Articles


Articles


Rumah Gamelan di Negeri Belanda

Hujan rintik di malam dingin bulan November di Amsterdam. Tetapi itu tidak menyurutkan niat lima belas orang dari berbagai bangsa ini untuk berlatih memainkan orkestra tradisional Jawa.

Details


Amsterdam, Minggu, 6 November 2016

Hari ini hari keenam saya “bertapa” di Open Bare Bibliotheek Amsterdam (OBA) untuk menyelesaikan buku yang menjadi obsesi saya: tentang kehidupan eksil Indonesia di Eropa. Perpustakaan ini buka setiap hari, termasuk Minggu seperti hari ini. Mulai pukul 10 pagi sampai 10 malam. Jadi, dia menjadi sarang yang nyaman. Saya bisa memilih di lantai mana saya akan nongkrong. Menghadap ke tengah perpustakaan, atau di sisi jendela kaca seraya menikmati kapal-kapal yang hilir-mudik di kanal yang menghampar di bawah, dari mana dulu, kata orang, kapal-kapal VOC bertolak.

Details



Tidak ada Perang Vietnam di Checkpoint Charlie

SEKILAS saya sempat mengira kata “Charlie” dari Checkpoint Charlie itu disadur dari nama orang, tentara Amerika barangkali. Tapi saya salah; ternyata Charlie tersebut merujuk kepada alfabet fonetik Nato (sebagaimana Checkpoint Alpha di Helmstedt–Marienborn atau Checkpoint Bravo di Dreilinden). Checkpoint Charlie nama yang disematkan oleh Blok Barat. Pihak Soviet, pada zaman Perang Dingin dulu, menyebutnya “KPP Fridrikhshtrasse” atau “Lintas Perbatasan Friedrichstraße”; sementara orang Jerman Timur menyebutnya “Grenzübergangsstelle (Titik Lintas Perbatasan) Friedrich-/Zimmerstraße.”

Details


Thrilla in Manila #4, Bertemu otak-otak Filipina.

Bukan otak-otak makanan, tetapi pemilik otak brilian dari Filipina,  para penulis, pemikir, ahli kesusasteraan masa lalu. Sungguh mengenyangkan pikiran, membuka wawasan, memancing ilham.  Ada professor Jess Peralta,  seorang ahli anthropologi yang juga penulis, dan pernah lama di Indonesia. Ada Christine Bellen,  assistant professor di Ateneo, penulis drama, penulis ceritera anak-anak dan pengamat folklore. Ada Allan Darin, dosen Aneteo  yang juga yang memperdalam tentang ... Aswang,  mahluk-mahluk gaib yang biasa menghantui folklore.

Details


Antara Tokyo dan Kyoto

Setelah puas melakukan pengamatan tentang kebiasaan warga Jepang di Tokyo, saya melanjutkan perjalanan residensi saya ke kota Kyoto, yang terletak 458 km dari kota Tokyo. Jarak ini ditempuh hanya dalam waktu 120 menit dengan menggunakan kereta cepat Shinkansen Hikari. Ah, andai saja Indonesia juga memiliki fasilitas kereta cepat seperti ini.

Sejarah dan Budaya

Details


Jepang yang Serba Teratur

Jepang, adalah negara kepulauan di Asia timur, dengan empat pulau terbesarnya, yaitu Honsyu, Hokkaido, Kyushu, dan Shikoku, berpenduduk 128 juta orang, merupakan negara impian bagi para ‘Otaku’, atau istilah dalam Bahasa Indonesianya adalah para maniak hobby. Terutama penggemar Anime (kartun) dan Manga (komik).

Residensi di Jepang

Details


Garis Batas di Atas Kertas

“Maaf, Tuan, kami tidak bisa mengizinkan Anda naik ke pesawat,” kata petugas di balik konter China Airlines, saat saya melakukan pelaporan di bandar udara Svarnabhumi, Bangkok, Thailand, untuk penerbangan saya menuju Belanda.

Kepada petugas yang seorang lelaki muda Thai ini, saya telah mengakui bahwa saya belum memastikan tanggal berapa saya akan meninggalkan Eropa, dan saya juga tidak memiliki tiket pulang.

Details


Thrilla In Manila #3

Bagi manusia-manusia Indonesia yang sok kangen rumah, terutama makanan yang bagi pemeluk Islam biasanya agak kerepotan, di Manila ada pelepas rindu ...  tiap Sabtu dan Minggu di beberapa tempat di Manila ada pasar kaget. Seperti di Legaspi Sunday Market ini, di sebuah taman parkir di kawasan Makati di mana berbagai barang – dan makanan khas negara-negara tertentu – dihadirkan. Ada yang dalam bentuk mentah, ada pula yang dimasak langsung di depan kita. Bagi kaum Indonesia-wan, ada “Warung-warung” ... yang karena begitu banyak peminatnya menjelang tengah hari biasanya ... habis!

Details


Pages