Tabung Bawah Tanah

Yang menarik dari jalan kaki di kota London adalah saya tidak takut ketabrak sepeda motor. Kemunculan si roda dua yang amat trendy di Indonesia itu di kota ini seperti komet, melesat kemudian tidak terlihat lagi. Saya tidak tahu kenapa orang sini tidak suka naik sepeda motor. Tapi mereka juga sepertinya tidak kenal angkot, apalagi metromini. Adapun bus yang beroperasi si double-decker yang warnanya merah, ikon kota London.

Tapi sepertinya orang-orang sini sukanya naik tube, kereta cepat yang adanya di bawah tanah.

Saya juga pernah bertanya pada seseorang, kenapa sih kereta ini malah dibuat di bawah tanah begini? Kalau sedang jam padat rasanya sangat sesak, kayak gerombolan kelinci yang brutal keluar masuk liang di persembunyian.Apalagi kalau harus sedang bawa koper berat, rasanya repot sekali. Jawaban yang saya dapat waktu itu adalah: “karena lahan mahal. Dan kalau tube dibuat di atas, bisa-bisa jalanan jadi sempit.” Saya langsung kepikiran Jakarta.

Tapi sebenarnya saya juga lebih suka menggunakan tube karena rutenya lebih mudah dipahami dan ternyata banyak kejadian menarik di dalamnya. Harga tiket untuk sekali jalannya GBP 2,4. Sekitar IDR 43,200 (kurs IDR 18.000). Lumayan mahal juga. Kalau saya sedang berada di pusat kota London terus, saya beli tiket terusan seharga GBP 33 untuk tujuh hari, bisa dipakai sepuasnya, namun untuk zone 1 dan 2 saja.

Di stasiun-stasiun tertentu, dimana ada sudut-sudut yang luas, biasanya ada seorang musisi jalanan yang beraksi. Tidak ada tamborin atau kecrekan terbuat dari tutup botol, mereka bawa sound system dengan suara yang megah, dan tak jarang mereka memainkan saxopon atau cello. Dan karena akustik lorong yang bagus, musik-musik itu terdengarnya sangat menyenangkan. Kadang kalau saya sedang gundah gulana, sebelum keluar dari stasiun, atau berganti kereta, saya suka sengaja berdiri di dekat mereka dulu, berlagak memainkan HP untuk cari jalan padahal ikut menikmati musik mereka. Biasanya setelah itu saya jadi merasa tidak cemas lagi.

Di dalam tube saya juga sering melihat kejadian yang menghangatkan hati saya. Misalnya, tiga anak muda yang bercanda dan tidak enggan untuk berangkulan, atau menunjukkan keromantismean, dan tak ada orang yang mendengus sinis atau sekadar mengangkat alis. Di tube itu rasanya semua hal ditoleransi.

Kemudian malam itu saya bertamu ke rumah salah seorang kenalan saya yang baru. Sambil makan malam dia bertanya-tanya keadaan saya dan bagaimana pengalaman saya di London.

“Seru sekali. Sepertinya saya suka tinggal di London,” jawab saya selembut mungkin, menutupi api saya.

“Oh, bagus sekali kamu menyukainya. Bagian mananya yang kamu suka?”

“Saya suka sekali tube.”

Kemudian dia meminta saya untuk menjelaskan alasan saya.

Saya mengatakan padanya. Di tube semuanya kelihatan orang-orang yang terpelajar. Terlepas dari pakaian mereka yang bagus-bagus dan sangat bergaya, kalau bicara atau bergosip dengan teman atau rekannya, mereka pakai bahasa dan logat Inggris yang berkelas sekali dan pembicaraannya menurut saya sangat sensible dan articulate. Belum lagi budaya membacanya. Banyak sekali orang di sini yang membaca buku selama perjalanan mereka di tube. Kelihatannya bukan karena sok-sokakan, tapi di sini memang semuanya membaca. Dan tahu tidak? Saya pernah duduk bersampingan dengan seorang bapak tua yang sibuk menulis puisi di buku catatannya. Dan berhadapan dengan seorang gadis yang menggambar dengan santai. Belum lagi kalau pukul sembilan atau lima sore, jam-jam orang berangkat dan pulang dari kantor. Tube penuh berdesakkan dengan orang-orang kantoran yang perlente dan wangi. Kalau kebetulan sedang berada di tengah situasi seperti itu kadang juga saya merasa sangat bersemangat, wah senang sekali terjebak bersama dengan banyak orang keren. Saya kira London dipenuhi orang-orang yang asik dan pintar.

Saya menyanjung apa yang saya lihat dan rasakan dengan telaten. Teman bicara saya hanya mengangguk-angguk dan berkata “oh I see… I see…” sambil tersenyum.

Namun ketika saya selesai bercerita dia lalu berkata.

“Nuril, kamu pernah naik tube di akhir minggu pada dini hari?”

“Oh iya pernah dong, saya pernah naik tube pukul tiga dini hari, saya habis melakukan riset sama teman saya yang dari Italia,” kata saya.

Saya mengerti maksudnya, pada akhir minggu dini hari, tube diisi oleh orang-orang yang berbeda sama sekali. Biasanya dipenuhi oleh orang yang pulang atau berangkat untuk berpesta. Atau pergi ke pusat kota untuk minum di bar. Banyak orang mabok dan ada yang muntah. Tapi saya tidak masalah dengan itu, bagi saya itu masih satu bagian yang sangat menyenangkan untuk dinikmati. Melihat orang-orang tertawa-tawa berisik dan dengan pakaian yang istimewanya untuk menghabiskan hujung minggu. Mereka menikmati hidup ini, dan itu memberikan energi positif buat saya.

“Nuril, saya mengerti. Tapi London tidak sepenuhnya seperti itu. Tidak semuanya dari mereka berpendidikan, atau beruang, atau menyenangkan… jelas saja, kamu kan naik tube pukul sembilan pagi dan paling lambat jam enam sore… coba kalau kamu naik yang pukul enam pagi. Atau pukul sebelas malam… itu jam-jam kelas pekerja pergi dan pulang. Dan kamu sendiri tahu dong, kalau tube itu mahal, bahkan buat kami. Jadi hanya orang tertentu saja yang pilih transportasi itu… dan kamu kan selalu tinggal di zone 1 di bagian barat, yang jelas-jelas adalah pusat orang berada. Kamu tahu kalau London itu terbagi sembilan zona. Dan kalau kamu pergi ke zona tiga, itu sudah berbeda sama sekali.”

Saya langsung diam.

Sebenarnya saya sudah mengerti akan hal itu. Masalahnya adalah saya adalah orang yang harus diingatkan, ditonjok beberapa kali dulu agar pemahaman itu kembali pada saya. Perlu makan buah mengkudu dulu tiga kali supaya ingat, “oh iya rasanya pahit”. Begitupula dengan pemahaman saya terhadap suatu tempat atau kondisi (atau konsep atau teori). Saya kan seharusnya sudah tahu, kalau suatu hal, ya, harusnya dilihat dari banyak sudut. Bukan dari sudut yang membuat saya senang atau nyaman saja.

Meski ingin membuktikan pendapat salah saya terhadap tube London, tetapi saya enggan untuk bangun jam lima pagi. Saya sudah mengakui, tanpa bukti empirispun, saya kurang benar.

Pada satu malam itu saya berjalan-jalan lagi untuk menonton orang di sekitar jalan Oxford Circus. Saya suka menonton orang. Banyak turis, dan pusat perbelanjaan berkelas. Pukul sembilan malam saya memutuskan untuk masuk ke dalam departmen store John Lewis untuk melihat-lihat diskon. Di pintu masuk saya berpapasan dengan seorang wanita kulit hitam yang memakai jaketnya menutupi seragam mall. Dia mengempit tas besar yang kelihatan tidak mahal. Rambut besarnya dikucir agak sedikit acak-acakan. Dia kemudian menyapa teman kerjanya si penjaga pintu. Dia menyapa dengan bahasa Inggris, masih dengan aksen british, tapi tidak begitu berkelas.

“Eh, pulang dulu ya!”

kemudian dibalas: “eh, shift kamu udah selesai?”

“Udah nih, tadi masuk siang… bye-bye darling…” dia mengatakannya dengan lantang dan ceria khas sesuatu yang akrab di telinga saya.

Kemudian dia pergi ke halte terdekat dan naik bus, yang harganya jauh lebih murah dari tube.

Saya ingin mengikuti dia, tapi itu kan tidak penting. Yang penting adalah, oh, saya lupa, ternyata di sini juga ada kelas pekerja yang kerja menggunakan shift. Saya juga dulu pernah bekerja di mall, dan saya tahu rasanya. Dan saya, yang dulu menganggap London adalah hal yang sama sekali berbeda, merasa menjadi terkoneksi di level yang saya tidak bisa jelaskan.

Kemudian dengan perasan sendu, saya pulang untuk meneruskan novel saya yang isi ceritanya adalah hal yang sangat ringan dan menyenangkan yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan apa yang saya rasakan kala itu. Saya kira memang selalu seperti itu, bukan? Segala sesuatu tidak perlu ada korelasinya. Tidak perlu diungkapkan. Tapi cukup untuk bisa dirasakan.

Sekarang saya tinggal di London di zone 3, dan di sini kalau malam tibammasih ada rubah-rubah yang mengunjungi rumah penduduk.

 

Nuril Basri