SURGA DI KOLONA, 30.9

Ia tidak menyukai kerumitan. Seperti kebanyakan penghuni sorga. Tapi ia juga tidak terlalu ambil peduli pada sorga yang dipercaya ada oleh para penganut monoteisme Ibrahimik. Ia telah memilih sorga sendiri sebagai “situasi batin”, bukan yang datang “dari atas bumi” atau “setelah mati”. Sorga yang Nietzschean, kata para penggandrung filsafat. Baginya sorga adalah keadaan jiwa yang bahagia, apalagi jika itu bisa dinikmati di hari tua dengan cara sederhana. Ia telah memilih sorganya sendiri di sebuah kolona di kawasan Sídliště Bohnice, Praha 8.

Ia dilahirkan di Madiun, Jawa Timur—setahun dengan kelahiran Benyamin S. dan kemeletusan Perang Dunia Kedua. Keluarganya adalah penganut Islam, tapi juga mengamalkan Kejawen, dan ketika SMA ia belajar di sekolah Katolik. Saat masih sekolah ia pernah aktif di kepanduan, palang merah dan yang terpenting, Pemuda Rakyat, sebuah organisasi pemuda revolusioner yang sebelumnya bernama Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo).

Di Jakarta, setamat SMA, ia sempat kuliah di Universitas Nasional, tapi kemudian ia mengajukan lamaran beasiswa untuk belajar di luar negeri dan  memilih Cekoslowakia. Ketika baru tahun kedua kuliah sebuah kudeta berdarah terjadi di Jakarta. Enam jenderal dan seorang kolonel dibunuh dan dibenamkan ke dalam sumur tua di timur Jakarta. Situasi berbalik, orang-orang kiri dan dituduh Komunis yang semula mendapat angin kini menjadi hewan buruan. Presiden karismatik yang telah mengirimnya ke Praha kelak dimakzulkan.

Di negeri rantau macam Cekoslowakia perkembangan terbaru di Indonesia itu agak samar-samar kedengarannya, meski konsekuensinya sangat jelas. Para anggota Mahid (mahasiswa ikatan dinas) di seluruh Cekoslowakia dipanggil ke KBRI Praha untuk menjalani screening. Kepadanya ditanyakan soal keberpihakan, sebuah pilihan politik. Saat itu, yang sempat merisaukan hatinya adalah ia ditanya oleh seorang interogator yang selama ini menjadi kawan baiknya dan biasa memanggilnya “Mas”.

Begini: “Apakah Saudara setuju dengan apa yang dilakukan Orde Baru?”

Ia menjawab agak panjang dan berlapis-lapis, tapi akhirnya, “Saya tidak setuju”.

Sejak itulah paspornya dicabut dan ia hidup tanpa kewarganegaraan. Karena itu, ia tidak bisa keluar dari Cekoslowakia. Kalaupun bisa, ia tidak boleh kembali lagi ke negeri itu.

Namun, atas dukungan pemerintah Cekoslowakia ia  bisa melanjutkan kuliah dan bekerja kemudian. Di Universitas Charles di Praha ia merampungkan empat disiplin ilmu berbeda hingga bergelar Mgr. (magister): Pedagogi untuk Anak, Ilmu Jiwa untuk Anak, Media Massa dan Kultur Politik. Dengan gelar itu ia melakoni banyak pekerjaan, mulai dari dosen, pegawai perpustakaan, jualan besi baja, kuli pos, buruh kasar hingga pegawai restoran Indonesia dan pensiun pada 1999.

Hingga kini di kartu namanya ia menyebut dirinya “Mgr. Soegeng Soejono”—tapi di kalangan diaspora Indonesia di Republik Ceko ia kerap dipanggil “Eyang Yono”.

Ia lelaki tua yang gesit, penuh humor dan gemar memotret. Hidupnya nyaman dalam kebudayaan lisan: mahir bercerita, tidak bisa menulis.

Sebagai eyang ia menikmati status istimewa. Malam itu di restoran Garuda—satu-satunya restoran Indonesia di Praha—ia membiarkan dua gadis muda pegawai restoran itu mencium punggung tangan kanannya, sebagaimana yang dialami kiai dan seniman feodal di negeri yang telah ia tinggalkan. Sebagai eyang ia menjadi tempat curahan hati dan perasaan dan pemberi jalan keluar untuk mereka yang sedang bermasalah. Tidak jarang untuk semua itu ia mesti merogoh kocek sendiri.

“Saya sudah 54 tahun tinggal di Praha, jadi saya tahu semua masalah diaspora Indonesia di sini,” ia berkata saat pertama kali bertemu saya di sebuah festival budaya Indonesia di restoran Vnitroblock, Praha, awal September silam.

Setelah pensiun, ia juga kerap diminta untuk menemani orang-orang Indonesia yang berkunjung ke Praha: mulai dari pejabat dan wakil rakyat yang sekadar menghabiskan APBN, rombongan studi banding (yang berseminar hanya tiga jam dan tiga hari sisanya bertamasya menikmati kota), mahasiswa baru hingga pelancong yang satu-dua hari singgah di Praha. Dengan cara begitulah ia merawat ikatan batinnya dengan orang-orang Indonesia.

Namun, jika ia ingin menikmati sorga di bekas negara sosialis, dengan cara yang murah, sederhana dan tanpa embel-embel agama, ia berkebun. “Karena aku pensiunan, maka aku memilih kesenangan dengan berkebun. Hobi yang menghabiskan hanya sedikit uang,” ia berkata dengan tawa yang tertahan.

Di Bohnice, tidak jauh dari sungai Vltava, kebun-kebun itu dikelompokkan dalam satu kolona yang disebut “Pusat Taman” (Garden Centre). Sebagaimana namanya, kebun-kebun itu memang lebih mirip taman, ketimbang kebun yang selama ini kita kenal di Indonesia. Ukurannya tidak terlalu luas, hanya 20 m X 20 m setiap petak. Ia memiliki dua petak kebun.

“Sejak republik pertama Cekoslowakia berdiri, konsep kebun seperti ini sudah ada,” ia berujar seperti hendak menghapus anggapan bahwa sosialisme juga mengatur kepemilikan kebun dan tanaman di dalamnya.

Pada Jumat sore akhir September lalu ia mengajak saya dan seorang teman dari Kebumen ke sorga kecilnya. Kebunnya terletak agak di tengah kolona. Untuk sampai ke sana kita mesti melewati beberapa petak kebun yang rata-rata dilindungi oleh pagar jaro bercat hijau dan dikunci oleh pemiliknya. “Kalau tidak dikunci,” ia berkata, “suka ada maling. Kalau bukan orang luar, ya tetangga sendiri.”

Lahan kebunnya termasuk yang menonjol, karena ia—dibantu istrinya yang pensiunan guru bahasa Jerman—termasuk orang yang rajin membersihkan kebun, menanam sayuran dan bunga-bunga. Sepanjang musim semi dan musim panas ia bekerja di kebunnya sejak pagi buta hingga tengah hari. Setelah makan siang bersama istrinya di rumah, ia kembali lagi meneruskan sisa pekerjaan dan baru pulang menjelang gelap. Hasilnya, keluarganya tidak perlu membeli sayuran dan bunga untuk keperluan sehari-hari.

Pada musim gugur dan musim dingin seperti sekarang ini sudah tidak ada lagi sayuran yang bisa dipanen. Hanya sisa rumpun bunga matahari, semak blackberry, sehimpun rumpun tomat dan daun bawang, labu parang dan aster dan ciplukan kuning yang tidak bisa dimakan. Juga rumput hijau yang mulai dipenuhi dedaun kuning-kecokelatan—kelak lapisan salju. Lantas ia berdiri di bawah pohon aprikot kesayangannya dan mencontohkan bagaimana cara memotong rumput dengan alat-potong-bukan-mesin. Ia senang melakukan itu, di samping untuk keindahan kebun juga untuk berolah raga.

Setelah bosan ngobrol ngalor-ngidul di kebun, ia memberi saya tantangan: “Kita ke permakaman anjing. Tidak jauh dari sini.”

Kami melintasi tepi terjauh kolona, deretan pepohon rindang yang menghitam oleh petang. Di langit ada bulan, seperti belahan piring pecah. Di depan kami pintu gerbang permakaman umum yang terkunci. Temboknya tinggi dan berdebu. Menikung ke kanan tampaklah sebuah pintu gerbang lebih kecil yang tidak terkunci dan papan bertuliskan “Pietní Park Draháň”. Dengan alasan akan memarkir mobilnya, ia dan teman dari Kebumen itu tidak mengawani saya ke dalam permakaman.

Akhirnya saya sendirian menyusuri rimbun pohon cemara dan pepohonan lainnya dengan makam-makam anjing yang dihias sedemikian rupa. Udara dingin dan gelap petang terus mendesak, tetapi saya tetap saja masuk, mencari entah apa. Ada nama anjing pada marmer, foto, kalung si mendiang, mangkok makan, batang lilin yang hampir habis, bunga yang tampak masih segar.

“Yang berziarah ke sini kadang lebih banyak daripada yang berziarah ke makam manusia,” ia berkata, sebelum saya masuk.

“Di sini bersemayam arwah para anjing,” ia berkata lagi. Tapi, di manakah sorga untuk para anjing? Ia diam.

Di dalam trem, sepulang dari Sídliště Bohnice, saya kembali membayangkan kebun milik lelaki tua pembaca karya-karya Karel Čapek itu. Di hari tuanya ia masih mempertahankan bayangan kebun dari tanah kelahirannya yang jauh. Ia memang hanya memiliki kebun yang sempit saja, tapi itulah sorga yang tidak lagi dijanjikan, tetapi ia bangun sendiri dan ia nikmati sebisanya.

Tanpa terasa, sudah lebih dari satu jam saya di dalam trem dan mesti turun di halte Motol sebagaimana disarankan oleh aplikasi DPP yang saya unduh. Ternyata saya salah memilih halte. Mestinya halte yang menyeberang jalur trem dan berbelok ke kanan, di tepi jembatan layang, bukan halte di tepi jalur trem. Jika benar, akan ada bus 168 yang akan mengantar saya ke Ruzyňská škola, halte terdekat dari tempat saya bermukim selama September 2017. Saya akhirnya kembali ke stasiun Anděl agar mendapat pilihan bus/trem lebih banyak. Sialnya, baru dua halte, trem yang saya tumpangi menabrak sebuah mobil. Penumpang yang hanya tinggal enam orang termasuk saya mesti keluar dan berganti trem. Sudah lewat pukul 11 malam.

“Semoga anda baik-baik saja dan selamat sampai rumah,” ia berpesan lewat aplikasi WA setelah saya kabarkan bahwa saya tersesat. Akhirnya, saya bisa tiba di kontrakan dengan selamat lewat tengah malam.

Ini dini hari 30 September 2017, bukan dini hari 30 September 1965.

Ia terbaring seharian di apartemennya, menanti istri yang baru akan pulang dari luar kota pada Minggu siang. Ia ingat Sabtu ini adalah 30 September. Di Jakarta, lima puluh dua tahun silam, sebuah gerakan politik yang dikenal dengan “Gerakan 30 September” ikut mengubah seluruh hidupnya. Dari mahasiswa yang penuh semangat belajar dan pengabdian di Tanah Air menjadi manusia tanpa kewarganegaraan—meski kemudian ia memilih kewarganegaraan Cekoslowakia dan menikahi perempuan tempatan.

“Ini hari aku terserang pusing kepala, sakit jiwa dan raga,” ia berkata. Ia kemudian tidur untuk meredakan semua sakit itu dan berhasil. Tapi ia tidak bisa melupakan 30 September, 52 tahun silam itu. Ia tidak bisa mengobati luka hatinya akan kematian banyak orang yang dituduh kiri dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Juga mereka yang dipersekusi dan dipenjarakan tanpa pengadilan. Bahkan dibuang ke pulau Buru. Ia tidak bisa. . . .

Sementara nun di Timur, di hari yang sama, orang-orang yang mengenang kematian Husain dengan cara mencambuki tubuh telanjang mereka dengan bilah-bilah pisau hingga berdarah. “Ya Husain,” teriak para penonton.

“Darah itu merah, Jenderal.” Saya teringat kembali kalimat dalam film Pengkhianatan G30S/PKI.

Saya belum bisa tidur hingga malam kelewat larut. Entah kenapa saya bisa mengalami disorientasi sedemikian rupa. “Tidur adalah surga,” ia menyambung kalimatnya. Apakah sorga berarti melupakan—bukan memaafkan? Saya tak ingin ia menjawabnya.

Lalu saya teringat pada seorang perempuan paruh baya setengah mabuk di dalam trem yang membuat saya tersesat hingga ke Motol. Sembari senyam-senyum ia menjawil pundak saya dan keluarlah bahasa Inggrisnya yang terbata-bata, “I am a mother. One hour time.”

Saya kembali membayangkan surga.