Articles


Pramoedya Ananta Toer Suka Karya Steinbeck dan Gorki

Ungkapan ini dilontarkan oleh sastrawan Indonesia yang semasa hidupnya pernah masuk ke dalam daftar peraih Nobel Kesusasteraan dan karyanya sempat menjadi bacaan terlarang di era pemerintahan Orde Baru dalam sebuah pertemuan, 14 tahun yang silam.

Ketika itu, sastrawan yang karyanya sudah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa ini masih terlihat sehat dan tak kehilangan ruang gerak, tubuhnya juga sudah begitu bebas seusai kebebasan yang dihirup - lepas dari terali jeruji.

Details


Program Residensi Penulis

RESIDENSI PENULIS

Program Residensi ini dirancang atas kerjasama antara Komite Buku Nasional dan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jangka waktu masing-masing residensi antara 1-3

bulan, yang dilaksanakan antara September dan November 2016. Pilihan negara tempat

residensi diutamakan di negara di mana ada Atdikbud RI.

 

TUJUAN

Tujuan dari program ini adalah memberi kesempatan kepada para penulis untuk:

1. Mengadakan penelitian yang diperlukan untuk menyelesaikan karya;

Details


Penulis Indonesia Agustinus Wibowo Hadir di BIBF 2016

Setelah keberhasilan Indonesia di Bologna Book Fair  dan London Book Fair  pada Maret dan April 2016 lalu, buku-buku dari Indonesia kini hadir di Stand Indonesia dengan lokasi  E2F28 di Bejing International Book Fair (BIBF 2016)  pada 24-28 Agustus 2016.

Inilah kali pertama penerbitan Indonesia tampil di BIBF secara kolektif karena sebelumnya anggota penerbit Indonesia hanya hadir sebagai pengunjung. Selama lima hari pameran di Beijing, Indonesia menampilkan 200 judul buku pilihan dan  memberikan wawasan tentang industri penerbitan di Indonesia.

Details


Just Published, French Edition of "Back in Bandung"

Caetla Edition in Paris has recently published a French edition of Indonesian comic book title "Curhat Tita: Back In Bandung". This comic is written by Tita Larasati, originally published in 2008 by CAB (an imprint under Mizan Pustaka, a Bandung based publisher), tells the story of the author's experience in settling back in her hometown in Bandung, after spending years as graduate art student in Amsterdam.

 

Details


Merayakan Hari Buku Nasional

Pada 17 Mei 2016 ini kita kembali memperingati Hari Buku Nasional. Pada zaman Bung Karno berkuasa, Hari Buku Nasional diperingati setiap 21 Mei, berbarengan dengan ulang tahun Persatuan Toko Buku Indonesia (PTBI). Namun, sejak 17 Mei 1980, rezim Soeharto menetapkan 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional yang baru, bertepatan dengan peresmian gedung Perpustakaan Nasional di Jakarta oleh Nyonya Tien Soeharto. Tanggal itu juga berbarengan dengan ulang tahun Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi).

Details


Indonesian Comics in The Map of World Graphic Novel

When the British comic researcher Paul Gravett was preparing for the publication of the book titled 1001 Comics You Must Read Before You Die in 2010, he opened up the opportunity for recommendations on Indonesian comics for inclusion in the book for introduction to the global public.  

Details


Beyond The Visible Soul

Jika dibandingkan susastra modern Indonesia, maka seni rupa modern Indonesia tampak leluasa meletakkan dirinya di kancah internasional. Sejumlah nama senirupawan Indonesia bisa dengan mudah beredar dari satu forum ke forum lain (biennales, art fairs, juga berbagai pameran di berbagai galeri) di sejumlah negeri di Eropa, Amerika Utara, Asia Timur dan Asia Pasifik. Dalam kaitan ini kita bisa menyebut nama-nama seperti Eko Nugroho, Handiwirman Saputra, Ay Tjoe Christine, Melati Suryodarmo, Entang Wiharso, Heri Dono, misalnya.

Details


Indonesian Cinema as Part of The World Cultural Heritage

In his remarks on the film Lewat Djam Malam or After the Curfew (Director: Usmar Ismail, 1954), legendary director Martin Scorcese said that the film was “an eye opener”. Scorsese, as the founder of the World Cinema Foundation, became involved in the restoration of the film halfway through the laboratory process from August 2011 to early to 2012. World Cinema Foundation’s decision to help fund the restoration ofLewat Djam Malam marks the film as an important part of world cinema heritage.

Details


Naming

It was a ship’s doctor who gave a name to Indonesia. In 1861, Adolf Bastian, from Bremen in Germany, was sailing in Southeast Asia. Later he wrote a few books. One of them became widely read: Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884-1894. And it was from this book that ‘Indonesia’ began to be widely used to name the archipelago.

Details


Pages