Orang Kesayangan Pelancong Tropis di Den Haag

Belanda adalah salah satu negara multi kultural di dunia. Penduduknya terdiri dari pelbagai macam ras : putih, hitam dan kuning. Semua melebur dan mengukuhkan antara satu dengan lainnya.

Belanda disebut  “Nederland”. Nama “Holland” juga sering dipakai untuk menyebut negara Belanda. Tapi secara harfiah,  Holland adalah nama dari kedua provinsi di pesisir barat, yakni Holland Utara dan Holland Selatan.

Belanda yang letak tanahnya di atas, kelihatan berbukit, hamparan hutan dan padang nan luas. Lalu, Belanda yang rendah, kebanyakan terdiri dari polder rata, dikelilingi oleh tanggul  dan dikerjakan secara apik.

Pergi ke Belanda, tanpa singgah ke Den Haag serasa ada yang kurang. Di sini,  banyak  gedung kuno yang kelihatan artistik, interiornya antik  serta masih berdiri dengan kokoh. Sebagai kota modern dan metropolitan yang terdiri dari segala macam bangsa, Den Haag dikenal sebagai kota budaya. Bukan kota budaya dalam arti sempit, tetapi dengan pengertian dan gambaran yang luas. Lengkap dengan  aspek yang menunjang dan terus berkembang.

Namun, di sini terdapat begitu banyak restoran yang bernuansa Indonesia.

Salah satunya adalah Toko Makanan Bali Mandera. Tempatnya berada di Abeelplein 3 Den Haag. Usaha makanan ini telah berdiri kurang lebih selama tiga puluh tahun. Meski baru dua puluh tahun  beralih kepemilikan kepada Ibu Ming. I. Kat (63).

Ibu Ming berkata-kata selalu tenang. Setiap kata diucapkan dengan jelas. Kadang ia begitu serius  memberikan contoh-contoh yang jenaka mengenai kenyataan dalam kehidupan. Betapa kuat semangat hidupnya karena terbukti ia mampu menjalankan roda bisnis selama puluhan tahun.

Kepada saya, beliau mau menceritakan kisah hidupnya yang istimewa dalam bahasa Belanda dan Indonesia.

 

Tukang Masak Asli Surabaya

Banyak generasi  yang lahir di Indonesia, merasa berdiri bak  “satu kaki”,  walaupun telah lama tinggal di Belanda. Pikirannya ada di benua Eropa, tapi batinnya tetap Indonesia. Menariknya, ada yang masih mengamalkan kekeluargaan, musyawarah, secara bersahaja di tengah-tengah masyarakat Eropa yang individualis. Tidak mudah rupanya menghilangkan corak kultural  bawaan, yang merupakan sifat asli bangsa Indonesia.

“ Saya lahir di Surabaya dari keluarga keturunan Tionghoa, “ katanya membuka pembicaraan. Masa kecil dilaluinya dengan  penuh kebahagiaan. Bermain dengan teman-teman yang sebaya.

“ Saya sempat sekolah setingkat SMP di Indonesia, dan pernah bekerja di apotik, tapi saya orangnya kurang pintar bicara, jadi tak pernah kerja kantoran kayak anak muda sekarang,” sambungnya mengenang masa-masa yang telah lewat.

Waktu dan takdir yang membuat  ia harus berangkat ke negeri Belanda dengan segenap keluarga besarnya.

“ Semuanya berubah drastis, pergaulan, pandangan hidup,  dan tentu saja kita harus dituntut mandiri,”paparnya dengan nada bicara yang mendalam.

Ayahnya, menanamkan sikap percaya kepada diri sendiri dan jangan pernah untuk mengemis. Dengan begitu, karena tinggal pada lingkungan baru,  mau tidak mau ia harus beradaptasi dengan budaya yang lain.

Ia menjelaskan sikapnya, “ Saya tidak anti asing, tidak semuanya jelek toh, ada kalanya yang bagus harus kita ambil buat menambah wawasan.”

Setelah berdiskusi  panjang lebar  dengan kakak kandungnya yang duluan berjualan kue-kue, seperti risol dan lemper,  ia masuk bekerja sebagai juru masak  di Toko Makan Bali Mandera.

Ia pun kemudian menerangkan, “ Awalnya toko ini milik seorang dokter gigi yang bermarga Lim, kemudian saya ambil alih, karena ia memilih bekerja sesuai ilmunya.”

Dunia usaha, kata orang, bak ‘membeli lotere’. Kita tak akan pernah tahu kerugian atau keuntungan apa yang akan diperoleh.

“ Kakak ipar saya meninggal dunia karena keletihan. Ia non-stop bekerja delapan jam per -hari untuk membuat kue. Pasangan mendukung  untuk membuat kue-kue dan meneruskan menjual masakan, karena yang saya masak sudah punya ciri tersendiri,” ujarnya.

Dengan penuh keyakinan, ia menegaskan, bahwa masakannya benar-benar rasa Indonesia asli dan bukan rasa Asia dengan “lidah Belanda”. Ia pun menyebut menu  Ayam Klaten, yang setelah dibakar, dibumbui, lalu direndam dengan santan.

Resep masakan tersebut merupakan peninggalan nenek moyang yang diturunkan sejak ia masih muda belia. Sesuatu  yang berharga. Sebuah sajian yang tak disadarinya ketika ia mulai memasaknya dulu.

“ Itu termasuk menu unggulan, karena banyak yang menyukai,”ujarnya kemudian.

Restorannya sendiri,  hari biasa buka mulai pukul 01.00 sampai  20.00 malam waktu Belanda. Hari Senin libur dan Minggu buka dari pukul 04.00 sampai 20.00 malam waktu Belanda.  Menu lain yang tersedia adalah : nasi goreng, acar timun, rendang sapi, kari kambing, opor ayam, nasi rames, sayur kacang panjang dan lainnya. Karena bersikap egaliter dan menjunjung kemajemukan, restoran juga menyediakan masakan buat semua bangsa. Hari Jumat dan Sabtu, tersedia ‘Sate Babi’ yang telah diberi bumbu secara khusus.

Buka usaha sendiri harus tabah. Jangan gampang untuk berputus asa. Soal kualitas banyak yang harus ditambah dan disusun kembali.  Apa lagi Dinas Otoritas Belanda bisa datang memeriksa sewaktu-waktu dengan terperinci sekali.

“ Saya sih merasa bayar pajak terlalu mahal, kok kayaknya saya yang menghidupi orang, tapi ya sudahlah, yang penting bisa omong saja, kalau ada modal lebih baik buka usaha di Indonesia, lebih tenang,” cetusnya kemudian.

Kemudian mengenai bisnisnya, “Begitu menakutkankah dunia usaha toko makanan di Belanda ?”

“ Jangan terlalu khawatir,  Banyak masalah yang bisa diatasi dengan bijaksana,” ujarnya berfilosofis.

Ia termasuk luwes dalam berteman dan menjalin hubungan dengan pendatang dari Asia yang kebetulan sedang studi atau dalam rangka tugas di Belanda. Karena itu, para pelancong suka mampir makan ke Bali Mandera dan meluangkan waktu mengobrol dengannya.

“ Dan, saya masih sayang sama orang sono, kalau sedang jaga, pasti ada korting. Sebab, karakter Indonesia saya masih ada,” pengakuan Ibu Ming mengunci wawancara saya dengannya selama hampir satu jam lebih.

 

Koko Hendri Lubis