MELBOURNE DAN KISAH CINTA YANG TIBA-TIBA

Selalu ada hal-hal tak terencana yang mengisi sebuah perjalanan. Ini adalah kisah yang terlalu pribadi, namun sangat mempengaruhi perjalanan residensi. Bisa dikatakan, sepenuhnya.

 

Saya sudah bersiap pulang ketika kemudian mendengar panggilan lantang seseorang  dari atas panggung pembicara di The Deakin Edge Theatre jam 8 malam itu. Pengucapan 'Azuwi' untuk nama saya di lidah orang-orang sini selalu membuat saya geli. Suara Michael Green, seperti dugaan saya. Dia baru saja mengisi sesi "Imagine The Future of The Written Word" bersama Ben Birchall, Amy Gray, dan Adam Pugh dalam rangkaian Melbourne Writers Festival 2017.

Panggilan malam itu, dan pembicaraan panjang setelahnya, mengembalikan ingatan saya pada dua hal. Pertama, perjalanan saya ke Melbourne, yang kalau sekarang dipikir-pikir, cukup konyol karena sangat tidak praktis dan efektif. Keberangkatan saya ke sini menempuh perjalanan yang berbelit-belit. Demi sebuah petualangan, saya sengaja ambil penerbangan dengan transit beberapa kali. Dari Bandara Juanda Surabaya ke Ngurah Rai, Bali. Dari Bali ke Cairns, Queensland. Dari Cairns baru ke Tullamarine Airport, Melbourne. Tidak seperti pengalaman saya ke Australia sebelumnya, setiap transit kali ini, saya harus check in bagasi di setiap bandara. Saya menaikturunkan koper dan tas kabin yang beratnya lebih dari 30 kg, mengantri bagasi dan mendaftarkannya kembali sebanyak tiga kali. Plus, karena bandaranya masih belum familiar, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk nyasar daripada bersantai antri apalagi makan-makan.

Perjalanan dan penerbangan yang hampir dua hari itu menyisakan pegal-pegal yang bisa dibayangkan. Untungnya, sesampai di Melbourne saya langsung dijemput oleh salah satu keluarga host family saya pakai mobil, tanpa harus menggotong-gotong lagi barang puluhan kilo di public transportation. Walaupun sesampainya di rumah sana, saya harus kerja bakti lagi menata kamar sendiri dorong-dorong dipan, meja belajar, lemari dan kulkas yang awalnya berantakan (menurut selera saya). Ketidakpraktisan di atas adalah akibat dari ulah saya yang memang memilih semuanya via online berdasarkan pertimbangan anak muda sok adventurous dan sok suka tantangan. Saya bisa saja pilih penerbangan langsung, atau penerbangan murah dengan satu transit yang gampang. Saya juga bisa cari rumah orang Indonesia atau teman mahasiswa yang rumahnya siap tinggal dan tidak menuntut saya untuk repot-repot hidup di tengah keluarga angkat asli Australia yang pastinya butuh adaptasi berlapis. Tapi jika saya lakukan itu, mungkin tidak akan sebahagia ini sensasinya ketika kemudian tanpa diduga, saya menemukan cinta sejati.

“I need you to see my girl friend.” Ucap Michael yang menyeret saya ke tepi tribun. Saya terkejut karena ternyata pacar yang tadi dalam speech dia sebut-sebut, ternyata dibawa juga. Tidak mencolok di pinggiran tribun, dia memperkenalkan saya pada Madeleine Egan atau akrab dipanggil Maddie, seorang gadis yang sangat sangat sangat cantik. Seperti Arnold Zable, Michael Green adalah seorang humanis pejuang para refugee yang tertahan di Manus Island. Dan seperti Dora Zable, Madeleine juga menjadi pendukung penuh gerakan pasangannya.

Maddie yang ramah dan rendah hati, mulai menanyai saya banyak hal. Terutama tentang keberadaan saya di Melbourne yang mungkin sudah banyak diceritakan Mike sebelumnya. Sambil menjawab rentetan pertanyaannya, ingatan saya otomatis terbang ke kejadian kedua. Masa yang paling membekas. Karena saya tidak pernah merasakan perasaan bercampur dengan komposisi yang lebih banyak dari waktu itu. Dimana kisah cinta saya mendapat kepastian.

Sore, 6 Agustus 2017 di bangku depan State Library of Victoria, berseberangan dengan restoran cepat saji Nando. Bangku dimana banyak burung seagull hinggap dan terbang berkali-kali. Sambil memperhatikan orang-orang yang asyik bermain catur raksasa, saya menggenggam erat-erat benda yang barusaja saya beli dari Chemist Warehouse. Sebelumnya, benda itu saya bawa mondar-mandir mencari toilet dengan gemetar (akibat dingin, takut dan tegang). Saya memakai benda itu di toilet bawah tanah gedung depan Wheeler Center. Sambil menunggu entah siapa, saya menunda-nunda membuka benda di genggaman itu. Alih-alih, saya keluarkan belanjaan buah-buahan hasil perburuan diskon menjelang tutup toko di Queen Victoria Market. Saya letakkan pir dan stroberi segar itu di sebelah tempat duduk saya. Saya makan perlahan dengan penuh harapan. Kembali, saya celingukan menunggu entah siapa.

Oh my God..”

Saya lupa berapa kali Mike dan Maddie mengucapkan itu dengan ekspresi entah terkejut entah prihatin, ketika mendengar cerita saya yang malah cengengesan. Kami keluar Federation Square bersama-sama. Saya menuju halte tram Flinders Street, mereka menuju tempat parkir. Jangan bayangkan parkir mobil, mereka menuju parkiran sepeda ontel (terbayang kan, bagaimana seorang aktivis yang barusan diundang jadi pembicara dan sangat terhormat pulang naik sepeda, padahal mereka punya mobil dan rumahnya cukup jauh untuk ukuran kayuhan kaki orang Indonesia). Wajah mereka masih tidak bisa ditebak. Mereka lebih banyak bertanya daripada menjawab pertanyaan-pertanyaan saya mengenai proyek terbaru Mike. Berulangkali mereka bertanya “are you really okay?”, dan berulangkali pula saya jawab tegas bahwa ya, saya baik-baik saja.

“You have to go to the doctor.." Komentar Maddie sambil membungkuk ke arah saya yang lebih pendek dari mereka berdua.

"If I feel bad, I surely will. But now I’m fine."

Yang benar saja, dalam hati saya. Dokter di sini tanpa asuransi, sekali datang bisa habis 300 dollar lebih. Lagipula tidak mungkin sekali datang. Belum dokter spesialisnya. Belum biaya ultrasound dan pemeriksaan lainnya. Lagipula kita tidak bisa membuat janji dengan dokter spesialis tanpa rujukan dari dokter umum alias GP. Sementara yang saya punya hanya travel insurance yang sudah saya pastikan tidak mengkover itu semua. "Don't worry, I'm seriously fine," yakin saya pada mereka kesekian kali.

Saya kembali mengingat saat akhirnya berani membuka benda itu di depan State Library. Di antara pir dan stroberi. Benda yang saya dapatkan berkat bantuan apoteker berhijab di Chemist itu. Positif. Saya mendapatkan cinta sejati. Cinta yang baru. Cinta tak tertebak yang merangkul saya dengan kehangatan dan harapan. Detik itu pula saya tersadar. Tantangan kisah cinta ini tidak akan mudah.

Bagaimana pun, keberadaan dia tidak legal secara hukum di Australia. Status tertulis paspor dan visa saya single. Belum menikah. Saya tidak punya asuransi kesehatan. Tidak ada keluarga dekat. Kalau-kalau terjadi apa-apa, akan bahaya. Mungkin jika ketahuan saya membawa dia dalam penerbangan internasional, pasti saya dilarang terbang tanpa surat pernyataan dari maskapai dan rekomendasi resmi dari dokter. Saya bahkan sangat takut untuk melaporkan atau menanyakan tentang status saya ini pada KBRI padahal saya sudah sampai depan kantornya di Queen Street. Serasa anak gadis yang menemukan pacar idaman, tetapi bingung bagaimana mengakuinya pada orang tua. Karena saya tidak bisa menebak bagaimana nanti reaksi mereka, apa bisa menerima dan mendukung, atau sebaliknya. Sementara keberadaan saya di sini masih panjang. Pekerjaan masih banyak. Yang saya bisa hanya berharap agar tidak terjadi apa-apa.

Seandainya saya tahu sejak awal, mungkin saya akan lebih hati-hati. Saya tidak akan mengeksekusi barang-barang berat seekstrim yang saya lakukan ketika berangkat. Pulang ke Indonesia nanti pun masih harus transit di Singapore. Tapi siapa yang tahu.

Setiba di rumah setelah berpisah dari Mike dan Maddie, pesan messenger saya berbunyi. Dari Michael, kini dia mengundang akun Maddie dalam percakapan kami. Saya baru sadar kalau bantuan Maddie benar-benar tidak main-main ketika membaca pesannya, “Hi Azri, I’m thinking I could ask a friend who’s had a baby recently and ask her about a good doctor. I can pass you the details and Mike and I can help you to pay the fees. You need to feel healthy to write! Is that OK?”

Saya sangat terharu dan hanya menjawab I’m feeling so warm, tetapi tanpa asuransi kesehatan, mereka akan mengeluarkan banyak uang. Saya yakinkan kembali kalau saya benar-benar sehat dan berjanji untuk tidak akan segan minta tolong jika suatu saat butuh bantuan. Jawaban-jawaban mereka berikutnya tidak memberikan saya pilihan. Saya semakin terharu membaca pesan Mike setelahnya, bahkan sebelum saya menyetujui bantuan itu. “I found a doctor who speaks Bahasa! What do you think?” dia lampirkan pula tautan untuk booking di klinik McKinnon Hill Medical Centre tersebut. Dia juga menawarkan tebengan mobil karena tahu rumah saya di Coburg berjarak dua jam dari Mount Waverly. Akhirnya saya menerima bantuan dokternya, tapi menolak diantar karena tidak mau lebih merepotkan.

Ternyata bantuan Michael dan Maddie adalah yang pertama karena tidak seperti ketakutan saya, berikutnya banyak sekali kawan-kawan yang mendukung dan membantu. Keberadaan keluarga kandung yang jauh di sana terwakili oleh mereka yang seperti saudara. Mulai dari ayah angkat saya yang menyambut baik luar biasa dan menanyakan apa saya ingin boy atau girl. Dia langsung membelikan sepasang baju berwarna pink sehabis saya katakan “I want a girl”. Dia jadi sering membelikan saya makanan dan buah-buahan bergizi. Kawan satu rumah juga menyambut baik dengan sering membuatkan saya masakan sehat, memastikan saya cukup minum, dan membantu pekerjaan rumah yang berat. Salah satu teman serumah adalah perawat di John Fawkner Hospital, yang ditugasi khusus oleh ayah untuk menjadi dokter pribadi saya di rumah.

Berikutnya, si cinta juga mendapat hadiah bertubi-tubi dari Arnold Zable, Julia Prendergast dan Danielle Baulch. Beberapa penulis jadi sering mentraktir kami makan dan mengajak jalan-jalan rileks. Teman-teman Indonesia di Melbourne juga menyambut baik sekalipun awalnya terkejut. Semua karena kehadiran dia. Akhirnya saya menjalani semester terberat dengan hangat. Agenda-agenda saya pun jadi menyenangkan.

Saya tidak menyadari sejak kapan setiap langkah saya berisi doa. Saya tergolong orang malas berdoa sebelumnya. Tapi sekarang hendak duduk di kloset saja saya mengajukan doa keselamatan. Saya tidak banyak peduli pada makanan yang saya makan. Tapi kini, setiap gizi saya timbang-timbang dan merapal-rapal agar makanan yang saya makan murni 100% halal. Rencana untuk berhemat lumayan gagal karena hidung saya benar-benar tidak bisa masuk dapur. Apapun yang saya baca, saya konsumsi, saya jaga betul-betul karena saya sadari semua didengar olehnya.

Dunia telah menyambutnya hangat kekasih saya, bahkan sejak usianya masih rapuh entah sekian minggu. Saya telah menulis list berpuluh-puluh perjalanan dan agenda yang saya rencanakan di Melbourne. Tapi yang terjadi, fisik menghambat. Dia yang menahan saya supaya tidak keranjingan. Sebelum ada dia, mungkin dalam sehari saya bisa menghabiskan tiga empat tempat dan event. Pulang di atas jam 11 malam adalah wajar. Tapi menyadari adanya dia, saya membatasi satu sampai dua kegiatan inti saja dalam sehari, selebihnya agenda ringan. Dan selama residensi, pulang di atas jam 10 malam bisa dihitung jari. Suhu sekitaran 3°C awalnya tidak membuat saya harus bertebal-tebal jaket, tapi bersamanya, saya jadi memakai pakaian minimal rangkap empat plus mantel tebal, sarung tangan dan masker. Tidak jarang saya ditanyai orang di tempat umum kenapa menutup wajah.

Tulisan saya banyak berubah alur. Novel yang saya tulis kalau dibaca-baca jadi lebih mellow. Jauh dari rancangan awal. Tapi saya merasa lega karena pekerjaan saya lebih mudah karena dikerjakan berdua. Dia yang paling banyak menyumbangkan inspirasi.

Dia adalah inspirasi setiap kata. Dia adalah harapan hidup. Sebelum terlahir, dia sudah pernah menyeberangi sekian lautan. Selat Bali, Laut Jawa, Selat Madura, Selat Malaka bahkan Samudera Hindia. Sebelum terlahir dia sudah pernah upacara 17 Agustus, Shalat Idul Adha dan merayakan tahun baru Hijriah di benua kanguru yang sedang menggigil ini.

Terima kasih saya ucapkan pada pihak-pihak yang banyak membantu selama masa kehamilan saya di Melbourne. Arnold dan Dora Zable, Michael Green dan Medeleine Egan, Julia Prendergast, Danielle Baulch, keluarga angkat saya Andrew Pearson dan Mrs, Salina dan Kartia. Kawan-kawan serumah saya, Tuyen Phuong, Marie Grace dan Shian. Kawan-kawan Indonesia, Winda dan Farchan, Maam Yacinta, Gus Rosyid dan istrinya, Gus Nadirsyah Hosen dan yang lain. Juga KBN dan Kementerian yang membuat ini semua pengalaman ini jadi seperti mimpi indah yang terus ingin saya ulang. Dan pastinya pihak-pihak lain yang mustahil saya daftar satu per satu. Tuhan akan membalas semua bantuan kalian dengan yang jauh lebih indah. Pasti.

 

Here I write about you
As you are my secret
My fairy tales
You are a fulltime trainer of my feelings
A trigger of my every memory
When I feel cold, I want to warm you
When I feel hungry, I want to feed you
I used to feel so lonely in this city, initially. Because you used to hate it
Now I start to adore this city, even I miss it already, I know it's because you start to adore it too..
I hated the words 'true love' but I couldn't find another words to define you..
You inaugurate me as a new Sun
As you are the source of my light..
As you are my soul, my spirit..
I love you. I love you.*

*Notes yang saya tulis saat hanya berdua dengannya siang itu di Flagstaff Garden, dimana daun-daun kuning yang bulan lalu masih berguguran cantik, sudah dibersihkan dan digantikan rumput hijau yang embunnya beku karena musim dingin.