Lalu, Apa Pentingnya Menulis tentang La Galigo?

Bagian Satu:

Tulisan pertama tentang La Galigo ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1817 dalam bukunya The History of Java. 199 tahun kemudian, 10 November, pukul 20.00 waktu Cengkareng, saya duduk di kursi 46A pada penerbangan Garuda Indonesia GA88 menuju Belanda untuk melakukan hal yang sama--setidaknya dengan cara sendiri. Selama penerbangan dua belas jam yang menjenuhkan, saya membaca novel Moemi karya Marion Bloem, memutar beberapa film (yang tak selesai) dari layar di depan saya--dan akhirnya mencoba tidur--lantas terbangun ketika awak kabin mengumumkan kondisi darurat bahwa seorang penumpang sedang sakit, dan membutuhkan tenaga medis. Saya melihat peta penerbangan setelah mengucek mata, pesawat kami tepat berada di langit India. Pikiran saya kembali ke  La Galigo, barangkali karena jauh sebelum berangkat, perjalanan ke Belanda, atau tepatnya Leiden, merupakan perjalanan yang sebelumnya hanya bisa saya andaikan.

            Ketika Komite Buku Nasional membuka seleksi Residensi Penulis 2016, saya mengirim berkas seleksi beberapa hari sebelum pendaftaran ditutup. Saya terpilih akhirnya, meski mulanya saya sungguh tidak yakin. Rencana buku yang dari jauh hari saya susun (dan tidak dikerjakan) akhirnya menemui jalan lain, data yang saya rasa kurang bisa saya lengkapi di Leiden, begitu saya berpikir waktu itu. Sisa perjalanan India-Belanda saya habiskan dengan memikirkan berbagai hal mengenai pengumpulan data yang akan saya lakukan ketika tiba. Hingga pada akhirnya saya bertanya kepada diri sendiri: apa pentingnya menulis novel yang 'berangkat' dari La Galigo?

            Benar. Apa pentingnya? Lagipula sudah sangat banyak yang menulis dan membuat dokumentasi soal La Galigo, lagi-lagi belum saya jawab. Setelah Raffles, B. F. Matthes yang tinggal di Makassar periode 1848-1879 menyerahkan hasil dokumentasinya tentang La Galigo sebanyak 26 buku ke Nederlandsche  Bijbelgenootschap  (NBG). Setelah Matthes, Schoeman juga mengumpulkan sebanyak 19 buku yang lantas dibeli Perpustakaan Negara Prusia, Berlin. Matthes dan Schoeman hanya dua nama, masih banyak lagi tentu saja--dan mustahil menyebutnya satu per satu. Pada buku Ritumpanna Welerengge karya Fachruddin Ambo Enre (Yayasan Obor Indonesia, 1999), ditulis pula bahwa Rijksuniversiteits Bibliotheek (RUB) Leiden, menerima hibah naskah sejumlah 67 buku tulis dan 1 lontar dari Prof. Dr. J. C. G. Jonker yang diserahkan oleh istrinya pada tahun 1920 (7 naskah asli dari masyarakat, sisanya salinan). Naskah hibah dari Jonker ia kumpulkan saat menjadi taal ambtenar di Makassar tahun 1886-1896. Itu baru tiga nama, masih ada belasan atau bahkan puluhan nama lain yang bisa disebutkan, tetapi saya tetap yakin pada niat awal untuk menulis novel seperti yang saya sebutkan di akhir paragraf kedua tulisan ini. Saya tidak yakin itu penting atau tidak bagi orang lain. Yang jelas, ketika roda pesawat Batik Air telah terpisah dengan landasan pacu Bandara Sultan Hasanuddin (sehari sebelum saya berangkat dari Jakarta) saya sudah yakin, bahwa penting bagi diri saya untuk menulis sesuatu dari La Galigo. Hal ini sangat personal, semuanya terpaut mulai dari masa kecil, lingkungan, hingga cerita tentang pohon Welenreng yang selalu Ayah kisahkan menjelang saya tidur belasan tahun yang lalu.

            Pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Schiphol, beberapa menit sebelum pukul 08.00--ketika Amsterdam belum cukup terang untuk saya sebut pagi. Koper biru tua yang hanya seberat 14 kg saya seret melewati bagian imigrasi sambil mulai beradaptasi dengan suhu 7 derajat yang merambat ke balik jaket dan sweter yang saya kenakan. Lagi-lagi pertanyaan itu; apa masih penting menulis soal La Galigo? Saya tidak mengacuhkannya. Saya terus berjalan sambil menyusun rencana-rencana yang akan saya lakukan sebulan ke depan: menemui  narasumber, mencari beberapa buku, mengunjungi sejumlah tempat dan mencicil naskah novel saya. Pertanyaan itu muncul dan saya tidak mengacuhkanya. Saya terus berjalan sambil mencari mesin penjual kopi di depan pintu keluar bandara. Pertanyaan itu muncul dan saya tidak mengacuhkannya. Saya terus berjalan sambil mencari wi-fi  untuk menghubungi teman saya yang akan menjemput. Dia, Raisa Kamila, mahasiswa master di Jurusan Sejarah, Universitas Leiden--teman yang saya bayangkan sebagai  perpaduan dari Raisa Andriana dengan Shafa Tasya Kamila.

bersambung ke bagian dua   

- Faisal Oddang