Señora S.

DI BERLIN, saya menyewa satu kamar di apartemen milik seorang perempuan beranak lima, sebut saja Señora S., dan beliau tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Ini agak menyulitkan memang, tapi yang lebih lucu lagi, beliau pun tidak lancar-lancar amat berbahasa Jerman. “Bahasa Jerman beliau campur aduk dengan bahasa Spanyol dan logat Spanyolnya yang kental malah bikin tambah rumit,” kira-kira begitu terjemahan penjelasan kawan yang menjemput dan mengantarkan saya ke apartemen tersebut setelah beliau berjuang keras menyelesaikan percakapan dengan Señora S. Saya tidak bisa berbahasa Jerman, jadi saya tidak terlalu paham juga.

Sebagaimana stereotipe orang Spanyol, dan orang-orang Eropa Selatan lainnya, Señora S. selalu bicara dengan suara keras. Hari pertama tiba, saya langsung diberi penjelasan macam-macam soal mana lemari yang bisa saya gunakan, mana tempat piring-piring, mana kamar mandi, mana toilet, semua dengan bahasa Spanyol yang disuarakan keras dan gestur badan lincah yang diharapkan akan membuat saya paham. Saya mengangguk-angguk saja dan kawan yang mengantar saya geleng-geleng saja.

Untungnya, anak paling tua  Señora S., seorang gadis yang sedikit lebih muda dari saya, bisa berbahasa Inggris sepatah-sepatah. Anak gadisnya yang nomor dua masih kira-kira masih SMA dan cuma bisa bertukar “Hello” dengan saya, sementara dengan tiga anak lainnya yang masih bocah dan balita, saya cuma bisa ber-“Ola” belaka. Untungnya juga, saya bukan satu-satunya penyewa, seorang pria Turki yang menyewa kamar lain di apartemen tersebut dan lumayan bisa berbahasa Inggris dengan logat khasnya sendiri.

Señora S. tidak lahir dan besar di Jerman, dia datang dari Spanyol, dan hijrah ke Berlin karena anaknya pertamanya bekerja di kota ini. Saya tidak paham betul apa gerangan kerja putri pertamanya tersebut, yang jelas keadaan ekonomi mereka tidak terlalu bagus juga sebetulnya; lebih-lebih mengingat Señora S. sampai harus menyewakan dua kamar besar di apartemennya dan tidur di lantai ruang makan (dua kamar lain untuk anaknya). Gelagatnya setiap hari begitu-begitu saja: dia tidur cepat dan bangun sekitar pukul 8 atau 9 pagi, lantas sarapan, bersih-bersih, berbelanja kalau perlu, dan setelah semua kerja domestik itu selesai, dia akan menonton rekaman telenovela di tabletnya sambil duduk di ruang makan atau guling-gulingan di sudut tidurnya.

Sudah jelas Señora S. tidak punya pekerjaan selain menyewakan kamar apartemen.

Beberapa hari berlalu dan saya tahu area tempat saya tinggal cukup banyak orang-orang pendatangnya: remaja-remaja Rumania sering keliaran di stasiun U-bahn Scharnweberstraße; perempuan pemilik kedai pizza murah dari Hungaria dan pemuda-pemuda Turki yang dia pekerjakan; pelajar dari Nepal, Korea Selatan, Cina; orang-orang Eropa Timur (saya bahkan pernah bicara dengan salah satu dari Polandia dan iseng-iseng berkata “Dziękuję” setelahnya); dan lain-lain—bercampur dengan orang-orang asli Jerman, tentu saja.

Termasuk di antaranya muslim; beberapa kali saya melihat orang-orang berjilbab menunggu atau turun di stasiun Scharnweberstraße.

Dalam waktud dua minggu, saya berkenalan dengan beberapa orang, dan saya bicara banyak dengan mereka: saya bertanya beberapa hal tentang Jerman, misalnya, dan mereka bertanya balik tentang Indonesia. Beberapa di antaranya orang-orang Jerman asli, dan sering saya tanyakan bagaimana pendapat mereka seputar para pendatang—termasuk dan terutama pengungsi Suriah—di Jerman. F., misalnya, yang mengajak saya jalan-jalan sore di Tiergarten—kami janjian bertemu di lobi Hotel Adalon yang terkenal itu, tapi saya tidak boleh masuk sebab jaket saya terlalu “fungsional” menurut penjaganya, tidak sesuai dengan “kode pakaian” hotel tersebut—menurutnya pendatang di Jerman sekarang ini ada dua jenis: (1) yang betul-betul datang atas kemauan sendiri dan (2) yang datang karena tuntutan situasi, seperti pengungsi itu misalnya. Persoalannya, menurut F., Jerman tidak betul-betul siap dengan para pendatang itu; mungkin okelah dengan pendatang jenis pertama yang tidak mendadak, urgen, dan banyak dalam waktu bersamaan (lebih-lebih, menurut F., ada juga orang Jerman yang bekerja di negara Uni Eropa lain, jadi ibarat pertukaran pekerja, begitu). Sekalipun tidak sebanyak Perancis, dulu Jerman juga menerima “orang-orang kapal” dari Vietnam—yang mengungsi dari Perang Vietnam—dan ketika itu pemerintah lebih siap, banyak lapangan pekerjaan yang bisa ditawarkan, tapi sekarang, memasok pekerjaan untuk orang sendiri saja kewalahan. Meski demikian, F., tidak betul-betul menolak pengungsi, dia cuma berharap pemerintah lebih siap menghadapi urusan pendatang ini.

P., orang lain yang saya ajak bicara pada kesempatan lain, punya pendapat yang sedikit berbeda. Dengan ssantainya dia jawab pertannyaan saya, “Media itu berlebih-lebihan, semua pemberitaan itu berlebih-lebihan. Coba kamu lihat di Berlin ini? Banyak pengungsi? Masih lebih banyak orang Jerman aslinya.” P. menitik beratkan kalau jumlah pengungsi Suriah yang datang tidak signifikan, tidak sebanyak dan semembludak apa yang ada di pemberitaan (sebegitu banyaknya sampai-sampai akan mengancam banyak peluang kerja orang lain). Pengungsi itu sudah disebar ke banyak negara, dan yang datang ke Jerman pun disebar-sebar ke kota lain, bukan di satu titik saja, jadi kebaradaan mereka tidak betul-betul membuncah seperti yang diberitakan. Atau kurang lebih begitulah.

P. tidak betul-betul kuatir dengan urusan pendatang dan pengungsi ini.

Lantas saya tanyakan juga bagaimana kondisi orang-orang miskin, terutama mereka yang tidak punya rumah dan pekerjaan dan harus ditanggung oleh negara. P., masih dengan santainya, kira-kira menjawab, “Ada pendatang atau tidak, orang miskin dan pengangguran tetap bakal ada.” P. bahkan berkata mustahil ada negara yang betul-betul bebas dari kemiskinan—dan kemiskinan ini relatif, mengingat tuntutan hidup di tiap-tiap negara berbeda—yang bisa negara lakukan cuma memberi penanganan terbaik; dan P. percaya Jerman sudah memberikan penangan yang cukup baik dan adil untuk orang-orang miskin mereka.

Seorang kenalan lain, R., berkata kalau pendatang, terutama pendatang dari negara miskin dan pengungsi, itu risiko dari negara makmur. R. merasa beruntung lahir, tumbuh besar, dan hidup di negara makmur seperti Jerman, dan dia bisa paham kenapa banyak orang-orang dari negara-negara miskin kepengin datang dan merasakan kemakmuran yang sama. Manusiawi, katanya. R. mengaku akan melakukan hal yang sama juga kalau dia dilahirkan di negara miskin. Tapi R. juga sepakat dengan F., kalau pemerintah tidak siap dengan serbuan pendatang ini, terutama pengungsi.

Tapi baik F., P., maupun R., datang dari kelas menengah Berlin. Mereka punya pekerjaan yang mantap dan cukup mapan. Mereka cuma perlu menabung tiga-empat bulan untuk bisa pergi ke negara tropis pada musim dingin, misalnya; F. bahkan berencana untuk menyerahkan perusahaan mobile gaming kecil-kecilan yang dia dirikan pada koleganya, dan bertualang mengelilingi dunia, mulai dari Ekuador. Singkat cerita, mereka tidak perlu merasakan jerih-payah hijrah ke negeri lain, beradaptasi, dan berharap bisa mendapatkan kemakmuran di negeri baru, seperti yang barangkali dilakukan Señora S.

Seorang perempuan dari Pantai Gading, katakanlah K., yang sempat saya ajak bicara di bangku Berlin Eichborndamm, dengan emosional menjelaskan betapa masih ada orang-orang pinggiran Berlin yang tidak menyukai pendatang; beliau juga berkali-kali menyarankan saya untuk berhati-hati, tidak keluyuran malam hari, sebab belakangan mulai muncul aksi kekerasan dari geng anti-pendatang. Targetnya: semua yang tidak kelihatan Jerman. Dengan menggebu-gebu dia juga berkata, kalau di Pantai Gading banyak juga orang kulit putih yang membuka usaha, yang saya sambut dengan, “Di Bali juga banyak orang kulit putih yang membuka usaha,” dan dia tambah emosional dan protes, “Betul ‘kan? Bagaimana misalnya kalau orang-orang kulit putih itu diusir keluar? Diperlakukan tidak layak?” Melihat betapa menggebu-gebunya K., saya setuju-setuju saja, sekalipun menurut saya ekspatriat kulit puith yang bekerja atau membuka usaha di negara miskin Afrika, misalnya, bukanlah perbandingan yang imbang dengan pendatang dari Afrika di Jerman.

Dalam skala kecil, kondisi ini mirip dengan Pula Jawa, khususnya Jakarta, di mana akibat pembangunan yang timpang dan tak merata, orang-orang dari penjuru lain Indonesia datang dan berharap mendapat kemakmuran. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Ada yang tetap hidup terlunta-lunta di tempat tinggal baru mereka, dan boleh jadi tidak lebih baik sampai sekian generasi. Demikian halnya juga di Jerman.

Sewaktu saya dan F. meninggalkan Tiergarten dan hendak berjalan menuju stasiun U-bahn terdekat, saya sempat dihadang oleh seorang laki-laki di jembatan, dia menawarkan saya untuk ikut dengan permainan dadu mereka, semacam taruhan, kalau saya menang saya dapat €50 dan kalau kalah sebaliknya. F. langsung menarik saya dan berkata tidak pada laki-laki itu. Mereka pendatang dari Rumania katanya, dan saya sudah pasti bakal dicurangi, penonton-penonton yang lain, yang bersorak-sorak, semuanya bekerja sama untuk mencurangi, dan kamu akan tertipu habis. F. juga mengingatkan saya untuk hati-hati kalau menunggu U-bahn di Scharnweberstraße, karena stasiun itu sepi dan di tempat-tempat sepi begitu saya bisa dirampok oleh pendatang-pendatang macam itu.

Jadilah saya mendapat dua nasihat untuk waspada, baik pada pendatang yang akan merampok saya maupun pada orang asli Jerman yang tidak suka pendatang.

Sebetulnya saya ingin sekali juga mendengar pengalaman Señora S. sebagai pendatang, tapi apa boleh buat.