Bangunan berlantai tiga itu adalah rumah asli Alexander Hamilton, salah seorang bapak bangsa Amerika Serikat. Saya sering melewati rumah ini ketika saya tinggal untuk beberapa hari di Hamilton Terrace, Harlem Barat.

Meskipun ia belum pernah menjadi salah satu Presiden, namun wajah Hamilton menghiasi mata uang kertas pecahan sepuluh dollar Amerika. Lalu, jika Anda mengunjungi New York saat ini,  salah satu pertunjukan besar yang sedang dimainkan di Richard Rodgers Theatre, Broadway, adalah bertajuk “Hamilton”. Drama musical itu mengambil kisah hidup sang tokoh. Pertunjukan yang mulai dimainkan sejak 6 Agustus 2015 dan masih berlangsung hingga sekarang membuat nama Hamilton kembali bersinar. Kembali dibicarakan banyak orang. Ini adalah pertunjukan yang musik, lirik, dan naskahnya ditulis oleh Lin-Manuel Miranda. Sedangkan ceritanya diangkat dari biografi Hamilton karya Ron Chernow, dan disutradarai oleh Thomas Kail.

Pertunjukan itu membawa ke panggung kehidupan masa lalu Alexander Hamilton, seorang anak yatim piatu penuh ambisi dan kemudian berhasil menjadi orang kepercayaanGeorge Washington, yang kemudian menjadi presiden pertama Amerika Serikat. Karakter tokoh yang ditampilkan ke atas panggung mulai dari George Washington sampai Thomas Jefferson, dan tentu saja, musuh Hamilton, Aaron Burr, yang membunuhnya dalam duet bersejarah di Weehawken.

The New Yorker menyebut pertunjukan musical ini merupakan "pencapaian rekonstruksi ulang sejarah dan budaya Amerika. ”Kemudian The Wall Street Journal menulis: “'Hamilton' is the most exciting and significant musical of the decade. Sensationally potent and theatrically vital, it is plugged straight into the wall socket of contemporary music. This show makes me feel hopeful for the future of musical theater.” Sedangkan The New York Times berkomentar: “Historic. 'Hamilton' is brewing up a revolution. This is a show that aims impossibly high and hits its target. It's probably not possible to top the adrenaline rush.”

Maka, pada suatu siang, saya berkunjung ke rumah yang sudah dijadikan museum itu. Ternyata di dalam lumayan ramai. Ada rombongan pelajar menengah atas yang sedang melakukan study tour. Juga beberapa pengunjung lain yang dating dari berbagai penjuru kota di Amerika dan negara lain. Layaknya sebuah museum, di dalam rumah ini dipaparkan latar belakang sejarah Amerika Serikat dan peran Alexander Hamilton. Kemudian secara bergiliran (per 14 orang dalam satu kelompok) kami diijinkan oleh petugas di situ untuk naik ke lantai dua. Pembatasan ini dilakukan dengan pertimbangan daya tahan lantai rumah. Maklum, ini bangunan asli, meski lokasinya tak berada di tempat asalnya. Bangunan ini pernah dipindah sebanyak dua kali dengan cara mengangkat langsung rumah itu secara utuh.

Di lantai dua, ada ruangan belajar dan meja tempat Hamilton menulis. Lalu ada ruang makan dengan meja yang cukup panjang. Kemudian ada ruang bersantai yang cukup lengang.  “Asyik juga rumah ini,” kata saya dalam hati. Meski tidak terlalu luas, tepi terkesan lega dan nyaman. Saya bermaksud naik lagi ke lantai atasnya, tapi tidak diijinkan. Di lantai tiga itu hanya untuk staf museum bekerja. Kabarnya ada dua tempat tidur di sana.

Terakhir saya menonton film documenter pendek mengenai tokoh ini. Alexander Hamilton lahir di Hindia Barat, Kepulauan Karibia, pada 11 Januari 1757 (ada yang menyebut tahun 1955). Konon ia anak di luar nikah. Pada tahun 1765, ketika Alexander berusia delapan tahun, keluarga itu pindah ke St. Croix, tak jauh dari tempat asalnya. Selama empat tahun berikutnya, Alexander Hamilton dan saudaranya mulai kehilangan satu demi satu kerabatnya. Bibinya meninggal, lalu pamannya, kemudian nenek mereka. Tak Cuma itu. Ayahnya meninggalkan keluarga begitu saja alias kabur. Tak lama kemudian ibunya meninggal akibat demam pada 1768, disusul saudaranya yang bunuh diri pada 1769. Jadilah ia remaja yatim piatu.

Hamilton muda bekerja sebagai juru tulis untuk sebuah perusahaan perdagangan. Dia sangat dipercaya oleh atasannya. Bahkan, ketika dia masih berusia empat belas tahun, dia mendapat kepercayaan untuk bertanggung jawab atas keseluruhan bisnis selama beberapa bulan sementara atasannya berada di New York. Hamilton dikenal sebagai remaja yang pintar. Sehingga pada pada tahun 1772, ketika usianya 17, ia dikirim ke New York untuk belajar di King's College (sekarang University of Columbia) atas sponsor atasann yaitu. Di sini pun ia dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas.

Ketika perang pecah pada 1775, ia bergabung dengan kelompok milisi. Pada awal 1776, ia membentuk tentara artileri daerah dan diangkat sebagai kapten. Ia kemudian ditunjuk sebagai pembantu senior George Washington, komandan tertinggi militer Amerika Serikat. Washington mengutusnya dalam berbagai misi penting untuk menyampaikan keinginannya kepada para jenderal di lapangan. Seusai perang, Hamilton terpilih sebagai anggota Kongres Konfederasi dari New York.

Hamilton tidak menyukai pemerintahan pusat yang lemah. Ia memimpin Konvensi Annapolis yang berhasil meminta Kongres untuk menyelenggarakan Konvensi Philadelphia dalam rangka perumusan undang-undang dasarAmerika yang baru. Ia sangat aktif di Konvensi Philadelphia dan membantu proses ratifikasi dengan menulis 51 dari 85 bagian The Federalist Papers, yakni kumpulan dokumen yang sampai sekarang masih dijadikan acuan penafsiran undang-undang dasar Amerika Serikat. Singkatnya, banyak hal telah dilakukannya – termasuk mendirikan Koran The New York Post; dan aneka jabatan pernah diraihnya –termasuk menjadi menteri keuangan pertama.

Pada tahun 1795, ia membuka praktik hukum di New York, serta mendirikan Bank of New York. Ia selalu kritis terhadap pemerintah pusat dan berbagai kebijakan Presiden John Adams. Ia kemudian menolak pencalonan kembali Presiden John Adam. Kemudian, ketika Thomas Jefferson dan Aaron Burr memiliki jumlah suara yang sama dalam pemilihan presiden pada 1801, Hamilton memilih membantu Jefferson untuk mengalahkan Burr, yang ia anggap tidak berprinsip. Ia mendukung Jefferson meski berbeda pandangan. Maka Thomas Jefferson menjadi presiden dan Aaron Burr menjadi Wakil Presiden.

Nah, ini yang seru. Ketika Wakil Presiden Aaron Burr mencalonkan diri sebagai gubernur New York, Hamilton tidak sepakat. Ia mencap Burr tidak layak menjadi gubernur. Pada 21 September 1792, misalnya, Hamilton menulis surat yang berbunyi: “Burr is for or against nothing but as it suits his interest or ambition… and I feel it a religious duty to oppose his career”.

Burr tersinggung oleh komentar Hamilton. Perseteruan di antara mereka makin lama makin panas. Sehingga pada 1804 Burr menantangnya untuk duel adu tembak. Sebagai seorang wakil presiden Amerika, Burr merasa harus membela kehormatannya. Hamilton meladeni tantangan itu. Teman-teman mereka mencoba menenangkan kedua pria tersebut, namun gagal. Duel tetapakan dilaksanakan.

Sebelum duel terjadi, Hamilton mungkin sudah merasa bakal kalah. Maka, sebelum menghadapi kemungkinan kematian itu,ia menulis surat kepada teman dan keluarganya. Lalu, pada suatu pagi, pukul 7.00 lewat sedikit, mereka sepakat untuk duel menggunakan pistol. Suasana tampak tegang. Benar saja, tembakan Burr mengena dan melukai Hamilton. Ia meninggal dunia keesokan harinya. Setelah kematiannya, Elizabeth, istrinya, membaca surat yang ditulis Hamilton sebelum duel. Di akhir surat itu tertulis: “Adieu, best of wives and best of women. Embrace all my darling children for me.…

Ada-ada saja kedua tokoh jaman dulu itu ya. Pakai acara duel segala. Kalau di Madura, Jawa Timur,  mungkin mereka akan menggunakan clurit…..

 

(Kemala Atmojo)