Mencari Mentalitas Dua Bangsa yang “Kalah”

Bukan sebuah kebetulan atau keisengan belaka saya memilih Portugal sebagai tempat untuk melakukan residensi. Sejak dua tahun lalu saya sudah berencana pergi ke Portugal, karena saya telah memiliki rencana novel yang berlatar sejarah Kerajaan Sunda dan Kerajaan Portugal di abad 16 Masehi.

Tokoh utama novel saya adalah seorang lelaki yang lahir di Portugal, tanpa ayah, dan di masa remajanya dia diberi tahu oleh ibunya, bahwa ayahnya adalah seorang bangsawan—atau bahkan bisa jadi seorang raja—di sebuah negeri yang sangat jauh, di balik lengkung pelangi. Si ibu keburu mati tanpa menyebutkan alamat ayah anak itu. Maka anak itu memutuskan melakukan perjalanan untuk mencari ayahnya: sebuah pencarian akan jati diri atau identitasnya sebagai manusia.

Mungkin akan muncul pertanyaan: kenapa anak itu lahir dari rahim seorang Portugis? Kenapa tidak lahir sebagai seorang anak “pribumi” saja? Atau kenapa anak itu tidak lahir di Belanda saja, atau Inggris, atau Jepang, atau Amerika?

Jawabannya agak panjang.

Saya seorang manusia yang lahir dan besar di sebuah ruang budaya bernama Sunda. Bahasa sehari-hari saya bahasa Sunda, walau bersama ayah dan ibu saya bercakap dengan bahasa Indonesia campur Sunda. Tetapi dengan nenek saya dari pihak ayah, sejak saya bisa bicara, saya berbahasa Sunda. Saat belajar mengaji Quran bersama dia pun, terjemahan yang dia ucapkan adalah terjemahan bahasa Sunda.

Nenek saya unik, selain mengajar saya mengaji, setiap malam dia selalu meninabobokan saya dengan cerita-cerita yang diambil dari kisah Mahabarata sampai Bharatayudha. Nenek saya juga yang mengajarkan saya untuk menyukai wayang golek. Dia pula yang pertama kali mengajarkan saya untuk kritis menonton wayang golek. Kata dia, pedalang zaman sekarang tidak bagus, karena lebih banyak menampilkan lelucon ketimbang kisah asli Mahabharata.

Pengenalan budaya yang campur-campur itu (ke-Indonesiaan yang diajarkan orangtua saya, Sunda, Arab, dan Hindu yang diajarkan nenek saya) membuat saya jadi penasaran tentang sejarah keluarga saya sendiri. Baru belakangan saya tahu, bahwa di tubuh saya pun mengalir darah Jawa Tengah, karena ternyata kakek saya (yang tidak pernah saya kenal karena dia meninggal saat saya bayi) adalah seorang Jawa totok, menikahi nenek saya yang seorang Sunda totok. Baru belakangan juga saya tahu, dari pihak ibu maupun ayah, leluhur saya adalah para “menak” atau bangsawan Sunda, yang lucunya mereka bisa mendapatkan gelar kebangsawanan itu karena mereka tunduk pada penjajahan Mataram yang Jawa.

Pengenalan budaya yang campursari itu akhirnya mengarahkan saya pada pertanyaan eksistensial: pada budaya manakah saya berasal? Saya akhirnya memilih untuk menjadi orang Sunda yang Indonesia, karena dua lingkungan budaya itulah yang dominan dan membuat saya merasa berada “di rumah”, tempat saya merasa bisa hidup, diterima, dan disayangi.

Bicara tentang Sunda, saya melihat dan membaca, betapa suku ini begitu merasa inferior, terutama ketika dihadapkan atau dibandingkan dengan suku Jawa yang memang sangat dominan dalam konteks Indonesia. Bahkan beberapa belas tahun belakangan ini, sikap inferior itu muncul dalam bentuk “meminta jatah kekuasaan” pada siapa pun yang menjadi presiden Indonesia. Selalu muncul pertanyaan di media-media massa lokal di Jawa Barat: siapa yang akan jadi menteri dari kalangan Sunda? Atau siapa yang akan menjadi pejabat tinggi anu dari kalangan Sunda? Atau dalam pemilihan kepala daerah di Jawa Barat, seakan-akan wajib hukumnya seorang gubernur atau bupati/walikota harus berasal dari suku Sunda.

Dari sikap inferior itu, saya melihat identitas kesundaan seakan-akan sangat penting—terutama bagi mereka yang melihat kekuasaan sebagai pencapaian dalam hidup. Seakan-akan orang Sunda akan naik harga dirinya jika semakin banyak orang Sunda yang duduk di kekuasaan. Tapi saya melihat, identitas kesundaan orang Sunda jadi begitu terasing, kesepian, dan tidak relevan. Orang Sunda hanya berteriak-teriak sendiri, sementara orang lain sudah tak lagi melihat identitas kesukuan penting dalam jabatan kekuasaan. Karena di dalam kekuasaan yang penting adalah kemampuan dan tanggung jawab, dan dua kualitas manusia itu hanya bisa dilihat oleh orang lain, bukan ditawar-tawarkan sendiri kepada orang lain.

Dan tentu lucu, dalam keindonesiaan ini, masih ada suku yang merasa harus berlomba dengan suku lainnya, padahal kita sudah sepakat dengan berbagai suku, ras, dan agama, untuk berbangsa dan bertanah air satu: Indonesia.

Tapi bagaimana pun sikap inferior—sebagai orang yang ingin dianggap penting—masih sangat terasa ditunjukkan oleh para “sesepuh” atau “orang penting” Sunda. Dan dari sanalah, saya tergelitik untuk mencari, apa yang menyebabkan sikap inferior itu? Apa yang menyebabkan “keluarga” saya selalu merasa sebagai orang kalah? Apa yang menyebabkan keindonesiaan “tidak cukup” bagi sebagian orang? Dan saya yakin, pertanyaan itu pada akhirnya tidak hanya dialamatkan kepada orang Sunda, tetapi juga kepada banyak suku lain yang mungkin banyak orang di dalamnya merasakan inferioritas seperti itu.

Pencarian saya akan jawaban itu—melalui jalur kesundaan—menemukan ujungnya pada awal sejarah Sunda sebagai sebuah entitas politik, sosial, dan budaya: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Sejarah dua kerajaan itu masih banyak titik gelapnya, tapi di antara titik-titik terang yang ada, saya berani mengambil kesimpulan: sejak dulu, orang Sunda tidak pernah berambisi untuk menjadi ekspansif dan eksploitatif. Wilayah kekuasaannya—setidaknya sejak zaman Kerajaan Salakanagara, berlanjut ke Tarumanagara, dan Sunda/Galuh—hanya berada dalam lingkup budaya Sunda: kawasan yang penghuninya hanya berbahasa pada akar pada bahasa Sunda dan melakukan aktivitas budaya dan religi yang umumnya dilakukan orang Sunda.

Untuk memahami kesimpulan itu, agaknya videografis dari Arno Adachihara (https://www.facebook.com/sumarno.mano/videos/vb.100002150345594/1413541778727487/?type=2&theater) sangat membantu siapa pun untuk melihat wilayah “kekuasaan” Sunda sejak 10.000 SM sampai zaman modern yang hanya berada di bagian barat Pulau Jawa. Berbeda, misalnya, dengan sifat ekspansif Kerajaan Kediri atau Kerajaan Majapahit yang pasang-surut antara zaman awal berdiri, zaman keemasan, sampai zaman keruntuhan masing-masing.

Melihat batas kekuasaan yang hanya “segitu-segitu saja”, tentu sulit untuk mendefinisikan kapan yang disebut sebagai zaman keemasan Kerajaan Sunda? Dalam pencarian saya, selama kita mendefinisikan zaman keemasan sebagai zaman di mana wilayah sebuah kerajaan dan budayanya meluas, dan ditandai pula dengan eksploitasi terhadap kerajaan-kerajaan yang dikalahkan, maka Kerajaan Sunda tidak bisa disebut pernah memiliki zaman keemasan.

Tetapi, jika kita mendefinisikan zaman keemasan sebagai sebuah zaman di mana kerajaan itu makmur dan kehidupan masyarakatnya aman dan sejahtera, maka Kerajaan Sunda pernah mengalami masa-masa itu, misalnya pada zaman Raja Purnawarman di masa Tarumanagara atau di zaman Raja Sri Baduga Maharaja di zaman Kerajaan Sunda/Galuh.

Mungkin karena sifatnya yang tidak ekspansif dan tidak eksploitatif itu membuat Kerajaan Sunda dan orang-orangnya dihormati secara substansial: dihormati bukan karena orang lain takut kepadanya, tetapi dihormati karena dia dianggap leluhur, berbudi luhur dan memang orang lain menilai orang Sunda dan Kerajaan Sunda sebagai pihak yang baik dan benar. Buktinya sekelas Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit pun tidak pernah menaklukan Kerajaan Sunda dengan kekerasan atau peperangan.  Batas-batas wilayah selalu ditetapkan dan dihargai berdasarkan perjanjian-perjanjian atau sumpah. Dan kenyataannya, Kerajaan Sunda tidak pernah menjadi bawahan kerajaan mana pun, bahkan tidak pernah berada di bawah Sriwijaya atau Majapahit di zaman keemasan mereka.

Tapi sifat tidak mau berkonflik itu pula yang mungkin membuat Kerajaan Sunda rentan dimangsa kekuatan yang sangat agresif dan ekspansif. Hal ini akan mengarah pada pertanyaan selanjutnya: lalu siapa yang menghancurkan Kerajaan Sunda?

Mungkin banyak orang enggan mengatakannnya, tetapi kronologi dan fakta sejarah menunjukkan, kekuatan Islam (Kerajaan Cirebon, Kerajaan Demak, dan Kerajaan Banten) yang menghancurkan Kerajaan Sunda. Sejak dikalahkan kekuatan baru itu, Kerajaan Sunda tidak pernah bisa bangkit lagi, dan hampir terus-terusan berada dalam “penjajahan” Jawa—sampai di zaman Kerajaan Mataram. Setelah itu wilayah Sunda diberikan kepada VOC, dan secara tidak langsung berada di bawah penjajahan Prancis semasa Gubernur Jenderal Daendels, kemudian untuk waktu yang pendek berada dalam penjahahan Inggris—sampai akhirnya seluruh Nusantara berada di dalam penjajahan Belanda, lalu kemudian bergabung dengan Indonesia.

Mungkin, karena ujung sejarahnya yang pahit itu, orang Sunda sampai saat ini selalu merasa inferior, kalah dalam segala bidang, dan dalam ruang keindonesiaan, selalu meminta jatah kekuasaan untuk bisa kembali merasakan harga dirinya lagi.

Kalau kita tarik lebih luas ke dalam kerangka Indonesia, bukankah Indonesia juga begitu di panggung dunia? Kita selalu merasa harus punya peran penting, merasa harus punya cerita sejarah paling hebat—sampai seorang presiden kita menyetujui tim arkeolog yang tiba-tiba mencari-cari piramid untuk membuktikan orang Indonesia beribu tahun lalu punya peradaban sangat maju. Kita juga berbinar-binar ketika disebut memiliki kekuatan militer terkuat lima besar dunia, sampai kita mengeluk-elukan ilmuwan yang ternyata hanya mengagul-agulkan prestasinya yang penuh kebohongan.

Seperti Sunda dalam konteks keindonesiaan, Indonesia pun ternyata merasa inferior di panggung dunia. Apakah mungkin karena luka akibat penjajahan bangsa-bangsa Eropa itu belum berhasil kita sembuhkan? Apakah mungkin karena kita pernah terlena 32 tahun dibohongi diktator yang membuat kita seakan bangsa maju padahal tidak?

**

Dengan potret Sunda dan Indonesia yang seperti itu, saya pikir hanya Portugal yang memiliki sejarah dan mentalitas yang mirip dengan Sunda dan Indonesia. Portugal pernah berkuasa—bahkan pernah jadi kerajaan terkaya di dunia dan memiliki kekuasaan di empat benua. Lalu Portugal mengalami nasib tragis didera bencana alam, diamuk peperangan, dikangkangi tetangganya sendiri, dikuasai diktator selama empat dekade yang membuatnya menjadi negara paling terbelakang di Eropa barat, sebelum akhirnya demokrasi membebaskannya, dan Uni Eropa membuat ekonominya sedikit demi sedikit berkembang. Tapi tetap saja, saat ini Portugal adalah negara termiskin di Eropa barat.

Banyak orang Portugal bertanya, “Apa sebenarnya yang telah terjadi kepada kami?”

Itu pertanyaan yang mewakili bangsa yang inferior di hadapan bangsa lain. Dalam bukunya “The Portuguese” (2011), Barry Hatton memaparkan, secara umum mentalitas bangsa Portugis saat ini sedang “ingin dilihat” atau dengan kata lain sedang mencari identitas baru yang sesuai dengan perkembangan zaman. Bukan hal menyenangkan, memang, dilihat dengan sebelah mata oleh sesama bangsa Eropa. Terutama ketika kita, sebagai sebuah bangsa dan negara, dilupakan di dalam forum-forum internasional, di mana kita sebenarnya berperan mendirikan forum itu.

Hatton memberi contoh yang cukup menohok, ketika di dalam pertemuan NATO di Praha tahun 2002, ketika setiap negara anggota dipersilakan memaparkan momen bersejarah mereka, Portugal terlewatkan. Bukan karena perdana menterinya tidak hadir, tapi karena peserta lain lupa ada negara bernama Portugal yang juga adalah anggota NATO.

Saya melihat kejadian ibarat orang Sunda yang mencak-mencak karena tidak ada menteri Sunda di kabinet atau seperi Indonesia yang marah ketika bendera Indonesia dipasang terbalik saat Sea Games 2017 di Malaysia. Kita marah karena kita merasa dilupakan sebagai negara dengan wilayah terluas dan berpenduduk terbanyak di ASEAN—bahkan, katanya, militernya terkuat di ASEAN. Kita marah karena dianggap sebagai bangsa yang liyan di ASEAN, merasa dianggap sebagai bangsa kecil tak berguna, padahal sejarah mencatat peran kita sangat besar.

Hal itu pula yang terjadi di Portugis. Warganya sebal dengan sikap sinis bangsa Eropa lain. Apalagi dalam krisis ekonomi Eropa, tiba-tiba ada pengelompokan negara-negara yang bermasalah secara ekonominya yang disingkat sebagai negara PIGS—secara harafiah berarti babi, tetapi itu adalah singkatan untuk Portugal, Italia, Greece (Yunani), dan Spanyol.

Bedanya, kita marah dengan mencak-mencak di Facebook, Twitter dan media massa. Sedangkan bangsa Portugis tersenyum masam. Bahkan Perdana Menteri Portugal yang hadir di pertemuan NATO tahun 2002 itu, José Manuel Barroso tertawa saja, ketika delegasi negara lainnya kaget dan malu. Seperti dituliskan Hatton di bukunya, kejadian itu hanya mengingatkan Barroso pada pidatonya di Portugal beberapa bulan sebelumnya, yang mengingatkan bangsa itu bahwa “Portugal sedang dalam bahaya menjadi tidak penting.”

Portugal di masa lalu jaya, mendirikan kerajaan yang meliputi empat benua, menjadi negara terkaya di dunia. Semua itu hidup dalam ingatan bangsa Portugis. Seperti kita, yang ingat dengan kejayaan Sriwijaya dan Majapahit.

Tapi itu dulu, kenyataannya sekarang lain: Portugis dan Indonesia sama-sama didiskriminasi dalam pergaulan dunia. Di Eropa, Portugal yang dulu disegani sekarang mengerut menjadi negara paling miskin. Sedang Indonesia, yang dulu diisi kerajaan-kerajaan kaya, kini distigma sebagai negara miskin dan penghasil teroris.

Dalam pandangan saya, dua negara dan bangsa ini—Indonesia dan Portugis—sedang berada di titik nadir pencarian identitas. Keduanya menginginkan identitas baru agar diakui setara sebagai negara yang memiliki peran positif terhadap dunia. Keduanya ingin melepaskan stigma sebagai negara miskin dan bermasalah. Keduanya ingin dikenang memiliki penduduk yang makmur dan berprestasi di tingkat dunia. Keduanya ingin kembali terpandang seperti zaman keemasan kerajaan-kerajaan masing-masing di masa lalu.

Bagaimana kita bisa mencari identitas baru yang diakui secara layak di panggung dunia? Hanya satu cara: kita harus kembali membaca buku sejarah dan berbuat yang penting bagi dunia. Sejarah akan mengajarkan bagaimana kita menjadi  kerdil dan pandir, sekaligus juga menunjukkan bagaimana agar kita tak lagi kerdil dan pandir. Dari titik itu kita harus mulai memikirkan dunia, menjadi yang terbaik dari yang terbaik.

**

Saya bekerja dari museum ke museum, dari perpustakaan ke perpustakaan, dan berbicara dengan orang-orang yang hidup di sini. Pada intinya, saya mempelajari Portugal sebagai bayangan Indonesia—atau sebaliknya. Bukan secara fisik, tetapi secara mental.

Kejayaan—dan keruntuhan—dua bangsa ini memang berbeda masa. Kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha Nusantara di abad-abad awal Masehi, sementara Kerajaan Portugal, bersama Spanyol, Inggris dan Belanda di abad pertengahan Masehi. Kerajaan-kerajaan Nusantara runtuh ketika kerajaan-kerajaan Eropa menancapkan kolonialismenya. Kerajaan Portugal merosot ketika satu demi satu wilayahnya jatuh ke tangan Belanda, Inggris, dan Spanyol, lalu semakin merosot di masa bangsa-bangsa terjajah mulai mengalami masa pencerahan: nasionalisme baru, tuntutan kemerdekaan, lalu Perang Dunia I dan II.

Lalu Portugal mengalami kemerosotan di dalam negeri di bawah kediktatoran. Ketika Portugal mengalami akhir dari kediktatoran, Indonesia malah baru menjalani masa awal kedikatoran. Entah bagaimana, nasib dua bangsa ini bisa saling membuntuti sejak masa lalu. Saat yang satu jaya, yang lain runtuh. Saat yang satu bebas, yang lain terpenjara.

Dari pengalaman ini saya ingin membangun sebuah kisah, dalam bentuk sebuah novel. Ceritanya tentu fiksi, tapi saya berusaha untuk menangkap citra kejayaan dua bangsa ini yang pernah bersinggungan di masa lalu, sekaligus juga keruntuhannya. Di dalam kisahnya saya ingin mengisahkan pencarian identitas, di dalam benturan-benturan peristiwa dunia: termasuk di dalamnya Portugal yang sedang berjaya, dan kerajaan-kerajaan di Nusantara yang sedang dalam proses keruntuhan menuju jurang kolonialisme Eropa.

Semoga, novel itu bisa dicerna dengan mudah untuk melihat diri kita sendiri, dan layak ditampilkan di panggung dunia.

Apakah saya akan mencapai yang saya harapkan, dan mendapatkan jawaban atas apa yang saya cari? Saya hanya bisa mengatakan, saya sedang berusaha.

Zaky Yamani