Articles


Articles

Mencari Mentalitas Dua Bangsa yang “Kalah”

Bukan sebuah kebetulan atau keisengan belaka saya memilih Portugal sebagai tempat untuk melakukan residensi. Sejak dua tahun lalu saya sudah berencana pergi ke Portugal, karena saya telah memiliki rencana novel yang berlatar sejarah Kerajaan Sunda dan Kerajaan Portugal di abad 16 Masehi.

Details


SERUNYA HARI PERTAMA DI NORWICH!

To be or not to be? That’s the question. Kalimat Shakespeare ini benar-benar seperti yang saya alami sebelum berangkat ‘menunaikan tugas’ residensi penulis di Inggris. Adaaaaa saja hal yang terjadi sebelum keberangkatan saya ke negeri Grandma Elizabeth ini. Dari mulai Poundsterling yang begitu melonjak tajam nilainya (salah saya juga sih kenapa tidak menukarkan poundsterling jauh-jauh hari), berbagai berita tak mengenakkan tentang kejadian ledakan di London hingga isu Gunung Agung yang akan meletus tepat di malam sebelum keberangkatan saya! Fiuuuuhhh!!!  

 

Details


HOMO PLASTICICUS CELLULARAE

“Jesus loves you! Jesus loves you!” Lelaki bertubuh besar itu berseru pada tiap orang yang berpapasan dengannya sembari bergegas entah ke mana. Sosoknya  dengan cepat lenyap di antara orang-orang yang memadati trotoar. Tottenham Court  Road sore itu ramai. Seruan lelaki tadi segera punah ditiban bunyi-bunyi lain yang sigap menyergap telinga: simpang siur percakapan, klakson mobil, batuk berdahak, teriakan gagak, sirine di kejauhan. 

 

Details


Pertemuan dengan yang Lain pada Suatu Waktu

Langit pada musim panas kali ini bahkan masih lumayan terang hingga pukul setengah sepuluh malam saat saya pulang. Lantaran tak membeli makanan di perjalanan (dan hanya berbekal botol minuman), saya merasa lemas sekali hingga mendengar suara sendiri seperti mengemis makan kepada ibu semang saat berdiri di hadapannya, “Apa masih ada makanan? Saya lapar dan belum makan sejak keluar rumah.”

Saya menjelaskan alasan keengganan membeli makan di luar, ia tampak mafhum.

Masih tertinggal satu panci nasi dan sop. Dengan raut wajah gemas, ia mempersilakan saya mengambil makanan.

Details


Tersesat Membawa Nikmat

Gelas yang menguarkan aroma kopi giling tanah Priangan saya letakkan di atas meja bundar di satu sudut halaman belakang. Kursi kayu masih lembab. Matahari sebenarnya sudah sepantar pohon pinang yang biasa dipakai perayaan kemerdekaan, tapi hangatnya belum sampai. Dia datang dari arah sedikit menyerong. Karena itu, dia harus lebih dulu ke genteng tetangga, melampaui daun cemara serta ranting-ranting apel, barulah bisa menyentuh tempat saya duduk.

“Pagi, Mbak Ully. Bonjour, Alan.”

“Hai. Pagi...” Suami-istri itu menengok.

Details


Upacara HUT RI di Negeri Belanda

Pengalaman yang saya tunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Sebelum berangkat ke Belanda, terpikir secara heroik: alangkah hebatnya upacara memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia jauh dari tanah air …

Details


Hikayat Bagong Mencari Kafka

Hingga sekarang orang-orang Kampung Pungkursari, Salatiga, memanggil dia Bagong. Bagong adalah nama salah satu punakawan, selain Petruk, Gareng, dan Semar.

Nasib baik telah menyebabkan pengarang kelahiran September setahun sebelum geger pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap sebagai penganut komunisme itu mendapat beasiswa unggulan Kemdikbud untuk residensi sastra ke Berlin, Jerman, selama tiga bulan.

“Saya akan menulis tentang Kafka, penulis kelahiran Praha yang sukses sebagai pencerita di Jerman itu,” kata Bagong.

Details




Pages