Pangeran Muhammad bin Talal dan Sejarah-sejarah Kecil di Stasiun Leiden

Di depan stasiun Leiden saya bertemu Pangeran Muhammad bin Talal untuk pertama kalinya pada satu sore di tengah musim gugur dan kelak berpisah di tempat yang sama pada sore yang lain di awal musim berikutnya. Saat itu saya  baru tiba di Leiden setelah menempuh penerbangan selama 14 jam dari Jakarta ke Amsterdam ditambah 15 menit perjalanan kereta api dari bandara Schiphol, sementara Pangeran Muhammad sudah duduk di singgasananya di selasar stasiun Leiden sejak bertahun-tahun yang lalu.

Saya datang ke kota ini bukan untuk menemui Pangeran Muhammad dan ia duduk selama bertahun-tahun di halaman stasiun bukan untuk menunggu saya. Kami hanyalah dua orang yang tak saling mengenal yang kemudian saling menjabat tangan hanya karena didorong oleh rasa penasaran yang merongrong. Saya menghampirinya dan menjulurkan tangan. Saat itulah saya tahu bahwa ia bernama Muhammad dan berasal dari Arab Saudi.

“Saya dari Indonesa,” jawab saya saat ia balik menanyakan negara asal saya.

Oh, negara yangs sedang dilanda konservatisme agama. Saya terkejut dengan apa yang ia katakan dan menanyakan kepadanya bagaimana ia bisa mengetahui hal itu.

“Bagaimana aku bisa tahu? Kau pikir aku tidak membaca koran?”

“Bukan begitu. Aku pikir kau baru saja mengunjungi negaraku atau bagaimana.”

Muhammad tertawa. “Saya tidak pergi kecuali beberapa langkah saja dari kursi ini,” ia berkata sambil menunjuk tempat duduknya.

Kemudian kepada saya Muhammad bercerita bahwa ia tak memiliki paspor. Kewargananegaraannya telah dicabut oleh pemerintah Kerajaan Arab Saudi pada tahun 1995, tak lama setelah ia mengasingkan diri dari Hail, kota kelahirannya di sebelah utara Riyadh, ke Belanda akibat permusuhan abadi antara wangsa Rashidi dan wangsa Saudi, penguasa sekarang. Seluruh uangnya yang ia simpan di sebuah bank Swiss juga dibekukan.

Muhammad merupakan cucu raja terakhir dinasti Rashidi yang berkuasa di jazirah Arab pada tahun 1836 – 1926. Ayahnya sudah dihukum mati oleh pemerintah Saudi bertahun-tahun yang lalu, sementara Ibunya masih hidup dan tinggal di Hail hingga sekarang.

“Kepergianku paling jauh adalah ke penjara di kota ini. Kau tahu, duduk dan tidur di tempat umum seperti ini merupakan pelanggaran,” lanjutnya.

“Ya, aku tahu.”

“Baru seminggu yang lalu aku keluar dari penjara entah untuk yang keberapa kalinya. Setahun sekali aku masuk penjara, masing-masing selama 40 hari.”

“Bagaimana rasanya di penjara?”

“Menyenangkan. Kasur empuk, kamar dengan penghangat ruangan, dan pelayanan yang ramah. Hanya saja menu makanannya aku kurang cocok.”

Sejak saat itu, selama 2 bulan bermukim di Leiden, saya kerap mengobrol dan berbagi rokok dengan lelaki yang mengaku berusia 60 tahun lebih sedikit itu. Sepanjang mengobrol dengannya, beberapa kali saya mendapati ia membalas sapaan orang yang berlalu lalang.

Pada waktu yang lain, dalam perjalanan kaki dari pusat kota ke tempat saya tinggal atau sebaliknya, saya kadang melihat Muhammad berbincang dengan para pejalan kaki dan pengendara sepeda, lelaki dan perempuan, yang berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan perjalanannya.  Mungkin orang-orang itu, yang saya kira sudah mengenal Muhammad sejak bertahun-tahun yang lalu,  memberinya makanan dan uang receh. Namun tak pernah sekali pun saya melihat Muhammad menadahkan tangan.

Beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di Universitas Leiden mengatakan kepada saya bahwa mereka sudah melihat Muhammad duduk di kursi di depan stasiun sejak hari pertama kedatangan mereka di kota ini. Dan itu 3 hingga 5 tahun yang lalu. Para mahasiswa tingkat master dan doktoral itu juga mengatakan kepada saya bahwa Muhammad adalah seorang cucu raja.

Saya pernah bertanya soal latar belakang Muhammad kepada seorang petugas stasiun Leiden. Petugas itu menerangkan bahwa Muhammad adalah seorang pangeran yang melarikan diri dari Saudi dan hidup di atas kursi selama bertahun-tahun. Meski sudah lagi tak memilki paspor, ia tak mau mengajukan suaka politik. Lelaki dengan brewok lebat itu juga menolak tawaran bantuan keuangan dari kerabatnya di Saudi dengan alasan hal itu akan mencederai harga dirinya. Muhammad membenarkan hal itu saat saya tanyakan kepadanya.

Seorang pangeran hidup menggelandang selama bertahun-tahun demi sebuah harga diri!  Oh, betapa runyamya kehidupan ini. Beberapa kali di tengah malam buta sepulang dari menghabiskan akhir pekan di pusat kota,  saya menghentikan langkah di depan stasiun dan menatap Muhammad, tepatnya menatap ujung sepatu Muhammad. Seluruh tubuh dan wajah pemilik sepatu itu terbungkus selimut. Sebuah gembolan besar yang berisi pakaian dan tetek bengek lainnya, teronggok di sampingnya.

Dalam gigil malam-malam akhir musim gugur, saya tercenung. Bagaimana seseorang bisa hidup dengan cara seperti ini? Ia duduk dalam keadaan tertidur dan terjaga, dan hanya bangkit dari kursinya untuk urusan ke kamar mandi di stasiun, membeli makanan, dan keperluan-keperluan kecil lainnya. Ia hidup seorang diri, terpisah jarak ribuan kilometer dari tanah kelahiran dan kerabatnya. Dan ia tak memiliki kewarganegaraan, ia homeless sekaligus stateless.

Tapi dia bukan seorang pengemis dan juga bukan orang yang kehilangan kewarasannya. Pembicaraannya jernih dan menunjukkan bahwa ia mengikuti perkembangan dunia. Ia tahu apa yang sedang terjadi saat ini di negara asalnya, di Indonesia, dan di banyak tempat lainnya. Seharusnya ia bisa hidup layak di Arab Saudi jika ia mau berdamai dengan pemerintahnya. Tapi karena satu dan lain hal, ia terlempar dan terdampar di satu tempat di belahan bumi ini, menjalani apa yang sekarang harus ia jalani.

Saya tak tahu sejauh mana kebenaran dalam semua cerita Muhammad yang ia sampaikan kepada saya. Saya tak tahu kesahihan keterangan para mahasiswa Indonesia serta petugas stasiun tentang Muhammad. Saya tak tahu apakah benar Muhammad datang ke Belanda pada tahun 1995. Saya tak tahu sejak tahun berapa Muhammad menjadi gelandangan di depan stasiun Leiden dan sejak kapan persisnya ia hidup di atas kursi. Namun yang jelas, oleh sebagian warga kota Leiden, Muhammad dikenal sebagai “seorang pangeran dari Saudi yang menggelandang dan hidup di atas kursi.”

Dan satu hal lagi yang jelas, melalui perkenalan dengan Muhammad, satu lagi fragmen kehidupan manusia hadir dalam ingatan saya. Dan dari fragmen semacam itu, selalu lahir sejumlah pertanyaan di benak saya tentang sejarah kecil manusia: sejarah yang dilakoni masing-masing orang dalam lanskap semesta kehidupan ini. Pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah mampu saya jawab namun selalu berulang.

Apa dan siapa yang membentangkan jalan hidup masing-masing orang? Bagaimana kehendak bebas manusia dan takdir alam bekerja membentuk sejarah hidup setiap orang?  Dengan cara apa tangan nasib menabur kemujuran dan kesialan di atas kelindan jejaring kehidupan?

“Kau akan duduk-duduk di sini selamanya?” tanya saya pada hari terakhir saya di Leiden. 

“Ya, kecuali raja bani Saud bersedia bertukar kursi denganku.”

Saya tersenyum dan menatap mata tajam Muhammad. Lelaki itu terkekeh. Demi kehendak bebas dan demi takdir, dan demi yang ada di antara keduanya, juga demi pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah mampu kujawab, kau tak kehilangan rasa humormu, wahai pangeran. Saya ulurkan tangan.    

“Aku harus berangkat ke Amsterdam sekarang, besok pagi-pagi aku harus pulang ke Indonesia, Ayahku sedang sakit keras,”

“Selamat jalan, semoga semuanya baik-baik saja,” katanya setelah menyambut uluran tangan saya.

Saya berjalan memasuki stasiun, menaiki tangga ke peron, dan berdiri di sana menunggu datangnya kereta. Dari peron terbuka itu, saya melihat daun-daun mapel berguguran, diterpa angin awal musim dingin. Saya teringat “The Autumn Leaves”, salah satu lagu favorit Ayah saya. Itu sebuah lagu yang juga menceritakan sejarah kecil manusia, tentang rasa gundah dan rindu seseorang yang ditinggal pergi kekasihnya.

 

[Ben Sohib]