Tidak ada Perang Vietnam di Checkpoint Charlie

SEKILAS saya sempat mengira kata “Charlie” dari Checkpoint Charlie itu disadur dari nama orang, tentara Amerika barangkali. Tapi saya salah; ternyata Charlie tersebut merujuk kepada alfabet fonetik Nato (sebagaimana Checkpoint Alpha di Helmstedt–Marienborn atau Checkpoint Bravo di Dreilinden). Checkpoint Charlie nama yang disematkan oleh Blok Barat. Pihak Soviet, pada zaman Perang Dingin dulu, menyebutnya “KPP Fridrikhshtrasse” atau “Lintas Perbatasan Friedrichstraße”; sementara orang Jerman Timur menyebutnya “Grenzübergangsstelle (Titik Lintas Perbatasan) Friedrich-/Zimmerstraße.”

            Sekarang, Checkpoint Charlie dijadikan simbol Perang Dingin, mengingatkan pada pemisahan Timur dan Barat. Ada masa ketika tentara Amerika dan Soviet sering berhadap-hadapan di lokasi tersebut, dan sekarang orang-orang berkostum tentara Amerika mondar-mandir di Checkpoint Charlie, di wilayah Amerika, sambil memegang senjata mainan dan berteriak-teriak dalam bahasa Inggris, “Ayo foto! Kemari foto!” Dan sekian euro dari turis-turis yang berfoto dengan mereka pun masuk ke dalam kantong.

            Di dekat simbol perang dingin ini, kira-kira tepat setelah kita melangkah masuk ke wilayah Jerman Timur, ada tempat yang namanya BlackBox Kalter Krieg. Sesuai dengan namanya, tempat itu memang seperti kotak hitam. Kotak hitam ini rupa-rupanya semacam museum yang memamerkan berbagai macam hal tentang Perang Dingin, sebagian besar tentu saja tentang Berlin dan Jerman secara keseluruhan, lebih-lebih tentang upaya-upaya yang dilakukan orang-orang untuk menembus perbatasan Barat-Timur tersebut.

Ada lumayan banyak arsip yang ditampilkan, catatan-catatan, video, sekalipun sekedar rangkuman atau garis besar, tentang Perang Dingin di negara-negara lain selain Jerman; beberapa langkah setelah pintu masuk saja, misalnya, saya sudah langsung disuguhkan dengan penjelasan singkat soal Perang Korea yang konon merupakan konflik pertama yang timbul pada era tersebut. Saya beralih dari satu arsip ke arsip, satu dinding ke dindng, melewati macam-macam poster-poster propaganda, mendengarkan penjelasan audio maupun audio-visual—kadang-kadang saya harus mengantri karena sedang dipakai, dan kalau antrian terlalu lama saya lanjut ke bagian selanjutnya dengan tekad untuk kembali nanti setelah alat audio atau audio-visual tersebut sudah sepi. Saya melangkah dari konflik satu negara ke negara: dari krisis misil di Kuba sampai Perang Afghanistan di dekat pintu keluar; dan ketika saya sudah di dalam U-bahn pulang, barulah saya tersadar kalau saya sama sekali tidak menyaksikan arsip apapun soal Perang Vietnam di BlackBox itu.

Saya tanyakan ini pada kawan saya yang penduduk asli Berlin, dan dia mengaku tidak betul-betul ingat dengan isi keseluruhan BlackBox itu. Sudah lama dia tidak mampir ke sana. Mungkin memang tidak ada, katanya, apalagi kan Amerika dan sekutu kalah di Perang Vietnam. Tapi mereka punya rangkuman atau sekedar penjelasan singkat hampir semua konflik-konflik Perang Dingin di dunia, kata saya, termasuk soal perlombaan menjelajahi luar angkasa antara Amerika da Uni Soviet. Kamu bisa mampir lagi dan tanya sama petugasnya, kata kawan saya kemudian.

Dan saya memang berniat mampir lagi. Tapi kemudian niatan saya itu terulur-ulur oleh waktu menulis dan keinginan untuk mengunjungi museum-museum lain—ada banyak sekali museum di Berlin! Barulah sekitar dua minggu kemudian saya mampir kembali ke BlackBox dan saya tanyakan pada penjaganya apakah ada suatu-apapun tentang Perang Vietnam, dan dia bilang ada, saya bahkan dituntun ke sebuah dinding yang menampilkan tiga layar kecil: salah satunya memutar Perang Vietnam dalam dua bahasa, dua yang lain tentang konflik di Arab dan Uganda. Saya pun ingat ketika mampir pertama kali, layar tersebut sedang ditonton beberapa orang dan saya putuskan untuk loncat ke dinding lain dahulu; tapi kemudian saya lupa mampir kembali, dan celakanya dinding itu bukan satu-satunya yang saya lupa.

Sewaktu saya keluar saya ucapkan terima kasih kepada penjaga museum. Dia tanyakan saya dari mana dan ketika saya jawab, dia jelaskan kalau dia sudah menonton The Age of Killings. Sayang tidak ada konflik di Indonesia di sini, kata saya. Tidak semua konflik di seluruh dunia ditampulkan, tentu saja, katanya.

Setelah mengucapkan terima kasih untuk yang kedua kalinya, saya keluar dari area BlackBox. Saya menyeberang jalan, melintas dari tempat yang dulunya Jerman Timur menuju Jerman Barat. Saya lihat McDonlad berdiri berhadap-hadapan dengan BlackBox, tepat di area Jerman Barat. Di sampingnya, ada toko-toko suvenir yang menjual bongkahan-bongkahan dinding yang konon asli pecahan Tembok Berlin.

 

(Rio Johan)