LATIN QUARTER: JEJAK INTELEKTUAL PARIS

Paris telah menjadi magnet kuat para pelancong sedari abad ke-17. Germain Brice, seorang cicérone—pemandu museum atau galeri untuk kepentingan arkeologi, sejarah, atau asitektur, sebuah istilah lama yang berasal dari Marcus Tullius Cicero, sebagai model pembelajar dan kefasihan—menulis buku panduan Paris, Nouvelle description de la ville de Paris. Di dalam bukunya—yang merupakan buku panduan kota terlaris sampai 1750-an—Brice menulis “kota terbaik dan terindah di dunia. Semua daya tarik dunia ada di sini.... dalam satu perjalanan, orang bisa melihat banyak hal indah”.

Saya kira, promosi pariwisata model demikian menjadikan Paris, sampai saat ini, menjadi kota impian banyak pelancong. Pada 2016 ada sekitar 1,5 juta pelancong mendatangi kota yang punya banyak sebutan itu: Kota Cinta, Kota Romantis, Kota Adi-Busana, Kota Cita Rasa Makanan, Kota Anggur.

Sebutan lain untuk Paris adalah Kota Cahaya (La Ville Lumière). Tidak sedikit orang menghubungkannya dengan gemerlap lampu kota. Hal tersebut bisa jadi benar. Ada hampir 300 lokasi (monumen, gereja, patung, air mancur, hotel) berhiaskan lampu. Demikian juga dengan jembatan. Tigapuluhtiga dari 37 jembatan serentak menyala di malam hari. Ketika matahari mulai ruyup, banyak pelancong berkerumun di sekitar Menara Eiffel menyaksikan 20.000 kerlap-kerlip bola lampu.

Tetapi La Ville Lumière sebenarnya lebih relevan diterjemahkan sebagai City of Enlightenment, Kota Pencerahan. Sudah sejak abad pertengahan Paris menjadi pusat intelektual eropa dengan universitas, perpustakaan, dan museum yang dimilikinya. Untuk sebuah kota yang dari utara ke selatan bisa dijajagi dengan berjalan kaki sekitar 3 jam Paris mempunyai 1.620 perpustakaan, 1.025 toko buku, dan 137 museum.

Setelah mengunjungi toko buku legendaris “Shakespeare & Company”, saya menyusuri Rue Saint Séverin dan Rue de la Harpe yang jalanannya menyerupai ranting pohon: berkelok-kelok, tidak rata, dengan persimpangan saling potong asimetris. Kanopi warna-warni toko-toko menutup sebagian jalan. Meja bundar bertaplak renda dan kursi kayu di teras kafe dipenuhi mereka yang bersiap makan siang. Aroma roti, kentang tumbuk bakar, saus keju mengambang sepanjang jalan.

Paris di awal Oktober adalah langit yang hangat dan terang, tiupan angin cukup dilapis jaket atau sweter, daun-daun berwarna hijau-merah-kuning. Musim sudah menggugurkan sebagian daun-daun ke trotoar. Saya melangkah ke Boulevard Saint Michel yang padat. Toko-toko cinderamata dipadati pelancong yang kebanyakan datang dari Jepang dan Cina.

Saya sampai place de la Sorbonne (place sejenis plaza atau ruang terbuka) dan duduk tidak jauh dari toko buku yang hanya menjual buku-buku filsafat di ujung jalan.

“Dari Vietnam?” Tanya seorang laki-laki tua yang kemudian duduk di di samping saya.

“Bukan.”

“Oh. Dari mana?” Tanyanya lagi.

“Indonesia.”

“Negara yang jauh... Itu La chapel Sorbonne,” katanya menunjuk bangunan di hadapan kami. “Di situ ada jejak kelahiran pemikiran kota ini.”

Saya memutar badan. Dengan bahasa Inggris beraksen khas laki-laki itu mulai menceritakan, yang dibilangnya jejak pemikiran Paris, Universitas Paris-Sorbonne. Kolase, yang didirikan Robert de Sorbon pada 1257, tersebut meneruskan tradisi intelektual Peter Abelard (1150) yang merupakan universitas tertua kedua di Eropa. Sebuah tradisi pemberontakan yang diam-diam meninggalkan doktrin gereja. Metode berpikir kritis di ruang-ruang terbuka ala Yunani kuno mengukuhkan tradisi pemikiran Perancis yang membekas hingga sekarang. Sejalan yang dikatakan Sudhir Hazareesingh, “yang diterjemahkan dalam kehidupan nyata melalui ritual sosial, budaya, dan pendidikan—berupa fetival, demonstrasi, pawai, petisi, bahkan ujian doktor”.

Sorbonne berada di area bernama Latin Quarter, penanda bahasa Latin pernah menjadi bahasa dominan di situ. Sampai dengan abad-20 Latin Quarter menjadi pilihan bermukim para penulis, inteletual, dan seniman. Di situlah Ullyses, mahakarya James Joyce, diterbitkan; Picasso menyelesaikan Guernica di kanvas 3,5X7,8 meter; Sartre merumuskan Les Temps modernes; naskah Beckett dan Ionesco dipentaskan; bebop dan Jazz New Orleans diperdengarkan pertama kalinya; juga titik penting perlawanan Perancis terhadap Nazi.

“Kalau mau berjalan sedikit. Tidak jauh. Ada Pantheon. Itu bangunan peringatan untuk mereka yang berjasa untuk kota ini.”

Pantheon, lanjutnya lagi, dibangun di atas gereja lama Saint Genevieve pada 1755 dan setelah Revolusi Perancis—seperti tertulis di pintu masuk “Aux grandes hommes la patrie reconnaissante” (Untuk para orang hebat, bangsa yang bersyukur)—difungsikan menyimpan jasad mereka yang dianggap berjasa untuk Paris. Beberapa intelektual dan penulis kini bersemayam tenang di ruang bawah tanahnya. Kota ini seperti mau mengingatkan dirinya sendiri bahwa adanya bukan hanya karena para tentara atau politisi, tapi terutama karena orang-orang seperti Voltaire, Jean-Jacques Rousseau, Victor Hugo, Émile Zola, Alexandre Dumas.

Saya ingat Pantheon, sebuah bangunan raksasa berbentuk salib. Untuk saya, bangunan yang berada di persimpangan ramai tampak sangat provokatif: kubah menyerupai Basilica desain Michelangelo di Roma, presisi di semua sisi, dan pilar yang sulit dilihat dari dekat karena sedemikian tinggi.

Ketika langit terang di sekitar bangunan bergaya neoklasik itu, Place du Pantheon, sepengetahuan saya selalu ramai. Mahasiswa Universitas Pantheon-Sorbonne atau pengunjung Perpustakaan Sainte-Geneviève atau pelancong gereja abad pertengahan St-Étienne-du-Mont memenuhi bangku-bangku batu. Mereka membaca buku, mengobrol, membuka bekal makan siang, atau sekadar menikmati hangat matahari.

“Menjadi pelancong di Latin Quarter sangat mungkin kita bersua jejak-jejak pemikiran Paris. Sebuah tradisi pemikiran yang sudah tua dan mengakar. Toh, kalau pun tidak mau menyasar itu semua, di sini ada Plaza Saint Michel, Istana Luxembourg, Museum Cluny, Masjid Raya Paris, Jardin des Plantes, Arènes de Lutèce, Gereja Eglise Saint-Etienne du Mont dan Eglise Saint-Julien-le-Pauvre. Banyak... Apalagi berjalan kaki dan tidak diburu-buru angka jarum jam...”

“Ya...” Saya membalikkan badan. Mata saya yang sedari tadi tertuju ke seberang plaza, ke sebuah toko buku yang hari itu tutup, mengarah ke laki-laki itu.

Tidak ada seseorang di samping saya. Apakah dia memang ada atau hanya kepala saya saja yang dirasuki aura Latin Quarter? Entahlah... Pastinya hari itu saya tidak sedang diburu-buru angka jarum jam untuk bisa terus duduk di situ.**

 

Mona Sylviana