Tersesat Membawa Nikmat

Gelas yang menguarkan aroma kopi giling tanah Priangan saya letakkan di atas meja bundar di satu sudut halaman belakang. Kursi kayu masih lembab. Matahari sebenarnya sudah sepantar pohon pinang yang biasa dipakai perayaan kemerdekaan, tapi hangatnya belum sampai. Dia datang dari arah sedikit menyerong. Karena itu, dia harus lebih dulu ke genteng tetangga, melampaui daun cemara serta ranting-ranting apel, barulah bisa menyentuh tempat saya duduk.

“Pagi, Mbak Ully. Bonjour, Alan.”

“Hai. Pagi...” Suami-istri itu menengok.

Pasangan pemilik kamar kos saya itu hampir selesai membersihkan tanaman yang berbatasan dengan pagar tetangga. Pohon pembatas yang baru dibabat itu dipisahkan antara batang dan daun-daunnya. Batang-batang seukuran lengan dipotong menjadi beberapa bagian dan disisihkan dalam wadah plastik. Daun dan ranting ditumpuk di ujung halaman.

Saya beruntung bersama mereka. Sewa kamarnya relatif murah untuk standar biaya hidup kota yang dikatakan Walter Benjamin sebagai “the capital of the nineteenth century’. Rumah berdinding putih itu terletak di commune Villejuif, bagian selatan Paris, berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat kota.

Saya menempati kamar dengan meja tulis berada di bawah jendela menghadap langit. Sebuah jendela lagi berada di samping tempat tidur. Jendela persegi empat itu pas benar membingkai rumpun mawar halaman tetangga atau bulan separuh bayang. Dan yang paling saya suka, rumah itu dikelilingi para penulis: Rue Alexandre Dumas, Rue Tolstoi, Rue Jules Verne.

Satu sudut di halaman belakang itu bagian keseharian saya. Tentu saja kalau basah atau dingin tidak menembus jaket dan kaos kaki. Di tempat itu saya minum kopi, merokok, menelepon keluarga, membaca, melamun, mengisi notes. Terkadang Ully mengirim sapa ketika menjemur pakaian atau mengambil sesuatu di gudang belakang. Tidak jarang aktivis perempuan itu menemani saya. Kami ngobrol banyak hal—mulai tempat belanja murah, ramalan cuaca, menu makan siang, sampai ke gosip politik dan sejenisnya—sambil mengunyah buah figue hasil petikan dari pohon yang tumbuh tidak jauh dari tempat kami duduk.

“Mau ke mana hari ini?”

“Hmm...”

Saya belum bisa menjawab pertanyaannya karena memang pagi itu saya belum membuat rencana. Ully kelihatannya menandai kebiasaan saya. Kalau tubuh tropis saya masih sanggup menerima udara menjelang musim gugur, maka saya akan keluar rumah. Kadang dengan satu atau dua tujuan, selebihnya keluyuran di jalan-jalan atau taman-taman.

Kebiasaan yang sebelumnya tidak terbayangkan.

Bermula waktu seorang kawan—yang saya harap mengajari saya mengenal Paris—ternyata harus pergi ke negara lain. Saya menyiapkan sejumlah hal yang akan saya “pelajari” darinya. Juga daftar panjang tempat-tempat yang akan kunjungi sebelum saya mulai menulis. Kunjungan ke rumah Gertrude Stein, apartemen Simone de Beauvoir, pekuburan, kafe, toko buku, taman atau jalan yang menjadi seting cerita, dan seterusnya, dan seterusnya.

Itu satu sebab. Kemudian ditambah sebab lain. Pengurusan mendapatkan kartu telepon lokal ternyata memakan waktu lebih lama dari dugaan saya. Jadi, selama dua minggu saya tidak menggunakan internet.

Semua yang direncanakan atau yang tercatat untuk minggu awal itu sangat mungkin diubah. Hanya saya telanjur malas berpikir masalah-masalah teknis lagi. Saya toh sudah punya kartu-transportasi-serba-bisa (Navigo Pass) dan teman itu berbaik hati menemani nyaris seharian sebelum dia berangkat. Saya sudah (merasa) bisa satu hal, menggunakan transportasi lokal. Jadi, di hari kedua itu saya siap berpamitan.

“Yakin mau berangkat sendiri?” Tanya Mbak Ully untuk kedua kali.

Saya mengangguk tegas.

“Apa mau ditemani?”

“Tidak usah, Mbak. Saya sudah screenshot petanya. Biar ga susah saya hanya mau ke dua atau tiga tempat yang dekat.”

“Oh. Oke.”

“Nanti di stasiun ada peta RATP kan ya, Mbak?”

“Harusnya ada. Coba nanti dilihat. Pokoknya kalau mau pulang, ingat saja metro ligne 7 berhenti di Kremlin Bicétre atau Porte d’Italie, lalu naik bus 131.”

Ternyata hari itu, juga beberapa hari setelahnya, stasiun metro yang saya singgahi kehabisan peta transportasi (RATP, Régie Autonome des Transports Parisiens). Baik, tidak masalah... Ini kan hanya soal naik-turun kendaraan umum.

Maka jadilah hari itu saya nekad menjajal kota Paris tanpa teman, tanpa kemampuan berbahasa Perancis, dan tanpa koneksi internet.

Rute saya ke Café de Flore, Café les deux Magots, dan toko buku Shakespeare & Company. Semuanya berdekatan dan menurut catatan: naik bus 131 berhenti di kremlin bicetre--naik metro ligne 7 ke Jussie--ganti metro ligne 10 sampai Mabillion--lanjut jalan kaki sekitar 300 meter (lurus aja). Rasanya tidak rumit.

Saya tidak ingat persis pemantiknya tapi saya tidak melanjutkan sesuai yang tercatat. Di salah satu stasiun saya keluar metro. Saya menaiki tangga stasiun, seperti cacing tanah keluar dari mulut bumi. Angin menjelang musim gugur langsung menyambut. Saya merapatkan jaket.

Di sekitar tempat saya berdiri tampak beberapa halte bus. Saya memilih halte dengan nomor bus terbanyak. Semakin banyak bus yang berhenti, semakin banyak kemungkinan rute. Jari saya mengeja nama-nama perhentian bus di dinding halte. Semuanya terbaca asing. Tidak ada yang saya kenali.

Sebuah bus datang. Orang-orang bergegas masuk. Saya mengikuti arus yang berdesakan di pintu masuk. Pintu tertutup. Bus melaju sebelum saya sempat mengikuti pikiran yang bilang kalau alternatif terbaik saat itu adalah kembali ke stasiun metro.

Satu perhentian. Perhentian lain. Perhentian berikut.

Lampu yang menandai nama-nama perhentian di langit-langit bus mati satu persatu. Telinga saya melebar ketika pengeras suara menyebutkan satu nama. Saya mencoba-coba mengingat, berusaha mencocokkan antara deretan huruf dan suara yang terdengar. Saya berharap, kalaulah nama-nama yang saya baca menjadi “tidak berarti”, setidaknya telinga saya pernah mendengar satu nama yang saya kenali.

Tidak juga.

Saya berhenti berharap dan berusaha tidak peduli pada pengeras suara itu. Ketika bus terasa semakin menjauh, di satu perhentian saya turun. Saya berjalan ke perhentian bus lain di persimpangan lain untuk naik bus yang lain. Sepanjang jalan mata mengarah ke luar jendela. Mengikuti gedung-gedung yang bergerak atau diterjang melankoli memperhatikan daun-daun jatuh di trotoar.

Hari-hari berikutnya, saya melakukan hal yang hampir sama.

Saya menentukan satu atau dua tujuan lantas menyisakan banyak waktu untuk berjalan kaki. Berpindah dari satu nama jalan ke nama jalan lain. Berbelok dari persimpangan satu ke persimpangan lain. Melangkah mengikuti susunan batu trotoar. Tanpa irama. Kadang cepat, kadang melambat. Memperhatikan bayangan di kaca etalase, berbalik arah, berbelok di depan cafe yang bertaplak cantik, menerobos kerumunan, duduk di bangku pinggiran jalan atau di sudut sebuah kafe.

Berada di tiap perjalanan itu terasa sedang membaca halaman-halaman kisah misteri. Penuh kejutan. Ketidakterdugaan.

Ada suatu ketika saya sampai di persimpangan yang ramai mengarah ke Taman Luxembourg di Boulevard St. Michel. Seorang lelaki berkaca mata bulat kecil dengan bingkai logam berjalan mendahului. Ingatan saya melompat ke tulisan 60 tahun lalu. Saya sontak menoleh ke seberang jalan. Berharap melihat ekspresi keraguan Marques saat berteriak, “Maaaeeestro!”

Kali lain—ketika lelah atau menciut di hadapan jalan-jalan Paris versi Hausmann yang besar, lurus, dan benar—saya menemukan Billy Sanchez de Avila, “... berada di Place de la Concorde tanpa tahu harus berbuat apa. Dia melihat Menara Eiffel menjulang di atas atap-atap rumah dan tampak begitu dekat. Dia pun mencoba berjalan menuju ke sana dengan melewati dermaga. Namun dia segera sadar bahwa menara itu ternyata lebih jauh dari yang terlihat, dan terus-menerus berganti posisi saat dia mencarinya.”

Saya paksa kepala berhenti berputar. Sepenuhnya menjadi yang merasai-memandang-mendengar-menghidu. Keluyuran. Flâneur. Semacam perjalanan merayakan momen puitis yang dikatakan Baudelaire “...it is an immense joy to set up house in the heart of the multitude, amid the ebb and flow of movement, in the midst of the fugitive and the infinite. To be away from home and yet to feel oneself everywhere at home; to see the world, to be at the centre of the world, and yet to remain hidden from the world—impartial natures which the tongue can but clumsily define ....enters into the crowd as though it were an immense reservoir of electrical energy. Or we might liken him to a mirror as vast as the crowd itself; or to a kaleidoscope gifted with consciousness, responding to each one of its movements and reproducing the multiplicity of life and the flickering grace of all the elements of life.”

27 September 2017 (hari ke-23)

Mona Sylviana