Mencari Portugal di Masa Lampau

Saya di Portugal harus mencari informasi tentang bagaimana wajah negeri ini, terutama Lisboa, di abad 15-16 Masehi. Hal itu berkaitan dengan novel yang sedang saya tulis, sehingga saya membutuhkan bentang alam Portugal secara umum di abad 15-16 untuk menempatkan tokoh-tokoh cerita saya. Ternyata cukup sulit menemukan bentang alam tersebut.

Dari hari ke hari saya mengunjungi museum—terutama Museum Maritim dan Museum Discovery—juga perpustakaan-perpustakaan, untuk mendapatkan informasi tersebut. Ternyata catatan-catatan tertulis tentang bentang alam Portugal di abad 15-16 tidak bisa saya temukan. Yang tercatat dan disimpan di museum hampir semuanya berupa peta bumi dan artefak-artefak dari masa lalu. Ada beberapa peta Portugal, namun peta itu menunjukkan situasi abad 17-20.

Hampir frustrasi saya mencari dan membayangkan bentang alam Portugal di abad 15-16. Sampai akhirnya ketidaksengajaan mengarahkan saya untuk mendapatkan peta itu. Peta atau wajah Lisboa abad 15-16 ternyata terekam dalam benda-benda seni berupa lukisan di kanvas atau lukisan keramik,

Wajah Lisboa yang ingin saya ketahui, pertama kali saya temukan di Museum Istana Lada (Pepper Palace Museum), berupa lukisan-lukisan dari abad 15-16, yang menunjukkan situasi pelabuhan, istana-istana, dan rumah-rumah warga. Namun gambar itu hanya spesifik menunjukkan satu atau dua distrik saja. Walau begitu, lukisan tersebut sangat membantu saya membayangkan wajah Lisboa di masa tersebut.

Ketidaksengajaan kedua—dan ini yang paling penting—ketika saya mengunjungi museum keramik (Azulejo Museum), di mana di sebuah ruangan yang luas, terpasang lukisan keramik, sekitar dua puluh meter panjangnya, yang memuat peta lisbon dan bangunan-bangunannya dari ujung paling timur ke ujung paling barat. Uniknya lukisan keramik itu pengelola museum diberi catatan kaki tentang bangunan-bangunan yang dibangun di abad ke berapa dan runtuh atau dihancurkan di tahun tertentu. Lukisan keramik itulah yang jadi acuan utama saya dalam menggambarkan Lisboa.

Selain peta, yang saya butuhkan juga adalah gambaran mentalitas orang Portugal secara umum. Ini lebih sulit lagi, karena sulit untuk menentukan siapa yang layak diwawancarai tentang mentalitas orang Portugal secara umum: apakah mereka keras, humoris, romantis, dan lain-lain.

Secara tidak sengaja pula saya temukan buku yang mengulas sifat-sifat orang Portugal secara umum, sejak abad pertama berdirinya Kerajaan Portugal sampai pada situasi terkini. Semua itu tertulis di dalam sebuah buku yang ditulis oleh Barry Hatton, jurnalis asal Inggris yang sudah tinggal di Portugal sejak tahun 1980-an. Bukunya berjudul The Portuguese.

Hatton mengungkap banyak sekali mentalitas bangsa Portugal dari masa ke masa, karena memang itulah tujuan penulisan buku tersebut. Misalnya, secara umum orang Portugal yang berada di Portugal adalah orang yang sangat ramah dan mau membantu orang yang kesusahan tanpa memandang ras dan agama. Tetapi, orang Portugal di luar Portugal—terutama di zaman kolonial—bisa jadi sangat bengis. Kebengisan orang Portugal di masa penjelajahan dan penjajahan begitu mengerikan, sampai membuat orang Portugal di Portugal tidak percaya akan laporan-laporan tersebut.

Misalnya, tentang penjelajah Vasco da Gama, yang menemukan jalan ke India. Dalam situasi perang, di mana koloni Portugal di India harus menghadapi banyak serangan penduduk setempat, Vasco da Gama bisa dengan bengis memerintahkan anak buahnya untuk memotong anggota tubuh lawan-lawannya. Dalam sebuah kesempatan, kabarnya Vasco da Gama memerintahkan pemotongan tangan, telinga, dan hidung musuh- musuhnya, untuk dikirim ke kepala suku mereka agar dibuatkan sup kari.

Bagi orang Portugal di dalam negeri, kabar-kabar itu tak mereka percayai dan hampir selalu menganggap kabar-kabar itu sebagai upaya untuk menjelek-jelekan Portugal. Padahal laporan-laporan tentang kekejaman itu biasanya ada bukti tertulisnya.

Mentalitas dari sisi itu mengingatkan saya pada orang Indonesia, yang kerap tidak mau mengakui kekejaman di masa lalu, apakah itu kekejaman Sultan Agung, kekejaman di masa Perang Padri, sampai kekejaman di tahun 1965-1966.

Akan sulit menemukan gambaran tentang kekejaman bangsa Portugal di masa lalu di museum-museum. Hampir semua museum lebih banyak melakukan glorifikasi di masa lalu, tanpa menyentuh persoalan-persoalan kemanusiaan. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia, bukan?

Secara umum, perjalanan saya di Portugal sangat menyenangkan, karena saya memiliki kesempatan mengakses langsung bukti-bukti sejarah dan berbincang dengan orang-orang Portugal untuk mengenal mereka lebih jauh. Hasil dari penelitian informal ini akan segera saya tuangkan menjadi sebuah novel berlatar sejarah Indonesia dan Portugal.***

Zaky Yamani