SERUNYA HARI PERTAMA DI NORWICH!

To be or not to be? That’s the question. Kalimat Shakespeare ini benar-benar seperti yang saya alami sebelum berangkat ‘menunaikan tugas’ residensi penulis di Inggris. Adaaaaa saja hal yang terjadi sebelum keberangkatan saya ke negeri Grandma Elizabeth ini. Dari mulai Poundsterling yang begitu melonjak tajam nilainya (salah saya juga sih kenapa tidak menukarkan poundsterling jauh-jauh hari), berbagai berita tak mengenakkan tentang kejadian ledakan di London hingga isu Gunung Agung yang akan meletus tepat di malam sebelum keberangkatan saya! Fiuuuuhhh!!!  

 

Tapi akhirnya berangkatlah juga saya ke Inggris. Bersama mbak Avianti Armand yang cantik dan baik hati, saya pun terbang dengan Turkish Airline menuju London. So, let’s the journey begin!

 

27 – 28 September 2017

Setelah menempuh perjalanan selama 11 jam, kami berdua harus transit dulu di Istanbul. Cukup lama kami menunggu informasi di gate mana kami harus menuju untuk penerbangan berikutnya menuju ke London yang kami tempuh selama 4 jam penerbangan.

Begitu tiba di bandara Heathrow di London, mas Nuril Basri sudah menunggu kami di gerbang kedatangan. Bahagia sekali rasanya bisa berjumpa dengan teman seperjuangan di negeri penuh misteri ini. Hehehehe.

Mas Nuril sudah begitu baik membelikan kami kartu Oyster untuk memudahkan kami berkeliaran di London menggunakan tube. Kami menggunakan kartu Oyster seharga 20 GBP yang bisa kami top-up nantinya.  

Kami menginap di Abercorn House Hostel atas saran dari mas Nuril yang pernah menginap di sana yang sudah kami pesan sejak di Indonesia. Hostel ini recommended. Letaknya cukup strategis di Hammersmith & Fulham yang berjarak sekitar 31 menit menggunakan tube dari Heathrow dan hanya 3 menit berjalan kaki dari stasiun tube di Hammersmith & Fulhman ini. 

 

29 September 2017

Semalam di London, esok harinya kami bertiga harus berangkat ke Norwich. Perjalanan dari Liverpool Street Train Station di London menuju Norwich ditempuh dalam waktu 2 jam menggunakan kereta api. Kota kecil dengan julukan ‘The City of Literature’ ini akan menjadi ‘rumah’ kami selama 8 hari ke depan. Norwich Writers’ Centre benar-benar menjadi tuan rumah yang sangat baik untuk kami bertiga. Juga British Council Jakarta yang sudah menyediakan akomodasi keren dan sangat nyaman untuk kami bertiga di jalan Colgate. Rumah kami punya nama lho. Balderston House. Dibangun pada abad ke-18. Wow! Pssstttt ….. 3 hari menjelang kepulangan kami ke London, kami baru menyadari bahwa ada 3 batu nisan berjejer rapi di sudut halaman rumah kami! Kenyataannya, memang banyak batu nisan bertebaran di Norwich karena wabah pes pernah menewaskan sekitar 6 ribu penduduk kota pada abad ke-14 lalu.

 

Jadwal padat pun menanti. Bukan jadwal padat sembarang jadwal, tapi penuh dengan segala ilmu dan inspirasi baru untuk kami bertiga yang disesuaikan dengan genre buku kami masing-masing.

 

30 September 2017

Hari pertama di Norwich, saya dan mas Nuril terjadwal mengikuti ‘Children’s Literature Day School’ di Norwich School. Lokasi workshop yang kami ikuti berada tepat di halaman Norwich Cathedral yang berdentang setiap jam-nya. Sungguh suasana yang mensyahdukan sekali!

Sesi pertama workshop dengan tema ‘Writing Young Adult Prose’ with Tanya Landman, seorang penulis buku anak dan young adult sekaligus peraih Carnegie Medal dan Spur Award for Best Juvenile Fiction.

 

Beberapa nasihat dari Tanya Landman:

  • Tulislah cerita / buku yang benar-benar ingin kamu tulis, menulislah dengan hati dan tulislah cerita / buku yang kamu benar-benar memiliki pemahaman kuat mengenainya. 
  • Untuk semua sekolah, sebaiknya memberikan waktu luang selama 20 menit bagi para murid untuk membaca. Diperlukan guru yang kuat untuk mempertahankan kebiasaan membaca di antara para murid. Bila memungkinkan, bentuklah klub membaca.

 

Sesi kedua workshop lebih sesuai untuk buku-buku saya, yaitu ‘Children’s Illustration with Eva Sanchez Gomez’. Menurut Eva, bagian penting dari sebuah buku adalah teks dan gambar (ilustrasi). Sebuah buku bisa membuat perubahan dan bahkan bisa merubah si pembaca itu sendiri hingga masyarakat luas karena sebuah buku mampu memberikan suatu perspektif yang berbeda. Eva juga menceritakan bagaimana cara kerja seorang illustrator, dari mulai menerima naskah dari penulis, membayangkan bagaimana teks dalam naskah tersebut dalam bentuk gambar-gambar, berusaha ‘menerjemahkan’ tekst tersebut dalam bentuk gambar sesuai imajinasi sang illustrator, riset mengenai karakter dalam cerita tersebut, membuat detail dalam suatu rangkaian cerita hingga memastikan ada tempat untuk meletakkan teks pada gambar ilustrasi. Fiuuuhh! Benar-benar suatu pekerjaan yang membutuhkan proses panjang! Saya jadi makin menghargai betapa beratnya tugas seorang illustrator buku.

 

Di akhir acara workshop, dua Young Ambassadors of Norwich mewawancarai saya dan mas Nuril. Lucas Nieboer dan Sophie Brown mengajukan pertanyaan-pertanyaan cerdas mengenai buku-buku kami, kegiatan kami di Indonesia hingga rencana kami ke depannya. Hasil wawancara tersebut bisa dibaca di tautan berikut ini:

 

http://www.writerscentrenorwich.org.uk/article/nuril-basri-and-debby-lukito/

 

~ Debby Lukito  Goeyardi ~