Upacara HUT RI di Negeri Belanda

Pengalaman yang saya tunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Sebelum berangkat ke Belanda, terpikir secara heroik: alangkah hebatnya upacara memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia jauh dari tanah air …

Oleh karena itu, sejak singgah pertama kali ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag, saya sampaikan keinginan itu kepada Pak Bambang Hari Wibisono selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan. Pak Bambang memberi tahu bahwa tahun ini (2017) upacara akan dilaksanakan—tetap pada tanggal 17 Agustus, tapi—di Sekolah Indonesia di Nederland yang berada di Wassenaar. Bukan di halaman kantor KBRI. Di mana itu? Antara Leiden dan Den Haag. Ya seperti Klaten, terletak di antara Yogya dan Solo.

Yang agak mencemaskan, sejak pagi hari Kamis 17 Agustus itu, langit sudah digayuti mendung. Saya bersepeda ke stasiun Leiden Centraal dan menitipkan tunggangan itu di tempat parkir khusus sepeda. Di Belanda memang lebih banyak area parkir sepeda (bahkan banyak basement khusus) ketimbang mobil atau motor. Dari stasiun sebetulnya bisa naik bis Qliner 386 ke Transferium (untuk transfer bis), menyeberang dan ganti dengan bis menuju Kerkehout. Tetapi saya tak menemukan nomor bis dimaksud, yang muncul malah rasa khawatir terlambat tiba di lokasi. Sebab, sebelumnya ada pesan dari konsulat KBRI, Pak Raden Usman Effendi agar datang lebih awal, sebelum pagar ditutup.

Segera saya ambil keputusan ketika pukul 8 bis yang saya tunggu belum tiba. Saya naik trein (kereta), dan urutan akan saya balik. Naik bisnya dari Den Haag. Alhamdulillah, di terminal bis Den Haag bertemu teman pelajar Indonesia (program PhD) yang akan mengantar anaknya ikut upacara di Wassenaar.

“Mari bareng, Pak. Naik bisnya di sini,” kata ibu dengan dua anak SD itu memimpin langkah ke jalur yang dimaksud. Lega hati saya karena tak perlu lagi mewaspadai halte tempat turun nanti. Benar, di Kerkehout bis berhenti dan sejumlah orang Indonesia turun dengan tujuan yang sama. Sejak itulah gerimis mulai merintik.

Upacara dimulai satu jam lagi: 9.45 waktu Belanda. Mengikuti cara yang biasa digunakan Istana Negara untuk memperingati detik-detik proklamasi. Tentu lebih lambat 5 jam.

Saya mengamati orang-orang yang datang. Tidak ada dress code khusus yang diumumkan, tetapi masing-masing mengenakan busana sopan. Para lelaki mengenakan jas atau batik, ada juga yang mengenakan kemeja biasa dibalut jaket. Para wanita sedikit lebih kreatif. Ada yang mengenakan baju adat, selain kebaya dan kain. Namun para anggota PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) rata-rata berbaju rapi atau batik dengan blazer atau jaket tipis untuk menahan dingin udara.

Menjelang upacara berlangsung, gerimis tak juga berhenti. Alhasil, sepanjang jalannya upacara, baik sang inspektur, komandan upacara, maupun pasukan pengibar bendera “bertugas” di bawah guguran hujan. Sementara para peserta upacara dan tamu-tamu undangan terlindung tenda-tenda yang telah disiapkan.

Dimulai dengan kesiapan barisan, laporan komandan upacara kepada inspektur upacara, mengheningkan cipta, pembacaan naskah proklamasi dan teks Pancasila, sampailah pada puncak keharuan saat bendera Indonesia dikibarkan. Diiringi lagu Indonesia Raya, sang saka merah putih naik perlahan ke puncak tiang. Tanda negara merdeka itu menghiasi langit negeri Belanda, bangsa yang pernah menjajah Indonesia.

Usai amanat Duta Besar I Gusti Agung Wesaka Puja selaku inspektur upacara, dibacakan doa. Upacara pun selesai. Di arena “panggung” lapangan yang basah, putra-putri siswa Sekolah Indonesia menyambung dengan aubade. Lagu-lagu nasional dinyanyikan, termasuk “Kebyar-Kebyar” karya Gombloh. Kami memang tidak lagi peduli pada hujan yang terus rinai. Pakaian basah, namun para siswa terus semangat menyajikan tarian dan pencak silat sebagai pertunjukan.

Pada kesempatan itu, Dubes memotong tumpeng syukuran HUT RI ke-72, yang diserahkan kepada tokoh masyarakat berkebangsaan Belanda. Kemudian peserta upacara dan para tamu dipersilakan menikmati hidangan khas Indonesia. Tentu saya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan menyerbu tenda-tenda itu. Setidaknya dimulai dengan kopi, bakso, cendol, dan saya pilih ketupat dengan rawon. Cukup mengenyangkan sekaligus menghangatkan badan sehingga tak lagi berminat pada nasi kuning. Harus diakui, sungguh sulit mengalahkan lezatnya menu kudapan Indonesia. Buktinya wong londo yang hadir sebagai undangan upacara juga tampak antusias menyantap rawon.

Saya tak lupa membuat dokumentasi proses pengibaran bendera merah putih. Tak lupa pula mengirim foto kehadiran saya dalam upacara itu kepada teman-teman, baik yang di tanah air maupun di Belanda. Mungkin ini pengalaman pertama yang tak terulang, kecuali setiap ke luar negeri bertepatan dengan tanggal 17 Agustus. Ah, belum tentu juga sempat mengikuti upacaranya, bila (1) jauh dari lokasi kantor kedutaan/konsulat jenderal Indonesia, atau (2) tanpa niat yang kuat untuk memberi hormat kepada bendera negeri tercinta.

“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku… Hiduplah Indonesia Raya!”

(Kurnia Effendi)