Menjual Sepeda Sampai Akhir Hayat

Den Haag, 2006.

Koninklijke Bibliotheek (Perpustakaan Kerajaan),  selalu penuh dengan pengunjung.  Berdiri sejak tahun 1798, Koninklijke Bibliotheek merupakan perpustakaan ilmiah yang memiliki koleksi hampir empat juta buku. Salah satu divisinya  adalah Depot voor Nederlandse Publikaties (Depot untuk Penerbitan-penerbitan Belanda). Para staff bekerja dengan cara mengumpulkan paling sedikit satu eksemplaar dari semua publikasi yang pernah diterbitkan di Belanda. Siapa pun yang berminat kepada ilmu-ilmu sejarah, baik itu mahasiswa bahkan peneliti, sesungguhnya dapat menimba pengetahuan di sini.

Dulu, sewaktu masih bekerja kantoran, Aad Bakker (59), sesekali singgah untuk baca majalah dan buku. Kini, ia harus mengambil keputusan penting untuk masa depannya di sini. Oleh anak angkatnya yang berdarah Indonesia, sekaligus teman dekatnya,  ia disarankan untuk membuka usaha sendiri. Dia boleh dibilang “ tidak gagal” dalam bekerja. Cuma “bintang terang”  belum menaungi. Sebab, kantornya tutup dan bangkrut .Perseroan terus merugi dan manajemen harus melempar bendera putih tanda menyerah.

“ Saya harus bangkit dari keadaan ini dan tak mau jadi pengangguran,” katanya kepada saya dalam bahasa Belanda pada satu perbincangan.

 

Pilih Sepeda

Banyak dari Orang-orang tua yang dulu bekerja di Indonesia sebagai residen, asisten residen, pengusaha, seniman atau gubernur jenderal sekalipun, memilih  Den Haag sebagai tempat tinggal. Contohnya adalah  sastrawan Belanda ternama, Louis Couperus, pengarang de Stille Kracht (tenaga gaib), Eline Vere dan de Boeken der Kleine Zielen (Kitab-kitab Orang Kecil) . Besar kemungkinan karena latar belakang Den Haagnya, ia pun menulis roman-roman yang khas Den Haag pula.

Sebagai pengarang penting, ia banyak dipuji karena karyanya banyak diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa dan telah diangkat ke layar lebar.

Bakker juga menyukai karya-karya Couperus.

“ Membaca roman buat saya tambah semangat,” katanya lagi dengan gembira.

Jalan pintas diambil. Ia memilih  untuk merintis kariernya  dengan membuka toko sepeda. Bukan apa-apa, selama bekerja sebagai sales , ia sering mendatangi orang-orang ke pelosok desa untuk menjual sepeda.

“ Saya hapal semua tempat di Belanda dan pelanggan masih banyak yang ingat, jadi tidak susah untuk mencari relasi,”paparnya.

Setelah modal terkumpul, ia memberanikan diri bernegoisasi kepada para “tangan kanan” pabrikan sepeda label terkenal supaya diberikan kepercayaan menjualkan produk.

Tidak sulit rupanya bagi Bakker mendapat kepercayaan itu.

“ Kuncinya jujur dan jangan mencla-mencle,” sambungnya.

Tak lama, berdirilah toko sepeda Thomson Tweewielers di Thomsonlaan 55, Den Haag. Beroperasi sejak pertengahan tahun 2006. Anaknya yang laki-laki turut bergabung untuk membantu penjualan dan reparasi.

Anaknya ini terbukti punya bakat memperbaiki sepeda yang sudah “parah” sekalipun. Walau Bakker mengakui, tidak ada keturunan dari opanya yang punya “darah”, dekat dengan sepeda.

Sedangkan anaknya yang lain, membantu menata keuangan, karena hal tersebut harus dipertanggungjawabkan.  Pengelolaan dana dianggap penting karena jumlah putaran uang toko yang tidak sedikit.

Bakker tak suka bertele-tele. Ia termasuk orang yang punya sikap terus terang sekaligus blak-blakan. Dan, ia teliti sekali mengenai detail sepeda. Mungkin karena itulah pembelinya banyak. Barusan datang satu bis dari desa yang jauh hanya untuk membeli sepeda kepadanya.

“ Tak tertarik untuk bekerja pada bidang yang lain ?”

“ Tidak mau, ini pilihan hidup, keahlian saya hanya pada sepeda, yang lain tidak menguasai,” sambungnya.

“ Bisakah sepeda ini dikirim ke Indonesia kalau ada pembelinya ?”

“ Kirim ke Indonesia boleh, tapi ongkos kirim nanti ditanyakan dulu ke DHL ya, “ ujarnya sambil senyum simpul.

Rupanya, dalam berbisnis sepeda, masih ada skill  tambahan lain yang diperlukan. Jadi, tidak hanya sekadar menjual saja.

(Koko Hendri Lubis)