Hikayat Bagong Mencari Kafka

Hingga sekarang orang-orang Kampung Pungkursari, Salatiga, memanggil dia Bagong. Bagong adalah nama salah satu punakawan, selain Petruk, Gareng, dan Semar.

Nasib baik telah menyebabkan pengarang kelahiran September setahun sebelum geger pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap sebagai penganut komunisme itu mendapat beasiswa unggulan Kemdikbud untuk residensi sastra ke Berlin, Jerman, selama tiga bulan.

“Saya akan menulis tentang Kafka, penulis kelahiran Praha yang sukses sebagai pencerita di Jerman itu,” kata Bagong.

Tak ingin tersesat, Bagong pun mulai membaca aneka buku tentang Kafka. Ia anatra lain membaca Metamorfosis. Ia membaca Surat untuk Ayah. Keduanya merupakan terjemahan karya Kafka oleh Sigit Susanto. Sigit menerjemahkan dari Die Verwandlung dan Brief an den Vater.

Tak hanya itu. Bagong juga suntuk membaca Seorang Dokter Desa dan Metamorfosis. Buku-buku Kafka itu diterjemahkan oleh Widya Mahardika Putra dari bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia serta Ribut Wahyudi dkk dari The Transformation (Metamorphosis’) and Other Stories.

“Mengapa hendak menulis tentang Kafka?” tanya petugas imigrasi Belanda, ketika Bagong hendak masuk ke negara pertama di Eropa.

“Karena Kafka menulis tentang Gregor Samsa yang bermetamorfosis menjadi kecoa dan saya akan menulis Kafka yang berubah jadi sapi. Kafka bakal berelasi dengan Gregor Samsa dan Dora, sang kekasih, pada 1923-1924 di Berlin,” jawab Bagong.

Jawaban yang mungkin konyol itu justru mempermudah Bagong masuk ke Eropa. Tak ada pertanyaan macam-macam lagi. Tidak ditanya di mana akan tinggal. Tak ditanya program-program lain yang bakal dilakukan. Petugas imigrasi hanya manggut-manggut dan segera memberikan cap ke paspor.

Andaikata ditanya berkas-berkas, Bagong akan kesulitan menunjukkan karena semua dokumen berada di koper. Koper yang tersimpan di bagasi.  Bukan di kabin pesawat.

 

***

 

Baru pada hari ketiga Bagong mulai menghafal nama-nama tempat yang bakal dilacak. Hari pertama dan kedua digunakan untuk beradaptasi dengan udara 12 derajat celcius dan makanan.

Sigit Susanto dari Swiss memandu dengan aneka logistik agar Bagong tidak tersesat. Karena itu pagi-pagi sekali Bagong berkenalan dengan kawasan Echause Miquelstraße. Rumah pertama yang disewa Kafka di Berlin berada di sini. Rumahnya sudah tak ada. Dibom dalam perang. Di rumah ini ibu kos Kafka pernah meledek Dora-Kafka sebagai pasangan yang melakukan nikah liar. 

Bagong juga berkenalan dengan Grunewalstraße 13. Di jalan ini ada sebuah rumah yang masih berdiri kokoh. Rumah yang tampaknya hingga sekarang dirawat oleh Pemerintah Austria. Di prasasti Kafka memang diakui sebagai sastrawan Austria oleh pemerintah Austria.

Nama lain yang segera harus saya hafal adalah Busse Heidestraße. Di kawasan ini Kafka tinggal sebelum pada akhirnya kembali ke Praha dan meninggal di Sanatorium Kienling. 

Sigit juga menyarankan agar Bagong mampir ke Botanicher Garten (tempat Kafka bertemu dengan seorang anak yang kehilangan boneka) yang memungkinkan Kafka menulis kisah tentang relasi bocah dengan  boneka itu.

Hari itu Bagong tidak langsung melacak jejak Kafka. Ia justru meminta sang ibu kos, Vina, agar diperbolehkan ikut belanja. Selain Bagong akan membeli beberapa keperluan kecil, ia sesungguhnya sedang berusaha mengenal tanda-tanda kota. Pagi itu Bagong pun berelasi dengan taman yang luas dan apik, orang-orang yang sempoyongan akibat mabuk semalam, toko-toko kecil, rumah sakit, dan U-bahn (stasiun bawah tanah) di Turmstraße. “Di kota asing kau harus menghafal apa pun. Kalau perlu hitung jumlah rumput di taman. Kalau perlu tandai letak toilet umum,” hati kecil Bagong bicara.

Observasi pun berjalan lancar. Bagong memotret nama-nama yang sulit dibaca. Bagong menghafalkan apa pun yang tampak. Menghafap Turmstraße. Menghafal Bandelstraße. Menghafal Hansaplatz. Menghafal Moabit.

Pukul 15.00 Gudrun Fenna Ingratubun, sahabat Bagong datang. Gudrun ini selain bakal menerjemahkan novel Bagong ke dalam bahasa Jerman, ia menjadi mata, telinga, dan mulut Bagong saat berelasi dengan apa pun yang berbau Jerman. Gudrun datang dengan aneka buku yang berkait dengan Kafka. Ia menunjukkan Kafka in Berlin karya Hans-Gerd Koch, Franz Kafka Die Verwandlung, Text und Kommentar Suhrkamp BasisBibliotek, dan Franz Kafka Leben und Persönlichkeit karya Hartmut Binder.  

Bagong dan Gudrun tak langsung pergi. Mereka mempercakapkan dulu apa pun yang akan  dilakukan sepanjang hari. Mereka juga membahas di mana kali pertama Kafka bertemu Dora.

“Kali pertama bertemu di Müritz di pinggiran Laut Ostsee. Ini wilayah Jerman. Kota terdekat dengan Müritz adalah Rostock,” kata Gudrun.

Tak hanya itu mereka juga mempercakapkan hal-hal ironis seputar Kafka. Hotel tempat Kafka berpisah dengan Felice Bauer (tunangan sang pengarang), misalnya, kini digunakan sebagai kantor asuransi, pekerjaan yang dibenci Kafka. Kafka juga mati kelaparan (karena tak bisa menelan akibat tuberkulosis akut) setelah dia menulis kisah seorang seniman yang kelaparan.

Karena itulah, sore itu di meja mereka banyak sekali catatan-catatan kasar tentang apa yang berkait dengan Kafka. Ada coretan tentang tempat. Ada coretan tentang kisah-kisah Kafka berelasi dengan orang-orang anonim. Ada juga catatan mengenai jadwal dan rute perjalanan yang akan dilakukan hari itu.

Akhirnya perjalanan pun dimulai. Bagong dan Gudrun mulai mengunjungi Echhuse Miquelstraße. Rumah yang disewa Kafka sudah tak ada. Rumah di kanan kiri masih berdiri kokoh. Adapun bangunan yang berseberangan dengan rumah Kafka yang semula merupakan toko tekstil, sekarang telah jadi kafe.

Untuk mendapatkan suasana masa lampau, Bagong memasuki lorong di samping rumah Kafka yang sudah direnovasi dan beda jauh dari rumah semula. Bagong menyentuh pagarnya. Bagong menyentuh tanahnya. Bagong berdiri cukup lama untuk membayangkan apa yang terjadi pada 1923 di rumah itu.

“Ayo Kafka datanglah,” Bagong bercanda mengundang arwah Kafka sambil membayangkan ia berjalan bersama Dora dari sudut jalan satu ke sudut jalan lain.

Mereka kemudian berjalan ke Grunewalstraße 13. Ada dua pekerja yang sedang membersihkan rumah itu. Rumah yang sangat sunyi. Rumah yang mengingatkan Bagong pada ruang-ruang sepi dalam kisah-kisah Kafka. Ruang Gregor Samsa maupun Ruang Josef K. 

“Mengapa Kafka dianggap sebagai pengarang Austria?” tanya Bagong pada Gudrun.

Gudrun tak langsung menjawab. Belakangan di kereta dia bilang, “Kafka tak menulis dalam bahasa Ceko. Ia menulis dalam bahasa Jerman dan karena itu ia sastrawan Jerman meski lahir dan dimakamkan di Praha. Dalam beberapa buku, Kafka disebut sebagai warga Berlin.”

Bagong memang tak perlu memasalahkan apakah Kafka pengarang Austria atau Jerman.

Mereka kemudian ke Botanicher Garten dengan naik bus. Ada kejadian lucu saat mereka masuk ke taman. Mereka digratiskan 12 euro hanya karena sistem pertiketan rusak.

“Wah Kafka campur tangan nih. Ia menggratiskan kita,” kata Bagong.

“Ya Kafka mengikuti kita sejak tadi,” canda Gudrun.

Cukup lama mereka menyusuri taman luas itu. Mereka masuki setiap sudut sambil mempercakapkan jalan-jalan yang mungkin dilalui Kafka. Tiba-tiba mereka bertemu rubah. Mereka kaget. Rubah juga kaget. 

“Apakah dulu Kafka juga bertemu rubah di sini?” tanya Bagong.

Gudrun mengangkat bahu. 

Tak mau ditetor rubah, mereka mencari tempat-tempat yang mungkin dilewati Kafka. Mereka sengaja tak memilih jalan umum. Setelah cukup lama dan bertemu dengan beberapa pengunjung, mereka menemukan sepasang pohon besar dan purba berdaun rimbun.

“Kita namai saja ini pohon dora dan pohon  kafka,” kata Gudrun.

Bagong tak mendebat usulan itu. 

Waktu terus berjalan. Senja makin menghilang. Mereka masih harus ke Busse Alle 7/9. Mereka naik bus ke sana. 

Tak ada yang istimewa kecuali prasasti di salah satu rumah yang menyatakan Kafka pernah tinggal di lahan (bukan rumah) itu.

Setelah merasakan suasana dan memandang pohon tua yang sangat mungkin telah ada saat Kafka tinggal di sana, mereka bertemu dengan seorang perempuan usia 50-an.

Setelah Gudrun memperkenalkan siapa dan asal Bagong, perempuan itu bertanya, “Apa hubungan seorang laki-laki indonesia dengan Kafka?”

“Hubungan batin,” jawab Bagong santai.

Ya hanya hubungan batin yang unik yang membuat Bagong, lelaki udik dari Jawa, jauh-jauh memburu Kafka ke Eropa.

Ini baru observasi awal. Jalan masih panjang. Kejutan bagi pejalan buta seperti Bagong pasti selalu ada. Yang jelas ia berusaha menjadi Kafka melacak jejak yang tertinggal pada masa lampau. Melacak tanda yang kian kabur dan mungkin sia-sia.