Orang-orang Belleville

HALLO, My friend?” Begitu selalu dia menyambut hangat kedatangan saya. Entah siapa namanya, tapi saya memberi saja dia nama “Ahmad”.  Pemilik toko daging (Bucheri) di Boulevard Belleville. Setidaknya tiga hari sekali saya membeli daging di tokonya. Dan saya selalu memilih daging domba dengan sedikit lemak di tepiannya. Cukup beberapa potong saja untuk dibuat sop, harganya tak pernah lebih dari 4 euro. Ahmad sudah hapal kesukaan saya itu dan kerap dia memilihkannya. “This good for your soup,” katanya sambil meraih beberapa potong daging domba.     

Ahmad orang Aljazair yang pasti sudah menjadi warga negara Prancis. Pada kedatangan saya yang kedua rupanya saya sudah menarik perhatiannya. Tentu karena ciri-ciri saya sebagai orang Asia, apalagi setiap kali datang ke tokonya saya selalu sok akrab, menyapa “Assalamualaikum.” Pada kedatangan yang kedua itulah dia bertanya saya dari mana. Ketika saya menjawab dari Indonesia, dia berseru senang, “ Indonesia good country, all most Muslim.” Saya tersenyum—tanpa perlu memikirkan hubungan “good country” dengan “all most Muslim”.

Karena ia hanya menguasai sedikit bahasa Inggris dan saya tak bisa bahasa Prancis juga Arab, sering kalimatnya terhenti di tengah-tengah, berpikir keras mencari perbendaharaan bahasa Inggris. Jika tak ditemukan maka ia akan menggunakan bahasa Tarzan, seperti sewaktu ia mengatakan rencana liburannya ke Indonesia bersama istrinya yang memakai hijab. Sekali waktu pernah saya sok-sok-an mengiyakan pertanyaannya dengan “Na’am”, sehingga Ahmad bertanya penuh harap apakah saya bisa berbahasa Arab.

Ahmad adalah bagian dari kehangatan orang-orang Belleville. Seperti juga Mahmood— sumpah ini nama asli dia—seorang lelaki tua asal Tunisia yang sempat kami bercakap di bangku panjang,  di tepi Bouleward Belleville. Seperti Ahmad, Mahmood juga senang mendengar saya berasal dari Indonesia dan menghubungkannya dengan Muslim. Tapi yang membuat saya terkejut adalah reaksinya ketika saya menjawab pertanyaan tentang apa yang saya lakukan di Belleville.  

“Are you writer?” Katanya sambil memandang saya seakan saya adalah orang yang sudah puluhan tahun dicarinya. “Yes,’ jawab saya sambil berhati-hati sebab bisa saja ia langsung memeluk saya. Dari obrolan kami di taman Boulevard Belleville itu saya menjadi tahu Mahmood kakek lima orang cucu—salah cucunya ikut dengannya dan asyik berlari-lari mengejar bola. Mahmood lahir di sebuah kota kecil di Tunis—ia mengucapkan nama kota itu tidak jelas sehingga saya tidak tahu nama kotanya—tapi sejak kecil telah tinggal di Paris, dan menjadi warga negara Prancis.

Berbeda dengan La Chapelle yang umumnya dihuni oleh orang-orang India—sehingga jika kau berfoto di situ temanmu pasti akan mengira kau berada di Delhi atau Bangladesh. Kawasan Bellevile lebih beragam. Kawasan yang dihuni oleh beragam bangsa. Bukan hanya Arab Magribi (Maroko, Aljazair, Tunisia), tapi juga Afrika dan China, juga tentu orang-orang Eropa (Prancis).

Sejumlah flat di beberapa ruas jalan juga dihuni oleh mahasiswa dari berbagai negara dan bangsa. Bahkan saya pernah melihat beberapa lelaki Yahudi berdiri merokok di depan kedai daging Ahmad, dan salah seorang di antara mereka masuk membeli daging sambil berseru pada Ahmad, “Saloom!

Menulis dan Berjalan-jalan

Saya harus berterimakasih pada Gani Ahmad Jaelani dan Yuyun, dua orang mahasiswa Indonesia di Paris, yang telah membuat saya berada di Belleville. Dari flat yang berada di persimpangan Rue Fontaine dan Rue Du Moulin Jolly, hanya beberapa ratus meter mencapai Boulevard Belleville. Jalan besar yang membentang panjang dengan taman dan ruang terbuka di tengahnya. Di Boulevard Belleville ada banyak toko dan mini market yang menjual kebutuhan sehari-hari.

Bahkan setiap pekan di hari Selasa dan Jumat ada pasar tradisional yang membentang panjang. Pasar itu menjual berbagai kebutuhan sebagaimana pasar mingguan di desa-desa Indonesia. Daging, ikan, jamur, sayuran, rempah-rempah, kosmetik, pakaian, sampai jenis sayuran dan buah-buahan yang tidak saya kenal. Para pedagang umumnya orang-orang Afrika dan Magribi, tapi ada juga orang-orang Eropa. Harga-harga di pasar itu tentu jauh lebih murah. Saya suka sekali berjalan-jalan menyusur pasar, berhimpitan di tengah keramaian pembeli dan teriakan-teriakan para pedagang memanggil pembeli, yang tak bedanya dengan pedagang di Indonesia.

Sambil membayangkan Budi Darma yang menulis kumpulan cerpen dahsyat “Orang-orang Blomington” dan novel “Olenka” di Bloomington; Di Belleville saya suka sekali berjalan-jalan. Seperti juga Budi Darma yang berjalan-jalan di bawah udara yang buruk, saya juga begitu. Meski udara musim gugur yang sering mencapai 2 derajat disertai hujan, saya tetap berjalan-jalan. Menyusur jalan-jalan kecil di kawasan Belleville, melihat-lihat apa yang dijual di banyak toko, melihat bangunan-bangunan tua. Atau sekadar duduk di kafe dengan espresso 2 euro sambil memperhatikan orang-orang berjalan, memasukkan tangannya ke dalam saku mantel tebal yang panjang, sehingga mereka mirip sekumpulan pinguin.

Saya juga paling suka melihat orang Afrika yang sedang menelepon. Mereka berbicara keras sambil menggerakkan tangan seakan-akan orang yang sedang diteleponnya itu ada di depannya, begitu ekspresif. Kadang ia menelepon berjalan menggunakan head-seat, yang sering membuat saya terkejut.  

Atau saya juga pergi ke Republique Scuare Park. Sebuah ruang terbuka di tengah berbagai persimpangan jalan. Di taman itulah berdiri menjulang sebuah monumen yang menampilkan sosok Marianne. Berdiri sambil mengangkat tangan menggenggam dahan pohon zaitun, lambang Republik Prancis tampak begitu agung. Di landasan tempat Marianne berdiri terdapat tiga orang perempuan membawa obor sebagai perlambang dari Liberte, Egalite, Fraternite, tiga prinsip penting dalam Republik Prancis. Mengamati banyak orang berfoto di bawah monumen Marianne, rasanya menarik jika saya membuat cerpen tentang seorang pengungsi Suriah yang selalu datang untuk menatap Marianne. Di hari yang lain saya pun berjalan lurus ke ujung Boulevard Belleville, ke pemakaman tua Cimetiere de Pere Lanchaiese. Di situ saya berziarah ke makan filsuf J.J. Rouessau, sastrawan Michael Proust, Andre Gilde, penyanyi Jim Morisson, dan banyak lagi tokoh-tokoh penting lainnya.

Berjalan-jalan di Belleville membuat saya tak hanya bertemu dengan orang-orang Belleville, tapi juga suasana Paris yang lain, yang berbeda dengan jika saya berada di kawasan Champ Ellysse, Paris Saint German, Ru De Rivori,  atau kawasan elite lainnya, seperti minggu pertama saya berada di Paris. Sejak saya di berada Belleville saya jarang lagi pergi berjalan-jalan ke kawasan elite itu. Apalagi hanya untuk berfoto ria di menara Eifell yang lama-lama saya lihat makin mirip menara sutet di Indonesia.  

Setelah lelah berjalan-jalan saya akan kembali ke flat. Menghangatkan sop dan kembali menulis seperti yang kini sedang saya lakukan.** (Ahda Imran)