Jepang yang Serba Teratur

Jepang, adalah negara kepulauan di Asia timur, dengan empat pulau terbesarnya, yaitu Honsyu, Hokkaido, Kyushu, dan Shikoku, berpenduduk 128 juta orang, merupakan negara impian bagi para ‘Otaku’, atau istilah dalam Bahasa Indonesianya adalah para maniak hobby. Terutama penggemar Anime (kartun) dan Manga (komik).

Residensi di Jepang

Rencananya, saya akan tinggal di Jepang selama 30 hari, karena memang itulah batas waktu visa tinggal yang saya dapatkan, dan residensi ini mulai saya laksanakan pada tanggal 6 November 2016. Semua ini dapat terselenggara, berkat program Residensi Penulis, dari Komite Buku Nasional bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sebagai pecinta produk dalam negeri, tentunya saya memilih maskapai penerbangan Garuda Indonesia, Eh.. sebenarnya bukan itu alasan utamanya, saya memilih Garuda Indonesia, karena kebetulan saja, sedang ada tiket harga promo. Hehehe.

Pesawat dijadwalkan terbang pada tanggal 6 November 2016, pukul 11.45 malam. Sayang kepercayaan saya terhadap Garuda Indonesia, sedikit memudar, taatkala diumumkan pesawat akan mengalami keterlambatan 15 menit. Lalu kenyataannya, pesawat mengalami keterlambatan hingga 50 menit! Saya mulai merasa malu melihat tatapan turis-turis Jepang, yang menggeleng-gelengkan kepala mereka satu sama lain. Karena saya tahu bagi mereka keterlambatan bukan hal yang biasa. Satu lagi yang saya cemas adalah, Tatsuki Hirayanagi San, menginformasikan pada saya bahwa dia akan menjemput saya di Bandara Haneda, Tokyo pada pukul 9 pagi keesokan harinya.

Akhirnya pukul 9 waktu setempat pesawat mendarat, Oh, ya, Jakarta dan Tokyo memiliki selisih waktu 2 jam, jadi waktu setempat di Tokyo sama dengan waktu setempat di Indonesia Bagian Timur. Begitu memasuki wilayah Bandara Haneda, saya langsung terkagum-kagum melihat betapa tertib, teratur, dan disiplin para penduduknya dan hampir seluruh wilayahnya super bersih dan rapi.

Di pintu keluar, Tatsuki Hirayanagi san, sudah menunggu saya dengan wajah ceria. Tentu saja permintaan maaf karena terlambat yang pertama kali saya sampaikan kepada beliau. Ada kejadian unik ketika hendak memasuki taksi di bandara, alangkah kagetnya saya ketika tiba-tiba pintu taksi terbuka sendiri! Ya, ternyata pintu taksi di Jepang itu digerakkan secara otomatis, bisa membuka dan menutup sendiri. Tatsuki san, tertawa melihat kebingungan saya, dan beliau juga pernah mengalami kejadian lucu ketika naik taksi di Jakarta. Karena terbiasa tidak pernah menutup pintu taksi, maka saat di Jakarta, beliau pernah diomeli sopir taksi karena membiarkan pintunya terbuka.

Saya langsung di ajak berkunjung ke kantornya, Digital Catapult, di daerah Koishikawa, Bunkyo, Tokyo. Menurut beliau, nama wilayah di Jepang, biasanya diambil berdasarkan apa yang terlihat ada di tempat itu, seperti Koishikawa ini, artinya adalah, sungai kecil berbatu. Jadi seharusnya bakal ada sungai kecil berbatu di tempat ini. Tapi ternyata sang sungai ini sudah tertutup jalanan, dan sekarang menjadi sungai berbatu di bawah tanah.

 

Tiba di kantor, langsung menuju ruang meeting, ternyata saya sudah ditunggu oleh Yoshiya Watanabe San, manager International Business Development, Penerbit Kyodo. Awalnya saya menjelaskan maksud kedatangan saya ke Tokyo dan tentang Program Residensi Penulis yang saya ikuti, selanjutnya beliau malah membahas kemungkinan kerja sama bisnis antar Indonesia dan Jepang. Wah, saya yang semula ngantuk berat, jadi langsung seger dan semangat mendengarnya.

Selanjutnya tour di kantor Digital Catapult, dan perkenalan dengan semua staff di kantor tersebut. Kendala bahasa menjadi nomor satu yang saya hadapi kali ini, karena hampir semua orang Jepang tidak fasih berbahasa Inggris. Uniknya di kantor Digital Catapult ini, staffnya terdiri dari berbagai suku bangsa, ada yang dari Perancis, Tiongkok dan Korea Selatan.

Perbedaan suhu dan bahasa yang cukup merepotkan

Suhu udara di Tokyo saat kedatangan saya berkisar 15 derajat celcius, jadi nggak terlalu dingin, lah. Mirip seperti di Puncak pada malam hari. Namun, pas sore hari saya menuju ke hotel... Brrr.. tiba-tiba suhu udara turun drastis hingga 6 derajat celcius! Ini cukup merepotkan, karena saat berada di dalam ruangan yang biasanya memakai penghangat, saya cukup memakai sehelai kaos dan celana sudah cukup. Kemudian kalau pas keluar ruangan, harus memakai pakaian dingin lengkap, termasuk syal dan kupluk, apalagi kalau sedang turun gerimis, wah! Dinginnya bisa sampai ke tulang. Padahal lemak tubuh saya cukup tebal, loh.

Walau Bahasa Inggris juga diajarkan di sekolah, tapi entah kenapa hampir semua orang yang saya jumpai di jalanan, umumnya tidak bisa berbahasa Inggris dengan fasih, ini menjadi kendala yang cukup mengganggu, apalagi semua tempat dan menu umumnya ditulis dalam bahasa Jepang. Untung saja sekarang sudah banyak aplikasi penerjemah di ponsel pintar.

Aturan di meja makan

Ada beberapa aturan tak tertulis saat kita berada di restoran atau sedang mendapat jamuan makan malam di Jepang.

Umumnya mereka akan membiarkan tamu untuk memesan duluan, tapi yang dipesan duluan adalah minuman dan bukan makanan. Orang Jepang sangat menjunjung tinggi budaya bersulang, atau ‘Kanpai’ dalam arti harafiah, Kanpai itu minum sampai habis. Inilah sebabnya mereka akan memesan minum terlebih dahulu (biasanya minuman beralkohol), baru setelah itu memesan makanan pembuka dan seterusnya.

Sebisa mungkin habiskan semua hidangan yang dipesan, karena jika tidak habis, mereka akan bertanya-tanya, apakah makanannya tidak enak atau ada sesuatu yang salah.

Lalu dalam menggunakan sumpit, pantang menggunakan dua pasang sumpit ketika mengambil lauk dari piring yang sama. Karena dalam budaya Jepang, ketika orang meninggal dan dikremasi, saat mengambil sisa abu tulang belulang, anggota tertua dalam keluarga akan mengambil tulang tersebut dengan sumpit dan meneruskannya kepada anggota keluarga lainnya. Inilah kenapa penggunaan dua pasang sumpit secara bersamaan ketika mengambil makanan, dianggap tabu.

Perbedaan budaya

Orang Jepang, memang terkenal rajin dan selalu siap membantu apabila dibutuhkan. Sebagai contoh, saat saya hampir tersesat di labirin stasiun Shibuya, dan bertanya pada salah satu pegawai toko, walau mereka tidak bisa berbahasa Inggris, mereka tetap berusaha menjelaskan dengan Bahasa Jepang! Alhasil saya hanya menggangguk-angguk, tanda makin bingung. Melihat saya hanya menatap bengong, akhirnya pegawai tersebut memberi isyarat agar saya mengikutinya, dan dengan tangannya mempersilahkan saya menuju arah yang dimaksud. Ah, iya, ada satu hal yang bakala bermasalah jika orang Indonesia berkunjung di Jepang, menunjuk seseorang dengan jari telunjuk, dianggap sangat tidak sopan, jadi sebaiknya menggunakan seluruh telapak tangan untuk menunjuk seseorang.

Orang Jepang juga sangat disiplin, bahkan tingkat keteraturannya boleh dibilang nomor satu di dunia. Tidak ada yang melanggar lampu merah, baik pengendara motor maupun pejalan kakinya, bahkan saat jalanan lengang. Polantas di negara ini pasti pada nganggur semua, nih. Lalu saat mengantri, kita tidak perlu khawatir bakal diserobot, walaupun tanpa pagar pembatas antrian ataupun pengawas sekalipun, tidak bakal ada yang curang dan menyerobot antrian. Beda banget ya, sama ibu-ibu penyerobot antrian katering saat kondangan di Jakarta.

Trus orang Jepang itu super bersih, di seluruh jalanan dan fasilitas umum, semuanya bersih, nyaris tanpa sampah di semua sudutnya. Anehnya, di Tokyo itu, susah banget mencari tong sampah! Serius, kadang saya sampai kebingungan di mana harus membuang plastik bekas kue, karena jarang sekali di sediakan tempat sampah di pinggir jalan. Trus, kok bisa sebersih itu, ya? Konon, katanya mereka suka mengantongi sampah, hingga menemukan tempat membuang sampah yang sudah dibagi menjadi 3 bagian. Plastik dan kertas, sampah organik, lalu botol dan kaleng ada tempat membuangnya sendiri. Luar biasa bukan? Saya sampai iri melihatnya.

Kemudian sampah-sampah yang tidak bisa didaur ulang atau diuraikan di alam, akan dihancurkan dengan mesin pembakar sampah yang minim polusi, panas yang dihasilkan dari proses pembakaran sampah ini, digunakan sebagai pemanas kolam renang umun di Tokyo! Benar-benar pemanfaatan energi yang sangat cerdik.

 

Orang Jepang itu sangat efisien dan menghargai waktu. Mereka terlihat selalu terburu-buru, karena orang jepang paling tidak suka membuang-buang waktu. Mungkin mereka adalah orang paling tepat waktu di dunia. Karena sewa lahan dan tenaga kerja sangat mahal, banyak toko yang mengandalkan mesin penjual otomatis, seperti mesin tiket, mesin penjual minuman, mesin penjual makanan, mesin penjual rokok, dan tentunya juga saklar lampu, penyiram toilet dan seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, pintu taksi!

Sebagai orang Indonesia, saya masih bangga punya budaya yang tidak dimiliki oleh orang Jepang, yaitu keramahan kita, dan rasa sok tahu kita. Kalau di Jepang, jangan pernah sok menyapa basa-basi atau senyum sama orang tak dikenal yang duduk di sebelah kursi kita saat naik kendaraan umum. Bakal dicuekin, atau malah ditinggal pergi, karena mereka merasa seram dan takut dengan keramahan kita.

Orang Jepang sangat individualistis, dan kalau kita lihat di kereta, banyak yang tampil seperti orang autis, karena hanya sibuk memainkan hape mereka tanpa memandang satu sama lain orang-orang di sekitarnya. Akibatnya banyak orang Jepang yang mengalami stress dan depresi berat karena kesepian. Inilah sebabnya banyak orang Jepang yang memilih hidup lajang, ogah menikah apalagi punya anak.

Orang Jepang juga sangat parno, ketika diajak foto bareng oleh orang yang baru pertama kali dikenal, mereka takut, fotonya bakal diunggah di media sosial. Beda banget dengan orang Indonesia yang memang suka mengunggah foto-foto mereka di media sosial, dan suka mengomentari apapun di media sosial.

- Andik Prayogo