Kamar Yuyun: Catatan Perjalanan

Setelah delay 15 menit di Doha,  22 Oktober, pukul 14. 07 Qatar Airlines mendarat di bandara Charles De Gaule (CGD) Paris. Tak ada yang menjemput dan udara 9 derajat memasuki akhir musim gugur. Karena kopor saya besarnya setengah dari tubuh saya yang imut-imut, alangkah repotnya bila saya harus naik turun kereta Metro. Lewat pesan singkatnya Gani Ahmad Jaelani, mahasiswa Indonesia di Paris yang membantu saya mencarikan flat, memberi petunjuk nomor-nomor Metro yang harus saya naiki, di stasiun mana saya harus turun untuk ganti Metro. Ada 4 Metro. Artinya, dalam setiap perpindahan kereta saya harus menyeret kopor besar itu sepanjang lorong stasiun, mirip orang menyeret-nyeret peti mati.

Akhirnya, tanpa harus merasa bersalah, dengan uang rakyat bekal residensi saya naik taksi saja. Hanya butuh sekira 45 menit untuk mencapai kawasan 19 Rue Fontaine Au Roi tempat saya akan tinggal, dengan ongkos 55 Euro. Gani, teman saya yang baik itu sudah menunggu di depan flat. Dosen Jurusan Sejarah Unpad yang sedang menunggu sidang desertasinya di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS) Paris, itu juga tinggal di flat tersebut.

Di flat itu saya menyewa kamar Yuyun. Alumni Pendidikan Bahasa Prancis UPI Bandung yang sedang menyelesaikan Master Linguistik di Universite Paris 4, Sorbonne. Yuyun menyewakan kamarnya demi menutup kebutuhan kuliah, yang untuk itu ia menumpang menginap di tempat kawannya atau di kampus. Saya menyewanya 500 Euro sebulan. Cerita Gani, cara itu jamak dilakukan mahasiswa Indonesia di Paris. Terutama bagi mereka yang kuliah dengan biaya sendiri, di samping juga bekerja sambilan.

Saya belum pernah bertemu dengan Yuyun sebelumnya. Tapi ketika bertemu kami cepat saja menjadi akrab, apalagi menurutnya wajah saya sangat familiar. Entah apa maksudnya. Yang terang rupanya kami sama berteman dengan sejumlah nama di Bandung.    

Saya harus berterimakasih pada Gani yang telah mengusahakan kamar Yuyun untuk saya.  Kamar yang nyaman, cukup luas untuk keperluan saya tinggal dan menulis dengan tenang. Dapur, tempat tidur, meja tulis, kamar mandi, dan Wifi. Terletak di kawasan Beleville dengan deretan toko yang menjual kebutuhan sehari-hari membuat saya beruntung menyewa kamar Yuyun. Demikian pula akses ke stasiun Metro.

Rupanya keberuntungan saya tidak sampai di situ. Yuyun ternyata rajin berdagang aneka rupa bumbu Indonesia. Termasuk ikan teri sampai teh celup. Di dapur dan dalam lemari kecilnya bersusun aneka rupa bumbu masakan dalam berbagai kemasan. Juga Kecap Cap Bango, mie instan, saus ABC, bawang merah, shampo, malah ada  Tolak Angin segala. Sedang dalam sebuah tas besar yang penuh dengan Royco, saya menemukan berbagai dagangan Yuyun lainnya; bumbu rendang dalam saset, juga sekantung ikan teri,  Saya merasa berada dalam kamar sekaligus warung yang menyenangkan. Saya masak dengan gembira.

Entah bagaimana Yuyun mendapatkan semua itu. Yang terang, lagi-lagi, itu bagian dari upaya Yuyun mendapatkan uang tambahan biaya hidup selama studi dan tinggal di Paris, di samping dua hari setiap akhir ia bekerja di toko furniture di kawasan elite Champ Ellysse. Tentu saja, selain merasa merasa beruntung dengan semua kemudahan mendapatkan akses pada beragam bumbu Indonesia, saya merasa terharu dan kagum. Setiap memasak saya memakai bumbu dari dagangan Yuyun, dan untuk itu selalu saya pisahkan tempatnya agar mudah nanti menghitung  pembayarannya.

Karena residensi ini dibiayai oleh uang rakyat, sudah semestinya jika uang itu ada juga yang kembali ke rakyat, bukan? Termasuk rakyat Indonesia yang berada di Paris, yang bernama Yuyun. (Ahda Imran)