Juru Bicara Bahasa Esperanto di Dunia

Ada sebuah adagium lama yang dulu sangat terkenal : Ars longa vita brevis. Artinya, hidup kesenian lebih panjang dari hidup manusia. Kalau diperluas maknanya : Manusia bisa saja hancur,  kesenian akan tetap abadi.

Panggilan jiwa seni itulah yang membuat  Heidi Goes, (41), untuk terus menulis, belajar pelbagai macam bahasa dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Dia menyakini, sesuatu yang  dikerjakan dan diupayakan, harus melalui kemauan dan tekad.

Walau asli orang Belgia, dia dapat bicara dalam bahasa Jerman, Belanda, Prancis, Inggris, Spanyol, Portugis, Afrika, Indonesia dan Esperanto dengan sama baiknya.

Nah, pilihannya untuk menyebarluaskan bahasa Esperanto melalui pelbagai kesempatan tidak main-main. Ada semacam panggilan jiwa.

Bahasa Esperanto awalnya diciptakan oleh Zamenhof, orang Yahudi-Polandia dengan tujuan menyederhanakan bahasa-bahasa di dunia supaya teratur.

“ Bahasa Esperanto itu unik, netral, walau dibuat oleh satu orang, bisa dipergunakan oleh banyak orang,” terangnya dalam bahasa Indonesia kepada saya.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, dia telah menulis dua buku tentang bahasa Esperanto, yaitu : Gerakan Esperanto di Afrika dan Kunci Esperanto : Untuk Belajar Esperanto, yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Heidi datang ke Leiden untuk mengikuti acara konferensi internasional linguistik sekaligus menemui beberapa orang guru besar yang punya kompetensi dalam  bidang tersebut.

 

Sumber Ilmu di Belanda

Belanda adalah negeri yang penuh  dengan harta terpendam . Ini boleh jadi bukan sekadar ungkapan belaka, tapi kenyataan. Tentu saja, yang memukau dari pendaman harta itu adalah gemerlapnya kekayaan sejarah Indonesia dan bangsa lain. Bak terangnya lampu yang menyinari inspirasi banyak seniman dan peneliti dari seluruh penjuru dunia.

 “ Saya mulai belajar bahasa Esperanto sejak 1990, di Oostende, Belgia, karena ada klubnya,” terangnya meneruskan pembicaraan.

Heidi menggali informasi bahasa dari mana saja. Termasuk bahan-bahan yang ada di Perpustakaan Universitas Leiden. Di sini juga ada forum pertukaran  lintas ilmu pengetahuan untuk saling ber interaksi. Sehingga mewujudkan banyak citra positif bagi pengunjung yang datang.

“ Karena banyaknya pergaulan dengan orang dari macam-macam negara, kemampuan bahasa Esperanto saya jadi baik,” sambungnya.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang sedemikian pesat,  membuat bahasa Esperanto jadi  lebih gampang dipelajari dibanding bahasa lainnya.

“ Kalau mau cepat belajar bahasa, prakteknya diperbanyak, buat kalimat,  teori pun merupakan satu hal penting lain yang harus dikuasai,” ujarnya.

Heidi juga menyarankan, keterampilan menguasai bahasa asing lain bisa tumbuh jika kita hobby mengombinasikan pengetahuan lewat informasi yang didapat dari internet.

“ Teruskan sampai mahir , jangan hanya puas pada dasar-dasarnya saja,” cetusnya berpesan dengan nada yang teramat simpatik.

Agaknya, keinginan untuk merawat cara-wicara Esperanto  ada, membuatnya terus “bertahan” menjadi penyangga bahasa itu.

 

Koko Hendri Lubis