Pertemuan dengan yang Lain pada Suatu Waktu

Langit pada musim panas kali ini bahkan masih lumayan terang hingga pukul setengah sepuluh malam saat saya pulang. Lantaran tak membeli makanan di perjalanan (dan hanya berbekal botol minuman), saya merasa lemas sekali hingga mendengar suara sendiri seperti mengemis makan kepada ibu semang saat berdiri di hadapannya, “Apa masih ada makanan? Saya lapar dan belum makan sejak keluar rumah.”

Saya menjelaskan alasan keengganan membeli makan di luar, ia tampak mafhum.

Masih tertinggal satu panci nasi dan sop. Dengan raut wajah gemas, ia mempersilakan saya mengambil makanan.

Selanjutnya, ia kembali menyimak televisi dalam siaran berbahasa Perancis, sebelum kemudian berganti ke tayangan berbahasa Mandarin ketika saya mengambil makanan.

Selain dua bahasa itu, masih ada beberapa bahasa lagi yang dipergunakannya secara aktif, di antaranya bahasa Rusia dan Spanyol, dan tampaknya sedikit bahasa Arab. Sepintas saja hal itu membuat saya iri, karena saya bayangkan itu bisa membuatnya misuh-misuh kepada siapa pun dan tepat sasaran, karena orang-orang itu paham dan sekaligus menghayati apa yang ibu semang saya umpatkan kepada mereka.

“Jadi, bagaimana petualanganmu di hari perdana ini?”

Saya menyendok sangat sedikit dan perlahan karena rahang dan perut terasa nyeri, dan mulai bercerita tentang pertemuan saya dengan seorang perempuan Maroko.

Dia menyebut namanya, “Nesha,” dan menambahkan, “Saya Samaritan,” saat memulai perkenalan. Saya mengernyitkan dahi saat dia perlu repot-repot menambahkannya.

Sepulang ke rumah dan bertemu dengan komputer, saya baru mengecek apa arti dari kata “Samaritan”, tapi itu tampaknya bukan representasi identitas Nesha karena setelah memperkenalkan diri sebagai seorang Samaritan, dia dengan semangat bilang kepada saya yang baru dikenalnya, “Saya sudah lama tidak beribadah. Tapi ayah dan ibu saya orang yang ortodoks sekali.”

“Oh, orang Maroko. Di sini memang banyak orang-orang Afrika, mereka pernah jadi koloni Perancis,” sahut ibu semang saya.

“Dia membantuku membuat kartu Navigo,” ujar saya dengan girang, “Dia mengobrol dengan petugas dalam bahasa Perancis, dan aku menurut saja di sebelahnya.”

Kartu Navigo ini memudahkan saya yang tinggal di pinggiran Paris—istilah lokal, banlieu— untuk mencapai Paris dengan harga terjangkau.

Saya tinggal di wilayah Orly, di pinggiran selatan Paris. Ibu semang saya menjelaskan sekelumit tentang sejarah daerah ini, yang baginya dapat diistilahkan sebagai “cukup kiri”—beberapa nama orang kiri Perancis menjadi nama rue dan avenue daerah itu, dan menjadi nama-nama untuk tempat publik di sekitar sana juga. Menurut ibu semang saya, pembangunan di daerah pinggiran memang dilakukan dengan agenda yang jelas. Apartemen privat (dalam artian, semacam apartemen yang dihuni oleh orang kaya) dan apartemen pemerintah (semacam apartemen yang disubsudi oleh negara) saling berdampingan, dan hal itu diwajibkan oleh pemerintah. Jika suatu kompleks wilayah hendak membangun apartemen berjenis privat saja, maka para penghuninya diharuskan untuk menyumbang dana sosial pembangunan apartemen untuk apartemen pemerintah. Tata kelola kota dibangun dengan baik dan bisa dikatakan lengkap untuk ukuran municipal. Karena itu pula, ibu semang saya bisa menyewa apartemen pemerintah itu dengan harga relatif terjangkau bagi seorang pensiunan sepertinya.

Tinggal di banlieu memang menjadikan transportasi ke Paris lebih mahal dibandingkan jika saya memilih tinggal di salah satu area di dua puluh arrondisement Paris. Tapi dengan kartu Navigo, saya bisa berhemat hingga 100 euro dalam rentang masa tinggal saya, lumayan untuk dibelikan buku atau tiket masuk museum, dan dengan tinggal di rumah kos ini, saya pun bisa berhemat pula.

Tentunya, dibantu membuat kartu Navigo oleh warga lokal menjadikan pengalaman itu sebagai bentuk perkenalan yang menyenangkan dengan kota ini.

“Dia termasuk imigran yang ramah,” kata ibu semang saya, “Tapi orang-orang pendatang memang bakal lebih ramah ke kau dibandingkan orang-orang Perancis sendiri, karena mereka tidak masalah dengan orang yang hanya bisa bicara dalam bahasa Inggris saja. Jadi, bagaimana bisa kalian bertemu?”

Ayah Nesha meninggal enam tahun lalu, dan dia baru saja menjenguk ibunya yang sedang sakit—ibunya tinggal di banlieu juga seperti saya sementara Nesha tinggal di area Trocadero dekat Menara Eiffel—dan sebelum kembali ke rumah dia sempat berbelanja bahan makanan sehingga ia membawa tas belanja yang tampak berat, lalu kebetulan bertemu saya di stasiun RER C Les Saules.

Dia ingin ke kebun binatang, yang terletak di salah satu stasiun yang akan saya lewati juga, sebelum pulang ke rumah. Dia menawari saya untuk ikut serta. Saya mengiyakan ajakannya karena hanya punya satu agenda saja hari itu.

Kami akan berhenti di stasiun metro Gare d’Austerlitz, sebelum saya melanjutkan perjalanan ke stasiun metro Crimée, untuk pergi ke sebuah tempat kursus bahasa Perancis, dan dia pulang ke Trocadero.

Tempat kursus bahasa Perancis murah itu terletak di bilangan kanal Villette. Rencananya, saya hanya akan mengikuti tes penempatan, dan mendaftarkan diri.

Mengikuti kursus akan membuat saya punya alasan untuk sekali jalan menuju pusat kota Paris, meriset ke perpustakaan ataupun museum, yang jaraknya satu jam perjalanan metro dari rumah kos saya di banlieu, sekaligus berinteraksi secara wajar dan rutin dengan penghuni kota.

Dengan suhu musim panas yang sama dinginnya dengan ruangan berpendingin, sekitar 15 derajat celcius, dan bermodalkan tubuh warga tropis ini, saya tidak yakin berniat untuk keluar setiap hari dari rumah kos apabila tidak ada paksaan—dengan kursus bahasa, misalnya. Padahal, bagaimana bisa berniat tidak keluar rumah sama sekali, dan menjadi anak rumahan sebagaimana biasanya, dengan kenyataan saya sedang berada di negara orang? Lagipula, saya sudah menghemat karena mendapatkan harga sewa rumah relatif murah lantaran memilih tinggal di banlieu, 300 euro per bulan (atau sekitar 200-300 euro lebih murah dibandingkan tinggal di Paris), uang yang tersisih itu yang akan saya pergunakan untuk mendaftar kursus bahasa. Dengan berbagai pembenaran untuk mengeluarkan sepeser uang demi kursus, saya menambahkan satu alasan lagi yang terdengar bijaksana bagi diri sendiri: jika kelak saya kebetulan ingin iseng menerjemahkan karya sastra Perancis ke bahasa Indonesia, bekal bahasa ini bisa membantu saya. Nantinya ketika pulang ke Indonesia, saya tinggal mendalami lagi.

(Dan, benarlah, pada pekan berikutnya, saya bertemu Johanna Lederer, seorang pendiri sebuah komunitas pencinta kebudayaan Indonesia, Komunitas Pasar Malam—nama yang disitir dari buku Pramoedya Ananta Toer Bukan Pasar Malam, ia bersepakat untuk menerjemahkan dua cerita pendek saya ke dalam bahasa Perancis dan menerbitkannya dalam jurnal terbitan mereka. Jadi, mengapa tidak, untuk bercita-cita membalas jasa dengan menerjemahkan karya sastra Perancis juga suatu saat nanti?)

Sepanjang perjalanan, saya memperhatikan orang-orang di sekeliling saya. Banyak, teramat banyak gelandangan—entah itu warga lokal yang menjadi pengangguran ataupun imigran yang menggelandang.

Dan, wisatawan, tentu saja, karena Paris adalah destinasi pertama dunia dalam hal wisata. Ada para wisatawan kaya yang tampak dari dandanannya—yang tentu didominasi oleh orang-orang China, dan para wisatawan miskin yang menggendong ransel lusuh dan menggeret kopernya ke mana pun, barangkali sedang mencari hostel murah lainnya yang bisa disewa untuk beberapa hari.

Lantas, warga lokal yang membawa tas belanjaan penuh barang, atau membawa anjing yang lehernya diikat tali, atau membawa troli bayi, atau menjinjing otoped, atau memanggul sepeda dan helmet. Orang-orang di Paris ataupun banlieu terbiasa berjalan kaki—atau menggunakan otoped ataupun sepeda—dan untuk jarak jauh mereka memilih menggunakan transportasi umum: metro, RER (untuk mengantarkan ke wilayah banlieu A hingga D), bus, dan trem dengan sistem SNCF yang menggunakan kartu atau tiket Navigo.

Orang dari ras berbeda bercampur baur: kulit hitam, kulit sangat hitam, kulit kuning, kulit putih, kulit sangat putih, rambut merah, rambut pirang, rambut hitam, rambut warna-warni, dengan gaya berpakaian yang berbeda-beda, dengan tatapan dan gestur janggal yang tak terpahami, ataupun dengan suara keras terdengar sedikit berteriak di telepon. Soal kebiasaan bertelepon ini, di hampir setiap pinggir jalan, kita akan mendapati orang-orang kulit hitam yang getol mengobrol dengan lawan bicaranya di telepon dengan bahasa yang campur baur: Arab, Perancis, Inggris, dan entah apa lagi.

Hingga barulah kemudian saya menyadari bahwa pertemuan dengan Nesha juga adalah sebuah cerita tersendiri.

Dia menjadi warga negara Perancis karena orang tuanya menetap dan membesarkannya di sana—sebagaimana yang terjadi pada imigran-imigran negara Afrika bekas koloni Perancis juga. Dia menjadi orang pertama yang membuat saya berpikir untuk menulis kisah-kisah tentang orang-orang imigran—dan kemudian mengunjungi museum imigran, musée national de l’histoire de l’immigration.

Sore sebelumnya, di hari pertama saya tiba di Paris, ibu semang telah mengajak saya berkenalan dengan orang-orang perahu (boat people). Pertemuan yang entah disengaja atau tidak, karena ia memang berencana menjamu kedatangaan saya dengan makan nasi goreng ikan teri pedas di sebuah restoran Vietnam favoritnya—orang-orang di restoran itu adalah mereka yang pernah mengalami derita mengapung di lautan lepas selama berhari-hari demi menyelamatkan diri dari Perang Vietnam, “Saat mengapung itu, kami selama tiga hari tidak makan dan tidak mungkin meminum air laut,” begitu katanya.

(Saat suatu kali kami mengunjungi sebuah resto Jepang di wilayah Quartier Latin, kami mendapati pemilik dan pengelolanya adalah orang Vietnam juga. Meski ketika itu kami tak memastikan apakah mereka juga termasuk orang-orang perahu.)

“Cowok-cowok Perancis itu brengsek, tuh kamu lihat, mereka bakal merayu ceweknya dengan barang murah. Baby, it’s so cute, kata ceweknya pas terima apa yang diberi si cowok, padahal kamu lihat ‘kan dia cuma diberi tiket acara enggak jelas. Setelah si cewek berhasil dijerat hatinya, si cowok nantinya pasti mengajak makan, tapi maunya minta dibayarin si cewek saja,” cerocos Nesha ketika kami berjalan setapak di taman.

(Di lain waktu, saat saya makan di sebuah resto kebab murah dan kebetulan duduk berhadapan dengan seorang imigran India, imigran itu menasihati saya untuk menjauhi segala macam pria Arab—mungkin yang ia maksud adalah para imigran dari Afrika. “Mereka berbahaya,” katanya. “Mereka akan menghamilimu.”)

Bukankah kebanyakan laki-laki memang seperti itu atau tidak seperti itu atau berada di irisan itu? Generalisasi adalah perilaku yang payah ketika kita hidup di tengah orang-orang dengan berbagai latar belakang seperti ini. Meski untungnya sejauh ini tak terjadi pertikaian yang berarti di antara mereka. Tapi apa yang saya tahu? Seorang penulis kontemporer Perancis, Michel Houellebecq, dalam karya terbarunya menunjukkan kebenciannya pada imigran dan semacam fobia terhadap Islam, dan entahlah apakah ia akan mempengaruhi lebih banyak orang lagi atau tidak. Perdana menteri Perancis, Manuel Valls, dalam sebuah wawancara bahkan berani menyatakan, “Perancis itu bukan Houellebecq, Perancis bukan negeri intoleran, penuh kebencian dan rasa takut.” Meskipun, sebenarnya masih kontroversial apakah Houellebecq ini melancarkan kritik pada Islam secara umum, ataukah hanya militan Islam seperti karakter yang dipilihnya dalam novelnya.

Saya menatap wajah Nesha sungguh-sungguh, karena bertanya-tanya, apakah dia pernah dibuat patah hati oleh seorang pemuda Perancis? Pada akhirnya, saya mendapati alasannya menjadi sesinis itu, karena kemudian dia bilang dia tak pernah menikah, dan tak sedang punya pacar—di usianya yang sudah memasuki usia pensiunan. Sialnya, dia tampak tiga puluh tahun lebih muda dari usia biologisnya.

Pemerintah Perancis memastikan para pensiun dan para penganggur untuk dapat mengunjungi tempat-tempat publik yang berbayar dengan gratis. Bukan hanya tempat wisata, saya dengar beberapa tempat makan pun dapat memberikan makanan gratis kepada para penganggur. Untuk soal kunjungan gratis setiap saat ke tempat-tempat wisata, Nesha memanfaatkan statusnya sebagai pensiunan dengan sebaik-baiknya. Hampir setiap hari, dia berkunjung ke kebun binatang.

“Kenapa bukan ke museum atau tempat wisata lain yang lebih disukai turis?” tanya saya.

Dia sendiri merasa janggal menjawab pertanyaan saya, karena baginya hal itu refleks saja adalah caranya mengisi kekosongan ditinggal mati ayahnya, yang gemar mengunjungi kebun binatang. Hanya dalam rentang waktu enam tahun kunjungan rutin (entah benar setiap hari atau tidak), dia memang lebih tahu daripada siapa pun di kebun binatang itu tentang segala hal yang ada di sana.

Semua pekerja di tempat itu mengenalnya, menyapanya dengan ramah saat Nesha lewat. Dia bahkan secara sukarela menjadi pemandu yang menjelaskan tentang segala tabiat binatang di sana kepada para pengunjung yang datang, juga menjelaskan riwayat kedatangan para binatang itu kepada saya—bahkan sampai cerita tetang masa inkubasi telur-telur burung di beberapa tabung kaca. Saya menyukai berjalan di sisinya, dan memandang orang-orang yang mengagumi pengetahuan Nesha tentang kebun binatang itu. Kami bertahan di sana hingga jam tutup kebun binatang, dan berpisah di stasiun metro setelah bertukar nomor kontak.

Saat sendirian tanpa ditemani Nesha di dalam metro di perjalanan ke tempat kursus ataupun perjalanan pulang ke rumah, saya mulai merasa terasing. Orang-orang berbicara dengan bahasa yang tidak saya pahami, dan mereka jengkel bila diajak bicara dengan bahasa Inggris atau mendengar orang sekadar berkata permisi atau terima kasih dalam bahasa itu, padahal itu menjadi satu-satunya modal bahasa saya di sana. Kebanyakan dari orang-orang yang duduk di kursi-kursi dalam metro itu tampak terpelajar karena mereka membaca buku-buku tebal dengan khusyuk. Beberapa dari mereka membaca buku teks akademis, ataupun novel-novel detektif dari penulis lokal yang baru saya ketahui namanya dari pemberitahuan mesin pencari. Dengan jas ataupun pakaian formalnya, saya bertanya-tanya apakah salah seorang dari mereka mengajar di universitas bergengsi? Apakah salah seorang dari mereka adalah orang parlemen? Apakah di antara mereka yang membaca buku, salah seorangnya adalah penulis muda Perancis dan sedang meniti kariernya? Di dalam metro ini, bukan hanya soal ras dan warna kulit, ataupun kepercayaan yang dianut, orang-orang kaya dan orang-orang miskin, para figur publik dan orang biasa tampak tidak keberatan untuk saling membaur—dan saya, meski terasing, entah kenapa sekaligus juga merasa turut membaur di tengah keberagaman ini. Tidak seorang pun dari kami memandang aneh kepada satu sama lain, terlepas dari demikian banyak perbedaan secara fisik, dan hanya karena itu, di akhir hari saya merasa seperti tidak sedang berada di tempat asing. [*]

Dewi Kharisma Michellia