Articles

Eat, Drink and Music: Cafe Wha? dan Legenda Bob Dylan /web/articles/eat-drink-and-music-cafe-wha-dan-legenda-bob-dylan

How many roads must a man walk down
Before you call him a man?
How many seas must a white dove sail,
Before she sleeps in the sand?
Yes how many times must the cannon balls fly
Before they’re forever banned?
The answer my friend,
Is blowing in the wind,
The answer is blowing in the wind…

​(Blowing in the Wind, Bob Dylan)

Buku Untuk Universiteitsbibliotheek Leiden /web/articles/buku-untuk-universiteitsbibliotheek-leiden

Hal yang menyenangkan bagi seorang penulis adalah, pertama, saat mendapatkan inspirasi dan bahan tulisan. Kedua, ketika gagasan itu menjadi sebuah karya dan diterbitkan (bisa melalui media massa atau terhimpun dalam buku). Ketiga, tentu saja, ketika dibaca banyak orang—saat itulah pesan yang ingin kita sampaikan diterima, dengan gembira atau duka. Keempat, bila muatan tulisan kita, baik itu fiksi maupun nonfiksi, bermanfaat dan syukur menjadi bagian dari pencerahan.

Pengumuman Penerima Program Pendanaan Penerjemahan LitRI Komite Buku Nasional Gelombang I - 2017 /web/articles/pengumuman-penerima-program-pendanaan-penerjemahan-litri-komite-buku-nasional-gelombang-i

Terima kasih kami sampaikan kepada para penerbit yang sudah mengajukan aplikasi untuk program pendanaan penerjemahan LitRI yang diselenggarakan oleh Komite Buku Nasional dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 

 

Setelah melalui proses seleksi, termasuk kelengkapan berkas administrasi dan kesesuaian dengan persyaratan yang telah ditetapkan, kami umumkan untuk Gelombang I ini terdapat 10 buku yang dinyatakan lolos seleksi, yakni:

Hasil Seleksi Residensi Penulis 2017 /web/articles/hasil-seleksi-residensi-penulis-2017

Program Residensi Penulis dilaksanakan oleh Komite Buku Nasional dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui program Beasiswa Unggulan. Program ini bertujuan mendukung para penulis yang lolos seleksi untuk tinggal di luar negeri selama 1-3 bulan dalam rangka peningkatan kemampuan diri melalui pengembangan jejaring di luar negeri, baik dengan sesama penulis, maupun penerjemah dan penerbit asing; mengikuti berbagai program internasional (diskusi, seminar, pembacaan karya, festival, dst.) dan melakukan proses menulis di negara yang dianggap sesuai dengan keb

Residensi Penulis Indonesia 2018 Residensi /web/residensi_penulis_2018

RESIDENSI PENULIS INDONESIA 2018

Komite Buku Nasional dan Program Beasiswa Unggulan - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kembali membuka Program Residensi Penulis Indonesia.

Pada tahun 2018 ini, Program Residensi Penulis dibuka untuk residensi di dalam negeri dan di luar negeri.

TUJUAN

Tujuan dari program ini adalah memberi kesempatan kepada para penulis untuk:

Pengumuman: Residensi Penulis 2017 /web/articles/pengumuman-residensi-penulis-2017

Komite Buku Nasional dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2017 ini akan membuka kembali program Residensi Penulis.

Residensi Penulis adalah program yang dimaksudkan untuk mendukung penulis Indonesia untuk melakukan riset dan menyelesaikan karya tulis di luar negeri. Pendanaan program ini berasal dari Beasiswa Unggulan, Kementerian Pendidikan dan kebudayaan. Dengan program ini, penulis dapat tinggal di luar negeri selama 1-3 bulan.

Tujuan dari Residensi Penulis 2017

Program Bantuan Dana Penerjemahan LitRI /web/node/687

Program Bantuan Dana Penerjemahan LitRI​
Komite Buku Nasional dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Djainem Moeridjan, Dukun Jawa di Belanda Mak Djainem dan Hariette Mingoen /web/articles/djainem-moeridjan-dukun-jawa-di-belanda

Sudah hampir 30 tahun orang Jawa bermigrasi dari Suriname ke Belanda. Seiring waktu, tradisi Jawa semakin memudar, perlahan menghilang. Tidak banyak lagi dukun Jawa yang masih bisa melakukan ritual sebagaimana diwariskan leluhur turun-temurun. Tak heran, walaupun Mak Djainem Moeridjan sudah berusia 83 tahun, dia masih sibuk bepergian dari kota ke kota di seluruh penjuru Belanda untuk memenuhi panggilan.

Sarijo Moeljoredjo, Imigran Jawa Terakhir di Moengo Sarijo Moeljoredjo, Imigran Jawa Terakhir /web/articles/sarijo-moeljoredjo-imigran-jawa-terakhir-di-moengo

Gurat tulang-belulang tampak jelas di sekujur tubuh renta Sarijo Moeljoredjo. Tetapi matanya masih bersinar cemerlang, gerakan tubuhnya cekatan. Pada usia menginjak 96 tahun ini, Mbah Sarijo (baca: Saryo) setiap hari masih bekerja di kebun pisang di belakang rumah. Sehari-hari pun dia kuat bersepeda keliling kota. Tetapi yang luar biasa, ingatannya masih sangat tajam manakala dia mengurai setiap detail perjalanan hidupnya. Dialah orang tertua sekaligus saksi hidup terakhir di kota Moengo, satu dari 32.962 orang Jawa yang pernah diangkut dengan kapal oleh Belanda ke Suriname.

Misi Lintas Negara: antara Leiden dan Paris Suasana toko buku Gibert Jeune /web/articles/misi-lintas-negara-antara-leiden-dan-paris

26 November pukul 13.30, dari Den Haag Centraal saya menuju Paris. Saya menggunakan armada bus Flixbus. Sambil menunggu bus datang, masuk jam makan siang, saya melahap tantuni, makanan khas Turki sembari membaca buku The End of Yesterday-nya Jared Diamond yang sebelumnya saya beli di Pasar Sabtu di Brestraat, Leiden. Dan, bus yang saya tunggu akhirnya datang juga. Perjalanan menuju Paris memakan waktu delapan jam.

Pages