Articles

Kisah Maluku di Negeri Belanda

Lelaki Maluku itu berdiri di atas panggung. Dengan suara bergetar, dia mengisahkan sebuah memori mengerikan tentang pamannya—seorang tentara KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dari Maluku yang ikut aksi militer Belanda tidak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Details


Dari Boerhaavelaan, Dreibergen, hingga Den Haag

Semenjak menjejakkan kaki pertama kali di Boerhaavelaan, nama wilayah ini agak familiar dalam ingatan saya yang kini tengah meneliti tema sejarah peran para ilmuwan alam. Ternyata benar, nama jalan ini diambil dari nama Herman Boerhaave (1668 – 1738). Ia dikenal sebagai seorang botanis, ahli kimia, seorang humanis, dan juga dokter asal Belanda yang masyhur pada masa hidupnya. Boerhaave wafat di Leiden. Dan untuk menghormati peran dan jasa ilmuwan besar ini, tepat di depan jalan masuk Boerhaavelaan dibangun patung penghormatan baginya.

Details


Diskusi di INALCO

Setelah menerima kepastian berangkat ke Paris, saya segera menghubungi Prof. Etienne NAVEAU, pengajar Jurusan Bahasa Indonesia di Universitas INALCO Paris. Prof. Etienne juga dikenal sebagai penerjemah sejumlah karya sastra Indonesia. Terakhir ia menerjemaahkan “Lelaki Harimau” Eka Kurniawan, tentu saja ke dalam bahasa Prancis. Dan kini ia sedang menerjemaahkan novel Eka Kurniawan yang lain “Cantik Itu Luka”.  

Details


Dari Sepeda, Sampah, hingga Surga Pengetahuan

Dari Sepeda, Sampah, hingga Surga Pengetahuan

Fadly Rahman

Jumat, 10 November, pukul 07.30 pagi, saya dan kawan Faisal Oddang mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam. Lantas, kami berpisah karena saya dijemput oleh seorang kawan baik dari Utrecht, Koo Siu Ling. Suasana dingin menyergap ketika saya ke luar bandara. Dengan mengendarai sebuah mobil sport merah, perempuan energik berusia 76 tahun ini mengajak saya melihat-lihat suasana Amsterdam. Lantas, ia mengantarkan ke tempat residensi saya di Boerhaavelaan, Leiden.

Details


Amsterdam, Jumat, 11 November 2016

Tiga hari belakangan ini suhu udara di Amsterdam pada siang hari berkisar antara 5 dan 6 derajat Celcius. Terkadang diiringi gerimis dan tiupan angin dari Laut Utara. Kalau ingin menulis seharian di Open Bare Bibliotheek (OBA), di Oosterkade, Amsterdam, dan bebas dari sengatan suhu dingin, tak ada jalan lain kecuali dengan naik taksi, yang tentu saja mahal. Kalau naik bus atau Metro, yang berhenti di stasiun Amsterdam Centraal sebagai tujuan akhir, masih harus berjalan kaki sekitar setengah kilo.

Details



Rumah Gamelan di Negeri Belanda

Hujan rintik di malam dingin bulan November di Amsterdam. Tetapi itu tidak menyurutkan niat lima belas orang dari berbagai bangsa ini untuk berlatih memainkan orkestra tradisional Jawa.

Details


Amsterdam, Minggu, 6 November 2016

Hari ini hari keenam saya “bertapa” di Open Bare Bibliotheek Amsterdam (OBA) untuk menyelesaikan buku yang menjadi obsesi saya: tentang kehidupan eksil Indonesia di Eropa. Perpustakaan ini buka setiap hari, termasuk Minggu seperti hari ini. Mulai pukul 10 pagi sampai 10 malam. Jadi, dia menjadi sarang yang nyaman. Saya bisa memilih di lantai mana saya akan nongkrong. Menghadap ke tengah perpustakaan, atau di sisi jendela kaca seraya menikmati kapal-kapal yang hilir-mudik di kanal yang menghampar di bawah, dari mana dulu, kata orang, kapal-kapal VOC bertolak.

Details



Pages