Mesir Kuno dan Ratusan Museum

ADA RATUSAN museum di Berlin dan mustahil mengunjungi semuanya satu hari, begitu kata penjaga museum ketika saya membeli tiket masuk semua museum selama satu hari—yang sebetulnya cuma berlaku untuk semua museum yang terdaftar dalam tiket tersebut. Saya yakin penjaga museum itu cuma berlebih-lebihan belaka.

            Neues Museum yang pertama yang saya kunjungi, semata-mata karena novel yang sedang saya tulis di Berlin berlatar Mesir Kuno. Museum ini bagian dari Museum Island atau Museumsinsel, yang merupakan suatu kompleks besar museum, terdiri dari 5 museum yang masing-masing memamerkan barang-barang dari Mesir Kuno, Sumeria, Romawi dan Yunani, sampai lukisan-lukisan klasik Jerman—satu bangunan baru, James-Simon Galerie, sedang dalam proses pembangunan. Lantas ada kompleks Kulturforum, yang setidak-tidaknya terdiri dari sepuluh atau lebih museum, galeri seni, dan pusat budaya lainnya—saya cuma sempat mengunjungi Kunstgewerbemuseum atau Museum of Decorative Arts, Musikinstrumenten-Museum Berlin, Kupferstichkabinett atau Museum of Prints and Drawings, dan Neue Nationalgalerie. Saya juga menyempatkan diri mengunjungi semua museum mandiri, termasuk yang tidak bisa diakses dengan tiket “semua museum.”

            Setalah mengunjungi sekian banyak museum di Berlin—tidak sampai puluhan apalagi ratusan—saya bisa paham maksud hiperbolanya. Datang dari negeri yang tidak punya kebiasaan memelihara dan mengunjungi museum, hal pertama yang tersirat di pikiran saya: sepertinya orang-orang Jerman ini bisa bikin museum dari apapun juga, tidak cuma sejarah kuno, sejarah nasional, atau sejarah belakangan, tapi juga hal-hal yang rasa-rasanya terlalu trivial untuk dimuseumkan seperti video game, gaya hidup, surat-surat dari orang biasa (yang sebetulnya memang unik). Hal kedua yang membuat saya cukup kagum adalah betapa kreatif dan interaktif museum-museum tersebut. Pengunjung tidak hanya datang dan disuguhi sejarah (atau barang-barang pajangan lainnya) yang menurut sebagian besar orang barangkali membosankan, tapi juga ikut aktif dalam menikmati. Ada tombol-tombol tertentu yang bisa ditekan, misalnya, untuk memunculkan pajangan tertentu, mengganti tampilan, mengubah sudut pandang, atau malah ikut ambil bagian dalam koleksi tersebut; atau perangkat audio dan audio visual yang melibatkan langsung para pengunjung—singkat cerita saya tidak merasa bosan, atau ada upaya yang signifikan untuk membuat saya nyaman dan betah di museum. Hal terakhir yang mengagumkan, bagi saya, adalah apresiasi yang begitu besarnya untuk museum. Ini terlihat jelas dari begitu banyaknya pengunjung, terutama pada museum-museum populer seperti Jüdisches Museum Berlin atau kompleks Museumsinsel, sekalipun bukan akhir pekan atau hari libur. Orang-orang tersebut berkunjung baik dalam kelompok maupun sendirian; mereka bisa duduk di depan lukisan selama berjam-jam, atau mendiskusikan sebuah artefak kuno dalam bahasa asing sampai panjang-lebar, dan beberapa kali saya dapati juga sekelompok anak sekolahan dan mereka diberi tugas untuk membuat tulisan tentang salah satu benda atau karya setelah sebelumnya diberi tur keliling museum bersama sang guru—pemandangan yang membuat saya berpikir kalau apresasi museum, atau budaya secara umum, seharusnya jadi bagian dari pendidikan. Bahkan ketika saya membuka Google dan mengetik “Apa-apa saja yang menarik jntuk dikunjungi di Berlin”, yang muncul sebagai salah satu dari sepuluh daftar teratas adalah museum, selain kastil atau katedral atau monumen atau tempat bersejarah lainnya.

            Di Indonesia sendiri saya pernah mengunjungi beberapa museum—seperti Museum Benteng Vrederburg di Yogyakarta, Museum Batik di Solo, atau Museum Betawi di Jakarta—dan saya tidak merasakan interaksi yang begitu menarik antara pengunjung dengan koloksi pajangan sebagaimana di museum-museum di Berlin. Kurangnya interaksi yang menarik ini jelas akibat dari minimnya kreativitas dan inovasi dalam pengembangan museum; saya tidak tahu ini berakar semata-mata dari kemalasan belaka, kualitas sumber daya manusia yang tidak memadai untuk mengelola museum, minimnya dana, atau boleh jadi ketiganya sekaligus; yang jelas sampai terakhir saya mengunjungi museum di Indonesia (Museum Betawi di Jakarta, Mei tahun lalu), saya tetap mendapatkan kesan yang sama. Memang, beberapa museum secara signifikan dikelola lebih baik daripada yang lainnya, dan terasa ada upaya-upaya kreatif bahkan interaktif dari desain dan rancangannya, tapi toh apresiasi museum di Indonesia masih jauh dibandingkan dengan apa yang saya saksikan di Berlin. Saya juga tidak banyak, jarang sekali malah, menemukan sekolah-sekolah yang menyertakan kunjungan rutin ke museum dalam rancangan tahunannya. Ini sangat disayangkan bagi saya, mengingat mengajarkan apreasiasi museum sejak kecil merupakan langkah awal yang bagus untuk menumbuhkan kebiasaan apreasiasi budaya yang bagus pada generasi muda—satu hal yang masih minim ditemukan di Indonesia.

            Secara kuantitas kenyataannya Indonesia tidak kekurangan museum. Ada puluhan museum di Yogyakarta, puluhan lagi di Jakarta, dan ratusan lagi tersebar di porvinsi-provinsi lainnya, sekalipun sebagian besar jumlahnya lebih tersentral di Pulau Jawa—jelas Indonesia tidak pernah punya permasalahan kekurangan museum. Tapi toh, kalau tidak mampu mengundang banyak orang untuk berkunjung dan menikmati sejarah atau koleksi budaya apapun yang ada di dalamnya, apa gunanya punya ratusan museum?

- Rio Johan