Washington Square Park: Colin Huggins dan Musik Klasik

Alunan piano yang memainkan Nocturne Op. 9 No. 2 karya Chopin itu menghentikan langkah saya. Segera saya cari tahu dari mana sumber suara itu. Ternyata itu berasal dari salah satu jalan di dalam Washington Square Park. Seorang berbadan kurus, berkacamata, dan mengenakan pakai hitam-hitam tampak asyik memainkan baby grand pianonya. “Weleh-weleh, musik klasik di taman terbuka dan siang bolong pula,” kata saya dalam hati. Saya tidak jadi pulang. Padahal  sudah cukup lama saya bersantai di sudut lain taman itu dan bermaksud kembali ke rumah.

 

Washington Square Park memang tempat yang enak untuk leyeh-leyeh di siang hari atau sore hari. Apalagi di hari Minggu. Banyak turis dan penduduk lokal yang datang ke tempat ini. Di taman seluas 39,500 meter persegi di kawasan Greenwich Village, New York, ini Anda bisa asyik membaca buku, berjemur,  atau sekadar duduk santai di bawah ribuan pohon  rindang sembari menikmati aneka musik yang dimainkan oleh beberapa kelompok. Umumnya para pemusik di sini memainkan jazz. Namun, jika beruntung, Anda bisa menyaksikan permainan Colin Huggins, street pianist kondang di New York, dengan baby grand pianonya.

 

Sebenarnya, main piano di tempat terbuka seperti di taman, di bawa jalan tol, stasiun kereta,  pusat perbelanjaan,  bandara, dan lain-lain, sudah tidak aneh lagi. Colin sendiri sudah ngamen dengan upright pianonya sejak musim panas 2007 di stasiun Union Square. Ketika itu dia masih memainkan lagu-lagu pop dan juga menyanyi. Sedangkan seniman Inggris, Luke Jerram, sejak 2008, melakukan eksperimen “piano jalanan” di Birmingham, Inggris, yang kemudian diberi label “Play Me I’am Yours”. Sebagai bagian dari festival seni kota itu, ia menempatkan 15 piano di berbagai sudut kota. Belakangan,  “Play Me,  I’m Yours”  merebak ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat.

 

Bedanya, jika Colin bermain untuk melangsungkan hidupnya, maka “Play Me, I’am Yours” adalah sebuah proyek dengan maksud tertentu. Luke merasakan bahwa saat ini makin banyak orang kesepian, teralienasi, dan semakin induvidualistis. Maka “Play Me, I’m Yours” dimaksudkan agar orang berkumpul, menyanyi bersama, dan bercakap-cakap dengan orang lain. Piano yang diletakkan di berbagai lokasi itu boleh dimainkan siapa saja dan lagu apa saja. Tidak ada urusan dengan main bagus atau tidak, salah atau benar, suara fals atau merdu.

 

Gagasan Luke Jerram muncul ketika setiap pekan akhir pekan ia datang ke binatu lokal. Di sana orang berkumpul, tetapi tidak bercakap-cakap. Mereka diam satu sama lain. Luke kemudian berpikir, bahwa pasti ada banyak tempat semacam ini, di mana orang secara teratur mengunjungi suatu tempat, menghabiskan waktu bersama, namun tetap diam satu sama lain. Maka, “Menempatkan piano ke dalam ruang adalah solusi saya untuk masalah ini, bertindak sebagai katalisator agar terjadi percakapan dan mengubah dinamika sebuah ruang. Ketika orang-orang bertemu di seputar piano, maka akan terjadi interaksi,” kata Luke Jerram. Proyek “piano jalanan” itu juga memberi akses kepada calon-calon pianis dan siapa saja yang selama ini tidak memiliki piano sendiri.

 

Piano yang biasanya disumbang oleh pemerintah lokal atau organisasi swasta itu biasanya  diletakkan di tempat umum selama dua atau tiga minggu. Setelah itu piano disumbangkan ke sekolah dan kelompok masyarakat di daerah tersebut.

 

Sedangkan Colin Huggins punya kisah tersendiri. Pria kelahiran Decatur, Georgia, 6 Januari 1978, ini pada masa kecilnya bermain gitar. Ketika usianya menginjak 16 tahun, ia tertarik dengan piano milik ayahnya. Kemudian mengambil pelajaran piano dari tahun 1994 sampai 1998, namun kemudian berhenti, dan bekerja serabutan untuk beberapa waktu. Dia kemudian pindah ke Boston dan mendapat pacar gadis setempat. Namun, empat tahun kemudian, ia putus dengan pacarnya dan memutuskan pindah ke New York. Colin sempat sempat bekerja sebagai pengirim musik balet di Joffrey Ballet School dan bermain untuk American Ballet Theater.

 

Tapi Colin tampaknya lebih senang menjadi street pianist. Pada 2007 dia membawa piano uprights ke Father Demo Square, Time Square, atau Union Square. Penampilannya di jalanan itu sempat masuk televisi. Dia kemudian mmilih bermain di Washington Square Park. Pada mulanya pengelola taman keberatan. Bahkan pada 2011 ia nyaris didenda lebih dari 6.000 dolar oleh pengelola, tapi kemudian dibatalkan. Oleh penggemarnya, dilakukan kampanye crowd funding yang berhasil mengumpulkan uang untuk Huggins membeli baby grand piano, yang sekarang menjadi instrumen sehari-harinya. Baginya, bermain piano di taman itu lebih mengasyikkan dibanding bekerja rutin di kantor.

 

Maka, di bawah rindang pepohonan siang itu, melantunlah beragam komposisi musik klasik seperti Piano Sonata No. 14 karya Beethoven dan Consolation No. 3 karya Franz Liszt. Para penonton, termasuk saya, mendengarkan dengan seksama. Hasilnya memang tidak maksimal, tapi cukup untuk menenangkan pikiran dan menghibur hati.

 

“Umumya orang mendengarkan piano dari suara yang keluar dan menyebar ke seluruh ruangan. Sekarang kita coba eksperimen yang lain.” katanya. Ia lalu meminta salah seorang pengunjung untuk tidur di bawa piano. “Saya akan memainkan Philip Glass. Ia akan mendapat pengalaman baru dalam mendengarkan piano. Ini semacam meditasi,” kata Colin.

 

Maka terdengarkan Metamorphosis 2 karya Philip Glass. Pengunjung yang tidur di bawah piano itu memejamkan mata dan tampak mengalami sensasi tersendiri. Edan juga. Baru sekarang saya tahu ada cara lain untuk mendengarkan piano.

 

“Sebelum saya istirahat selama sepuluh menit, saya akan meainkan satu komposisi yang membuat Anda tak akan lupa selamanya,” kata Colin lagi.

 

Ia lalu memainkan Clair de Lune karya Claude Debussy. Saya terperanjat sekaligus gembira. Maklum, sebagai orang yang pernah iseng belajar piano, saya tahu betapa indah sekaligus betapa sulitnya lagu itu dimainkan. Beratus kali saya pernah coba, tapi tak pernah sekalipun berhasil memainkannya sampai akhir. Selain itu, Claude Debussy ini punya hubungan khusus dengan Indonesia, khususnya Jawa. Dalam beberapa karyanya, Debussy sangat dipengaruhi oleh gamelan Jawa.

Perkenalan Debussy dengan gamelan Jawa ini terjadi pada 1889, ketika Prancis memperingati seabad Ravolusi Prancis. Saat itu digelar Paris Expo atau pekan pekan raya di bawah menara Eiffel. Pemerintah Kolonial Belanda membawa rombongan musik dan gamelan Jawa untuk ikut memeriaghkan acara itu. Debussy yang saat itu berusia 27 tahun tampak terpesona dengan suara gamelan yang mengiringi tarian Bedaya. Rupanya bunyi-bunyian yang tidak sama dengan pakem musik Barat itu nantinya memengaruhi beberapa karya Debussy. “Konservatori mereka adalah ritme abadi lautan, edan mbusan bayu pada dedaunan,” kata Debussy tentang permainan gamelan Jawa.

Karya  Debussy seperti  d'Estampes (Ilustrasi),  La fille aux cheveux de lin (Gadis berambut linen), Feuillis mortes (Daun-daun kering), Canope, dan yang kemudian sangat terkenal  La Mer (Lautan) sangat terasa pengaruh gamelan Jawa itu. Bahkan ada yang menduga, dalam Claire de Lune pun ada sedikit pengaruh gamelan, terutama bunyi gong, di lagu itu.  

“Kamu punya kartu nama?” tanya saya kepada Colin Huggins, setelah ia selesai memainkan Claire de Lune.

 

“Wah, saya nggak bawa. Tapi saya punya stempel nama saya. Kalau kamu mau bisa saya stempel,” jawabnya. “Mau di kertas atau di badan kamu?” Kebetulan saya tidak membawa kertas. Ia lalu menempelkan stempel dengan tulisan namanya itu ke tangan saya. Disusul kemudian beberapa orang lain yang meminta tanda tangan, stempel, atau sekadar bercakap-cakap.

 

Tak lama kemudian Colin kembali memainkan lagu-lagu klasiknya. Para pengunjung terpesona. Siang menjadi terasa lebih sejuk. Burung dara yang  berterbangan kesana kemari menambah asyik suasana……

 

 

 

(Kemala Atmojo)