Sepotong Indonesia di Perbukuan Prancis

PAMERAN buku ke-31 di Creil bukanlah perhelatan besar jika dibandingkan dengan Salon du Livre de Paris. Akan tetapi menjadi penting karena nasib perbukuan Indonesia di Prancis bisa diintip lewat peristiwa yang berlangsung di kota kecil yang dingin dan sunyi itu.

Jangan pernah membayangkan Salon du Livre de Creil seperti Frankfurt Book Fair atau Salon du Livre de Paris yang diselenggarakan di berbagai gedung besar. Acara yang kali ini mengusung tema “La Gourmandise” atau “Selera Kuliner” itu hanya diselenggarakan di salah satu ruangan seukuran kurang lebih enam lapangan tenis dan melibatkan 100 penulis. Meskipun demikian keliru jika pameran yang berlangsung 17-19 November ini dianggap sebagai kegiatan kecil-kecilan. Tak kurang dari Guillaume Gomez, chef des cuisines du Palais de l’Elysee, turut memamerkan buku yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bertajuk Pelajaran Memasak, Langkah demi Langkah. Juga Berbard Cazeneuve (mantan menteri Dalam Negeri Prancis) yang menulis Chaque Jour Compte dan salah satu penulis kenamaan Prancis, Michele Barriere yang menulis Ala table du Sultan (Di Meja Makan Sultan).

Yang juga tidak bisa diabaikan, pameran yang bisa dihadiri hingga 15.000 pengunjung ini memunculkan karya-karya sastra pemeroleh penghargaan. Ketika hendak memasuki area ekshibisi, para pengunjung sudah diadang buku-buku bersampul elok. Buku-buku itu antara lain  L’art de perde (pemenang Penghargaan Sastra Le Monde 2017 karya Alice Zeniter), L’orde du jour (pemenang Penghargaan Goncourt 2017), La serpe (pemenang Penghargaan Femina 2017 karya Philippe Janada), Mecaniques du chaos (pemenang Penghargaan De Lacademie Francaise), Tension Extreme (pemenang Penghargaan Du Quai Des Orfevres 2018 karya Sylvain Vorge), Underground Railroad (pemenang Penghargaan Pulitzer karya Colson Whitehead).

Saya beruntung mendapat undangan dari Erlina Doho, perupa Indonesia yang tinggal di Prancis, untuk mengunjungi pameran ini. Dari Berlin saya pun naik kereta ke Paris. Saya begitu berhasrat menyaksikan pameran itu antara lain karena ada iming-iming menatap buku penulis Indonesia bersanding dengan buku-buku pengarang Prancis dan dari penulis berbagai belahan dunia.

Bagaimana karya kreator Indonesia di kegiatan yang dipimpin oleh Sylviane Leonetti (direktris) bersama Bruno Mariuzzo (presiden) ini? Meja Indonesia tidak ada. Yang ada meja Erlino Doho. Erlina adalah pelukis kelahiran Bali 1975. Ia, kali ini mememerkan buku Saisons d’Issa.  Buku ini merupakan sehimpun puisi klasik Jepang (haiku) yang direspons oleh Erlina dengan lukisan-lukisan yang impresif dan liris. Ini bukan buku biasa karena Saisons d’Issa terpilih sebagai finalis buku puisi terbaik khusus anak-anak versi Salon du Livre de Paris 2017-2018. Bukan tidak mungkin tahun depan ketika diumumkan buku ini menjadi pemenang.

                                                                                                                                 ***

ERLINA tidak begitu saja memasuki rimba perbukuan Prancis. Ia memulai dari coret-coret semasa kecil, berkembang dengan didikan “seni majemuk” dari orang tua, dan antara lain memenangi medali seni lukis dunia di Jepang. Pada 1988 dia juga memperoleh pengharggaan dari UNESCO. Setelah itu dia menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta dan Academy of Fine Art, Beijing, Tiongkok.

Erlina tidak langsung ke Prancis. Sebelum pada 2007 mulai membuat ilustrasi untuk Iroli (penerbit buku-buku haiku di Prancis), dia bergabung dengan Sun Focus Foundation di Hong Kong. Sejak 2011 berkat buku Voliere  Viede, dia selalu diundang di Salon du Livre de Paris. “Seorang ibu pernah mengatakan kepada saya, ‘Anda satu-satunya kreator Indonesia yang mengikuti Salon du Livre de Paris. Bagaimana dengan buku-buku Indonesia yang lain?’ Tentu saja saya bahagia campur masygul. Mengapa hanya saya?” kata Erlina Doho.

Karena itulah, Erlina yang sangat mengagumi kisah dan seni rupa yang bertolak dari wayang berharap pada tahun-tahun mendatang Indonesia akan berbunyi di pameran-pameran buku yang diselenggarakan di Prancis. “Dari hati yang paling dalam, saya merindukan suatu saat buku-buku Indonesia juga dikenal di Prancis.”

                                                                                                                                     ***

KEGELISAHAN Erlina agaknya akan segera berakhir. Sita S Phulpin, Ketua Pasar Malam, asosiasi yang antara lain menerbitkan karya-karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Prancis, menyambut ajakan Erlina.

“Kami akan lebih banyak menerbitkan karya-karya sastra Indonesia dan tentu berusaha keras mengikutkan buku-buku itu dalam aneka pameran di Prancis,” ujar Sita S Phulpin.

Pasar Malam, sekadar contoh, telah menerbitkan buku Semar Mencari Raga  (Sindhunata) menjadi La Quete de SemarPengakuan Pariyem (Linus Suryadi AG) sebagai Confidence de Pariyem, dan Ziarah (Iwan Simatupang) jadi Recueillement.

Bukan hanya itu. Kumpulan cerpen Djenar juga diterbitkan dalam A Travers les glaces dan Nh Dini dalam Impertinentes. Adapun naskah drama Seno Gumira Adjidarma (Mengapa Kuaculik Anakku?) terbit sebagai Notre fils pourquoi l’avez-vouz fait disparaitre?.

Pasar Malam juga telah menerbitkan Retour (Pulang, Leila S Chudori), Florilege (bunga rampai 120 puisi, terutama soneta Indonesia karya M Yamin hingga Sapardi Djoko Damono), Les Mots cette Souffrance (kumpulan puisi Saut Situmorang).

Malah beberapa karya lain semacam Fragment de vie (Fragmen Kehidupan, biografi pemohon suaka politik terkait dengan peristiwa 1965) dan Douze contes et legende d’Indonesie (dua belas legenda dan dongeng dari Indonesia telah diterbitkan.

“Pada pameran mendatang, kami tak keberatan mengundang para pengarang Indonesia. Asal sesuai tema, mengapa tidak?” kata Sylviane Leonetti.

                                                                                                                                      ***

PASAR Malam yang didirikan oleh Johanna Lederer (penulis Les mots  et les mets, douze recettes de cuisine Indonesience) dan juga bergerak dalam penyelenggaraan aneka dikusi sastra, film, aneka reportase situasi terkini Indonesia dipandang bakal bisa jadi jembatan Indonesia-Prancis karena pada tahun-tahun mendatang akan lebih memperbanyak menerjemahkan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Prancis. “Saat ini para penerjemah kami masih terdiri atas sukarelawan-sukarelawan yang sangat cinta pada karya sastra Indonesia. Ke depan tentu harus dicari para penerjemah profesional,” jelas Sita.

Apakah ada yang membeli terbitan Pasar Malam? “Kenapa tidak? Anggota kami 80 persen orang Prancis yang menyukai Indonesia. Mereka bisa jadi pasar utama.”

Sebenarnya publik Prancis tak langsung dihadapkan dengan buku-buku sastra. Pasar Malam jauh sebelumnya telah menerbitkan Le Banyang, majalah berbahasa Prancis tentang situasi terkini Indonesia.

“Dulu kami buat sangat serius dengan akurasi ilmiah yang tinggi sehingga universitas-universitas di luar Prancis (antara lain Belanda) memesan terbitan kami. Kini Le Banyang kami buat lebih ringan namun berisi. Ini agar kami  bisa merengkuh pasar yang lebih luas.”

Ya, sepotong Indonesia memang sedang menggoreskan warna indah di perbukuan Prancis yang sangat luas.

                                                                                                                                                            ***

APA hubungan saya dengan Pasar Malam? Tentu saja ada. Saya dan Sita sedang menjajaki kemungkinan penerjemahan Surga Sungsang (salah satu buku cerita saya). “Saya juga tertarik pada Metamorkafka,” kata Sita.

“Kan baru saya tulis,” kata saya.

Tak ingin terlalu terteror, saya memang kemudian mengirimkan buku Surga Sungsang kepada Sita. Saya tak berharap banyak. Saya lebih bahagia jika kian banyak buku para pengarang Indonesia kian dibaca di Prancis. (Triyanto Triwikromo)