Articles


Articles

Diskusi di INALCO

Setelah menerima kepastian berangkat ke Paris, saya segera menghubungi Prof. Etienne NAVEAU, pengajar Jurusan Bahasa Indonesia di Universitas INALCO Paris. Prof. Etienne juga dikenal sebagai penerjemah sejumlah karya sastra Indonesia. Terakhir ia menerjemaahkan “Lelaki Harimau” Eka Kurniawan, tentu saja ke dalam bahasa Prancis. Dan kini ia sedang menerjemaahkan novel Eka Kurniawan yang lain “Cantik Itu Luka”.  

Details


Dari Sepeda, Sampah, hingga Surga Pengetahuan

Dari Sepeda, Sampah, hingga Surga Pengetahuan

Fadly Rahman

Jumat, 10 November, pukul 07.30 pagi, saya dan kawan Faisal Oddang mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam. Lantas, kami berpisah karena saya dijemput oleh seorang kawan baik dari Utrecht, Koo Siu Ling. Suasana dingin menyergap ketika saya ke luar bandara. Dengan mengendarai sebuah mobil sport merah, perempuan energik berusia 76 tahun ini mengajak saya melihat-lihat suasana Amsterdam. Lantas, ia mengantarkan ke tempat residensi saya di Boerhaavelaan, Leiden.

Details


Amsterdam, Jumat, 11 November 2016

Tiga hari belakangan ini suhu udara di Amsterdam pada siang hari berkisar antara 5 dan 6 derajat Celcius. Terkadang diiringi gerimis dan tiupan angin dari Laut Utara. Kalau ingin menulis seharian di Open Bare Bibliotheek (OBA), di Oosterkade, Amsterdam, dan bebas dari sengatan suhu dingin, tak ada jalan lain kecuali dengan naik taksi, yang tentu saja mahal. Kalau naik bus atau Metro, yang berhenti di stasiun Amsterdam Centraal sebagai tujuan akhir, masih harus berjalan kaki sekitar setengah kilo.

Details



Rumah Gamelan di Negeri Belanda

Hujan rintik di malam dingin bulan November di Amsterdam. Tetapi itu tidak menyurutkan niat lima belas orang dari berbagai bangsa ini untuk berlatih memainkan orkestra tradisional Jawa.

Details


Amsterdam, Minggu, 6 November 2016

Hari ini hari keenam saya “bertapa” di Open Bare Bibliotheek Amsterdam (OBA) untuk menyelesaikan buku yang menjadi obsesi saya: tentang kehidupan eksil Indonesia di Eropa. Perpustakaan ini buka setiap hari, termasuk Minggu seperti hari ini. Mulai pukul 10 pagi sampai 10 malam. Jadi, dia menjadi sarang yang nyaman. Saya bisa memilih di lantai mana saya akan nongkrong. Menghadap ke tengah perpustakaan, atau di sisi jendela kaca seraya menikmati kapal-kapal yang hilir-mudik di kanal yang menghampar di bawah, dari mana dulu, kata orang, kapal-kapal VOC bertolak.

Details



Tidak ada Perang Vietnam di Checkpoint Charlie

SEKILAS saya sempat mengira kata “Charlie” dari Checkpoint Charlie itu disadur dari nama orang, tentara Amerika barangkali. Tapi saya salah; ternyata Charlie tersebut merujuk kepada alfabet fonetik Nato (sebagaimana Checkpoint Alpha di Helmstedt–Marienborn atau Checkpoint Bravo di Dreilinden). Checkpoint Charlie nama yang disematkan oleh Blok Barat. Pihak Soviet, pada zaman Perang Dingin dulu, menyebutnya “KPP Fridrikhshtrasse” atau “Lintas Perbatasan Friedrichstraße”; sementara orang Jerman Timur menyebutnya “Grenzübergangsstelle (Titik Lintas Perbatasan) Friedrich-/Zimmerstraße.”

Details


Thrilla in Manila #4, Bertemu otak-otak Filipina.

Bukan otak-otak makanan, tetapi pemilik otak brilian dari Filipina,  para penulis, pemikir, ahli kesusasteraan masa lalu. Sungguh mengenyangkan pikiran, membuka wawasan, memancing ilham.  Ada professor Jess Peralta,  seorang ahli anthropologi yang juga penulis, dan pernah lama di Indonesia. Ada Christine Bellen,  assistant professor di Ateneo, penulis drama, penulis ceritera anak-anak dan pengamat folklore. Ada Allan Darin, dosen Aneteo  yang juga yang memperdalam tentang ... Aswang,  mahluk-mahluk gaib yang biasa menghantui folklore.

Details


Antara Tokyo dan Kyoto

Setelah puas melakukan pengamatan tentang kebiasaan warga Jepang di Tokyo, saya melanjutkan perjalanan residensi saya ke kota Kyoto, yang terletak 458 km dari kota Tokyo. Jarak ini ditempuh hanya dalam waktu 120 menit dengan menggunakan kereta cepat Shinkansen Hikari. Ah, andai saja Indonesia juga memiliki fasilitas kereta cepat seperti ini.

Sejarah dan Budaya

Details


Pages