Rumah Gamelan di Negeri Belanda

Hujan rintik di malam dingin bulan November di Amsterdam. Tetapi itu tidak menyurutkan niat lima belas orang dari berbagai bangsa ini untuk berlatih memainkan orkestra tradisional Jawa.

Di antara mereka ada Ivy, seorang perempuan paruh baya Cina Suriname yang telah bermain gamelan selama 20 tahun. Dia piawai memainkan slenthem, instrumen tetabuhan berupa barisan lembaran logam tipis yang menghasilkan dengungan rendah. Matanya setengah terpejam dan kepalanya bergoyang-goyang lambat, manakala tangan kanannya mengayunkan pemukul, dan tangan kirinya me-matet, atau menahan getaran lembaran perunggu agar suara yang dihasilkan tetap terkontrol.

Sedangkan Ruth Jaeger yang berasal dari Köln di Jerman rela datang jauh-jauh ke Amsterdam setiap Selasa untuk berlatih gamelan. Di negaranya sendiri memang ada grup gamelan, tetapi dia menemukan permainan di Amsterdam ini lebih bervariasi dan menantang. Di sini, dimainkan gending yang cepat maupun lambat; yang mudah seperti Menthog-Menthog sampai yang sulit seperti Palaran, yang menuntut kerja sama tingkat tinggi antara vokal, kendang, ketuk kenong, dan gong.

Ada pula Gabriela, yang kecintaannya terhadap gamelan berawal dari kebiasaan. Rumah wanita asli Belanda itu berada di dekat Het Gamelanhuis—tempat grup gamelan ini berlatih—dan sejak lama dia sering mendengar dengung alunan orang berlatih gamelan, yang begitu magis terus bergema sampai ke alam mimpinya. Itu membuatnya tertarik untuk belajar, dan kini sudah lima tahun lebih dia bermain gamelan Jawa.

Bukan hanya sensasi melodi, gamelan juga membawa orang-orang Eropa ini mendalami bahasa dan filosofi Jawa. Michiel Niemantsverdriet misalnya, sudah belajar gamelan lebih dari 15 tahun dan pernah tinggal satu tahun di Yogyakarta dan Solo. Gamelan baginya adalah tentang kebersamaan—setiap anggota simfoni adalah elemen penting dari simfoni yang indah. “Gamelan mengajarkan saya makna gotong-royong,” katanya dalam bahasa Indonesia yang fasih, “Itu kontras dengan kehidupan Eropa yang individualis.” Michiels kini berprofesi sebagai guru gamelan untuk murid-murid Sekolah Dasar di sejumlah kota di Belanda.

Het Gamelanhuis, yang artinya “Rumah Gamelan”, tersembunyi di sebuah gedung apartemen yang tidak mencolok di bagian timur kota Amsterdam. Terletak di Jalan Veemkade, Het Gamelanhuis berada di samping kanal, dan di seberangnya terdapat pulau kecil yang kebetulan bernama Java-eiland (“Pulau Jawa”). Het Gamelanhuis didirikan oleh pemerintah kota Amsterdam pada tahun 2001. Sebelum itu, warga sekitar bisa belajar gamelan pada kelas yang diselenggarakan di gedung yang sama oleh Yayasan Bangsa Jawa dari komunitas orang Jawa Suriname di Amsterdam. Bukan hanya gamelan Jawa, di Het Gamelanhuis orang bisa bermain gamelan Bali ataupun orkes Indonesia modern, pada hari yang berbeda.

Setiap Selasa malam, ada dua grup gamelan Jawa yang berlatih bersama, yaitu Wiludyeng dan Mugi Rahayu. Pelatih dari kedua grup gamelan ini adalah seorang lelaki Belanda totok bernama Maarten van den Berg, yang kini berusia 44 tahun dan sudah belajar gamelan selama lebih dari 25 tahun.

Tung tung tung dhlatung tong gong...,” kata Maarten menirukan bunyi kendang, saat dia memberikan bimbingan kepada para siswanya dalam bahasa Belanda, sebelum mereka mulai memainkan gending. Lalu dia pun menabuh kendangnya dengan bertenaga namun menghasilkan suara yang rancak dan jernih. Dalam grup ini, Maarten adalah pemain kendang yang paling ahli.

Peran kendang sangat penting dalam gamelan. Kendang berfungsi sebagai pemandu irama atau pemberi aba-aba bagi semua pemain instrumen yang ada: bonang, gender, gambang, suling, siter, peking, hingga gong. Penyanyi (sinden) juga harus saksama mendengarkan irama kendang. Bahkan, dalam gamelan pengiring tarian, setiap detail gerakan penari Jawa pun harus selaras mengikuti ketukan pemain kendang. Bisa dikatakan, tidak ada pertunjukan yang berhasil tanpa adanya permainan kendang yang bagus.

Begitu sulitnya bermain kendang, Maarten harus pergi berguru langsung ke Jawa. “Awalnya, setelah guru saya meninggal, grup gamelan kami nyaris ikut mati karena tidak ada pemain kendang,” kenang Maarten. “Lalu saya pergi ke Solo untuk belajar bermain kendang.”

Dulunya Maarten bermain kendang hanya dengan berdasar kebiasaan dari pendengarannya. Ternyata, semua tekniknya keliru, sehingga dia harus belajar dari nol. Dan mengubah kebiasaan lama itu tidak mudah. Sebulan belajar di Solo, dia kembali ke Belanda, mempraktikkan ilmu baru yang dipelajari. Ternyata permainan gamelan grup mereka malah tidak keruan karena ilmunya masih jauh dari cukup. Tahun berikutnya Maarten kembali belajar di Solo, hingga dia benar-benar menguasai teknik dasar bermain kendang.

Apakah kendang itu menggunakan irama ketaktulung-ketaktulung, ataukah gendhlandet gendhlandhet, itu semua tergantung pada jenis gending dan fungsinya. Semuanya berbeda-beda dan harus dipelajari secara khusus. Sejak itu, setiap tahun, Maarten yang tinggi besar dan berambut panjang itu pergi ke Solo selama tiga hingga enam minggu, khusus untuk belajar gamelan.

Semula saya tidak habis pikir kenapa orang bisa belajar gamelan sampai berpuluh-puluh tahun. Tetapi kesungguhan tekad orang-orang asing ini justru membuka mata saya untuk melihat bahwa gamelan adalah sebuah dunia sendiri yang begitu kompleks dan adiluhung.

Keistimewaan gamelan, bagi Maarten, adalah sifatnya yang egaliter. Berbeda dengan simfoni musik klasik dalam kebudayaan lain, dasar bermain gamelan cukup mudah dipelajari. “Seorang pemula bahkan bisa langsung memainkan gending bersama seorang maestro,” katanya.

Dalam grup ini, ada seorang perempuan Belanda yang baru belajar gamelan tiga kali, sudah ikut memainkan gending-gending yang lumayan sulit. Matanya terus tertuju pada kertas notasi, sambil dengan ragu-ragu dia memukulkan alat pemukul pada instrumen demung.

Belajar gamelan di zaman sekarang menjadi jauh lebih mudah sejak ditemukannya notasi angka oleh patih Wreksodiningrat dari Keraton Solo hampir seratus tahun lalu. Sebelumnya, orang yang bermain gamelan harus mengandalkan ketajaman telinga dan rasa. Sekarang, orang cukup mematuhi barisan angka notasi, alunan gending gamelan pun otomatis tercipta. Pada grup ini, mata dari semua pemain terus-menerus menatap kertas-kertas notasi yang terpajang pada masing-masing instrumen.

“Itulah kekurangan kami,” kata Maarten, “Kami terlalu terpaku pada teknik dan notasi, sehingga telinga kami tidak terlatih mendengar. Sering permainan menjadi kacau pada pergantian gending, karena para pemain tidak saksama mendengarkan suara dari alat musik yang lain.”

Belajar bermain gamelan, bagi Maarten, telah mengajarinya untuk membina rasa—suatu elemen halus yang justru menjadi kekuatan seni Jawa. Rasa adalah inti dari filosofi Jawa, dan Maarten percaya bahwa orang yang tekun belajar gamelan maka dengan sendirinya akan menjadi penuh kesabaran.

“Teorinya memang begitu,” kata Djumilah Somopawiro—satu-satunya orang Jawa dalam grup ini dan sudah bermukim di Belanda sejak 1983, “Tetapi sayangnya, tidak semua orang bisa belajar sampai ke tingkat itu.”

Pada saat berlatih gending Palaran, sempat jadi sedikit kericuhan dalam grup ini. Sebabnya, seorang murid perempuan yang ditugaskan oleh Maarten untuk menjadi pemain kendang, ternyata belum cukup kuat permainannya. Akibatnya, Djumilah yang menjadi sinden tidak juga mulai menyinden karena irama gamelan tidak kunjung tersinkronisasi. Berulang kali permainan harus diulang, dan perempuan itu melotot marah pada Djumilah.

Mungkin di situlah jurang budaya. Tidak mudah untuk menyerap sebuah budaya asing, lengkap dengan rasa dan filosofi yang tepat.

“Bagi orang Jawa yang sudah menyatu dengan tradisi gamelan,” kata Djumilah, “Rasa itu mengalahkan teknik dan notasi, sehingga orang Jawa yang mahir main gamelan tidak perlu lagi berpatokan pada angka. Lain dengan kebanyakan orang Eropa, mereka sangat saklek pada teknik.”

Komentar Djumilah itu seketika menyadarkan saya pada hubungan antara gamelan dengan spiritualitas Jawa. Alunan nada yang lambat cenderung monoton, dan penekanan pada rasa, membuat orang senantiasa berkesadaran penuh, senantiasa menjalani hidup pada momen ini. Itu sejenis meditasi, yang melatih kesadaran dan rasa.

Tembang-tembang yang dinyanyikan pun mengajarkan nilai-nilai ini. Misalnya, tembang Serundeng Gosong yang dilantunkan oleh Djumilah dalam bahasa Jawa dengan nada tinggi mendayu-dayu, mengiringi alunan musik gamelan yang teramat lambat.

Serundeng gosong, serundengnya Nyai Sendrong

Kenapa serundeng gosong, karena yang memasak serundeng sambil ngomong

Serundeng bau, serundengnya Nyai Ratu

Kenapa serundeng bau, karena yang memasak serundeng sambil ngguyu (tertawa)

Sang empu pencipta tembang itu ingin mengajarkan pentingnya rasa dan perhatian penuh dalam mengerjakan segala sesuatu—yang sama rapuhnya dengan menggoreng serundeng: silap sedikit maka serundeng pun gosong.

Sayang, selain Djumilah, tidak satu pun dalam grup gamelan ini yang mengerti makna tembang yang mereka mainkan. Mata mereka semua tetap terpaku pada kertas notasi masing-masing, sembari mengayunkan pemukul pada berbagai kepingan perunggu.