Menyantap Ikan Haring dan Kibbeling

Di Jawa, di masa lalu, untuk ke pasar diperlukan jadwal. Artinya, tidak ada setiap hari. Pedagang tampaknya seperti rombongan sirkus, berkeliling dari satu wilayah ke wilayah lain. Masyarakat waktu itu menyebutnya hari pasar (-an), meskipun awalnya merupakan nama hari resmi pada almanak Jawa yang menggunakan putaran bulan (komariyah). Ada Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Legi. Sepekan (sepasar) terdiri dari 5 hari. Pantesan 1 tahun Jawa lebih pendek usianya daripada 1 tahun Masehi.

 

Rasanya, meskipun menggunakan nama hari Arab atau Masehi (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu), di Batavia tempo doeloe juga menggunakan jadwal untuk kunjungan ke pasar/pekan. Ini dugaanku saja, tanpa penelitian. Buktinya ada Pasar Senen (kawasan yang kini dijadikan stasiun), Pasar Rebo (dekat terminal besar bis Kampung Rambutan), Pasar Kemis (di kawasan Tangerang), Pasar Jumat (dekat kampus UIN Lebakbulus), dan Pasar Minggu (dikenal pusat penjualan buah). Lho, rasanya ada yang absen: Pasar Selasa dan Pasar Sabtu. Ke mana gerangan?

 

Nah, di Leiden ada juga hari pasar. Aku penasaran, apa yang dimaksud pasar di Negeri Holland. Setiap Rabu dan Sabtu, digelar di Brestraat, dekat Gementee Leiden. Dikenal juga dengan pasar ikan yang mengantarai Oudrijn dan Nieuwrijn (Sungai Lama dan sungai Baru). Kini berupa kanal.

 

Aku minta diantar teman satu pondokan yang sudah tinggal satu tahun di Leiden, menuju pasar itu. Oh… rupanya berbentuk pasar kaget. Mereka mendirikan tenda-tenda temporal, kios-kios yang mudah dipasang-bongkar dan beberapa jenis gerobak. Pada saat yang sama, toko-toko di sekitar jalan itu membuka pintu lebih pagi. Dalam pandanganku, itu mirip dengan bazaar jika di Indonesia.

 

Dari ujung ke ujung digelar pelbagai jenis barang, mulai dari pakaian, aksesoris, peralatan rumah tangga, aneka jenis makanan, buah dan sayuran, juga bunga. Saat itu  hari Rabu, aku hanya jalan-jalan window shopping, walau tak ada jendela di sana. Aku sempat mencicipi keju dan kacang-kacangan dalam banyak varian rasa. Tujuanku observasi selintas saja sembari memotret kegiatan yang berlangsung. Tentu saja kebanyakan orang berjual beli. Pedagang yang ramah menjajakan barangnya dan pembeli yang sibuk menawar dan membayar.

 

Di trotoar, hari itu diperkenankan dipasangi meja dan kursi oleh restoran dan kedai es krim. Lihatlah: mulai dari remaja, noni-noni cantik bermata biru berambut pirang, para pasangan dewasa bersama putra-putri mereka, dan oma-opa, merayakan hari Rabu musim panas dengan makan di udara terbuka. Matahari bersinar cemerlang namun angin semilir sejuk, membuat rata-rata warga mengenakan busana minimalis (maksudku tanpa jaket atau harus bercelana panjang). Semua bagai ingin menikmati pancaran surya yang ramah dan kulit mereka bisa bersentuhan langsung dengan udara segar.

 

Karena masih belum puas, hari Sabtu aku ke pasar (kaget) itu lagi. Kali kedua diantar bapak kos yang tentu lebih matang pengalaman karena sudah tinggal 4 tahun di Leiden. Rupanya di hari Sabtu lebih ramai, baik yang berjualan maupun yang berbelanja. Terutama penjual bunga, sungguh berlimpah jenis dan warna. Ya, karena ini malam Minggu. Orang-orang Belanda terbiasa memberi bunga sebagai tanda sayang dan hormat, dari yang muda kepada kerabat yang lebih tua, atau bagi pasangan kekasih.

 

Bukti Sabtu lebih heboh ketimbang Rabu adalah deretan tenda dan kios non-permanen itu memenuhi dua jalur jalan, mengapit kanal yang seru oleh warga bersiwata perahu. Banyak juga restoran yang membuka kursi-kursi di panggung terapung dan kita melihat pundak-pundak telanjang pengunjungnya berkilau disepuh matahari pagi.

 

Nah kali ini, tujuanku adalah makan ikan haring. Ikan laut yang tidak menghuni setiap lautan. Itu santapan khas Belanda yang konon memiliki sejarah unik. Di masa lalu, di zaman perang, Belanda pernah diduduki Spanyol. Kota Leiden dikepung tentara Spanyol berhari-hari, hingga penduduk yang tertawan di tengah persembunyian itu mengalami kelaparan. Pada tanggal 3 Oktober 1574 (lebih 6 abad yang lalu), sebelum pemimpin mereka merelakan tangannya dipotong untuk makanan warga yang menderita itu, ada seorang anak lelaki yang berhasil menyelundup ke dalam membawa sepanci ikan haring mentah. Tentu ini sebuah berkah bagi mereka yang berhari-hari tak makan. Lantaran tiada api dan peralatan masak, pun memang takut menarik perhatian, ikan haring itu dimakan mentah. Setidaknya, itu menyelamatkan kehidupan para sandera. Sejak itu, sejak Leiden bebas dari penjajahan, setiap tanggal 3 Oktober dilakukan perayaan makan ikan haring secara massal. Bertong-tong ikan dibawa ke suatu lapangan dan sejumlah komunitas makan ikan haring beramai-ramai.

 

Tapi, ternyata tidak semua warga Belanda suka makan ikan haring mentah. Itu kulihat sendiri. Karena dari rumah aku berniat mencobanya, ya dipastikan rencana itu terlaksana. Mas Nurmaya, bapak kosku, menunjukkan tempatnya. Dua perempuan cantik melayani pembeli yang merubung. Mereka cekatan membersihkan kulit dan lendir bagian luar, lalu meletakkan ikan-ikan haring mentah itu di atas talam, berjejer-jejer. Pembeli tinggal mengambil dan menaruh dalam alas piring karton, melengkapi dengan irisan dadu kecil bawang bombay dan acar timun. Cara makannya, ikan diangkat tinggi di atas wajah, dan kita mendongak dengan mulut terbuka. Ikan itu masuk dan kita kunyah dari dada (sudah tanpa kepala) hingga tersisa ujung buntutnya.

 

Aku meniru gaya mereka. Fantastis! Meskipun aromanya amis (tersiar hingga beberapa meter), rasanya manis, segar, dan enak. Menurutku lho! Memang tidak selezat salmon. Tapi, kawan-kawan jika ke Belanda, wajib mencobanya. Sesungguhnya aku ingin mengulang dan mengulang, tentu pada Sabtu atau Rabu yang lain. Harganya 1,5 euro per ekor. Sementara di Amsterdam Centraal, di sebuah restoran seafood, harganya 2,95 euro per ekor.

 

Kulihat ada cewek yang makan ikan haring “tanduk”, tambo ciek (kata orang Padang). Berarti dia menikmati dan menggemari. Sementara ada beberapa warga Eropa, mungkin juga orang Leiden, yang hanya memandang sambil meringis-ringis. Ah, lu, payah deh! Nggak tahu enaknya makanan khas kota sendiri!

 

Bagiku ini pengalaman menarik. Setelah itu, Mas Nur mengajakku makan ikan jenis yang lain. Namanya kibbeling, digoreng berbungkus tepung (seperti fried chicken), harganya 5 euro setiap porsi. Satu porsi, sekitar 10 potong, dipadu dengan mayonais, cukup untuk disantap berdua. Rasanya enak juga. Jenis daging ikannya serupa kakap atau gurami. Putih lembut. Kuduga, ikannya cukup besar, sehingga gumpalan dagingnya terhindar dari tulang atau duri.

 

Sepagi itu, aku menyantap dua jenis ikan khas Belanda. Bagi teman-teman yang suau kali bepergian ke Belanda, jangan sampai tidak mencoba! Banyak tempat yang menjual, terutama dekat stasiun kereta api.

 

(Kurnia Effendi)