Articles


Articles

Misi Lintas Negara: antara Leiden dan Paris

26 November pukul 13.30, dari Den Haag Centraal saya menuju Paris. Saya menggunakan armada bus Flixbus. Sambil menunggu bus datang, masuk jam makan siang, saya melahap tantuni, makanan khas Turki sembari membaca buku The End of Yesterday-nya Jared Diamond yang sebelumnya saya beli di Pasar Sabtu di Brestraat, Leiden. Dan, bus yang saya tunggu akhirnya datang juga. Perjalanan menuju Paris memakan waktu delapan jam.

Details


Orang-orang Belleville

HALLO, My friend?” Begitu selalu dia menyambut hangat kedatangan saya. Entah siapa namanya, tapi saya memberi saja dia nama “Ahmad”.  Pemilik toko daging (Bucheri) di Boulevard Belleville. Setidaknya tiga hari sekali saya membeli daging di tokonya. Dan saya selalu memilih daging domba dengan sedikit lemak di tepiannya. Cukup beberapa potong saja untuk dibuat sop, harganya tak pernah lebih dari 4 euro. Ahmad sudah hapal kesukaan saya itu dan kerap dia memilihkannya. “This good for your soup,” katanya sambil meraih beberapa potong daging domba.     

Details


Mesir Kuno dan Ratusan Museum

ADA RATUSAN museum di Berlin dan mustahil mengunjungi semuanya satu hari, begitu kata penjaga museum ketika saya membeli tiket masuk semua museum selama satu hari—yang sebetulnya cuma berlaku untuk semua museum yang terdaftar dalam tiket tersebut. Saya yakin penjaga museum itu cuma berlebih-lebihan belaka.

Details


Bisnis Manga yang Menggiurkan

Ketika Ozamu Tezuka menciptakan Diary of Ma Chan, pada tahun 1946, tentu beliau tidak akan menyangka gaya manga ciptaannya akan menjadi ngetop seperti sekarang ini di seluruh dunia. Dr. Ozamu Tezuka, boleh dibilang merupakan godfather of Japanese Manga. Seorang dokter medis yang akhirnya memutuskan untuk menjadi mangaka (komikus). Karyanya yang paling terkenal adalah Astro Boy.

Details


Kisah Maluku di Negeri Belanda

Lelaki Maluku itu berdiri di atas panggung. Dengan suara bergetar, dia mengisahkan sebuah memori mengerikan tentang pamannya—seorang tentara KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dari Maluku yang ikut aksi militer Belanda tidak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Details


Dari Boerhaavelaan, Dreibergen, hingga Den Haag

Semenjak menjejakkan kaki pertama kali di Boerhaavelaan, nama wilayah ini agak familiar dalam ingatan saya yang kini tengah meneliti tema sejarah peran para ilmuwan alam. Ternyata benar, nama jalan ini diambil dari nama Herman Boerhaave (1668 – 1738). Ia dikenal sebagai seorang botanis, ahli kimia, seorang humanis, dan juga dokter asal Belanda yang masyhur pada masa hidupnya. Boerhaave wafat di Leiden. Dan untuk menghormati peran dan jasa ilmuwan besar ini, tepat di depan jalan masuk Boerhaavelaan dibangun patung penghormatan baginya.

Details


Diskusi di INALCO

Setelah menerima kepastian berangkat ke Paris, saya segera menghubungi Prof. Etienne NAVEAU, pengajar Jurusan Bahasa Indonesia di Universitas INALCO Paris. Prof. Etienne juga dikenal sebagai penerjemah sejumlah karya sastra Indonesia. Terakhir ia menerjemaahkan “Lelaki Harimau” Eka Kurniawan, tentu saja ke dalam bahasa Prancis. Dan kini ia sedang menerjemaahkan novel Eka Kurniawan yang lain “Cantik Itu Luka”.  

Details


Dari Sepeda, Sampah, hingga Surga Pengetahuan

Dari Sepeda, Sampah, hingga Surga Pengetahuan

Fadly Rahman

Jumat, 10 November, pukul 07.30 pagi, saya dan kawan Faisal Oddang mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam. Lantas, kami berpisah karena saya dijemput oleh seorang kawan baik dari Utrecht, Koo Siu Ling. Suasana dingin menyergap ketika saya ke luar bandara. Dengan mengendarai sebuah mobil sport merah, perempuan energik berusia 76 tahun ini mengajak saya melihat-lihat suasana Amsterdam. Lantas, ia mengantarkan ke tempat residensi saya di Boerhaavelaan, Leiden.

Details


Amsterdam, Jumat, 11 November 2016

Tiga hari belakangan ini suhu udara di Amsterdam pada siang hari berkisar antara 5 dan 6 derajat Celcius. Terkadang diiringi gerimis dan tiupan angin dari Laut Utara. Kalau ingin menulis seharian di Open Bare Bibliotheek (OBA), di Oosterkade, Amsterdam, dan bebas dari sengatan suhu dingin, tak ada jalan lain kecuali dengan naik taksi, yang tentu saja mahal. Kalau naik bus atau Metro, yang berhenti di stasiun Amsterdam Centraal sebagai tujuan akhir, masih harus berjalan kaki sekitar setengah kilo.

Details


Pages