Refleksi Hari Buku Nasional, Pembelajaran dari panggung Market Focus London Book Fair 2019

Refleksi Hari Buku Nasional,

Pembelajaran dari panggung Market Focus London Book Fair 2019

 

Menjelang peringatan Hari Buku Nasional yang jatuh pada 17 Mei 2019, Komite Buku Nasional (KBN) menyajikan kabar yang menggembirakan dari kegiatan London Book Fair 2019. Tercatat penjualan 106 judul buku dengan nilai ekonomi setara dengan Rp 41,79 miliar. Pencapaian ini jauh melampaui target yang ditetapkan sebelumnya yaitu 50 judul buku. Kabar gembira ini tentu saja menjadi sebuah angin segar terutama bagi industri perbukuan Indonesia di saat banyak sekali masyarakat yang skeptis terhadap minimnya minat baca yang selalu saja digaungkan setiap tahun pada perayaan Hari Buku Nasional. Persoalan yang utama bukanlah kurangnya minat baca namun akses terhadap buku yang sulit terjangkau bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. 

Salah satu gelaran kegiatan yang dilakukan dalam rangka London Book Fair 2019 lalu yakni mendatangkan wartawan Inggris ke Indonesia untuk melihat kondisi literasi yang terjadi dengan mendatangi beberapa literacy initiatives seperti Bemo Baca di kawasan rumah susun Bendungan Hilir dan Warabal di daerah Parung yang dari sisi geografis tidak begitu jauh dengan Jakarta namun ternyata masih jauh dari jangkauan untuk bisa mendapatkan bahan bacaan. Hal ini tentu menjadi sebuah pekerjaan rumah bersama bagi kita dan tidak bisa dilakukan secara instan.

Ketua Komite Buku Nasional, Laura Bangun Prinsloo menjelaskan, “Ada banyak sekali pembelajaran yang didapatkan oleh KBN dalam menjalankan program dan fungsinya selama ini, antara lain:

  1. Perencanaan strategis: Menumbuhkan “budaya buku” nasional—termasuk menumbuhkan minat baca dan literasi, produksi buku, penjualan hak cipta, penerjemahan, dan seterusnya—tidak terjadi hanya dalam semalam. Perencanaan ini akan berlangsung jangka panjang untuk rentang waktu 5, 10, dan bahkan 20 tahun.
  2. Investasi jangka panjang: Sebagaimana halnya diperlukan perencanaan jangka panjang, pendanaan atau investasi jangka panjang juga penting. Ini termasuk kebutuhan akan adanya anggaran jangka panjang (multi-year budgets), yakni anggaran 3-5 tahun dengan periode tumpang-tindih (overlapping budgets period) untuk memastikan kelancaran aliran dana.
  3. Kemandirian: Pembentukan sebuah lembaga independen atau semiindependen dengan kewenangan mengambil kebijakan yang diperlukan untuk membuat Indonesia menjadi penyedia konten intelektual yang unggul di mana keberadaan lembaga ini tidak dipengaruhi oleh situasi politik.
  4. Profesionalitas: Tugas pemerintah adalah memberdayakan sektor swasta, bukan mengaturnya. Supervisi tentu wajib dilakukan, tetapi biarlah orang-orang yang ahli di bidangnya yang melaksanakan tanpa campur tangan yang tidak perlu.”

Diharapkan di peringatan Hari Buku Nasional ini, laporan pencapaian Indonesia dalam meraih target-target yang ditetapkan dalam keikutsertaan di pameran-pameran buku internasional dan nasional, mampu menumbuhkan kepercayaan diri kita sebagai bangsa yang berwawasan dan berpengetahuan dan menjadi sebuah refleksi penting bagi kemajuan industri literasi Indonesia.

Selamat Hari Buku Nasional!