Misi Lintas Negara: antara Leiden dan Paris

26 November pukul 13.30, dari Den Haag Centraal saya menuju Paris. Saya menggunakan armada bus Flixbus. Sambil menunggu bus datang, masuk jam makan siang, saya melahap tantuni, makanan khas Turki sembari membaca buku The End of Yesterday-nya Jared Diamond yang sebelumnya saya beli di Pasar Sabtu di Brestraat, Leiden. Dan, bus yang saya tunggu akhirnya datang juga. Perjalanan menuju Paris memakan waktu delapan jam. Ditemani pemandangan indah melintasi Rotterdam, Antwerpen, dan Belgia, akhirnya saya tiba tepat waktu di tengah padatnya lalu lintas kota Paris pada saat rush hour.

Pemberhentian akhir bus di terminal Porte Maillot. Di sana saya dijemput Gani Ahmad Jaelani, sahabat saya sesama sejarawan di Bandung yang kini tengah jelang masa ujian akhir studinya di L’École des Hautes Études en Sciences Sociales (EHESS). Gani langsung membawa saya ke lokasi tinggalnya di Bellevile. Kami menggunakan jaringan kereta bawah tanah Metro yang bagi pemula terbilang rumit karena banyak lorong menuju jalur yang dituju dan juga pintu ke luar. Pun jika berpindah jurusan dari satu kereta ke kereta lain mesti jeli.

Tiba di Bellevile dilanjut makan malam bersama Gani di sebuah Chinese restaurant bernama Tin-Tin. Kami memesan nasi goreng sembari ngobrol melepas kangen. Selepas itu, kami menuju flat Gani. Ia tinggal di kamar studio yang terdiri dari dapur, tempat belajar, ruang tidur, dan kamar mandi. Sebelum saya tiba di Paris, hari-hari sebelumnya ada Kang Ahda Imran yang tengah residensi di Paris dan tinggal di flat yang sama dengan Gani hanya lain lantai saja. Sayang, saat saya datang, Kang Ahda tengah berada di Tarbes di selatan Prancis.

 

Misi di Paris

Misi saya di Paris tentu bukan sekedar jalan-jalan apalagi wisata belanja. Saya akan bertemu dengan dua sejarawan dan berkonsultasi mengenai riset saya pada keduanya – sekaligus berkonsultasi rencana studi saya di Paris pada tahun depan. Sejarawan pertama adalah Kapil Raj. Ia adalah sejarawan dengan spesialisasi studi sejarah sains. Ditemani Gani, pada sore 29 November, saya beruntung dapat menghadiri perkuliahan Kapil di kampus EHESS. Tema yang dibahas adalah “Savoirs, circulations, mondialisations: Asie du Sud/Europe, XVIe – XXe siècle“ (pengetahuan, sirkulasi, globalisasi : Asia Selatan dan Eropa pada abad ke 16 – 20).

Kuliah yang berlangsung sejak pukul 17.00 itu menarik, karena banyak informasi dan wacana penting yang bermanfaat bagi riset saya. Selepas kuliah berakhir pada pukul 19.00, saya menghampiri Kapil dan mengenalkan diri setelah sebelumnya via e-mail saya mengajaknya untuk rendezvous. Ia merespons positif, tapi untuk rendezvous tidak terlaksana hari itu karena Kapil ada acara minum bir bareng. Walhasil, ia menentukan momen rendezvous hari jum’at (2/11) di kampus EHESS dengan janji ia akan menginfokan saya lebih lanjut via e-mail.   

        

Ke Gereja Tua di Anvers

Sambil menunggu bertemu dengan Kapil, pada kamis (2/11), saya melakukan napak tilas sejarah ke Sacré-Cœur Basilica, gereja cantik di atas bukit di Anvers. Ini adalah gereja Katolik Roma yang dipersembahkan oleh warga Paris untuk Yesus dan resmi didirikan pada 1870. Untuk menuju gereja ini saya harus menapaki anak tangga yang cukup banyak. Dan ketika tiba dipuncak, saya dapat melihat lanskap kota Paris yang begitu indah. Masuk ke dalam gereja, saya disergap atmosfer historis melihat interior ruangan gereja yang klasik. Keindahan cahaya yang masuk melalui stained glass di beberapa sudut ruangan, memancarkan pencerahan mistik. Ditambah patung-patung Yesus dan Bunda Maria, membuat suasana syahdu menyelusup ke dalam jiwa. Meski ada peringatan tidak boleh mengambil foto, tapi toh nyatanya banyak pengunjung tak tahan mengambil momen berharga ini. Termasuk saya, tentu saja.

Tapi, momen berharga ini dirusak oleh aksi dua preman Afrika yang ketika saya ke luar gereja, membawa saya ke sudut sepi –sialnya saya memang tengah di sisi bangunan gereja yang sepi. Keduanya meminta uang €10. Sempat adu mulut, tapi akhirnya salah seorang merogoh dompet dan saku jaket saya. Voila, mereka mendapatkan €5 di dompet dan beberapa uang receh di saku. Untunglah saya tidak membawa uang lebih. Dan untung pula sudah memiliki tiket kereta untuk perjalanan seharian saat itu. Patut disayangkan, penjagaan keamanan di area wisata rohani itu tampak tak terlihat. Akhirnya, saya ikhlaskan saja. Lebih baik menyelamatkan ponsel saya dari incaran kedua preman itu.

Sepulang ke rumah, kejadian itu saya ceritakan ke Gani. Dan ia bilang memang banyak kejadian serupa menimpa para turis. Gani lupa berpesan kepada saya untuk waspada. Tapi tak apa sobat, jalan ke nirwana memang tak mudah, bukan?

 

Bertemu Kapil dan Belanja Buku

Kapil menepati janji.  Ia mengirimkan e-mail untuk bertemu di kampus EHESS pada Jum’at (2/12) pukul 11.00. Ditemani Gani saya bertemu dengan Kapil di ruangannya untuk mendiskusikan perihal riset saya. Obrolan berlangsung menarik dan ia tertarik dengan riset yang tengah saya garap. Setelah diskusi hari itu, Gani mengajak saya ke toko buku terkenal Gibert Jeune di St. Denis. Saya suka display buku-bukunya yang ditata detil setiap kategori. Dan beberapa buku yang saya perlukan untuk riset berhasil ditemukan dan dibeli sebagai oleh-oleh pulang ke Indonesia.

 

Kembali ke Leiden

Ada seorang sejarawan lagi yang harus saya temui. Ia seorang indonesianis cukup muda yang tengah naik popularitasnya di Prancis setelah ia mendapuk penghargaan Grand Prix des Rendez-vous l’Histoire de Blois pada 2012 berkat karyanya L’Histoire à parts égales (Sejarah berbagi bersama). Ini adalah buku sejarah yang menggunakan perspektif lobal (l’histoire connectée) yang melihat secara imbang hubungan antara Belanda, Melayu, dan Jawa pada abad ke-17. Saya bersama Gani hendak menemuinya. Gani punya tujuan menyerahkan draf disertasinya kepada Bertrand, mengingat ia adalah salah seorang penguji sidang Gani. Adapun saya hendak berkonsultasi perihal riset saya. E-mail pun dibalas. Dan ia mengagendakan berjumpa pada Rabu (7/12) pukul 10.30 di kampus Science Po, Paris.

Agak membingungkan bagi saya, karena pada Sabtu (3/12) saya harus kembali ke Leiden mengingat pada Minggu (4/12), saya harus menjadi pembicara di acara mengenang alm. Mintardjo Sardjio atau biasa akrab dipanggil Pak Min, salah seorang tokoh eksil yang selepas tahun 1965 terhalang tak bisa pulang ke Indonesia karena dicabut kewarganegaraannya oleh rezim Soeharto. Akhirnya saya putuskan kembali ke Leiden, dan diagendakan kembali lagi ke Paris pada selasa (6/12) demi menemui Bertrand.

Setelah kembali ke Leiden, pada minggu saya bersama Martin Aleida dan Marek Ave menjadi pembicara di diskusi bertajuk “The Old Man and the Soup: on Food, Love, and Life” yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Leiden. Acara berlangsung sejak pukul 12.00 s.d 16.00 di mana hadir pula beberapa tokoh eksil Indonesia di Belanda serta Duta Besar dan Atase Pendidikan Indonesia untuk Belanda. Acara berlangsung menarik terlebih ada suguhan sop buntut lezat sebagai simbol mengenang Pak Min yang wafat pada September 2015. Di kalangan para mahasiswa dan lulusan Belanda khususnya Universiteit Leiden, Pak Min tak bisa dilupakan sebagai sosok yang murah hati dalam membantu dan menampung orang-orang Indonesia yang membutuhkan tempat singgah sementara di Leiden. Dan yang juga tidak bisa dilupakan oleh mereka yang pernah mengenal dekat atau berjumpa dengan almarhum adalah sop buntut buatannya. 

 

Kembali ke Paris

Selasa (6/12), atau dua hari setelah acara mengenang Pak Min itu, saya kembali ke Paris untuk berjumpa dengan Romain Bertrand. Cukup melelahkan memang. Tapi berjumpa dengan sejarawan satu ini merupakan misi penting yang harus saya penuhi.

Sesampainya di Bellevile, Paris, saya bermalam di tempat Gani. Dan malam itu, saya bertemu dengan Kang Ahda Imran yang kebetulan baru kembali dari Tarbes dan menyewa kamar seorang kawan Gani. Setelah sempat berbincang hingga lewat tengah malam, kami berpisah dan saya menuju pembaringan.  

Rabu pukul 10.30, saya bersama Gani menuju kantor Romain Bertrand di Science Po. Akhirnya kami bertemu dan berdiskusi beberapa hal. Selain antusias dengan riset yang tengah saya garap, kami pun menawarkan diri untuk menerjemahkan karya penting Bertrand ke dalam bahasa Indonesia agar publik Indonesia dapat membacanya. Ia antusias menyambut tawaran ini dan terbuka untuk menjalin hubungan kerjasama ke depan.

Tidak sia-sia dalam dua pekan terakhir jelang kembali ke Indonesia, saya mesti commute lintas negara untuk memenuhi misi penting mewujudkan langkah revitalisasi penulisan historiografi Indonesia. Dan pada kamis (8/12) pukul 10.00 pagi saya kembali ke Leiden dalam suasana penuh sukacita.  

- Fadly Rahman