Merayakan Hari Buku Nasional

Pada 17 Mei 2016 ini kita kembali memperingati Hari Buku Nasional. Pada zaman Bung Karno berkuasa, Hari Buku Nasional diperingati setiap 21 Mei, berbarengan dengan ulang tahun Persatuan Toko Buku Indonesia (PTBI). Namun, sejak 17 Mei 1980, rezim Soeharto menetapkan 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional yang baru, bertepatan dengan peresmian gedung Perpustakaan Nasional di Jakarta oleh Nyonya Tien Soeharto. Tanggal itu juga berbarengan dengan ulang tahun Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi).

Sejak Soeharto dijatuhkan pada 21 Mei 1998 (tepat pada Hari Buku Nasional versi sebelumnya), suara-suara yang berbeda dari suara dominan penguasa mulai terdengar terkait penetapan Hari Buku Nasional. Namun, terlepas dari kontroversi yang akar sejarahnya amat panjang itu, kini faktanya kita masih memperingati Hari Buku Nasional setiap 17 Mei.

Setelah 70 tahun kita merdeka, bagaimanakah situasi perbukuan nasional kita?

Secara umum, harus diakui kita masih ketinggalan dari banyak bangsa lain. Dari sisi produktivitas menerbitkan buku, angka 30.000 judul setahun jelas sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah penduduk kita yang 240 juta jiwa. Bandingkan dengan tetangga kita Malaysia yang penduduknya jauh lebih sedikit dari kita, tapi produksi bukunya kurang lebih sama dengan kita.

Menurut data Biro Pusat Statistik pada 2010, persentase penduduk Indonesia di atas usia 15 tahun yang melek huruf relatif tinggi, yakni 96,07%. Namun, minat baca kita rendah sekali. Data UNESCO 2012 menunjukkan angka minat baca di Indonesia adalah 0,001. Artinya hanya ada 1 dari 1.000 pendduuk Indonesia yang memiliki minat baca serius. Jika jumlah pendduk kita 240 juta jiwa, hanya 240.000 orang yang memiliki minat baca serius. Angka tersebut jauh dari angka kelas menengah Indonesia yang diperkirakan mencapai 150 juta orang.

Begitu pula dengan jumlah penjualan buku nasional dalam setahun yang angkanya hanya sekitar 33 juta eksemplar setahun. Artinya, bisa digambarkan secara kasar bahwa dalam setahun hanya ada satu dari tujuh orang Indonesia yang membeli buku. Itu pun hanya satu eksemplar!

Namun, harapan harus terus dipelihara dan kerja yang belum selesai wajib dilanjutkan. Terlepas dari berbagai hambatan yang mengadang, termasuk bayang-bayang kelabu pemberangusan buku yang masih saja berkelebat hari-hari ini, bagaimanapun sudah banyak perbaikan yang terjadi.

Upaya ke Pentas Dunia

Salah satu yang perlu dicatat adalah momen saat Indonesia dipercaya menjadi tamu kehormatan Pameran Buku Frankfurt (PBF) 2015. Terlepas dari berbagai kontroversi yang sempat merebak, di pameran buku tertua dan terbesar di dunia itu Indonesia unjuk gigi memperkenalkan kekayaan intelektual dan merebut perhatian internasional. Kita membuka mata dunia bahwa Indonesia juga memiliki buku-buku yang bermutu dan layak disejajarkan dengan karya terbaik lainnya dari berbagai belahan dunia.

Selama PBF 2015, lebih dari 400 judul buku terbitan penerbit Indonesia diminati oleh penerbit asing untuk dipertimbangkan pembelian hak terjemahannya. Satu kemajuan yang layak dicatat mengingat sebelumnya kita biasanya hanya menjadi konsumen buku-buku asing. Hal ini menunjukkan besarnya potensi dan daya saing  industri kreatif Indonesia di kancah internasional.

Seiring dengan itu, para penulis Indonesia mulai diperhitungkan di pentas dunia lewat buku-buku yang telah diterjemahkan ke beragam bahasa asing. Di antaranya Eka Kurniawan yang menjadi nomine Man Booker International Award lewat Man Tiger hasil terjemahan Labodalih Sembiring. Eka yang karyanya telah diterjemahkan ke lebih dari 25 bahasa asing menyejajarkan diri dengan para pemenang Hadiah Nobel Sastra seperti Orhan Pamuk yang juga menjadi nomine lewat novel Strangeness in My Mind.

Untuk menghasilkan prestasi serupa, bahkan yang lebih baik dari itu, kita perlu lebih banyak menerjemahkan karya-karya terbaik kita ke dalam berbagai bahasa penting dunia. Dengan demikian buku-buku karya para penulis kita akan dikenal, dibaca, dan ditelaah secara lebih serius. Maka, program penerjemahan sastra dan pengembangan kapasitas para penulis Indonesia perlu didukung oleh segenap pemangku kepentingan dalam ekosistem literasi kita. Selain itu, kita pun perlu terus menerjemahkan karya-karya penting dalam bahasa asing ke bahasa Indonesia agar para penulis kita senantiasa belajar dari karya-karya terbaik dunia.

Merayakan Sastra, Memaknai Literasi

Pada tahun ini perayaan Hari Buku Nasional juga disemarakkan dengan dua festival sastra internasional yang dihelat pada bulan yang sama, yakni ASEAN Literary Festival (ALF) di Jakarta yang berlangsung 5-8 Mei, dan Makassar International Writers Festival (MIWF) di ibu kota Sulawesi Selatan yang diadakan pada 18-21 Mei.

ALF yang telah diselenggarakan untuk kali ketiga sejak 2014 sempat diguncang aksi segelintir orang yang memprotes sejumlah acara yang menyinggung tragedi 1965. Namun, acara perayaan sastra ini akhirnya tetap berhasil terselenggara dengan semarak.

Sementara, MIWF yang telah diselenggarakan untuk kali keenam, tahun ini mengambil tema “Baca!”.  Satu-satunya festival sastra internasional di Indonesia Timur ini menjanjikan beragam acara menarik yang layak disambut dan dimaknai oleh para pencinta buku dan literasi di tanah air.

Meski dibayangi kegetiran atas pemberangusan buku dan acara diskusi buku yang masih saja terjadi, saya percaya bahwa kita sesungguhnya bangsa beradab yang mau mencintai buku dan oleh karenanya berpotensi besar menyumbang karya penting bagi dunia.

Maka, di ujung catatan singkat ini, untuk merayakan buku izinkan saya mengingat kalimat menohok yang pernah dilontarkan Joseph Brodsky, penyair eksil Rusia pemenang Nobel Sastra, “Ada beberapa tindakan yang lebih jahat ketimbang membakar buku. Salah satunya adalah tidak membacanya.”

Anton Kurnia, pembaca, penulis, dan pegiat literasi.