HAVEN, TEMPAT PERLINDUNGAN

Lead us to a place
Guide us with Your Grace
To a place where we'll be safe

 

Lagu The Prayer yang dibawakan Celine Dion dan Josh Groban tersebut frekuensinya sangat tepat untuk membuat perasaan saya beresonansi kuat dengan apa yang saya tulis ini. Saya mengingat detik-detik pertama berada di ruangan raksasa itu, Plenary Hall, Melbourne Convention and Exhibition Centre (MCEC), South Wharf. Saya tak henti menggosok-gosok tangan yang tengah berselimut sarung tangan karena kedinginan. Di musim yang keterlaluan dingin ini, orang-orang Australia masih memasang AC dengan suhu tak jauh beda dengan di luar. Seharusnya saya merangkap pelapis tangan ini tadi, begitu pikir saya. Hingga tak sampai lima belas menit setelahnya, suasana sangat berubah. Tiba-tiba kehangatan menjalar begitu saja. Entah karena hipotalamus dalam otak saya baru on, atau memang kehangatan bisa dibawa oleh suasana.  

HAVEN, tajuk acara sore itu. Sebuah kata dalam Bahasa Inggris lama, yang juga merupakan Bahasa Norwegia, Skandinavia, Belanda dan Jerman yang memiliki arti sama. Yaitu a place of refuge, a place of safety, harbour, dan sanctuary. Tempat singgah. Sebuah tempat perlindungan. Sebuah pagelaran yang memadukan konser, paduan suara, story telling dan puisi. Mengenai pengungsi dari masa ke masa.  

Memasuki Melbourne, kita akan banyak menemukan tulisan “Let’s fully welcome refugees” atau yang semacamnya, tercetak besar-besar dan tersebar di gereja-gereja maupun tempat umum di kota. Sudah 4 kali saya menyaksikan aksi bela pengungsi di depan State Library of Victoria dan Federation Square, pusat kota Melbourne. Tiga kali saya melihat dibukanya sesi layanan radio dan telepon yang melayani siapapun mengenai informasi apapun untuk membantu pengungsi. Pada forum-forum tersebut juga dibuka penggalangan dana untuk menyumbang para pengungsi. Dua kali saya mengikuti kuliah umum tentang refugee yang salah satunya bahkan mendatangkan relawan dari UNHCR dan professor dari Glasgow. Artikel dan berita juga tak pernah surut mengabarkan perkembangan nasib para pengungsi, baik pengungsi Syria, Iran maupun negara konflik lainnya. Topik tentang refugee juga banyak diusung dalam event-event utama di Melbourne, seperti Melbourne Emerging Writers Festival dan Melbourne Writers Festival. Dimana sesi tentang pengungsi dijadikan highlight. Film-film dokumenter yang dibuat oleh para aktifis maupun oleh para pengungsi sendiri, juga kerap diputar di ACMI.

Dan sore itu, sebuah musikalisasi akbar yang tidak main-main, juga digelar untuk memantik kepedulian orang-orang terhadap pengungsi. Beberapa lagu dibawakan dalam bahasa asing seperti Yolngu, Tsonga, Seychellois, Tetum, Mandinka, Pitjatntjantjara, Spanyol dan tentu kebanyakan menggunakan Bahasa Inggris. Puisi dan cerita-cerita dibacakan mengenai harapan, kerinduan, mengenai berbagi, menawarkan tanah Australia menjadi rumah bagi siapa saja.

Saya bergetar tiap kali berada dalam situasi seperti itu. terutama kali itu. Bukan saja karena saya masih terpukau karena bisa masuk MCEC di jajaran VIP (yang mana JCC dan KLCC saja saya belum pernah masuk), tapi karena saya merasakan dilemparkan kembali pada fitrah sebagai manusia. Itulah yang mungkin menghangatkan. Kehangatan rasa syukur. Syukur terhadap negara Indonesia yang aman damai tentram. Dari radius sekian puluh kilometer saya berada, lebih banyak yang menyayangi daripada yang memerangi. Rakyatnya akur dengan alam. Akur dengan sesamanya. Saya merasakan kehangatan rasa syukur atas adanya harapan untuk pulang. Hal tersebut tidak dimiliki oleh negara-negara konflik yang telah mengekspor jutaan pengungsi selama puluhan tahun. Indonesia, jauh-jauh lebih damai. Dan di tangan kita lah, kedamaian itu mampu bertahan.

Kata ‘pulang’ adalah sebuah kata perlambang kemustahilan. Untuk melihat kembali kedamaian seperti semula. Jika mereka kembali, mereka dihadapkan berbagai masalah baru, mencari keluarga yang tercecer, mengklaim kembali aset yang mungkin sudah tak bersisa, mengembalikan identitas resmi yang tidak mudah, seperti gelas pecah yang tidak akan pernah bisa disusun utuh kembali.

Manusia-manusia positif pejuang refugee kerap berbenturan dengan pemerintah setempat yang sangat ketat terhadap pengungsi. Di Australia, sebelum memiliki identitas residensi resmi, para pengungsi diletakkan di Manus dan Nauru Island yang berada di kepulauan Papua Nugini di bawah pemerintahan Papua Nugini juga. Pemerintah Australia sangat ketat dalam melarang mereka masuk benua ini. Para pengungsi berhadapan dengan polisi dan peraturan Australia maupun Papua Nugini yang menghukumi mereka kejam. Jangankan pada pengungsi tak beridentitas, pada turis resmi saja imigrasi Australia sangat ketat hingga bisa mempermasalahan daun jeruk purut sehelai jika ketahuan masuk ke negara Australia tanpa declare.

Dekat-dekat ini beberapa kejadian terekam. Mulai dari pengungsi yang sakit berhari-hari tapi tidak dilarikan ke rumah sakit, orang hampir sekarat yang tidak tertangani, sampai orang frustasi yang membakar hidup-hidup dirinya hingga mati.

Tapi belakangan juga, agaknya pemerintah Papua Nugini sudah menyerah dan meminta kepada pihak Australia untuk membubarkan camp pengungsian di Manus dan Nauru hingga Oktober ini. Australia berada dalam tekanan yang sangat besar dari berbagai organisasi HAM di seluruh dunia, para politisi, juga rakyat Australia sendiri, yang kesemuanya membela hak para pengungsi. Kejam memang aturan pemerintah Australia. Tapi yang lebih kejam adalah mereka yang menyulut perang. Siapa pun.

Tapi di balik kulit-kulit ras, suku, agama, bangsa, apapun identitas sementara ini, manusia tetaplah manusia. Yang mengukutub hanya ke dua arah. Positif dan negatif. Saya salut dengan cara orang Australia menyambut para muslim, menyambut ras-ras asing. Yang aksi ini sebenarnya juga sudah mulai berkobar di negara-negara Eropa, yang turut serta berpihak pada mereka yang tak punya rumah. Sebiadab-biadabnya mereka yang menguasai dan mengadu domba seluruh dunia, manusia hanya akan kembali ke kutubnya. Mereka akan saling mencari untuk keberpaduan dan persaudaraan.

Saya kembali merenungi kisah-kisah yang sedang dibacakan. The Black Kite of Manus Island. Penceritaan mengenai Behrouz Boochani, seorang pengungsi Iran yang kapalnya tenggelam dalam perjalanan ke Australia dan akhirnya dia ditolong oleh nelayan Indonesia. Nos Thal Ghea. Sebuah kisah tentang perenungan rasa sakitnya nostalgia, sebuah kerinduan untuk kembali ke suatu masa.

 Saya belajar melepaskan mantel saya dan bersatu bersama mereka. Dimana untuk pertama kalinya dalam usia hidup saya, bulan-bulan saya habiskan dengan mempersaudarai kaum Yahudi, Nasrani dan Hindu yang ternyata terbukti, teman-teman saya itu sangat penting untuk hidup saya. Sebagaimana saya juga dianggap penting dalam kehidupan mereka. Mendekati kutub selatan Bumi ini, saya tak berputus asa. Dunia akan lebih baik sebentar lagi.

Azri Zakkiyah